Chapter 5

1014 Words
Suara derap langkah kuda terdengar saling bersahutan di jalan setapak pinggir hutan. Derik serangga hutan terdengar keras memekakkan telinga, bersahutan dengan derap langkah kuda. “Tuan, apa perjalanan kita ke Hengdu masih jauh?” Liu Wei bertanya. Saat ini Liu Wei berada di atas kuda bersama tuan Lian. Pria tinggi itu berada di belakangnya, dengan Liu Wei yang duduk di depan. Tuan Lian mengepah kudanya hingga lari kudanya semakin kencang, bersama rombongannya yang mengikuti di belakang. “Masih satu hari lagi,” jawab tuan Lian. “Apa? Tapi kan kita sudah melakukan perjalanan satu hari, masih ada satu hari lagi?” tanya Liu Wei tak percaya. “Ya, perjalanan dari desa Han ke Hengdu memang memerlukan sekitar dua sampai tiga hari,” kata Tuan Lian. “Memangnya pekerjaan Tuan apa di Hengdu? Apa Tuan seorang saudagar? Pedagang?” tanya Liu Wei lagi. “Ternyata kau sangat berisik ya,” ujar Tuan Lian sambil mengulum senyumannya. Liu Wei tersenyum malu, “Maaf.” “Tidak apa, aku ini seorang Pangeran.” “Apa?” Liu Wei segera berbalik hingga tatapannya bertemu dengan tatapan tuan Lian. Mata bulatnya semakin membulat kemudian gadis cantik itu tertawa keras sambil memukul kepala kuda. “Tuan leluconmu sangat lucu, kau pandai membuat lelucon. Hahahaha,” Liu Wei tertawa keras. Tuan Lian, merupakan seorang Pangeran di kekaisaran Liyingyue, yang dipimpin oleh Kaisar Zhao. Liu Wei tak mengetahuinya, dan menganggap bahwa Pangeran Lian sedang bergurau padanya. “Aku serius, jika kau tak percaya aku bisa membawamu ke istana,” kata Pangeran Lian. Pangeran Lian masih berusia 25 tahun, Pangeran kedua di kerajaan Liyingyue. Jika Kaisar Zhao putra dari Permaisuri, berbeda dengan Pangeran Lian yang merupakan putra dari selir Kaisar. Ia memiliki kedudukan yang cukup penting di Kerajaan, yaitu sebagai Jenderal dari pasukan istana. Liu Wei mencibir, “Memangnya Tuan tahu istana seperti apa? Saya juga berharap bisa tinggal di istana dan menjadi dayang.” Pangeran Lian terkekeh. “Kau meragukanku ya?” Liu Wei tertawa kecil, tawanya yang seperti semula. Bertemu dengan Pangeran Lian membuat Liu Wei merasa kembali menjadi dirinya sendiri, karena bagaimanapun Pangeran Lian terlihat tidak sedingin yang Liu Wei bayangkan. Satu hari perjalanan bersama Pangeran Lian membuat Liu Wei seperti menemukan teman baru. “Kita istirahat,” kata Pangeran Lian. Pangeran Lian menarik tali kekang kudanya hingga kudanya mengikik dan berhenti, diikuti oleh beberapa kuda di belakangnya. Mereka berhenti di pinggir sebuah sungai berbatu yang airnya begitu jernih dan bening. Pangeran Lian turun lebih dulu, setelahnya ia membantu Liu Wei turun dari kudanya. Ketika kakinya menapak di tanah, ia sedikit tersandung dan menubruk d**a Pangeran Lian. Mereka berhadapan dengan tatapan yang saling bertaut. Tatapan Pangeran Lian yang datar dengan tatapan Liu Wei yang lugu. “Pangeran, apa kita akan beristirahat?” tanya salah satu pria yang mendekati Pangeran Lian. Pangeran Lian buru-buru melepaskan tubuh Liu Wei dan menatap pria itu, “Ya, siapkan kayu bakar dan api kita beristirahat dan menangkap ikan.” Liu Wei mengerutkan dahinya dan menghampiri Pangeran Lian. “Anda seorang Pangeran?” tanyanya dengan wajah terkejut. Pangeran Lian menatap Liu Wei tanpa kata kemudian pergi meninggalkannya, untuk menghampiri sungai yang airnya jernih. Liu Wei pun berlari sambil mengangkat rok hanfu-nya mengekori Pangeran Lian dari belakang. “Tuan, Anda Pangeran?” tanya Liu Wei lagi untuk memastikan sambil menarik pakaian Pangeran Lian. “Aku sudah katakan tadi,” balas Pangeran Lian. Pangeran Lian mengambil pisau dari balik pakaiannya, kemudian mengambil sepotong kayu di dekat bebatuan. Ia menajamkan ujungnya untuk digunakan alat menangkap ikan. Liu Wei sendiri masih berdiri memperhatikan Pangeran Lian yang berjalan ke sungai dan duduk di atas batu, menangkap ikan dengan kayu. Kedua tangan Liu Wei mengusap perutnya dengan pelan, wajahnya tiba-tiba berubah sendu. Ia teringat kembali sang ibu, karena mereka sering mengambil ikan di sungai lalu membakarnya. Lagi-lagi bayangan malam itu kembali melintas, membuat Liu Wei buru-buru menggelengkan kepalanya agar bayangannya menghilang. Liu Wei berjalan menapaki bebatuan untuk menghampiri sungai. Tiba di sungai ia berjongkok dan membasuh wajahnya, hingga tetesan-tetesan air menetes di dagu dan rambutnya. Pun bayangan wajah cantiknya memantul di air. Sebelah tangannya memegang pipi. “Seperti ini kah wajahku?” Liu Wei mencelupkan kedua kakinya di air, ia berjalan semakin ke tengah. Sebelum merendam seluruh tubuhnya, gadis itu melepas ikatan hanfu-nya dan menaruhnya di atas batu, kemudian berjalan ke air. “Airnya sangat segar,” katanya sambil merendam tubuhnya. Liu Wei merendam tubuhnya sampai d**a. Ia berenang di air sungai yang jernih dengan perasaan bahagia, karena sebentar lagi dirinya akan tiba di Hengdu. Jika mengingat kota Hengdu, seakan menariknya untuk melupakan sesuatu. Liu Wei pun merendam tubuhnya sampai kepala, merasakan sentuhan segarnya air sungai di wajah dan kepalanya. “Liu Wei!” Suara teriakan Pangeran Lian membuat Liu Wei terkejut. Liu Wei mengangkat wajahnya dari dalam air kemudian berdiri ke permukaan. Rambut panjangnya yang hitam legam basah, menetes di tubuhnya. Begitu pun dengan pakaiannya yang basah dan menempel erat di tubuhnya, hingga lekuk tubuh indahnya terlihat jelas. Dengan p******a bulatnya yang padat tercetak diantara pakaiannya. “Ya?” sahut Liu Wei. Pangeran Lian terpesona, ia menatap wajah cantik dan tubuh molek Liu Wei. Kemudian pria itu menggeleng dan menatap Liu Wei kembali. “Ayo naik, ikannya sudah didapatkan,” kata Pangeran Lian. Liu Wei mengembangkan senyumannya, ia mengangguk dan berjalan ke pinggir sungai yang berbatu. Saat tangannya hendak meraih pakaiannya di atas batu, dan kakinya melangkah, tiba-tiba ia menginjak batu yang licin. Tubuh Liu Wei pun terpelanting ke belakang. “Aarrgghh!” Liu Wei berteriak keras saat tubuhnya hendak terjatuh. “Liu Wei!” Teriakan Pangeran Lian kembali terdengar keras dan berlari menghampirinya. Liu Wei tak bisa menyeimbangkan tubuhnya, ia terpelanting ke belakang dan terjatuh di atas batu dengan punggung yang membentur batu. Kepalanya terkulai dengan dahi meringis kesakitan. Wajahnya sayu dan matanya perlahan tertutup. Perutnya sangat sakit, bahkan luar biasa sakit sampai Liu Wei tak sanggup menahannya. Kepalanya memberat dan begitu sakit. Ia tak mendengar apapun selain teriakan Pangeran Lian. “Liu Wei! Bertahanlah, cepat kita bawa dia ke desa terdekat dan mencari tabib,” teriakan-teriakan Pangeran Lian masih dapat Liu Wei dengar sebelum akhirnya menghilang. (*0*)(*0*)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD