Awan berdiri di ambang pintu saat matanya menangkap keributan yang sudah tidak aneh lagi di matanya. Namun ada yang asing kali ini, ada sosok yang seharusnya tidak ada disana.
"Lo itu cuma cari perhatian dengan sok jadi galak dan sok jadi jahat, suapaya apa, hah? Supaya kelihatan keren? Cih! Dasar cewek murahan!"
Awan sudah hendak berjalan maju saat kalimat tidak pantas itu ditunjukkan pada Rindang yang menolak memberikan kesempatan lagi pada Fani. Namun kakinya terhenti saat di depan sana Rindang dengan mudah membalik pria itu hingga terjatuh ke lantai.
Mata Awan melebar tidak percaya, dia juga bisa mendengar bisik kagum dari teman-temannya yang lain sesaat melihat kejadian itu.
Kehilangan fokusnya, Awan kemudian hanya bisa berdiri diam hingga kemudian Fani membawa pacarnya keluar dari kelas.
Sesuai dengan apa yang sudah dia duga, tubuh tinggi Rindang dan porposinya yang cukup itu mampu membanting seseorang dengan mudah.
"Awan!!"
Awan terhenyak saat sebuah suara nyaring meneriakkan namanya. Padahal saat ini dirinya sedang di perpustakaan, tapi tidak ada yang berani menegur Permata meski sudah berteriak se nyaring itu. Awan tidak mengerti dengan konsep yang ada disini.
"Kenapa?" tanya Awan dengan senyum kecil. Dia baru teringat jika kemarin dia bahkan tidak melihat Permata sama sekali.
"Engga apa-apa, aku engga masuk kuliah kemarin tapi kok kamu enggak nyariin aku?" tanya gadis itu dengan suara manja.
Awan kebingungan untuk menanggapi ucapan dari gadis yang akrab disapa Tata ini. Memangnya kenapa Awan harus mencarinya? Awan merasa tidak memiliki keperluan dengan Tata hingga dia harus mencari gadis itu.
"Saya kemarin banyak yang harus dilakuin, jadi engga inget yang lain-lain," balas Awan pada akhirnya.
Wajah cemberut Tata sempat membuat Awan terdiam. Gadis yang kini duduk begitu rapat padanya itu, terlihat sangat cantik dengan rambut panjang se punggung, juga menjadi idola kampus karena sikapnya yang ramah. Namun yang Awan tidak mengerti adalah kenapa gadis ini malah selalu mendatangi nya yang biasa saja?
"Enggak ada tugas juga kamu tetap selalu enggak ingat sama aku. Jahat," keluh Tata kemudian.
Hanya bisa mengulum senyum tipis, Awan kemudian memilih kembali pada buku yang sedang dia baca. Masih ada waktu untuk kelas selanjutnya, kelas yang dia ikuti bersama dengan Permata. Tadi dia sempat diajak oleh Satria untuk ke kantin, tapi Awan menolak.
Dia tidak ingin kalau sampai kembali melihat kejadian seperti kemarin dan kemarinnya lagi, rasanya lelah sekali berhadapan dengan dua wanita yang saling berselisih.
"Aku belum makan, Wan."
Awan menoleh lagi pada Tata.
"Kenapa belum makan?" tanyanya.
Gadis itu mengulum senyum manis, tangannya memegangi lengan Awan dengan lembut.
"Enggak sempat karena tadi pagi aku telat datang. Kamu mau antar aku kesana?" tanya Tata penuh harap.
Nyatanya tidak akan baik kalau sampai Awan menerima ajakan Tata kali ini setelah menolak ajakan Satria. Akan semakin santer gosip yang beredar di kalangan jurusan mereka tentang hubungannya dengan Tata.
Maka, Awan memilih menolak.
"Saya harus ketemu Bu Dian sebentar lagi, kamu ke kantin sama teman kamu aja dulu ya?"
Masih dengan senyum lembut di wajahnya, Awan berusaha untuk tidak menyinggung Permata hanya karena dia yang menolak ajakan gadis itu.
Sudah seperti biasa Permata akan selalu memasang wajah cemberut menerima semua penolakannya. Namun kali ini Awan benar-benar tidak ingin untuk pergi ke sana, ke tempat yang menjadi jejak rekam permasalahan Rindang dan Fani yang kemudian dia terlibat di dalamnya.
"Yaudah deh," kata Tata pada akhirnya.
Awan mengangguk, dia menghela napas pelan kemudian saat Permata berpamitan untuk pergi ke kantin.
Lalu teringat sesuatu, Awan langsung celingukan di dalam perpustakaan itu, mencari hal yang sekiranya mungkin saja mencurigakan. Dia ngeri kalau kakaknya benar-benar menaruh mata-mata hanya untuk mencari tahu siapa gadis yang sedang dekat dengannya.
*
"Tolong mampir ke super market ya, Wan. Ayah pulang hari ini tapi di rumah engga ada persediaan bahan makanan. Bunda mau masak tapi engga bisa keluar rumah karena motornya dibawa Langit."
Awan menyangklok tas ransel di pundaknya sambil terus mendengarkan intruksi yang sedang diberikan oleh Bundanya.
"Iya, ini Awan udah mau pulang. Bunda kirimin aja daftar yang harus Awan beli ya," katanya.
Setelah Bundanya mengiyakan ucapannya, Awan langsung memutus sambungan usai mengucap salam.
"Awan, mau kemana?"
Baru akan bergegas ke parkiran motor untuk mengambil motor miliknya, Awan sudah harus berhenti saat suara Satria memanggilnya.
"Mau pulang," jawab Awan. Dia bahkan baru menyadari jika temannya itu berjalan bersisian bersama dengan Permata yang tadi ada di kelas yang sama dengannya.
"Yah enggak seru banget jadi kupu-kupu, nongkrong dulu yuk di kafe depan," ajak Satria.
Permata juga ikut mengangguk, menatap penuh harap agar Awan mengiyakan ajakan Satria. Namun tentu saja Awan menolak karena dirinya sudah berjanji untuk pergi ke super market membelikan barang belanjaan yang diminta oleh ibunya. Tentu saja dirinya tidak mungkin berkata begitu karena Awan sangat yakin jika dia mengatakan alasannya dengan jujur maka yang ada Permata akan memaksa untuk ikut bersama dengannya.
"Ada acara keluarga, Ayah saya datang hari ini," kata Awan. Dia tidak berbohong, toh kata Bundanya Ayahnya memang datang hari ini walaupun sebenarnya masih dalam perjalanan dan belum sampai di rumah.
Karena mendengar ada urusan keluarga, baik Satria maupun Permata tidak bisa menahan Awan lebih lama.
"Oke deh kalau begitu, salam buat kelaurag lo," kata Satria.
Awan membalasnya dengan senyum lebar, tangannya terangkat untuk melambai pada Satria dan Permata yang masih berdiri di tempat yang sama.
Mendekati motor matic yang menjadi hadiah ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun sekitar dua tahun yang lalu, Awan kemudian memeriksa lebih dulu pesan yang dikirimkan oleh Bundanya, pesan yang berisi barang belanjaan yang harus dia beli. Saat akan naik ke atas motor, matanya sempat melirik ke arah tempat parkir yang ada di pojok, dimana sepeda yang dia tahu adalah milik Rindang masih terpakir disana. Rupanya gadis itu belum pulang, namun hari ini Awan tidak mendengar kabar ada keributan lagi yang melibatkan gadis itu.
Mungkin Fani pada akhirnya sudah menyerah setelah Rindang melawan tindakan yang dilakukan oleh pacar Fani dengan kekerasan.
Ya, toh itu juga bukan sepenuhnya urusan Awan. Hanya saja Awan merasa khawatir kalau sampai masalahnya berlanjut menjadi lebih serius dan lebih berbahaya dari sebelumnya karena melibatkan pacar Fani.
Keluar dari area kampus, Awan membelah jalanan yang belum terlalu padat karena belum memasuki waktu pulang kerja. Hari masih siang, jam masih menginjak pukul setengah dua siang. Walau tidak padat, namun cuaca panas membuat tangan Awan yang memegangi stir terasa terbakar matahari. Untungnya jarak super market tidak begitu jauh dari kampusnya, hanya memerlukan waktu sekitar dua puluh menit sampai Awan berhasil sampai.
Biasaya belanja adalah tugas Bunda dan Abangnya, namun menurut Bundanya tadi, Abangnya pergi keluar sehingga tidak bisa mengantarkannya untuk berbelanja.
Berbekal cacatan yang dikirimkan oleh Bundanya, dengan membawa troli, Awan masuk ke area yang merupakan super market yang ada di dalam mall besar. Dia mengambil sayur-sayuran sesuai yang tercatat, lalu juga cemilan yang dimasukan ke dalam daftar belanjaan. Untungnya yang harus dia beli tidak lah banyak karena Awan juga tidak membawa banyak uang di dompetnya.
Waktu yang dia habiskan untuk berbelanja sampai kemudian dia bisa kembali bertemu dengan motornya adalah sekitar empat puluh lima menit. Awan segera pulang dengan melewati jalanan pinggir kota agar lebih cepat sampai di rumahnya. Dia perlu cepat sampai agar ibunya bisa memasak sebelum ayah pulang.
Sayangnya takdir tidak mengizinkannya pulang secepat itu saat dia malah menemukan sosok yang dia kenal, tengah tergeletak di pinggir jalan dengan sepeda yang terjatuh. Karena keadaan jalan yang sepi, tidak ada yang menolong Rindang yang sepertinya jatuh dari sepedanya. Bergegas Awan mendekatkan sepeda motornya ke arah gadis itu,
"Rindang!" panggilnya agak keras.
Rindang mengangkat wajah, tangannya memegangi lututnya yang berdarah dengan bagian celana jeansnya yang robek. Juga telapak tangan gadis itu yang lecet dan nuga mengeluarkan sedikit darah.
"Kok bisa jatuh? Kamu ngantuk?" tanya Awan cemas.
Gadis di depannya itu mendengus," Jangan ngaco kalau ngomong," tukasnya ketus.
Awan mengangkat kedua alisnya, dia lebih memilih membangunkan sepeda gunung milik Rindang lebih dulu dan meminggirkannya agar tidak menghalangi jalan. Baru setelah itu dia berjongkok di depan Rindang.
"Jadi kenapa kamu bisa jatuh?" tanya Awan lagi.
Dia meringis saat melihat banyak luka terbuka di beberapa bagian tubuh Rindang, sepertinya Rindang terjatuh dengan cukup keras,
"Ada motor yang kayaknya sengaja nyerempet gue," jawab gadis itu kemudian.
Dari wajah Rindang yang berulang kali meringis, rupanya gadis setangguh Rindang juga bisa merasa kesakitan karena terjatuh dari sepeda. Awan pikir Rindang baru akan mengeluh sakit jika tertabrak kereta atau pesawat terbang.
"Sengaja? Kok bisa yakin kalau motornya sengaja?" tanya Awan lagi. Kemudian dia berpikir bahwa mungkin asumsi Rindang benar melihat disini tidak ada siapapun selain Rindang yang terjatuh.
"Gue udah jalan di pinggir, tapi dia memang sengaja nabrak gue dari belakang sampai gue jatuh. Habis itu orangnya langsung ngebut pergi." Rindang berhenti bicara, matanya menyipit dengan senyum miring yang kemudian terulas di bibirnya yang tebal itu.
"Kayaknya gue tahu siapa yang sengaja nabrak gue," gumamnya yang masih bisa didengar oleh Awan.
"Siapa?"
Namun Rindang memilih untuk tidak menjawab, gadis itu berusaha bangun dengan susah payah. Dan Awan yang tidak bisa berdiam diri melihat orang lain kesulitan, langsung memegangi lengan Rindang, membuat gadis itu sempat terkejut namun tidak menolak pertolongannya.
"Kamu kayaknya engga akan bisa naik sepeda dengan keadaan lutut kamu yang berdarah gitu," kata Awan.
"Ya emang enggak bisa," balas Rindang masih dengan nada ketus andalannya.
Bahkan tanpa sadar Awan sudah terbiasa dengan tampang datar gadis itu dan juga nada ketusnya.
"Saya antar aja, kamu bonceng di belakang sambil megangin sepeda kamu. Gimana?" tawar Awan.
Namun seperti biasa, niat baiknya tidak pernah diiyakan oleh Rindang. Gadis itu menggeleng, memegangi sepedanya dan kemudian langsung berjalan tertatih menuntun sepeda miliknya itu.
"Pulang sana! Nanti lo dimarahin ibu lo karena terlambat bawa belanjaan. Rumah gue deket."
Mendengar kalimat gadis itu, Awan langsung menoleh ke arah motornya. Dia tersenyum, menggeleng pelan sambil menatap tubuh gadis itu yang sudah menjauh.
Rindang adalah wanita yang tidak butuh bantuan orang lain.
**