9

864 Words
Dan pada akhirnya, hingga malam aku hanya menghabiskan waktu duduk di tepian ranjang sambil berurai air mata dan menghitung kekecewaan yang telah terjadi. Sebenarnya, kalau bisa, Aku ingin menepi semua perasaan sakit ini tapi mengingat betapa bahagianya aku sebelum ini betapa mesra dan harmonisnya rumah tangga kami Aku benar-benar tidak menyangka bahwa suamiku punya selingkuhan dan berniat untuk menikahinya. Lihat tadi bagaimana reaksinya saat aku minta cerai. Dia diam saja dan memasang ekspresi datar seakan tidak terjadi apa apa. Bahkan yang paling membuatku kecewa dia tidak kunjung menyusulku ke kamar untuk minta maaf atau sekedar mengucapkan sepatah atau dua patah kata. Dia tetap berada di ruang keluarga sementara aku masih memungut kepingan hatiku yang hancur sendirian di kamar. "Jadi suamiku tetap berkeras dengan kemauannya bahwa ia mempertahankan kekasihnya?" aku menggumam sendiri. "Lantas, jika memang begitu untuk apa aku berurai air mata dan menangisi orang yang tidak mencintaiku?!" Aku menjadi tercenung sendiri sambil menatap pantulan diri ini dan jilbabku yang setengah lembab karena air mata. Aku sampai lesu dan kuyu, lemas dan nyeri hati memikirkan dia, sementara ia malah berbaring di sofa dengan santainya. Mungkin baginya sudah sepele perasaan dan rasa sakit yang kualami, sehingga dia duduk dalam keadaan acuh tak acuh saja. Mungkin Begitulah ketika seseorang sedang jatuh cinta maka perasaannya akan dibutakan, dia akan lupa keluarga dan orang-orang yang pernah membantunya ketika masih kesulitan dan tertatih-tatih. Pedih juga dengan kenyataan bahwa aku yang membantunya berdiri sementara dia mengajak orang lain untuk berlari. Sakit luar biasa. Aku yang membantunya dari nol saat dia masih menjadi pegawai kontrak, sampai menjadi manajer yang sukses, aku yang paling banyak berdoa dan mengorbankan waktu serta perhatianku untuknya. Aku bahkan tidak membelikan diri ini pakaian demi bisa menabung untuk membelikan dia kemeja yang layak untuk bekerja. Aku juga tidak akan makan sampai dia lebih dahulu makan dan merasa kenyang barulah aku akan makan sisanya. Begitulah kesusahan yang kami alami di awal-awal membangun rumah tangga. Tapi lihatlah sekarang, dia sungguh luar biasa, bahkan tangis dan keluhanku sama sekali tidak menggerakkan hatinya. "Ah, sudah tertutup sejauh apa hati suamiku Tuhan, kenapa tidak tergerak sedikitpun rasa kasihan atau iba di hatinya. Mengapa dia tidak terbesit pun sedikit rasa malu atau minimal berterima kasih atas pengorbananku selama ini yang rela menahan lapar dan haus demi kesuksesannya." Kucoba untuk menapis air mata yang mengalir Tapi tetap saja ia meluncur begitu saja seakan tak mampu dibendung lagi. Melihat Suamiku belum tergerak juga akhirnya aku bangkit dan menutup pintu kamar, membuka selimut yang sudah rapi kutata lalu memilih untuk tertidur. Aku lelah menangis dan mataku rasanya bengkak, tenggorokanku sakit ditambah juga kepalaku merasa pusing, tubuh ini penat sekali. Aku ingin tidur dan berharap ini hanya mimpi buruk di mana aku bisa tersadar dan kembali pada kenyataan yang sesungguhnya. Aku sungguh berharap. Keesokan hari. Aku terbangun saat mendengar suara pakaian yang ditata, dan pintu lemari yang dibuka tutup. Sejenak aku mengerjap dan mencoba bangkit dari tempat tidur sembari mengumpulkan kesadaranku. Rupanya di sana sudah ada Mas Indra yang tengah menyusun pakaiannya ke dalam koper. Kemana ia akan pergi pagi pagi begini. "Kau mau kemana?" "Pulang ke rumah ibu." "Kenapa?" "Percuma aku di sini kalau tidak ada yang mengurusku, toh, istri dan anakku sudah tidak memperdulikan diri ini." Lihatlah betapa Pandai dia membalikkan keadaan hingga membuat orang lain merasa bersalah dan harus meminta maaf demi gengsi dan egonya. "Apa?" "Ya, Aku tertidur sepanjang malam dalam keadaan lapar dan dijauhi oleh istriku sendiri yang memilih tidur dalam keadaan menutup pintu di balik selimut yang hangat. Aku merasa seperti laki-laki yang terbuang." Wow, playing victim. Ingin ku rasanya ku balas semua ucapannya tapi hatiku sudah terlanjur sakit dan lelah, Aku hanya bisa menggeleng sambil menyunggingkan senyum paling tulus. "Mau aku bantu kau berkemas? Kau pasti bingung memilih pakaian yang mana saja karena sudah terlalu banyak pakaianmu di dalam lemari." Pria itu terkejut mendengar jawabanku yang sama sekali tidak terduga Mungkin dia pikir aku akan mencegahnya menangis di kakinya lalu menahannya pergi, tidak, itu bukan gayaku. Dia berdiri dengan posisi mulut mengangah dan pakaian masih mengambang di tangannya. Kuring good pakaian itu dari genggamannya lalu meletakkannya ke dalam koper dengan rapi, kuambil setumpuk pakaian lagi lalu meletakkannya lagi ke dalam koper, dengan senyum paling lebar. "Mau ku antar kau ke rumah ibumu?" "Tidak perlu!" "Tentunya kau tidak bisa bawa mobil karena aku harus memakainya untuk mengantar jemput anak-anak." "Oh ya, kalau begitu kalian saja yang pergi dari rumah ini sambil membawa mobil sehingga kita bisa berbagi." "Boleh," jawabku dengan senyum sinis, "tapi katakan padaku bagaimana aku akan menjelaskannya pada anak-anak bahwa ayah mereka mengusir kami dari rumahnya demi bisa menikahi wanita lain?" "Kenapa kau membuatnya makin rumit?" "Kau bisa tinggalkan rumah ini berikut juga dengan mobil dan isinya, lalu pergilah ke rumah kekasihmu dan mulailah hidup dari nol seperti saat kau mengajakku mengarungi bahtera rumah tangga pertama kalinya. Betapa enaknya wanita itu hanya menerima kesuksesan saja tanpa berusaha membantumu dari awal." "Tapi keadaannya sudah beda." "Semuanya masih sama, kau juga tetap orang yang sama! Hanya hatimu saja yang sudah tertuju kepada wanita itu bukan untukku lagi. Jadi kejarlah bahagiamu." "Kau sungguh mengusirku?" tanya lelaki bermata coklat dan alis tebal itu dengan emosi. "Kopermu sudah beres mau aku letakkan ke dalam mobil?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD