MAP 5

1478 Words
Pukul 03.00 dini hari Asya terbangun. Dia merasakan tubuhnya remuk semua. Kemudian menoleh ke samping dan terkejut melihat seorang pria yang sedang terlelap. Seketika itu juga Asya ingat kejadian semalam dan hendak bangun dari tempat tidur. "ahk-" teriakannya tertahan karena merasakan sakit yang luar biasa di bawah sana. Asya segera menoleh pada pria itu, takut kalau suaranya membuat pria itu bangun. Beruntung pria itu masih terlelap. Asya tetap berusaha berdiri, berjalan terseok-seok memunguti tas dan mengambil kemeja pria itu karena semua bajunya sobek dan tidak bisa dipakai. beruntung badan Asya mungil yang membuat kemeja pria itu seperti rok pendek di pakainya. Asya sekuat tenaga bergegas memakai baju itu dan pergi meninggalkan Athar yang masih terlelap sebelum pria itu terbangun dan menyandranya lagi. Pikir Asya. ** Asya kembali ke kamar hotel miliknya di lantai 26. Dia yakin pria itu tidak akan tau siapa dan dimana Asya. Kemarin Asya dan pria itu bertemu secara tidak sengaja di lift hotel. Asya bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Melepas kemeja milik pria itu dan melihat pantulan dirinya di depan kaca. Asya melihat banyak tanda kecupan yang ditinggalkan pria itu. Bahkan sudut bibirnya juga terluka karena gigitan pria itu. Asya menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran air shower. Menggosok kuat tubuhnya yang sudah di sentuh oleh pria itu. Berharap tanda yang di tinggalkan akan hilang bila di gosok berulang kali. Kemudian masuk kedalam bathup yang sudah di isi air hangat , sabun, dan juga memasukkan banyak wewangian aroma terapi agar aroma tubuh pria jahat itu hilang dari tubuhnya. Berendam dan berusaha menenangkan pikirannya, meskipun masih terus menangisi kesialannya. Asya hanya sebatang kara dan sekarang dia tidak bisa menjaga kehormatannya. "ibu.. hikss.. aku gagal bu. Aku gagal menjaga kehormatanku hiks.. bagaimana aku bisa menjalin hubungan dengan pria lain kalau aku sudah nggak suci lagi.. hiks.. bu aku harus gimana?" Asya meratapi dirinya sendiri. meluapkan emosi dengan terus menangis. ** Di kamar Pangeran Athar ARO Hotel. ting tong~ Bel kamar berbunyi. Sekertaris Duta berulang kali menekan bel itu tetapi tidak ada respon sama sekali. Duta menghubungi Tuan Mudanya melalui telpon. kkringkring~ Sekarang berganti suara ponsel Pangeran Athar yang berbunyi. Athar mulai terusik. Dan mulai mengerjapkan matanya, kemudian menggapai ponselnya di nakas samping tempat tidur dan menjawab panggilan itu tanpa melihat nama penelepon. "hmm" Pangeran Athar yang masih mengantuk menjawab dengan deheman. "Tuan Muda apa anda belum siap? sekarang sudah pukul 9" ucap Sekertaris Duta membuat Athar terbelalak kaget. Athar segera duduk dan melihat sekelilingnya. DEG! Seketika itu juga Pangeran Athar mengingat apa yang sudah terjadi semalam. "SIALAAAAN!!" umpat Athar keras hingga membuat Sekertaris Duta terkejut dan refleks membuka pintu kamar dan bergegas masuk ke ruangan Tuan Mudanya itu. Hanya Sekertaris Duta dan pelayan khusus yang bisa masuk ke dalam ruangan pribadi milik Pangeran Athar. Duta masuk dan terbelalak kaget untuk kedua kalinya saat melihat di kamar Tuan Mudanya sangat berantakan. Bahkan ada baju sobek, bra dan cd wanita yang berserakan disana. "T-tuan Muda ada apa ini?" tanya nya pada Tuan nya yang masih duduk dengan memegang kepalanya. "cepat cari wanita yang tidur denganku semalam" perintah Athar yang membuat Sekertaris Duta tercengang. Bukan karena apa, tapi Pangeran Athar tidak pernah sekalipun memintanya untuk mencarikan wanita penghibur atau memasukan wanita ke dalam ruangan pribadinya kecuali Nona Amira. "apa yang terjadi Tuan Muda? bagaimana mungkin bisa ada wanita yang masuk ke dalam kamar anda??" Sekertaris Duta penasaran di buatnya. "kau beri aku minuman apa kemarin malam??" bukan menjawab Pangeran Athar malah balik bertanya pada tangan kanannya itu. Sekertaris Duta tertegun, dia berusaha mencerna apa yang dimaksud Tuan Mudanya. "kenapa tidak kau cek dulu minumannya sebelum kau berikan padaku BODOH?! aku rasa ada obat gila di dalam minumanku semalam" Pangeran Athar geram karena kelalaian Sekertaris Duta hingga semua ini terjadi padanya. "APA??" kaget. Sekertaris Duta tak percaya dengan kesalahannya. "karena kelalaianmu ini aku memaksa seorang wanita yang sudah menolongku. DASAR BODOH!!" Pangeran Athar emosi dan menjambak rambutnya frustasi. Sekertaris Duta mulai paham apa yang telah terjadi. Dia mengepalkan tangannya menahan marah. Berani sekali ada orang yang mencari gara gara di acara milik Rashaad Group. Sekertaris Duta bertekad tidak akan melepaskan orang itu. bagaimana pun caranya. "SEGERA CARI TAHU WANITA ITU!!" perintah Athar dengan teriakannya menahan amarah sebelum Sekertaris Duta melangkah pergi. "baik Tuan Muda. Akan saya cari wanita itu dan berjanji akan menemukan siapa pembuat onar di acara Rashaad Group semalam" Duta membungkuk dan berlalu pergi. Athar menghela nafasnya kasar. Kepalanya serasa akan pecah memikirkan hal yang tak pernah sama sekali dia bayangkan akan terjadi dalam hidupnya. Athar menyibak selimutnya berniat membersihkan diri, tapi sebelum berdiri pandangannya tiba-tiba terfokus pada bercak merah di tempat tidur. Athar meninju tempat tidurnya melampiaskan amarahnya yang tertahan saat mengingat kembali kalau wanita yang dia tiduri semalam benar-benar masih perawan. Athar pria pertama yang melakukannya. Itu artinya dia sudah menghancurkan seorang wanita yang tidak dia kenal. "Tuhan, kenapa ini semua bisa terjadi padaku?" gumam Athar meremas sprei dengan kuat. Kemudian bergegas menuju kamar mandi dan membasahi tubuhnya dengan shower. Athar ingin meredakan kepalanya yang berdenyut dengan air dingin. Athar tidak habis pikir akan melakukan hal itu. Bahkan Pangeran Athar tidak pernah sampai melakukan hal itu pada Amira tunangannya sendiri karena Athar sangat menjaga kehormatan Amira. Dia juga adalah pria yang sangat menghormati perempuan mengingat dirinya punya 2 saudara perempuan dan juga Ibu yang berharga di mata Pangeran Athar. Pangeran selalu menjaga nama baiknya dan keluarganya. Meskipun di dunia bisnis sudah seperti hal biasa seorang bos bermain wanita. Tapi tidak dengan Pangeran Athar. Dia punya agama yang tidak memperbolehkannya melakukan hal itu sebelum sah di mata Tuhan dan agamanya. Athar juga merasa sangat bersalah pada Amira karena sudah menghianatinya. Tetapi entah kenapa sekarang Pangeran Athar terus teringat dan terngiang akan setiap sentuhan dan penyatuannya dengan wanita itu. Dan itu membuatnya gila. Pangeran Athar sangat tau kalau itu salah. Tapi dia juga pria normal. Itu adalah pertama kalinya untuk Athar. Tidak mudah bagi Athar melupakan kejadian malam itu. Athar mengepal kuat tangannya dan meninju tembok untuk melampiaskan emosinya. ** Di kamar hotel Asya. Tingtong~ 3x Asya terbangun saat bel kamarnya berbunyi terus menerus. Asya terkejut karena ternyata dia tertidur dalam keadaan berendam. Dengan segera Asya bangun, menahan rasa sakit pada pangkal pahanya dan membersihkan diri. Kemudian segera memakai bajunya. Asya sengaja memakai baju yang lehernya sedikit tinggi supaya bisa menutupi lehernya yang ada terlihat beberapa tanda merah. Dan menggerai rambut panjangnya. Asya membuka pintu. "Mbak Asya!!" kompak Dinar dan Tika berteriak saat akhirnya kamar Asya dibuka. "ya ampun mbak sumpah aku kira mbak Asya kenapa-napa soalnya daritadi aku pencet bel aku ketok-ketok, tetep aja mbak nggak bukain pintu" khawatir Tika. "iya mbak Sya. Mana di telponin kamu nggak angkat-angkat. Kita jadi khawatir terus manggil pak Bima kesini buat cari bantuan" Dinar menimpali omongan Tika. "aku nggak denger kalian panggilin. Aku ketiduran habis minum obat semalem. Terus hapenya aku silent deh kayaknya. Hehe.. maaf ya udah buat kalian khawatir" Asya mencoba menjelaskan. "aku udah nggak enak badan dari kemarin kan kalian tau sendiri. Makanya aku sempet nolak ikut party. Kemarin balik kamar langsung tidur sampe kesiangan gini" bohong Asya. Dia tidak mau sampai teman-temannya tau yang terjadi dengannya semalam. "yaudah turun makan yuk. Biar mbak Asya cepet sembuh dan nggak lemes gitu" ajak Dinar. "eh habis ini jemputan buat trip bakalan sampai loh" Belum sempat Asya menjawab "Asya!" Asya menoleh kearah sumber suara dan melihat Pak Bima berlari kearahnya. "Asya kamu nggak kenapa kenapa?? kata Dinar kamu nggak keluar kamar lama banget. Saya kira kamu pingsan di kamar" khawatir Bima sambil memegang kedua lengan Asya dan memperhatikan wajahnya yang pucat. Dengan perlahan dan sedikit gugup Asya melepaskan tangan Bima darinya. Dia masih trauma dengan kejadian semalam. Dan perlahan tersenyum pada Bima menutupi ketakutannya. "saya tidak apa-apa Pak Bima. Hanya kurang sehat, mungkin karena jetlag kemarin dan memang sedang benar-benar kelelahan. Istirahat sehari saja besok pasti sudah mendingan" jelas Asya pada Bima. "ngg.. saya ijin tidak ikut trip hari ini ya Pak. Sepertinya saya mau istirahat saja. Supaya besok saat mulai proyek saya sudah baikan" ijin Asya. "aku temenin aja ya Mbak? kasihan kalau kamu sendirian pas sakit gini" tawar Dinar untuk menemani Asya. "eh nggak usah Din, aku udah biasa sendirian kali. Lagian ini cuma capek biasa bukan yang parah. Kalian ikut aja, jarang-jarang lo dikasih maen sama Bos. Iyakan Pak?" ucap Asya sambil senyum kearah Bima. "kamu beneran gapapa Sya?" Bima memastikan lagi. Sebenarnya Bima ingin menemani Asya dan tidak ikut trip. Tetapi dia manager yang harus bertanggung jawab dengan teamnya. Terpaksa dia pun meninggalkan Asya. Asya mengangguk yakin. "oke kalau begitu saya tinggal ya. Saya akan minta orang hotel untuk antarkan makanan ke kamarmu supaya kamu tidak usah naik turun. Telpon saya kalau ada apa-apa ya!" perintah Bima pada Asya. "oke. Thankyou ya kalian sudah perhatian" Ucap Asya di ikuti kepergian teman-temannya. Asya masuk kamar dan merebahkan tubuhnya yang masih terasa sakit dan remuk di tempat tidur. Memejamkan matanya sembari menangis lagi masih meratapi kesialan hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD