Bab 5. Bayangan Masa Lalu

1038 Words
Katherine melangkah keluar dari kamar. Seorang pelayan tua, asisten pribadi Paul, telah menunggunya di ujung lorong. Tanpa sepatah kata pun, dia melewatinya begitu saja. Dia tidak bertanya akan keberadaan Paul karena dia tidak peduli ke mana pria itu pergi. Hari ini, dia telah melakukan hal pertama untuk mendapatkan uang meski ini baru awal. Masih ada tantangan lebih besar untuk mendapatkan uang yang lebih banyak. Tangannya menggenggam erat, mencengkeram lembaran uang yang baru saja Paul berikan padanya. Suara hak sepatunya memantul hampa di atas lantai marmer putih yang dulu sering dia lintasi dengan tawa dan harapan. Sekarang, setiap langkah seperti gema duka yang menuntunnya ke dalam jurang gelap tanpa dasar. Air mata mengancam turun, tapi ia menahannya. Tidak sekarang. Tidak di hadapan Paul atau pria tua itu. Hari ini dia harus tetap kuat, Untuk obat yang harus ditebus. Untuk hidup ayahnya yang masih harus diperjuangkan. Di ujung lorong, pelayan tua itu masih berdiri diam, menunduk sopan. Dia tak mengucapkan sepatah pun, seolah memahami bahwa luka tertentu tak akan pernah bisa dijangkau oleh kata-kata. “Nona, Tuan memintamu meninggalkan nomor telepon,” ucap pelayan itu pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh keheningan. Langkah Katherine terhenti. “Tuan berkata akan menghubungimu nanti,” lanjut pria tua itu sambil menghampirinya. Dia menyodorkan sebuah pena dan selembar memo kecil. Katherine menatap wajah lelah itu sejenak. Tidak ada senyuman. Tak ada percikan masa lalu yang tersisa. Mereka seperti dua orang asing yang baru saja bertemu di tengah kota yang dingin dan asing. Katherine menerima pena itu, mencoretkan angka demi angka. Nomor telepon yang ia tulis dengan tangan gemetar. Hatinya ingin menolak, ingin pergi dan tidak kembali. Tapi ia tahu, dalam hidup yang telah digerus kenyataan, tak semua kehendak bisa dikabulkan. Dia melangkah pergi, meninggalkan rumah itu. Rumah penuh kenangan, yang kini tak lebih dari reruntuhan harapan. Tapi ia tahu, cepat atau lambat, ia akan kembali bukan sebagai wanita yang dicintai, melainkan sebagai perempuan murahan yang dibeli dengan uang. Sebuah taksi dihentikan. Dia harus kembali ke rumah sakit untuk menebus obat. Ayahnya sangat memerlukan itu dan setidaknya, Paul memberikan 200 dolar untuk aksinya yang tidak seberapa. Meski begitu dia tahu, yang selanjutnya tidak akan mudah karena pria itu telah mengutarakan keinginannya. Mobil melaju membelah jalanan kota yang basah oleh sisa hujan. Katherine menatap keluar jendela, tapi pikirannya terjebak di masa lalu. Tawa Paul. Cara dia menggenggam tangannya dengan penuh kasih, bagaimana pria itu dulu rela berlari menerobos hujan hanya untuk dirinya. Semua itu kini tak lebih dari mimpi buruk yang tersisa dalam wujud kenangan. Tapi memangnya apa yang dia harapkan? Dirinyalah yang menghancurkan segalanya. Dia tak bisa menuntut Paul memaafkannya. Dia sendiri belum memaafkan dirinya. Sesampainya di rumah sakit, Katherine segera menebus obat untuk ayahnya. Satu masalah terpecahkan. Tapi masih ada gunung lain yang harus didaki, biaya rumah sakit. Dia harus mendapatkan lebih banyak uangdan satu-satunya cara yang dia tahu hanyalah dengan menyenangkan Paul. Asalkan pria itu memberinya uang, maka masalah biaya dapat diatasi. Saat ia memasuki ruangan rawat, ayahnya terbaring lemah di ranjang. Mata tuanya yang sayu mencoba tersenyum melihat putrinya datang. “Dari mana saja, Katherine? Kenapa baru kembali?” Suaranya lirih, seperti helaan napas yang tersisa. “Aku bekerja, Dad,” jawab Katherine sambil duduk di sisi ranjang. “Aku sudah menebus obat untuk Daddy. Sekarang, minumlah.” dia sibuk mengeluarkan bungkus-bungkus obat dari kantong plastik. “Apa kau sudah punya uang?” Tanya sang ayah pelan. Tatapannya menembus. Seolah tahu bahwa jawaban yang akan datang tidak sepenuhnya benar. “Aku… sudah gajian.” Sebuah kebohongan kecil. Tapi kebohongan yang perlu, agar ayahnya tak tahu sumber uang itu. “Jangan terlalu memikirkan keadaan Daddy, kau juga berhak menikmati uang itu. Lihat pakaian yang kau kenakan, sudah begitu lusuh dan kuno. Kau juga jarang menikmati makanan lezat dengan uangmu karena kau selalu mementingkan keadaan Daddy. Pergilah, gunakan uang itu untuk menyenangkan dirimu sendiri. Belilah pakaian dan make up, serta nikmati makanan yang kau inginkan,” selama dia berada di rumah sakit l, dia bahkan tidak pernah melihat putrinya makan. Tubuh putrinya semakin kurus saja. Dia tidak pernah memperdulikan penampilannya lagi seperti dulu. Rambut panjangnya terlihat berantakan dan pakaian yang dia kenakan itu, sudah bertahun-tahun lamanya. Dia tahu Katherine tidak pernah lagi memanjakan dirinya semenjak mereka bangkrut. “Pakaian ini masih bagus, Dad,” Katherine melihat penampilanya. “Tapi pakaian itu sudah usang. Kau masih muda, berdandanlah dengan layak seperti yang lainnya.” “Aku tidak peduli dengan hal itu karena yang paling penting adalah kesehatan Daddy. Aku tidak butuh apa-apa. Obat ini lebih penting dari make up atau baju baru. Sekarang bangunlah, aku bantu!” Dia memaksakan tersenyum saat membantu ayahnya meminum obat. Alan menatap putrinya penuh rasa bersalah. Tubuh lemah itu seolah hanya jadi beban. Dia sadar, selama ia masih hidup, Katherine tidak akan pernah bebas. Dia seperti batu besar yang terikat di kaki putrinya dan Katherine, tidak akan bahagia dan menikmati hidup. Penyakit yang menjalari tubuhnya seperti kutukan. Dia tak mengerti mengapa kematian belum juga datang menjemputnya. Katherine membaringkan ayahnya perlahan, "Beristirahatlah, panggil aku jika Daddy membutuhkan sesuatu!" Sebuah kecupan di dahi diberikan, sebelum dia pergi. Dia duduk di kursi. Menatap kosong ke dinding. Kepalanya penuh, kenangan tentang Paul. Dia pikir dia telah melupakan pria itu. Tapi kenyataan menamparnya. Lima tahun berlalu, ternyata perasaan itu masih ada. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh perlahan, membasahi pipi tanpa suara. Ia menangisi segalanya. Dirinya, ayahnya, dan cinta yang berubah menjadi kebencian. Ponselnya bergetar, mengalihkan kesedihan. Satu pesan masuk. Pesan yang dikirimkan oleh Paul. "Besok malam pukul sepuluh, kau harus datang. Pakailah pakaian yang menggoda. Aku tidak mau melihat wajah penuh iba itu lagi, atau pakaian kotor seperti gelandangan. Buat dirimu seperti p*****r berkelas, seperti yang dulu aku temui di klub malam mewah. Aku bayar mahal, jadi jangan mengecewakan." Katherine menatap layar ponsel itu lama, sebelum akhirnya tersenyum getir. Jadi begitulah Paul memandangnya sekarang? Seorang gelandangan yang menjajakan harga diri? Ia menurunkan ponsel itu perlahan, lalu menatap bayangan dirinya di jendela rumah sakit. Rambutnya acak-acakan, kulitnya pucat, pakaiannya kusam dan lusuh. Kata-kata Paul, sesakit apa pun, memang tidak salah. Perkataan ayahnya akan penampilannya juga benar. Dia harus mencari pakaian terbaik yang ia miliki. Bukan untuk Paul. Tapi agar dia mendapatkan uang. Dia sudah mengambil jalan itu, jadi dia harus berperan dengan baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD