Sinar matahari menyusup malu-malu melalui celah tirai yang belum sepenuhnya tertutup. Udara di dalam kamar itu hangat dan tenang, terlalu nyaman untuk sebuah pagi setelah malam yang begitu kacau. Katherine menggeliat pelan. Kelopak matanya terasa berat dan dekapan yang hangat, membuatnya enggan untuk bangun. Entah sudah berapa lama, dia tidak pernah merasakan dekapan seperti itu lagi. Dia bahkan hampir melupakannya. Lengan kekar, aroma tubuh yang begitu familiar dan dia rindukan. Dia memeluk tubuh itu, tubuh satu-satunya laki-laki yang pernah menghabiskan sepenuhnya malam dengannya. Laki-laki yang telah mengukir banyak kenangan yang tak bisa dia singkirkan meski dia telah berusaha. "Paul," Dia menyebut nama itu tanpa sadar. Paul terbangun. Kedua matanya terbuka. Katherine berada d

