Waktu sudah menunjukan jam 3 sore, Aldy meninggalkan rumah tersebut setelah memberikan makan untuk Nisa dan langsung menuju ke kantor untuk bertemu Mike yang sudah menunggunya. Berhubung Aldy adalah seorang bos di kantornya, jadi dia bisa bebas sesuka hati datang dan pergi.
Sesampainya di kantor, Mike terlihat sedang duduk sambil membaca koran dan terhenti ketika Aldy datang dengan wajah yang terlihat sumringah. Selain Mike, ternyata ada juga Bagas yang turut hadir sedang duduk manis sambil menaikkan kedua kakinya ke atas meja layaknya bos besar. Ketiga pria lajang nan tampan kini berkumpul layaknya Gossip Boys.
“Bagaimana di Bali, tak ada kendalakan?” tanya Aldy yang duduk berhadapan dengan Mike yang kemudian melipat koran dan meletakkannya ke meja.
“Alhamdulillah, beres!” sahut Mike sambil memberi hormat layaknya prajurit dan mendapat kekehan dari Bagas.
“Muka lo kenapa girang banget, Al, seperti bocah habis disunat?” selidik Bagas sambil melirik Mike yang hanya tersenyum.
Aldy yang mendengar ucapan tersebut tiba-tiba terkekah, kemudian menyandarkan punggungnya, santai. Melihat reaksi janggal alias tak wajar, membuat keduanya penasaran dan saling pandang dengan kedua alis bertautan.
“Ceritalah kalau lagi hepi, bagi-bagi sekalian jangan hepi sendiri!” gumam Bagas dengan suara ala merajuk banci kaleng.
“Iya, gue lagi hepi. Hepi banget malahan!” sahut Aldy menyeringai. Keduanya saling pandang dengan raut semakin bingung.
“Lo inget, Mike, adik si sialan itu yang tempo hari gue ceritain?” tanya Aldy yang dibalas anggukkan pelan oleh Mike.
“Tiap malam gue main-main dengannya dan ternyata tuh cewek, walaupun punya badan kecil, tapi enak banget, dan bikin gue ketagihan. Apalagi pas dia nangis bikin gue makin semangat ngebor!” ucap Aldy sambil senyum remeh dengan wajah tak berdosa.
Mike dan Bagas yang mendengar penuturan Aldy sontak membulatkan kedua matanya. Rahang Mike mengeras seketika dengan kedua tangan mengepal kuat. Bagas yang melihatnya menepuk tangan besar Mike, memberi isyarat untuk bersabar.
“Maksud lo adik Jefry?” tanya Bagas tenang dan masih bisa mengendalikan raut keterkejutannya.
“Yap!” sahut Aldy singkat sedangkan Mike semakin terlihat geram dan amarahnya kian meledak.
“Terus lo simpan di mana tuh cewek?” tanya Mike berusaha biasa saja dengan suara beratnya mencoba menahan emosinya.
Aldy menatap Mike dan mata mereka bertemu untuk beberapa saat. Aldy tentu melihat bagaimana raut wajah Mike yang terlihat marah dengan sorot mata tajamnya setelah mendengar pengakuannya barusan. Aldy sudah tahu, jika kedua sahabatnya itu memang tidak setuju dengan tindakannya terutama Mike. Jadi, dia tak heran melihat reaksi Mike seperti itu.
“Ada deh!” sahutnya santai seraya bangkit menuju jendela kemudian berdiri menatap ke luar jendela.
Mike terlihat semakin kesal dan tak mampu lagi menyembunyikan amarahnya yang siap meledak. Bagas menahan Mike yang berdiri dan beranjak menghampiri Aldy yang berdiri tenang namun ditepisnya.
“Cepet lepasin Nisa!” pinta Mike dengan suara beratnya yang kini berdiri di belakang Mike. Aldy memutar tubuhnya setelah mendengar suara Mike barusan dan menatapnya dengan kening berkerut.
“Nisa? enak banget lo ngomong lepasin dia. Gak akan!” sahut Aldy dingin.
Keduanya saling bertatapan, dimana di tengahnya kobaran api mulai terasa panas dan siap membakar keduanya. Bagas yang melihat keduanya seolah siap berperang langsung mengambil posisi berdiri di antara keduanya dan memutus pandang keduanya.
“Sudah ... sudah ... ayo kita duduk dan bicarakan baik-baik!” kata Bagas mencoba menjadi penengah.
Ketiganya akhirnya duduk dengan posisi seperti tadi. Wajah Aldy terlihat biasa saja, tapi berbeda dengan wajah Mike yang memerah karena menahan kesal serta malas menatap wajah Mike.
“Al, sebenarnya apa motif lo mengurung Nisa? coba jelasin ke kita!” pinta Bagas dengan suara tenangnya. Aldy melirik ke Mike yang membuang wajahnya kemudian menatap Bagas yang menunggu jawabannya.
“Biar dia tahu rasa dan ngerasain apa yang udah Kakaknya perbuat ke Gisell!” sahut Aldy dingin namun tajam.
“Bukan Nisa yang sakiti Gisell. Terus dia yang harus menanggungnya hanya karena lo fikir dia adiknya Jefry? gue udah berkali-kali bilang, semua yang terjadi dengan Gisel bukan salahnya!” jawab Mike kesal dan suara yang meninggi lagi.
“Gue tahu bukan dia yang bunuh Gisel, tapi gue mau dia juga ngerasain apa yang udah Gisel alami, selama Jefry belum ketemu, gue gak akan berhenti nyakitin tuh cewek sialan!” beo Aldy keras kepala dan tak mau mengubah keputusannya.
“Gue heran dengan lo, Mike. Kenapa lo belain banget tuh cewek sialan. Apa jangan-jangan, lo naksir? kalau bener, lo boleh ikut nikmatin tuh cewek, bahkan sepuas lo. Jika perlu kita trisome!” cicit Aldy semakin gila dengan ucapannya yang membuat Mike tak bisa lagi menahan amarahnya.
“b*****t lo!” ucap Mike seraya bangkit dan memukul Aldy tiba-tiba hingga jatuh tersungkur.
Aldy yang mendapat pukulan tak terduga tentu tak dapat menghindar namun dengan cepat dia memukul balik Mike tak kalah keras hingga adegan adu jotos tak dapat dihindari. Bagas yang terkejut langsung bangkit dan memisahkan namun bukan berhasil, Bagas malah ikut mendapat pukulan dari keduanya hingga terjatuh ke lantai. Digosoknya sudut bibir yang berdarah kemudian menepuk jidat dan memaki. Bagas tak langsung bangkit dari duduknya dan malah duduk bersilah menonton dua orang yang tentu dia sayangi adu jotos dengan wajah babak belur. Setelah beberapa saat, sebuah notif masuk ke handphone Bagas dan langsung dibacanya. Semenit kemudian, wajah Bagas menyeringai geli sambil menonton adegan pertempuran yang belum ada anda-tanda akan berhenti.
“Terusin woy! yang menang gue cipok basah!” teriak Bagas yang kini duduk manis dengan kaki di atas meja.
Mereka terus saling memukul layaknya musuh bebuyutan. Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan yang tentu merasa khawatir karena mendengar suara gaduh dari dalam. Ketiganya tak menghiraukan suara tersebut dan tetap melanjutkan adegan perkelahian hingga suara Bagas kembali terdengar dan seketika menghentikan kegiatannya.
“Jefry ditemukan!”
Bersambung
15 April 2020/20.45