Chapter 4

1128 Words
Liu Wei terdiam mendengar kota Hengdu, tiba-tiba hatinya seperti diremas kuat dan ingatannya diperas. Gadis itu berusaha mengenyahkan segala pikiran buruk yang hinggap. "Jika mereka orang istana, aku bisa menjadi pelayan di istana," gumam Liu Wei. "Kau benar, hidupmu akan lebih baik. Aku akan memberikan perbekalan untukmu selama di perjalanan." "Tapi, aku sedang mengandung, apa aku bisa berjalan sejauh itu?" kata Liu Wei dengan cemas. "Jangan cemas, aku akan membicarakan ini dengan Tuan Lian, dia pemimpin rombongan,” balas Bibi Ahn lagi. "Ayo, kita pergi sebelum mereka pergi." Bibi Ahn meraih tangan Liu Wei dan membawanya berjalan meninggalkan rumah kecil itu. Sebelum jauh, Liu Wei menoleh dengan sendu. Rumah yang sudah ia tempati sejak kecil, bersama sang ibu dan ayah. Rumah penuh tawa, rumah yang telah mengembalikan tawa dan senyumannya hingga menjadi Liu wei yang ceria. Semua kenangan ada di rumah itu, tapi malam ini ia harus meninggalkannya, untuk mencari kehidupan yang baru yang lebih baik. Tempat di mana orang-orang tidak membencinya karena ia mengandung tanpa seorang suami. Mereka berjalan di malam yang dingin dan sunyi, hanya dengan satu lampion. Semua rumah warga tampak sepi dan tak ada aktivitas. Liu Wei merasa ragu, namun ia harus pergi. Semua warga mengusirnya dan tak menginginkannya lagi berada disana. Meski kecantikannya terkenal, tapi kehamilannya membuat warga murka dan ditakuti bakal membawa petaka. Setelah sampai di depan penginapan Bibi Ahn, ada banyak kuda yang terikat di halamannya. Liu Wei teringat kembali pada kejadian tiga bulan yang lalu, saat dirinya bertemu dengan pria itu. Dalam hati kecilnya ia berharap bahwa salah satu diantara rombongan pemilik kuda adalah pria itu, meski terasa mustahil. "Ayo, tuan Lian sudah keluar dari penginapan," kata bibi Ahn. Bibi Ahn membawa Liu Wei menghampiri para pria dari rombongan berkuda yang sudah bersiap akan pergi. Mereka menerobos dan menghampiri seorang pria muda dan tampan berkulit putih berdiri di dekat kuda berwarna hitam. "Tuan Lian," panggil Bibi Ahn pada pria itu. Liu Wei tertegun sesaat, melihat pria tinggi berwajah tampan dan bermata tajam itu. Namun ingatan Liu Wei kembali tertarik pada malam itu, pada pria yang menghabiskan malam bersamanya. pria itu bahkan lebih tampan daripada Tuan Lian di depannya. "Ya, Bibi Ahn?" sahut Tuan Lian. "Tuan, ini Liu Wei. Gadis yang saya katakan akan ikut ke kota, hanya ke kota saja setelah itu dia akan pergi sendiri," kata Bibi Ahn. Liu Wei menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman manis. Ia menatap tuan Lian dengan tatapan memohon. "Saya hanya akan ikut sampai kota," kata Liu Wei. Tuan Lian menatap Liu Wei dengan dalam, dahinya sedikit mengerut dan memincing, tanpa kata kemudian mengangguk. "Terima kasih, Tuan!" kata Liu Wei sambil mengembangkan senyumannya. (*0*)(*0*) Di sebuah ruangan yang sangat besar, dengan atap tinggi dari kayu terbaik dan berukiran berwarna emas. Setiap pilarnya sangat besar dan berwarna merah, juga dinding-dinding kokohnya. Lantainya dari marmer yang mengkilap dan bercorak. Begitu besar, luas dan mewah. Di tengah ruangan ada karpet merah yang terpasang dari ujung pintu sampai singgasana. Singgasana Kaisar yang begitu agung, dengan ukiran naga bermatakan batu merah. Tepat di atas singgasana, duduk satu sosok yang penuh pesona dan keagungan. Dalam pakaian Kaisar yang mewah, bersulamkan dari benang emas berbentuk naga, di sepanjang bahu sampai d**a. Jubah besar melingkupi tubuh tinggi kekarnya, yang juga bersulamkan naga. Wajahnya sangat rupawan, dengan mata tajam dan sedingin es. Separuh wajahnya ditutupi oleh topeng berwarna emas, hingga mata sebelah kanannya tak terlihat. Hidungnya mancung dan kokoh, dengan bibir tebal yang terkatup rapat. Sosok Kaisar Zhao, kaisar berhati beku, wajah yang selalu tanpa ekspresi dan tatapan mematikan. Kaisar Zhao terkenal dengan kebengisannya dalam membunuh dan mengambil keputusan. Terkenal bertangan besi yang selalu menang di medan perang. Usianya sudah menginjak 35 tahun, tapi tak memiliki seorang Permaisuri. “Ampun Yang mulia, orang-orang hamba tidak menemukannya. Menurut warga di desa Han, dia pergi melarikan diri dalam keadaan mengandung. Karena di usir oleh warga yang mencemaskan desa mereka akan terkena musibah jika membiarkannya tetap tinggal. Karena dia mengandung tanpa suami,” jelas seorang pria dalam balutan pakaian berwarna biru dan berlambang militer. Kaisar Zhao mengepalkan kedua tangannya di singgasana, dengan tatapan yang menyala tajam. “Mengandung?” tanya Kaisar Zhao dengan suara rendahnya yang dalam. “Benar, Yang mulia, gadis itu mengandung dan melarikan diri setelah ibunya meninggal karena sakit. Menurut warga, usia kandungannya tiga bulan,” jawab pria di depan singgasana, yang sedang bersimpuh di lantai. “Aku ingin kalian menemukannya dimana pun gadis itu berada,” titah Kaisar Zhao dengan suara mendesis. “Ampuni hamba, Yang mulia,” pria itu bersujud dalam. “Tapi kami memerlukan waktu untuk mencarinya di seluruh penjuru kerajaan.” “Di manapun dia berada, bawa ke istana,” titahnya lagi dengan nada tanpa bantahan. “Baik, Yang mulia,” jawab pria itu dengan tegas. Pria itu mundur masih dengan posisi bersujud, ketika menjauhi singgasana, ia berdiri sambil membungkuk kemudian keluar dari aula singgasana. Setelah pintu besar berwarna emas dengan ukiran naga itu tertutup, Kaisar Zhao menggeram dalam dengan tatapan semakin menajam. “Dia bukan wanita bayaran, karena akulah pria pertamanya,” bisiknya dengan suara berat. “Apa dia mengandung anakku?” Kaisar Zhao bangun dari duduknya, ia turun dari singgasana dan berjalan lurus menuju pintu keluar. Langkahnya menggema dan jubah besarnya terdengar bergemeresik. Ketika tiba di pintu utama, dua penjaga yang menundukkan kepala segera membuka pintunya untuk Kaisar Kaisar Zhao pun melangkah keluar, berjalan di koridor istana utama. Semua dayang yang berada di koridor bersujud di lantai marmer, hingga Kaisar Zhao melewati mereka semua. Lalu para dayang itu mengikuti di belakang. Ketika Kaisar berbelok di ujung koridor, seorang anak lelaki berusia enam tahun berlari dan menghampirinya. Anak lelaki dalam pakaian seorang Pangeran. “Ayahanda! Ibunda bilang ayahanda akan mengajakku bermain,” kata anak lelaki itu yang merupakan seorang Pangeran. Pangeran Hao dari salah satu selir Kaisar. Tanpa mengatakan dan membalas apapun, Kaisar Zhao tetap melanjutkan langkahnya melewati tubuh mungil Pangeran Hao yang sedang menundukkan kepala. “Yang mulia,” panggil seorang wanita. Kaisar Zhao menoleh dengan wajah dinginnya, menatap wanita yang sedang menundukkan kepalanya. Wanita yang mengenakan pakaian mewah dengan rambut di sanggul dan dihias indah dengan tusuk konde dari emas. Lagi-lagi Kaisar Zhao tidak mengatakan apapun dan meneruskan langkahnya meninggalkan wanita itu, yang merupakan selir Hwan. Selir Hwan pun memeluk tubuh mungil sang putra yang menangis karena diabaikan oleh Kaisar. Sikap dinginnya juga berlaku pada selir dan putranya. Karena Kaisar Zhao hanya memiliki satu selir dan satu pangeran, tanpa adanya seorang Permaisuri. Kedudukan Permaisuri masih kosong, karena pada suatu malam, Kaisar membunuh Permaisurinya dengan alasan yang sangat misterius. Begitu pun dengan beberapa selirnya yang mati di tangannya karena alasan yang disembunyikan. Namun menurut desas sesus yang beredar, Kaisar Zhao selalu tak puas dilayani wanita manapun. Maka dari itu baginya wanita-wanita itu tak berguna. Hanya selir Hwan satu-satunya yang masih bertahan hidup sampai memiliki anak bersamanya. (*0*)(*0*) 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD