Chapter 3

1118 Words
Di tengah malam menjelang pagi yang dingin, dengan langit pekat dan suara serangga berderik, dua tubuh di atas ranjang tertidur pulas. Sosok Liu wei bergerak dalam dekapan tubuh kokoh itu. Perlahan ia membuka matanya dan melihat d**a kokoh itu, lalu tatapannya merayap ke atas sampai menemukan wajah tampan yang masih tertutup topeng sebelah, sedang tertidur pulas. Liu Wei bangun dengan hati-hati, ia menarik selimut hingga sebatas d**a kemudian membukanya. Wajahnya memucat dan matanya membulat, setetes air mata mengalir di pipinya dan isakan tanpa suara. Liu Wei menangis, memeluk tubuhnya sendiri. Ia turun dari ranjang dengan sehelai kain, kemudian mengambil pakaiannya yang berserakan. Dengan serampangan dia memakainya, dan membenarkan rambutnya yang berantakan dan kusut. Setelah selesai, Liu Wei berjalan keluar dengan terseok-seok sambil memegangi perut bagian bawahnya. Air mata masih mengalir di pipinya, karena tak kuasa menahan kesedihan. Kini hidupnya sudah hancur dan harga dirinya tak ada, karena dirinya telah memberikan kesuciannya pada pria asing. Inilah keputusan yang ia ambil, keputusan yang akan membawa kesuraman bagi masa depannya. Liu Wei keluar dari kamar itu dan berjalan di koridor, dengan langkah yang terseok. Ia akan menemui Bibi Ahn, tapi wanita dewasa itu ternyata sedang berlari menghampirinya. "Weiwei!" panggil Bibi Ahn sambil menubruk tubuh Liu Wei. Liu Wei menjatuhkan tubuhnya pada pelukan Bibi Ahn, ia menangis sekeras-kerasnya dengan tubuh gemetar hebat. Wajahnya sudah memerah dan rambutnya kembali berantakan. "Apa Tuan itu menyakitimu?" tanya Bibi Ahn, tapi Liu Wei tak menjawabnya. (*0*)(*0*) "Weiwei, kau kenapa?" Liu Wei melamun seorang diri di depan rumahnya, tatapannya setengah kosong tidak ceria seperti biasanya membuat sang ibu heran. "Weiwei?" panggil ibunya lagi. Liu Wei tersentak dan menoleh. Ia menyunggingkan senyuman tipis, dan sangat tipis. Bukan cengiran lebar seperti biasanya. "Bibi, Weiwei, ada kiriman beras dan sayuran untuk kalian!" Liu Wei dan ibunya menoleh, di depan pagar kayu rumah mereka ada beberapa pria yang sedang mengangkut beberapa karung beras dan sayuran dari gerobak kayu. Beberapa warga yang berada disana ataupun melintas, melihat ke arah rumah Liu Wei yang didatangi beberapa pria mengangkut beras. Mereka berbisik-bisik karena tak mengerti dari mana Liu Wei dan ibunya mendapatkan uang sebanyak itu. "Ini milik siapa?" tanya ibu Liu Wei saat para pemanggul itu menaruh beras di pintu rumah mereka. "Ini semua milik kalian, kami hanya ditugaskan untuk mengantarkannya," kata salah satu pria. Ibu Liu Wei mendekati sang putri dan memegang kedua bahunya, "Weiwei ini dari siapa?" Liu Wei tak mengatakan apapun, ia malah masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu meninggalkan ibunya. Liu Wei pun berlari ke arah kamarnya dan terjatuh di lantai kayu. Kedua kakinya ia naikkan dan memeluknya, kemudian isakan kembali terdengar dari bibir kecilnya. "Maafkan aku Mama, maafkan aku," isaknya sambil menyembunyikan wajahnya di lutut. Sudah satu minggu sejak kejadian malam itu, bayangan pria tampan dan gagah itu terus berputar di benak Liu Wei. Meski dirinya tidak ingat apa yang mereka lakukan, tapi mereka telah melakukannya. Melakukan hubungan dengan pria asing entah siapa, dan bahkan ia yakin tak akan pernah bertemu kembali dengan pria yang telah merebut kesuciannya itu. Liu Wei si gadis ceria itu sudah berubah menjadi pendiam dan sering kali melamun seorang diri. Ini keputusannya, apapun risikonya dirinya harus menerima semuanya. (*0*)(*0*) Tiga bulan kemudian ... Hidup Liu Wei berubah dalam waktu 3 bulan. Hanya satu malam yang merubah segalanya, ketika dirinya muntah-muntah dan tabib Zhang memeriksanya, diketahui bahwa dirinya tengah mengandung. Beritanya langsung tersebar secara cepat bagai air bah yang menyerang. Semua warga sudah tahu dan membicarakannya sepanjang jalan. Di pasar bahkan di jalan-jalan semua warga membicarakan Liu Wei yang lugu dan ceria ternyata mengandung tanpa suami. Ketika ibunya bertanya siapa ayah dari bayinya, ia tak mau menjawab dan terus bungkam sepanjang hari. Ia pikir setelah malam itu, dirinya mendapatkan apa yang dia mau. Uang yang diberikan bibi Ahn lebih dari cukup, bahkan beras dan sayuran yang bisa digunakan selama berbulan-bulan. Setelah itu selesai, tanpa Liu Wei sadari bahwa benih pria asing itu telah tumbuh di rahimnya. Warga yang awalnya ramah bahkan berubah tak menyukainya dan menganggap Liu Wei dan anak haram dalam kandungannya akan mendatangkan petaka. Ibunya sakit keras dan meninggal dunia, dia seorang diri. Tak ada siapa pun lagi selain bayi dalam kandungannya yang berusia tiga bulan. "Mama, tenanglah bersama para Dewa. Aku mencintaimu," bisiknya dengan isakan pilu di depan sebuah pusara dengan batu besar. Tangan rampingnya mengusap batu itu dan memberikan setangkai bunga krisan di pusaranya. Kemudian Liu Wei menunduk, menatap perutnya yang masih rata. Ada bayi pria itu dalam tubuhnya, bagaimanapun ia akan mempertahankannya meski bayi ini hadir tanpa ikatan. "Mama akan membesarkanmu," bisiknya sambil mengusapi perutnya. Liu Wei bangun, membiarkan angin sore berhembus di wajah cantiknya, menerbangkan rambut panjangnya yang hanya diikat separuh dan juga pakaiannya. Ia menatap pada pusara sang ibu sebelum berbalik dan meninggalkannya. "Mulai hari ini, aku akan hidup menjadi Liu Wei yang baru, aku akan mencari kehidupan dan jalanku sendiri," bisiknya pada dirinya sendiri yang suaranya dibawa oleh angin sore. Liu Wei berjalan menapaki jalan setapak di tengah padang ilalang, menikmati terpaan angin sore di wajahnya. Berjalan menerobos sinar matahari yang mulai menguning di ufuk barat, yang menunjukkan akan segera beranjak pada peraduannya. Sinar kuning keemasan itu menerpa tubuh Liu Wei dan menyelimutinya, memberikan kehangatan yang lebih. "Nanti kau akan seperti apa hidup di dunia ini, Mama akan menjadi ibu sekaligus ayah bagimu. Jika kau lahir dan besar nanti, jangan tanyakan siapa ayahmu," bisiknya lagi sambil mengusapi perutnya. Racauan-racauan itu terus keluar dari bibir mungilnya. (*0*)(*0*) Liu Wei sedang mengepak pakaiannya di sebuah kain besar, kemudian ia buntal dan diikat. Tidak banyak pakaian yang ia bawa, hanya beberapa potong yang terlihat masih bagus. Ia berdiri di kamarnya sambil menatap sebuah tusuk konde dari perak berbentuk bunga, pemberian ibunya. Lalu ada tusuk konde dari batu giok, peninggalan satu-satunya dari orang-orang yang ia cintai. Lalu ada sebuah kalung dari serat batang pohon, dengan batu giok merah dan bulat namun berlunang di tengahnya. Bibirnya melengkung indah, dan tangannya mengusap kembali perutnya. "Kita akan pergi, mencari tempat dimana orang-orang akan menerima kita," katanya lagi dengan bibir melengkung indah. Liu Wei mengenakan hanfu berwarna biru yang tampak kusam dan tipis, ia juga mengenakan mantel usangnya yang jelek. Rambut panjangnya yang hitam legam ia ikat separuh di atas, dan sisanya dibiarkan tergerai di punggungnya. "Weiwei!" suara panggilan dari luar rumahnya, membuat Liu Wei segera sadar dan bergegas pergi. Ia berjalan membuka pintu dan menemukan bibi Ahn sedang berdiri sambil memegang lampion. Ia mendekati Liu Wei. "Weiwei, rombongan dari kota akan pergi malam ini. Bergegaslah, kau harus ikut mereka ke kota, setidaknya kehidupanmu di sana bisa lebih baik," kata Bibi Ahn. "Bibi, apa mereka sungguh dari kota?" tanya Liu Wei. "Yang aku tahu begitulah, mereka dari kota Hengdu, ibu kota Kekaisaran ini. Kemungkinan besar mereka para bangsawan istana," jawab bibi Ahn.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD