Bab 3. Biarkan Dia Menunggu

1047 Words
Katherine duduk termenung di tepi ranjang rumah sakit. Dia menatap wajah ayahnya yang tertidur lemah. Nafas ayahnya terdengar berat, tersendat oleh penyakit yang perlahan menggerogoti tubuhnya. Mata Katherine sembab, namun tak ada air mata yang jatuh. Dia sudah terlalu sering menangis hingga rasa sakit itu seakan membatu. Dia telah kembali. Tanpa uang, tanpa harapan. Usahanya mencari pertolongan sia-sia. Setelah pertemuan yang menguras harga diri dengan Paul, satu-satunya pilihan yang tersisa adalah menerima kenyataan pahit. Bantuan selalu datang di waktu yang tepat tapi dengan harga yang mahal. Meski dulu mereka pernah bersama, keadaan mereka kini berbeda. Paul bukan lagi lelaki yang dulu mencintainya. Kini, hanya ada kebencian yang tertinggal. Ia mencoba menghubungi teman-teman lamanya, mengetuk pintu satu per satu. Namun, tak satu pun terbuka untuknya. Dia memang bersalah, pergi begitu saja lima tahun lalu tanpa meninggalkan pesan. Dan kini, dunia menagih balasannya. Katherine menundukkan kepala, mengingat bagaimana dia harus menelan harga dirinya dan memohon pada Paul. Dia bahkan rela berlutut di hadapannya. Sebuah penghinaan yang tak akan bisa dia lupakan. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Katherine mengusap wajahnya, seolah ada air mata di sana. "Nona, apakah Nona sudah menebus obat untuk ayah Nona?" "Aku akan menebusnya nanti," Katherine tersenyum kaku, tidak tahu harus menjawab apa. "Sebaiknya segera, Nona. Jika tidak, kondisi ayah Nona akan semakin memburuk." "Aku tahu. Aku akan menebusnya besok," jawabnya pelan. Suster itu mengangguk ragu sebelum pergi, meninggalkan Katherine dalam kebisuan yang mencekik. Andai dia punya cukup uang, tentu dia tak akan menunda. Bahkan untuk makan pun dia harus memperhitungkannya, takut uang itu lebih dibutuhkan untuk membeli obat. Katherine kembali menatap ayahnya. Lima tahun mereka berjuang bersama, namun segalanya justru memburuk. Ia tak pernah menyesal memilih jalan ini, berkorban demi ayahnya meski kini dia tak punya apa-apa lagi. "Katherine," suara serak ayahnya memanggil. "Yes, Dad!" Katherine buru-buru merapikan rambut dan wajahnya, tak ingin terlihat menyedihkan. "Daddy senang kau berada di sini. Bagaimana, sayang? Apa kau sudah mendapatkan bantuan?" "Ye-Yes, Dad,” jawabnya gugup, "Aku sudah mendapatkan bantuan," Dia terpaksa menipu supaya ayahnya tenang. Ayahnya menatapnya, "Jangan berbohong. Kau tidak mendapatkan bantuan, kan?" Dia curiga putrinya sedang menipu. "Tidak, Dad. Aku tidak berbohong. Aku sudah mendapatkannya, percayalah. Daddy tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja," ujarnya sambil menggenggam tangan sang ayah. "Siapa yang akan membantumu, Katherine?" Ayahnya menghela nafas, "Sejak dulu mereka telah meninggalkan kita. Tidak ada lagi yang bersedia membantu kita apalagi secara cuma-cuma. Kau mendapatkan bantuan dari mana?" “Aku tidak berbohong, Dad. Percayalah, besok aku akan menwbus obat Daddy dan membayar seluruh biaya rumah sakit.” "Siapa yang membantumu, Katherine?" "Teman lama," katanya lirih, penuh dusta. "Baiklah, Daddy akan mempercayai dirimu. Setidaknya, masih ada seseorang yang peduli dan mau membantu kita!" "Percayalah jika masih ada keajaiban, Dad. Aku sudah mengatakannya, aku tidak akan berhenti maka aku tidak akan berhenti untuk mencari bantuan "Kau benar. Pergilah beristirahat karena kau terlihat begitu lelah." Katherine mengangguk, namun dalam hatinya sudah membuat keputusan. Dia akan menerima tawaran Paul walau harus membuang harga dirinya sejauh mungkin. Dia akan menjual dirinya demi satu hal. Menyelamatkan ayahnya karena hanya itu saja yang bisa dia lakukan. Bukankah sejak awal dia ingin menjual diri? Lalu apa bedanya? Walau Paul adalah mantan kekasihnya, meskipun pria itu membencinya. Tak ada lagi yang bisa ia pertahankan selain hidup ayahnya. "Beristirahatlah, Dad. Aku akan menghubungi temanku nanti." "Katherine," suara ayahnya lembut. "Jika kau sudah tidak sanggup lagi, berhentilah. Jangan korbankan hidupmu demi Daddy. Masa depanmu jauh lebih penting." Katherine menggigit bibirnya. Dia tahu ayahnya benar. Tapi ia juga tahu, waktu mereka tidak banyak. Dia akan lebih menyesal jika tidak dapat menyelamatkan ayahnya. "Aku tahu, Dad. Tapi percayalah, aku akan melakukan yang terbaik. Untuk Daddy, dan untukku.” "Daddy sangat beruntung memiliki dirimu," ucap pria tua itu, dan dalam hatinya, dia berharap ajal segera menjemput agar putrinya tidak menderita lebih lama lagi. Katherine tersenyum samar. Tidak, dia tak menyesal telah melepaskan banyak hal demi berbakti. Kebahagiaan bisa datang nanti tapi waktu bersama ayahnya tak akan pernah kembali. Dia duduk menemani ayahnya hingga pria itu kembali terlelap. Lalu ia berdiri pelan, mengusap lengan ayahnya. "Daddy tidak perlu khawatir. Walaupun penyakit ini tak bisa disembuhkan, aku akan tetap berjuang." Dengan langkah pelan dan pikiran kosong, Katherine meninggalkan kamar itu. Tanpa sadar, ia sudah berada di luar, menyetop taksi dan menyebut sebuah alamat. Hatinya tak menolak, tubuhnya hanya mengikuti satu keyakinan, dia harus menemui Paul dan membuat kesepakatan dengannya. *** Gedung itu menjulang megah, tak berubah sedikit pun. Hanya rasa yang kini berbeda. Dulu tempat ini adalah tempat mereka bertemu, tapi semua sudah menjadi kenangan. Kini, hanya rasa getir yang menyambutnya. "Bisakah aku bertemu dengan Paul Jackson?" tanyanya pada resepsionis. Wanita itu menatapnya sejenak, matanya menyipit. "Presdir sedang dalam rapat." "Jam berapa selesai?" "Mungkin, sekitar tiga jam lagi." "Bolehkah aku akan menunggu? Aku memiliki urusan penting dengannya!" "Tentu saja, ikutlah denganku! Mereka berjalan melewati lorong, mata-mata karyawan memperhatikannya. Mereka pun berbisik-bisik. Katherine tahu, mereka mengenalnya. Dulu ia sering datang, sebagai kekasih Paul. "Tunggu di sini," ucap sang resepsionis, lalu pergi. Katherine duduk, mencoba menenangkan diri. Ia akan menunggu, bahkan jika harus lima jam. Hari ini, dia harus bertemu Paul. --- Sementara itu, Paul Jackson baru saja selesai rapat. "Sir, mantan kekasih anda sedang menunggu di bawah," asistennya memberikan laporan. Satu alis terangkat. Mantan kekasih? Rupanya Katherine datang juga. Dia kira wanita itu akan lari karena tidak bersedia menerima tawarannya gilanya. "Sudah berapa lama?" "Hampir empat jam." Paul mendengus. "Jika begitu, biarkan dia menunggu lebih lama!" Dia tidak akan langsung memberikan apa yang Katherine inginkan. Dia tidak akan terburu-buru menemui perempuan yang pernah meninggalkannya karena dia tidak mau mengulang kebodohan masa lalu. Dia ingin tahu, apakah Katherine masih sanggup bertahan. --- Katherine masih berada di ruang tunggu ketika kantuk akhirnya menguasainya. Dia tidak tahu berapa lama tertidur, hingga suara seseorang membangunkannya. "Nona, Anda harus pergi sekarang." "Apa? Kenapa?" Dia melihat sekitar tapi suasana sudah sepi, "Di mana Paul Jackson?" "Presdir sudah pulang satu jam lalu. Tapi dia meminta Anda datang ke rumah besok pagi. Dia akan menunggu Anda di sana." Katherine menunduk. Jadi Paul ingin ia datang, ke rumah yang pernah mereka tempati dulu? "Baiklah. Terima kasih,” ucapnya pelan. Jika memang harus pergi ke sana, maka dia akan pergi. Katherine melangkah pergi. Mendadak dunia terasa lebih sunyi tapi bukankah selama ini dia selalu sendiri? Tidak apa-apa, semua pasti akan baik-baik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD