Suara mesin mobil menderu pelan di bawah cahaya lampu jalan yang temaram. Paul menahan amarah. Rahangnya mengeras dan matanya lurus menatap ke depan. Di sampingnya, Katherine duduk dengan tubuh masih menggigil, dibalut jas Paul yang terlalu besar untuk tubuhnya yang ringkih malam itu. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Hanya suara napas dan detak jantung yang berpacu dengan emosi masing-masing. Hingga akhirnya, Paul membuka suara, pelan tapi penuh amarah yang ditahan. "Apa kau begitu membutuhkan sebuah belaian laki-laki oleh karena itulah kau bekerja di tempat itu?" "Ya, aku membutuhkannya tapi yang aku butuhkan adalah uang!" Kedatangan pria itu tidak membuatnya senang. Dia sudah tidak mau dihina, meski dia memang sudah hina. "Apa tidak ada cara lain untuk mendapatkannya, Kather

