Chapter 2

1401 Words
Bibi Ahn menghela napasnya, ia meraih tangan Liu Wei dan menariknya hingga mereka berjalan di sepanjang koridor dengan lantai kayu. Setelah tiba di depan sebuah pintu kayu berukiran, Bibi Ahn membawa Liu Wei masuk. Sebuah ruangan dengan dinding-dinding kayu, lampion merah dan lilin yang menyala di atas meja. Ada sebuah ranjang kayu, dengan kasur dan selimut berwarna putih. Bibi Ahn mendekati Liu Wei lagi, menarik mantel usangnya yang kusam dan jelek hingga terlepas dari tubuh Liu Wei. Kemudian ia menatap tubuh indah Liu Wei, yang hanya dibalut oleh hanfu sedikit tipis dan kusam, dengan warna kuning yang pudar. Tubuh indah itu tak terlihat jika hanya dibalut oleh pakaian yang kusam dan pudar. Bibi Ahn menepuk tangannya hingga dua orang pelayan datang dan masuk, membawa sebuah kain. "Pakailah," ujar Bibi Ahn sambil memberikan pakaian ditangannya pada Liu Wei. Dengan ragu, gadis itu pun mengambilnya. Ia membuka pakaian kusam ditubuhnya kemudian menggantinya dengan pakaian yang lebih bagus. Berwarna hijau dan lembut dari sutera. Dibantu oleh Bibi Ahn yang mengikatkan kemban di dadanya dan tali hanfu-nya. p******a ranumnya sedikit menyembul, membuat Liu Wei merasa tak nyaman dan sesak di d**a. "Kau yakin dengan keputusanmu ini, Weiwei? Jika ingin pulang, maka pulanglah," kata Bibi Ahn lagi. Liu Wei menggeleng mantap dengan tatapan setengah kosong, "Aku yakin." Bibi Ahn tak bisa melarang lagi, meski dirinya sendiri merasa tidak yakin dengan keputusan Liu Wei. Gadis itu adalah gadis baik-baik dan sangat ceria, bahkan ia yang merupakan pemilik penginapan serta tempat hiburan malam pun tak sanggup, melihat Liu Wei akan menyerahkan dirinya pada seorang pria asing. Setelah membantu menyisir rambut Liu Wei dan menggerainya di punggung, hingga terurai indah, Bibi Ahn dan pelayannya keluar meninggalkan Liu Wei. "Mama, maafkan aku," bisik Liu Wei dengan air mata yang lolos di mata indahnya. Suara pintu kayu yang di buka dari luar membuat Liu Wei terkejut dan mempererat genggaman kedua tangannya di pakaian. Ia duduk bersimpuh membelakangi pintu, hingga tak dapat melihat siapa yang datang. Dengan segera Liu Wei pun mengusap air matanya. Suara langkah berat terdengar berderit di lantai kayu, membuat Liu Wei semakin menggenggam kedua tangannya. Ketakutan itu datang, merayap di hatinya dan memeluknya. Bahkan seperti mencekik lehernya, hingga dadanya berdegup keras dan jantungnya berdetak tak karuan. Ia takut, sungguh sangat ketakutan. Jika bukan karena ibunya, ia tak akan pernah melakukannya. "Siapa namamu?" sebuah suara rendah dan serak terdengar dari belakang tubuhnya. Liu Wei meremang, mendengar suara berat dan jantan itu. Ia memejamkan matanya sesaat, sebelum berbalik untuk menatap siapa yang datang. Liu Wei berbalik, masih bersimpuh dengan kepala menunduk hingga rambut panjangnya yang terurai menutupi pipi dan wajahnya. "Li-liu Wei," balasnya. Derap langkah itu kembali terdengar dan mendekat, dalam jarak dekat Liu wei dapat merasakan aroma maskulin dan menenangkan. Bahkan ia dapat merasakan hawa panas di sekitarnya daripada saat sendiri. "Angkat kepalamu," suara rendah itu kembali terdengar. Perlahan Liu Wei mengangkat kepalanya, hingga tatapannya bertemu dengan mata hitam kelam dan sedingin es. Ia terkejut dan membulatkan matanya tak percaya. Ketakutan itu semakin besar, seakan semakin mencekiknya. Pria di depannya, adalah pria yang ia temui tadi siang di jalan. Pria penunggang kuda paling depan dengan wajah yang ditutupi topeng separuh. Mata tajam yang bagaikan ujung pedang itu, menghunus dalam pada Liu Wei. Menelusuri wajah yang luar biasa cantik, dengan mata bulatnya yang cokelat cemerlang, dan bibir merahnya yang menggoda. Tatapannya turun pada bahu Liu Wei yang pakaiannya melorot sebelah dengan p******a bulatnya yang menyembul separuh. Tak ada kilatan gairah atau nafsu, hanya ada tatapan tajam dan dingin. "Na-nama tuan siapa?" tanya Liu Wei lagi. Ia mencuri-curi pandang kemudian menunduk kembali. Pria di depannya, luar biasa tampan. Dengan kulit sedikit kecokelatan, rahang yang begitu tegas dengan hidung mancung dan bibir yang tebal juga kokoh. Seakan jika menciumnya, bibir Liu Wei akan meleleh. Liu Wei pun menggelengkan kepalanya saat pikiran itu melintas. Ia pikir pria yang akan ditemuinya adalah pria tua, seorang pejabat dari provinsi yang singgah. Pria itu bergeming, tidak menjawab pertanyaan Liu Wei. Ia berjongkok di depan Liu Wei masih menatapnya. Lalu sebelah tangannya meraih dagu Liu Wei dan mengangkatnya, memperhatikan wajah cantiknya dengan dalam. "Kau ketakutan," katanya dengan nada rendah dan mendesis seakan tahu apa yang Liu Wei rasakan. Liu Wei hendak membuka mulutnya tapi terkatup kembali, mata bulatnya balas menatap mata tajam itu. Ia penasaran, mengapa pria di depannya menutupi sebelah matanya dan juga wajahnya. "Sa-saya ..." Liu Wei menghentikan perkataannya saat pria itu menepis dagunya hingga wajah Liu Wei terlempar ke samping. "Sialan, aku membutuhkan wanita yang berpengalaman," desis pria itu dengan nada marah. Liu wei yang mendengarnya semakin panik dan ketakutan. Ia takut pria itu akan melemparnya keluar dan tak memberikannya sepeser pun uang. Saat pria itu bangun dan berbalik, Liu Wei pun bangun. Ia melepaskan ikatan hanfu-nya dengan tangan gemetar dan panik. Keadaan pun semakin membuatnya panik. "Tuan jangan pergi," katanya memohon. Pria itu berhenti di depan pintu, sebelum membukanya. Kesempatan itu digunakan Liu Wei untuk melepaskan hanfu-nya hingga terjatuh ke lantai. Ia hanya mengenakan kemban dan rok bagian dalam dengan perut terbuka, hingga menampilkan lekuk pinggang dan pinggulnya. "Apa yang bisa kau lakukan?" tanya pria itu masih dengan nada dingin dan suara rendah. Liu Wei terdiam kaku, apa yang bisa dia lakukan saat ini? Mungkin saja menangis keras dan mengatakan bahwa dia sungguh ketakutan. Akan tetapi dia tidak ingin pulang sebelum membawa uang dan beras. Liu wei bergerak gelisah, ia ketakutan bahkan ingin menangis. Saat matanya bergerak gelisah, tanpa sengaja ia melihat sebuah poci keramik dengan cawan di atas meja. Mungkin minum sedikit bisa membuatnya lebih tenang. "Saya bisa melakukan banyak hal. Menari, menunggang kuda, memanah, menggiring bebek, bermain musik dan ... Dan ..." Liu wei menghentikan perkataannya. Pria itu bergeming masih memunggunginya, sedangkan Liu wei mulai bergerak dan mengambil pocinya. Ia menenggak air dalam poci dan menghabiskannya, meski wajahnya mengerut karena merasakan rasa pahit dan manis di mulutnya. Ada rasa panas dan terbakar di tenggorokannya juga. "Apa yang bisa kau lakukan terhadap pria dewasa yang berada satu kamar denganmu?" tanya pria itu lagi. Liu wei menggelengkan kepalanya yang merasa pusing dan penglihatannya yang mulai mengabur. Ia panik dan tak tahu air apa yang baru saja ia minum, tapi saat tubuhnya akan limbung ke belakang, sebuah tangan kokoh meraih pinggangnya. Tubuh Liu wei terdorong ke depan hingga d**a bulatnya yang sekal menabrak d**a bidang dan kokoh pria itu. Liu wei mendongak, melihat rahang tegas dan wajah tampan di atasnya. Matanya sudah berubah sayu dan bibirnya terbuka, sebelah tangannya pun meraih rahang kokoh itu kemudian naik ke pipinya. "Tuan, kau sangat tampan," bisik Liu wei. Pria itu tak mengatakan apa pun, ia meraih tubuh Liu Wei dan menggendongnya di depan. Sedangkan Liu Wei menyusupkan wajahnya di d**a bidang dan kedua tangannya merangkul leher kokohnya. Tubuhnya di bawa ke kasur dan dibaringkan, setelahnya pria tampan itu hendak pergi meninggalkannya. Namun Liu Wei bangun kembali dan menarik pakaian pria itu dengan keras hingga terjatuh di kasur. Liu Wei pun bangun dan menduduki perutnya, kedua tangan lentiknya mengusap d**a bidang si pria, kemudian merayap ke rahangnya. "Jangan pergi, saya bisa melakukan apa yang wanita lain lakukan," katanya dengan suara menggoda. Wajahnya pun semakin sayu. Pria itu bergeming, membiarkan Liu Wei menduduki perutnya, menatap gadis itu dengan tajam dan dingin. Menatap Liu wei yang sedang membuka ikatan kembannya sampai terlepas, kemudian membuka kembannya dan melemparnya. "Sial!" umpatnya dengan kasar. Pria itu membalikkan tubuh Liu Wei dan menindihnya, tatapan tajamnya yang dingin perlahan berubah. Ada kilatan gairah yang terpendam disana, dan dia bersumpah bahwa Liu wei adalah satu-satunya gadis yang membuatnya b*******h sedalam itu. Tangan-tangan lentik Liu wei menarik pakaian pria itu, melepaskan ikatan talinya dengan serampangan. Pria tampan itu pun membuka pakaiannya dan melemparnya hingga bertelanjang d**a. Ia kembali menindih tubuh Liu wei yang sudah pasrah di bawahnya. Kepalanya merunduk dan bibir kokohnya yang tebal meraih leher Liu wei lalu menciumnya. "Akh!" Liu wei mengerang pelan sambil menjambak rambut bagian belakang pria itu. Tubuhnya gemetar, dan keringat mulai membanjiri wajah dan tubuh putihnya yang mulus. Pria itu membawa Liu wei merapat lagi dan mencium bibirnya kemudian mengusap air matanya. Isakan Liu Wei mereda, saat ciuman mereka kembali berlangsung dan tubuh mereka menyatu. Di malam itu, dengan rintikan gerimis yang mengguyur bumi, di bawah langit kelam. Kamar yang semula dingin dan diterangi lilin merah, berubah memanas dengan kelambu yang berkibar melingkupi ranjang. Bibir merahnya terbuka dengan rambut yang berantakan dan menempel di wajahnya yang basah. Kesadaran Liu nyaris terenggut karena godaan kejam yang tubuhnya terima. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD