Chapter 7

1283 Words
“Weiwei, inilah istana,” kata Pangeran Lian. Liu Wei mengerjapkan matanya beberapa kali, rahangnya hampir saja terjatuh melihat sebuah pintu gerbang yang besar, kokoh dan megah berdiri di depan mereka. Dengan tembok beton yang besar dan juga kokoh. Pintunya begitu besar dan tinggi, dengan ukiran Naga berwarna emas. Atap gerbangnya dari genteng berwarna hitam dengan setiap ujung yang melengkung dan patung Naga sebagai simbol kemakmuran. Beberapa penjaga istana membukakan pintunya hingga terbuka lebar. Pangeran Lian memukul kembali perut kudanya kudanya dan rombongan mereka melewati pintu gerbang pertama. Di dalamnya hanya ada sebuah lapangan luas dan kosong, dengan jalan setapak dan barisan para prajurit istana yang sedang berlatih. Masih ada satu gerbang lagi yang langsung membuka jalan ke istana. “Hiya!!” Pangeran Lian membawa kudanya melewati pintu gerbang yang terbuka, kuda mereka melewatinya sedangkan rombongannya yang lain tidak ikut ke dalam istana. “Pangeran,” bisik Liu Wei dengan suara tercekat. Mata bulatnya mengerjap beberapa kali dengan wajah begitu takjub, kedua tangannya menggenggam tali kekang. Kuda mereka berlari menuju bangunan megah dan mewah, bangunan istana utama. Yang disebut Istana Naga. Bangunan itu besar, dengan segala aura kuat dan misterius yang melingkupinya. Dinding-dindingnya di d******i warna merah, emas dan hijau. Tangga menuju bangunan utama istana sangat besar, dengan setiap pembatasnya dihiasi patung Naga. Atapnya berwarna hitam, dengan setiap sudut yang melengkung dan dihiasi patung Naga juga harimau. Pilar-pilar di depannya yang menopang begitu kokoh, bulat dan berwarna emas. “Ini sangat indah,” gumam Liu Wei. Pangeran Lian menghentikan kudanya, ia melompat turun kemudian membantu Liu Wei untuk turun dari kuda. Liu Wei meringis memegangi perutnya, yang terasa masih ngilu. “Aku akan membawamu pada kepala dayang, kau akan tinggal di istana ini,” ujar Pangeran Lian. Liu Wei menoleh, ia meraih tangan Pangeran Lian dan memberikannya senyuman manis. “Pangeran, jika bukan karena Anda menyelamatkan hidup saya, entah apa yang akan terjadi pada saya. Saya sangat berterima kasih,” katanya. Pangeran Lian melepaskan tangan Liu Wei, karena ia tak bisa menyentuh wanita yang bukan merupakan istrinya di depan istana. “Tidak usah berterima kasih, Weiwei. Aku tak bisa meninggalkan gadis baik sepertimu di jalan,” balas Pangeran Lian. Liu Wei akan membuka bibirnya untuk membalasnya kembali, tapi ia langsung bungkam saat beberapa dayang menghampiri mereka. Dari arah tangga istana, ada seorang wanita dewasa yang cantik, dengan pakaian yang mewah dan dihiasi mahkota. Wanita itu diikuti beberapa dayang, turun dan menghampiri mereka. “Weiwei, itu Ibu suri,” bisik Pangeran Lian. Liu Wei seketika membungkukkan tubuhnya di samping Pangeran Lian. Ketika Ibu suri menghampiri mereka, wanita itu tersenyum pada Pangeran Lian tanpa melihat ke arah Liu Wei. Entah mengapa mata Liu Wei tertarik menatap wanita itu, kedua tangannya bahkan mengepal erat. Namun ia berusaha menepis semua yang hinggap di kepalanya. “Pangeran kau sudah kembali? Ada yang ingin ibunda katakan,” kata ibu suri sambil menatap Pangeran Lian. “Baik, ibunda,” balas Pangeran Lian. Ibu suri berbalik dan melangkah meninggalkan Pangeran Lian bersama para dayang. Sedangkan Pangeran Lian masih berdiri di samping Liu Wei. Ia mengusap bahu Liu Wei agar gadis itu menegakkan kembali tubuhnya. “Tegakkan lagi tubuhmu, kau ikutlah bersama para dayang, mereka akan mengantarmu ke kepala dayang,” ujar Pangeran Lian. “Terima kasih, Pangeran,” balas Liu Wei. Pangeran Lian menatap pada para dayang yang berdiri di belakangnya. “Bawa Liu Wei ke kepala dayang dan dia akan menjadi dayang di istana,” titahnya. “Baik, Pangeran,” balas para dayang itu. Pangeran Lian tersenyum pada Liu Wei kemudian melangkah pergi meninggalkannya. Liu Wei yang ditinggal sendiri hanya berdiri tak mengerti apapun. “Mari Nona ikut kami,” kata salah satu dayang. Liu Wei menatap lima orang dayang dengan pakaian khas dayang, berwarna hijau dengan bagian d**a yang ditekan kuat hingga separuh p******a mereka menyembul. Liu Wei menyentuh dadanya sendiri, merasa ragu karena ia tak bisa berpakaian sedikit terbuka. Para dayang itu mulai berjalan meninggalkan halaman istana utama yang sangat luas itu. Dengan Liu Wei yang berjalan mengekor di belakang mereka. (*0*)(*0*) Liu Wei berdiri dengan wajah senang. Ia terus mengembangkan senyumannya, matanya yang beberapa waktu lalu diliputi kesedihan, kini tak ada lagi. Liu Wei dibawa ke Istana Shiliu, atau istana Delima yang terletak di bagian selatan istana utama. Kompleks istana tempat tinggal para dayang dan pelayan. Dindingnya dari kayu berukiran dengan jendela kecil dan gorden putih. Ada meja kecil dari kayu yang di atasnya terdapat lilin merah. Di sudut kamar pun diletakkan lampion. Kini Liu Wei telah menetapkan dirinya sebagai Liu Wei yang baru, tak ada lagi Liu Wei yang penuh kesedihan dan gadis desa. Dia telah bertekad akan hidup lebih layak di istana bersama anak dalam kandungannya. Jika waktu kelahirannya tiba, ia akan keluar dari istana. Liu Wei menarik pakaian bagian dadanya ke atas hingga menutupi seluruh dadanya. Namun leher putihnya terlihat jelas. Ia mengenakan pakaian khas dayang berwarna hijau. Rambut panjangnya yang hitam legam pun dicepol dan digulung ke atas, sedangkan rambut bagian depannya dibiarkan menutupi telinganya. Ada tusuk konde berbentuk bunga sebagai hiasan. Pintu kamarnya di ketuk dari luar, dengan cepat gadis cantik itu pun berjalan ke depan. Ia membuka pintunya dan seorang wanita separuh baya berdiri disana diikuti oleh beberapa dayang di belakangnya. “Liu Wei, tugas pertama adalah mengantar jamuan makan pagi untuk Yang Mulia Kaisar,” ujar wanita itu yang merupakan kepala dayang. “Baik, Mama,” jawab Liu Wei. Liu Wei menganggukkan kepalanya dan berjalan mendekati rombongan dayang, kemudian berdiri paling belakang. Rombongan dayang pun pergi dari kompleks istana Shiliu. Mereka berjalan menyusuri koridor dengan lantai bebatuan dan beratapkan kayu, menyusuri sepanjang koridor istana menuju bagian dapur istana yang dekat dengan istana Shiliu. Liu Wei berdiri paling belakang, dirinya terlihat paling mencolok diantara yang lainnya. Wajahnya yang sangat cantik, kulitnya yang sangat putih dan tubuhnya yang terbentuk indah. Juga pakaiannya yang terlihat lebih tertutup diantara yang lain. Rombongan mereka memasuki kawasan dapur istana, mereka masuk ke dalamnya dan segala sajian untuk Kaisar dan keluarganya sudah tersedia. Ada seorang kepala pelayan bagian dapur yang sedang mencicipi satu persatu makanan untuk memeriksa bahwa tak ada racun atau obat apapun di dalamnya. Dayang yang lain membawa sajian dan nampan masing-masing. Semua makanan disajikan dalam wadah dari perak, sedangkan khusus Kaisar segala perlatannya sari emas. “Liu Wei, bawa nampan yang itu,” kata kepala dayang sambil menunjuk sebuah nampan berisi makanan khusus Kaisar. Liu Wei mengangguk dan mengambilnya, ia tak tahu bahwa nampan itu milik Kaisar. Setelah selesai, semua dayang pun kembali berbaris rapi dengan masing-masing membawa nampan. Liu Wei seperti posisinya semula yang berada di bagian paling belakang. Mereka berjalan menyusuri koridor istana utama yang megah. Pilar-pilar besar dan lantai dari marmer yang mengkilap, dengan atap tinggi dan berukiran. Mereka melewati lorong menuju ruang makan keluarga istana. Ketika tiba di depan pintu ruangan yang terbuka lebar, seorang penjaga berteriak dengan keras sebagai pertanda. “Sajian makan pagi telah tiba.” Satu persatu para dayang masuk secara rapi dan berbaris. Di dalam ruang makan istana, begitu besar dan megah seperti ruangan lainnya. Meja makannya panjang dan mengkilap, terbuat dari kayu terbaik. Di atas meja sudah dihiasi oleh bermacam-macam bunga dan lilin. Hanya ada lima orang yang berada di meja makan, empat orang pria dan satu orang wanita. Di bagian kanan ada Ibu suri dan Pangeran Lian, di depan mereka ada dua pria lagi yang usianya lebih muda dari Pangeran Lian. Yaitu Pangeran Xiu Min dan Pangeran Mao, dan semuanya terlihat tampan. Sedangkan di ujung meja makan ada satu sosok lagi, sosok agung yang paling ditakuti dan dihormati. Pria berwajah tegas dengan topeng separuh wajah. Kaisar Zhao. “Liu Wei, itu untuk Yang Mulia Kaisar,” bisik kepala dayang. Liu Wei terkejut, ia mengangkat kepalanya dan menatap kepala dayang. “Kaisar?” bisiknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD