10

978 Words
"Apa kau yakin kau tidak akan menyesal dengan keputusanmu seperti ini Nadira?" "Loh, yang mengemasi barangnya siapa? Bukannya kau yang berinisiatif untuk segera meninggalkan rumah ini demi kekasihmu?" "Nadira, jujur saja aku tidak mau rumah tangga kita berakhir, bisakah kita mempertahannya?" "Bisa, asal kau meninggalkan wanita itu, mudah kan?" tanyaku dengan senyuman, koper itu sudah dalam posisi berdiri dan siap di tarik keluar. "Dengar Nadira, kalau aku sudah keluar dari rumah ini maka sulit untuk membuatku kembali lagi," ujarnya mencoba menakutiku. Sepertinya dia sendiri yang ketakutan untuk meninggalkan rumah ini merasa belum begitu yakin dengan keyakinannya sendiri. Kupikir aku tidak akan terpengaruh lagi karena rasa yang ada di dalam hatiku sudah terlanjur penuh dengan kekecewaan. Aku masih ingat pertengkaran kami semalam dan sampai pagi ini dia belum minta maaf juga, bahkan ia sudah berkemas sebelum aku bangun. Apakah niatnya sekarang, apakah dia benar-benar ingin pergi atau hanya menggertak diri ini? "Aku tidak akan memaksamu untuk kembali, lagi pula siapa yang berharap kau kembali?" tanyaku acuh tak acuh "Nadira, pikirkan anak-anak lalu gimana kelanjutan hidup kalian!" "Anak-anak dan aku akan baik-baik saja. Aku akan mulai cari pekerjaan dan mungkin membuka usaha agar kami tidak mati kelaparan, kau tidak perlu khawatir," jawabku santai. "Kau benar-benar ingin mengakhiri pernikahan kita?" "Semua jawaban itu tergantung pada dirimu, Kalau kau ingin mempertahankan kami maka tinggalkan kekasihmu intan, tapi jika kau tidak mau meninggalkannya maka kau harus rela melepaskan kami." "Lalu kenapa aku tidak merangkul kalian berdua? Bukankah laki-laki berhak untuk ...." Nada bicaranya tertahan karena aku segera menatapnya dengan tajam. "Poligami?" tanyaku dengan nada tinggi, dia terdiam. "Memang aku tidak akan menentang agama, tapi aku lebih baik mundur daripada makan hati." "Nadira!" "Kau jadi pergi atau tidak?" Setelah ia membentak, aku pun balik membentak sehingga dia terdiam. Pria itu tergentak untuk beberapa saat lalu dengan mendengkuskan nafas dia meninggalkan kamar kami tanpa membawa kopernya. Entah kemana ia pergi setelah ganti baju, tapi yang pasti, ayahnya anak-anakku itu terlihat bersiap dan langsung meraih kunci mobil dan meluncur pergi. Tadinya aku akan mencegah dia membawa mobil itu, tapi melihatnya rapi dengan pakaian kerja dan tas, aku jadi paham bahwa saat ini dia harus pergi ke lokasi proyek bukan untuk menemui kekasihnya.Tanpa mengesap kopi atau sarapan dia meninggalkan rumah, tak biasanya seperti itu, tapi tak masalah, aku tidak akan perduli lagi. * Sejujurnya di sisi lain aku juga penasaran dengan latar belakang kekasih suamiku aku ingin sekali menemuinya dan bicara kepada wanita yang menginginkan ayah dari anak-anakku. Aku ingin berbincang dari hati ke hati dan bertanya sungguhkah keputusannya untuk merebut suami orang adalah keputusan final yang tidak bisa diganggu gugat lagi. Tidakkah ia merasa kasihan pada wanita yang telah mendampingi suaminya dengan setia hingga berhasil menjadi lelaki sukses yang bisa ia manfaatkan sebagai ladang perahan, sebagai seorang kekasih. Apakah intan sama sekali tidak punya harga diri dan tidak memiliki solidaritas sebagai sesama wanita minimal menghargai perasaan wanita lain sama seperti jika dia berada di posisiku. Entahlah... Yang pasti aku ingin bertemu. Tapi dari manakah aku harus memulai pencarianku, apakah aku harus memeriksa ponsel suamiku atau menyusuri setiap jalan kota untuk mencari alamat wanita itu. Tapi akan ada banyak sekali yang bernama intan di kota ini. Atau mungkin aku harus berdoa kepada Tuhan agar Dia mempertemukan aku dengan intan, agar sekali saja aku punya momen berdiskusi dengan wanita itu. Aku tidak bermaksud untuk mengemis di kakinya agar dia mengembalikan suamiku, aku hanya ingin tahu kepribadiannya. * Siang ini sebelum menjemput anak-anak ke sekolah aku menyempatkan diri untuk berbelanja buah di supermarket. Aku tapi kan motorku di sebuah supermarket khusus buah dan sayur yang cukup terkenal di kotaku, aku sampai lalu turun dari motor dan beranjak mengambil keranjang untuk memilih sayur dan buah yang kuinginkan. Saat mengantri dan memilih buah apel tanpa sengaja aku berpapasan dengan wanita yang ingin kutemui. "Kau intan kan?" tanyaku dari belakangnya, wanita itu menjebak rambutnya yang panjang lalu membalikan badannya. Dia terlihat mengernyit saat dia mencoba mengingat siapa aku, lalu terkejut di beberapa detik berikutnya. "Kamu Nadira?" "Ya, aku istri Indra, aku ingin bicara." "Uhm, sebenernya aku sibuk, lagi pula kalau kita ingin bicara secara pribadi, aku tidak akan nyaman karena boleh jadi itu akan menimbulkan pertengkaran." "Aku mencoba sopan dan merendahkan suaraku di keramaian ini, aku akan mencoba bersikap baik, jadi mari kita bicara." Aku mencoba menahan diri untuk tidak meninggikan suaraku kepada wanita angkuh yang merasa punya power karena selalu dibela oleh Mas Indra itu. Dia sendiri hanya menyeringai dan memberi isyarat agar aku mengikutinya duduk ke sebuah meja. "Jadi katakan apa yang ingin kau katakan?" "Sejak kapan kau berhubungan dengan suamiku?" "Sejak dua tahun." "Dari mana kau mengenalnya?" "Aku mengenalnya dalam satu pertemuan, kami berteman dan dekat. Kupikir aku tidak akan tertarik padanya, namun kepribadiannya dan cara dia mengambil keputusan, serta bagaimana dia menghadapi kondisi yang genting, membuatku sangat mengaguminya dan aku jatuh cinta ...." Kalimat wanita itu meluncur begitu saja dengan senyum percaya diri. Dia sepertinya benar-benar menyimpan kekaguman yang mendalam kepada suamiku sehingga tanpa sungkan Ia menjelaskan itu kepadaku yang merupakan istri mas Indra. Dia tidak sungkan sama sekali. "Tidakkah kau berpikir bahwa kau telah menyakiti orang lain dengan menjalin hubungan dengan suami orang?" "Ya, aku tahu, mungkin aku salah, tapi tetap saja, cinta ini begitu besar untuk Mas Indra, beruntungnya juga Mas Indra pun punya rasa yang sama kepadaku," jawabnya sambil tertawa, ia seolah mengejekku. Aku hanya tersenyum getir menanggapi tawanya yang berderai. Ingin sekali memukul botol minum yang kupegang ini ke wajahnya agar dia jera, tapi, aku mengendalikan diriku karena tahu persis itu akan jadi perbuatan kriminal. "Ketika dia meninggalkan kami maka semuanya akan berakhir hidup kami semua akan berantakan tidakkah kau merasa bersalah dengan semua itu?" "Aku percaya bahwa semua orang bisa menjaga dirinya sendiri dan bisa menghadapi takdirnya. Aku akan hidup dan mencintai seperti keinginanku, sisanya kuserahkan pada Tuhan." Dia tersenyum lalu bangkit dari tempat duduknya dan melenggang pergi. Benar benar tidak tahu malu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD