Bab 6. Hukuman

1044 Words
Katherine membuka lemari pakaian kecil yang berada di sudut kamarnya. Lampu neon yang menggantung di atas kepala memancarkan cahaya pucat, membasahi ruangan sempit itu dengan warna kekuningan yang muram. Jemarinya menyisir kain-kain yang tergantung rapat, kebanyakan sudah usang dan kusam. Ia mencari sesuatu. Apa pun yang bisa membuatnya terlihat seperti yang diminta Paul. Sehelai gaun hitam dari masa lalunya tergantung di pojok lemari. Masih tersampir rapi dalam plastik bening, seolah menunggu hari untuk dikenakan kembali. Gaun itu pernah dia kenakan di pesta ulang tahun Paul. Gaun yang dulu membuat Paul tak bisa melepaskan pandangannya sepanjang malam. Mungkin dia akan mengulangi malam yang sama setelah dia memakai gaun itu. Dia menariknya keluar, mengusap debu tipis yang menempel. Kainnya masih lembut, dan terlihat bagus. Itu satu-satunya gaun mahal yang dia miliki. Dia terlalu menyukainya, begitu sayang untuk dibuang. Malam ini dia akan memakai gaun itu lagi. Dia tidak boleh datang dengan wajah iba dan pakaian kumuh lagi. Tidak jika dia ingin bertahan dan mendapatkan uang. Katherine berdiri di depan cermin kecil. Menerawang wajahnya sendiri. Dia mengikat rambutnya, merapikannya seadanya, lalu memoleskan bedak tipis yang sudah hampir habis. Saat selesai, ia menatap bayangan dirinya sekali lagi. Wanita di cermin itu tampak asing. Bukan Katherine yang dulu. Bukan gadis yang tertawa dengan mudah dan percaya bahwa cinta bisa menyelamatkan segalanya. Tidak. Wanita itu kini adalah seseorang yang menjual harga diri demi sebuah napas tambahan bagi orang yang ia cintai. --- Pukul sepuluh malam. Tepat seperti yang tertulis di pesan. Katherine turun dari taksi karena dia sudah tiba. Angin malam menusuk kulitnya yang terbuka oleh potongan gaun. Dia menegakkan bahu, melangkah masuk ke rumah itu. Pelayanan tua itu membuka pintu. Tidak perlu diberi tahu, Katherine tahu harus pergi ke mana. Pria itu telah menunggu. Menatapnya tajam ketika Katherine masuk ke dalam kamar. Gaun yang dia kenakan, justru mengingatkan dirinya pada masa lalu yang telah dia lupakan dengan susah payah. "Apa tidak ada gaun lain yang dapat kau kenakan?" Suaranya dingin. Ada nada tidak senang dari nada bicaranya. "Tidak ada. Jika kau ingin melihat penampilan lusuhku lagi, maka aku akan memakai yang lainnya!" "Lebih baik berpenampilan lusuh dari pada berpenampilan menjijikkan seperti itu!" Dia membentak. "Apa?" "Lepaskan pakaianmu. Sekarang." Nada suaranya dingin dan mengancam, bagai cambuk yang mencambuk harga diri Katherine hingga koyak. Penampilan itu membuatnya muak. Dia benci, kenangan yang telah dia lupakan kembali lagi. Tatapan matanya menembus tajam, menelanjangi bukan hanya tubuhnya, tapi juga seluruh martabatnya. Semakin dilihat, kenangan itu akan semakin menghancurkan dirinya. "Jangan membuat aku mengulangi perkataanku. Jika tidak, aku akan melupakan semua ini dan mencari p*****r lain!" Katherine menunduk. Tak ada ruang untuk menolak. Perintah itu adalah vonis. Tangannya gemetar. Tali gaun mulai diturunkan. Paul mulai kesal. Dia menghampiri Katherine lalu mencengkram dagunya. "Apa kau sengaja berpakaian seperti ini untuk menjebakku ke masa lalu?" Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan. Tapi penuh dengan dendam. “Tidak!” “Jangan berbohong!” Dia menyentuh dagu Katherine, mengangkatnya agar menatap matanya. “Jangan mengira dapat mengulangi masa lalu karena rasa itu sudah tidak ada. Sekarang kau hanyalah wanita yang aku beli dengan uang!" Dia merobek gaun itu, gaun penuh kenangan yang tidak seharusnya Katherine kenakan pada malam itu. Paul menariknya menuju ranjang. Lalu mendorongnya dengan kuat. Tubuh Katherine terhempas, tidak ada teriakan. Tidak ada amarah. Dia adalah p*****r, bagi Paul. Segala kebencian pria itu pada dirinya dapat dia lihat dari sorot matanya dan disetiap tarikan nafasnya. "Jika kau tidak bisa memuaskan aku dan tidak bisa memberikan permainan yang baru maka aku tidak akan membayarmu sepeserpun. Ingat satu hal, jangan pernah melakukan apa yang pernah kau lakukan dulu!" Katherine beranjak dengan perlahan. Dia mendekati pria itu tanpa suara. Tangannya mulai meraba, untuk melepaskan pakaian Paul. Dia harus menggali ingatannya kembali, apa saja yang telah mereka lakukan di masa lalu agar tidak dia ulangi. Paul memperhatikan apa yang dia lakukan tapi sentuhan itu membuatnya menahan diri mati-matian. Dia benci, dia semakin benci dengan Katherine karena hanya wanita itu saja yang bisa membangkitkan hasratnya yang telah lama mati. Seharusnya tidak seperti ini, seharusnya dia bisa melakukannya dengan wanita lain tapi dia terlalu muak dengan mereka bahkan dengan Elena sekalipun. Bibir Katherine bermain di atas otot tubuhnya. Paul memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang memabukkan. Kedua tangan mengepal ke samping. Dia berusaha menahan diri untuk tidak merengkuh tubuh Katherine. Dia membiarkan wanita itu menyentuh seluruh tubuhnya walaupun api gairah tak dapat lagi dia tahan. Paul kembali menarik tubuhnya ke atas ranjang yang dulu pernah menjadi saksi bisu dari cinta mereka. Namun kini, tempat itu hanya menyisakan kenangan pahit. Dia menarik pakaian Katherine yang tersisa dengan tidak sabar. Dia tidak ingin bermain terlalu lama, dia ingin menumpahkan hasratnya yang berkobar tapi sentuhannya tidak lagi seperti dulu. Sentuhannya tidak lagi hangat. Tidak lagi mencintai. Yang tersisa hanya amarah, dendam, dan kebencian yang membakar habis segala sisa kasih di antara mereka. Dia memperlakukannya seperti seorang w************n, seolah dia bisa dibeli dengan segenggam uang kotor di klub malam. Setiap gerakan Paul seperti hukuman, seperti upaya untuk menenggelamkan Katherine ke dasar jurang yang paling gelap. Dia tidak peduli dengan permohonan Katherine. Dia meninggalkan banyak bekas yang menyakitkan. Dia ingin mengubah kenangan manis yang telah terukir di antara mereka berdua menjadi sebuah kenangan buruk yang tidak akan pernah diingat lagi oleh Katherine bahkan untuk dirinya. Tubuh Katherine bukan lagi miliknya malam itu. Paul memperlakukannya seperti bayangan dari dosa yang ingin dia lupakan, tetapi tidak bisa. Setiap gerakannya adalah hukuman. Setiap sentuhan adalah pengingat akan kesalahan yang dia lakukan di masa lalu. Dia menyakitinya. Bukan hanya secara fisik, tapi jauh lebih dalam. Dia pun lelah memohon. Sekarang dia menerima rasa sakit dan kekecewaan Paul pada dirinya. Dia pantas mendapatkan semua rasa sakit itu karena dialah yang telah membuat Paul jadi seperi itu. Ruangan itu terasa panas, api gairah membakar Paul. Dia bergerak liar, menuntaskan hasrat yang terpendam. Air mata Katherine jatuh tanpa suara. Ia tidak lagi merintih, tidak lagi memohon. Hanya satu kata lirih yang lolos dari bibirnya, hampir tak terdengar. “Maaf…” Hanya ada rasa sakit di hati. Dan dia tahu siapa yang paling sakit di antara mereka berdua. Dan malam itu, di ruangan yang dulu pernah menjadi tempat mereka saling mencintai, hanya ada dua jiwa yang telah berubah menjadi puing-puing. Tersesat dalam reruntuhan kenangan. Apakah ini akan menjadi awal dari kehancurannya ataukah menjadi akhir dari penderitaannya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD