Bab 4. Akan Menghancurkan Mu

1153 Words
Rumah itu, saksi bisu dari cinta yang pernah tumbuh dan kini tinggal serpihannya. Setiap sudutnya menyimpan kenangan tentang mereka. Tentang tawa, air mata, dan janji-janji yang tak lagi berarti. Bertahun-tahun lamanya, rumah itu menjadi tempat mereka berbagi hidup. Dan kini, Katherine kembali dengan perasaan yang tak menentu di dalam dadanya. Dia berdiri di depan gerbang besi hitam yang dingin dan kokoh. Segala egonya telah dia buang jauh-jauh hanya untuk kembali ke tempat itu.. Tempat di mana hatinya pernah luluh. Yang mengejutkannya, rumah itu belum dijual. Paul ternyata masih tinggal di sana. Katherine melangkah pelan saat seorang penjaga membukakan pintu gerbang untuknya. Tubuhnya menegang, nalurinya ingin lari, tapi langkahnya terus membawa dia masuk lebih dalam. Dia berhenti sejenak. Pandangannya menyapu setiap sudut rumah yang tidak berubah. Mata Paul memperhatikannya dari balik tirai jendela lantai atas. Sunyi dan penuh tanya. Akhirnya, wanita itu datang untuk menyerahkan diri padanya hanya demi uang. "Tuan, Nona Katherine sudah tiba," lapor pelayan setianya dengan suara pelan. Paul hanya mengangguk. Tangannya memutar perlahan gelas kristal berisi anggur merah. Tatapan matanya menyaksikan pusaran cairan itu seperti menyaksikan masa lalu yang hendak ia hancurkan. "Bawa dia ke sini. Dan ingat, tak ada satu pun yang boleh masuk ke kamar ini tanpa perintahku." Suaranya dingin, tegas. "Baik, Tuan." Pelayan itu kembali ke depan untuk menyambut tamunya. Katherine menatap wajah pria tua itu dengan perasaan campur aduk. Dulu, dia menyambutnya dengan hangat. Kini, dia hanya menjalankan tugas. "Nona Katherine, tuan muda sudah menunggu." Langkah Katherine terasa berat, mengikuti pria tua itu. Rasa sesak semakin dia rasakan saat dia melewati lorong demi lorong yang penuh kenangan. Segalanya masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah, dan justru itulah yang menyakitkan. Kini dia berhenti di depan sebuah kamar. Kamar yang dulu mereka gunakan, menjadi tempat tawa dan cinta. Sekarang tempat itu akan menjadi panggung balas dendam dan luka. "Masuklah," ucap pelayan itu sebelum membiarkan pintu menutup pelan di belakangnya. Katherine berdiri kaku. Napasnya tertahan saat matanya menangkap sosok Paul. Pria itu duduk di sofa dengan segelas anggur di tangan. Sorot matanya menatapnya dengan tajam dan dingin. Dia tidak lagi mengenali pria itu. Bukan Paul yang dulu dia cintai. Pria itu bagaikan bayangan kelam yang terlahir dari luka dan pengkhianatan. Dia ingin bicara, tapi lidahnya kelu. Dia tidak mungkin berpura-pura ramah. Tidak sekarang karena bukan waktunya untuk berbasa basi. "Kemarilah." Perintah itu mengoyak kebisuannya. Langkah Katherine berat. Dia menunduk, matanya menatap ranjang yang ada di sisi ruangan. Di sanalah cinta mereka pernah tumbuh. Tak pernah terlintas dalam mimpinya bahwa dia akan kembali ke kamar itu. Dengan niat seburuk ini. "Sekarang katakan padaku, Katherine. Apa yang kau inginkan?" "Kau sudah tahu, aku hanya ingin uang. Aku tahu aku salah. Tidak seharusnya aku meninggalkan dirimu. Tapi aku?" “Cukup!” Paul menyela, tajam. Minumannya diteguk tanpa ampun, matanya tak lepas dari wajah wanita itu. "Aku hanya ingin mendengar permintaanmu, bukan kisah masa lalu. Tak ada yang perlu dikenang lagi karena kau telah menghancurkan semuanya!" "Aku... aku hanya menginginkan uang," Katherine memeluk dirinya dan berpaling, dia takut dengan pria itu, "Aku tidak akan berada di sini jika bukan untuk itu!" Terserah Paul mau menertawakan dirinya atau apa. Yang paling penting saat ini adalah nyawa ayahnya. Paul mengisi gelasnya lagi yang sudah kosong. “Lepaskan pakaianmu sekarang.” "Apa?" Katherine menatapnya, terkejut. "Jangan membuat aku mengulanginya. Bukankah kau datang demi uang? Maka lepaskan pakaianmu. Sekarang juga." Nada bicaranya sedingin es, penuh kebencian yang sudah lama dipendam. "Berapa?" suara Katherine gemetar, “Berapa harga yang kau tawarkan untuk tubuhku?” Setidaknya dia harus tahu berapa uang yang dibiarkannya dari melayani Paul. Paul menyeringai sinis, memutar kembali gelasnya. Jijik. Hanya ada perasaan jijik yang dia rasakan untuk wanita yang berdiri di hadapannya saat ini. Tetapi bagian kecil dalam dirinya mulai merasakan kemenangan. "Berapa yang akan aku dapatkan setiap kali aku tidur denganmu?" "Memangnya berapa yang kau inginkan?" Gelas kembali diputar. Kesempatan untuk balas dendam datang tepat waktu dan sekarang dia tak menyangka akan membeli mantan kekasihnya itu. "Seribu... atau dua ribu dolar setiap kali aku melayanimu." Paul tertawa, tawa yang terdengar dingin dan penuh dengan cibiran. "Kau begitu percaya diri, Katherine. Menjual tubuhmu padaku seharga itu, padahal dulu aku mendapatkannya secara cuma-cuma. Bahkan p*****r jalanan lebih murah daripada dirimu. Untuk apa aku membeli sesuatu yang sudah pernah jadi milikku?" Ucapan yang begitu pedas dan menusuk hati. Katherine menunduk. Perkataannya yang tajam, tapi dia tidak berhak sakit hati karena semua yang Paul katakan memang benar. "Jika begitu, aku akan pergi. Aku bisa menemukan pria lain yang mau membayar tubuhku lebih pantas!" "Berhenti di situ!" Paul membentak, nadanya penuh amarah. "Kau sudah menawarkan diri padaku, jadi jangan coba-coba menawarkan tubuhmu pada pria lain. Aku akan menutup semua jalanmu jika kau melakukannya!" Katherine mengepal tangannya, berusaha menahan emosi. "Sebenarnya apa yang kau inginkan, Paul? Aku tahu aku bersalah. Aku tahu tak seharusnya meninggalkanmu. Tapi apakah harus seperti ini caramu membalasnya?" "Kau tidak tahu apa pun!" Paul berteriak marah. Sorot matanya membara. "Jika kau ingin uang, maka patuhi aku. Aku akan menghancurkanmu perlahan. Jangan berpikir aku akan melepaskanmu semudah itu. Aku pun akan pastikan, tidak akan ada satu pria pun yang membeli tubuhmu itu!" Katherine menunduk dan menggigit bibirnya. Tahan, dia harus menahan semua itu untuk ayahnya. “Lepaskan pakaianmu sekarang. Aku akan membayarmu sesuai servis yang kau berikan. Jika kau bisa memuaskan aku, kau akan dibayar dengan layak." Katherine memandanginya. Mungkin ini lebih baik meskipun menjual tubuhnya pada seseorang yang pernah mencintainya adalah pilihan yang paling buruk karena pria itu begitu membenci dirinya. "Apa yang kau tunggu, Katherine?" "Baiklah." Dengan langkah tertahan, dia maju. Jemarinya gemetar saat melepaskan blus dari tubuhnya, satu per satu ditanggalkan hingga jatuh ke lantai. Roknya menyusul, membuat tubuhnya setengah telanjang di hadapan pria yang dulu pernah mencintainya. Paul menatapnya, napasnya mulai berat. Dalam lima tahun, ia tak pernah menyentuh wanita mana pun. Tidak sejak malam kelam itu. Dan sekarang, wanita yang menghancurkan dirinya berdiri di hadapannya, setengah telanjang. Hasrat lama membuncah. Tapi bukan cinta, itu dendam. Katherine memalingkan wajah, malu. "Apa... yang harus aku lakukan?" Padahal pria itu sudah melihat seluruh tubuhnya, tapi entah kenapa dia sangat malu. Paul tidak menjawab. Ia menuangkan anggur ke d**a telanjangnya. Cairan merah mengalir, membasahi kulitnya, hingga menetes ke perut. “Bersihkan itu.” Katherine menatapnya, tak percaya. “Dengan lidahmu. Sekarang.” Hening. Dia melangkah mendekati Paul. Tubuhnya bergetar saat dia berlutut. Lidahnya menyentuh kulit pria itu, rasa anggur bercampur getir memenuhi mulutnya. Paul menutup mata, kedua tangannya mengepal. Kenikmatan itu, terlalu nyata. Dia ingin merasakannya lebih. Tapi tiba-tiba saja, Paul mendorongnya dengan kasar. Dia berdiri. Tidak. Dia tidak akan menyerah semudah itu. Sebelum pergi, ia melemparkan dua lembar uang ke lantai. "Dua ratus dolar. Itu bayaranmu. Jika kau ingin lebih, beri aku sesuatu yang baru. Aku tidak ingin mengulang masa lalu. Banyak p*****r yang lebih kreatif dari dirimu." Lagi-lagi perkataan yang menusuk. Katherine meraih uang itu. Meremasnya. Kedua tangan gemetar. Air mata pun ditahan. Setidaknya itu cukup, untuk menebus obat yang dibutuhkan oleh ayahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD