Bab 7. Aib Masa Lalu

1234 Words
Pagi datang tanpa permisi. Cahaya matahari menyelinap lewat sela gorden, menyentuh wajah Katherine. Kedua mata enggan dibuka, berharap dunia di sekitarnya bisa lenyap walau sesaat. Tubuhnya masih terbaring di ranjang yang dingin, tempat di mana sisa malam tadi masih menempel seperti noda yang tak bisa dibersihkan. Paul telah pergi lebih. Meninggalkannya dalam keheningan. Satu malam berat telah dilalui. Dia akan terbiasa nantinya. Katherine perlahan bangkit, tubuhnya terasa berat, seolah tulangnya menolak untuk menopang beban itu lagi. Dia mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai, tapi gaun hitam itu sudah tidak ada. Hanya sebuah kemeja saja berada di sisi ranjang. Sepertinya Paul begitu membenci masa lalu sampai gaun penuh kenangan itu pun disingkirkan. Di meja samping ranjang, ada setumpuk uang yang diletakkan begitu saja. Tidak ada pesan, tidak ada amplop. Jumlahnya cukup banyak tapi dia tidak tahu apakah pria itu puas dengan pelayanan yang dia lakukan atau tidak. Uang itu cukup, untuk membayar biaya rumah sakit meski belum bisa membayar secara penuh. Dia harap pihak rumah sakit mau sedikit bermurah hati dan memberikan waktu lagi padanya. Katherine keluar dari kamar. Langkahnya menyusuri koridor rumah itu dengan pelan, nyaris tanpa suara. Ia merasa seperti bayangan yang tidak seharusnya ada di rumah itu lagi. Pelayan tua itu berdiri di depan pintu. Tatapan pria itu kosong, seolah sudah terbiasa dengan apa pun yang terjadi di rumah ini. "Aku telah menyiapkan sarapan untukmu, Nona. Aku harap Nona menikmatinya terlebih dahulu sebelum Nona pergi," ekspresinya datar tapi ada sedikit simpati terselip dari ekspresinya itu. "Terima kasih telah menawarkan, tapi aku tidak bisa menerimanya." "Tuan muda tidak akan keberadaan. Makanlah terlebih dahulu!" Katering tersenyum tipis, "Terima kasih," dia melangkah pergi. Dia tetap menolak tawaran itu. Dia tidak bisa menerimanya, tidak karena semuanya sudah berakhir. Dia tidak boleh lagi bersikap seperti dulu, layaknya seorang Nyonya rumah karena sekarang dia hanyalah seseorang wanita bayaran yang datang ke rumah itu untuk menjadi pemuas nafsu. Sebuah taksi dihentikan. Katherine pergi ke rumah sakit. Dia memegang uang itu baik-baik, takut kehilangannya. Itu sangat berarti bagi dirinya karena dia tidak akan mendapatkan uang itu dengan mudah lagi. Tiba-tiba dia ingin membeli sesuatu, makanan lezat yang dapat dia nikmati dengan ayahnya. Sudah lama tidak pernah membelikan ayahnya makanan kesukaannya lagi. Ayahnya pasti akan senang. Ia membeli makanan di restoran yang dulu sering mereka kunjungi. Dulu, mereka tertawa di sana, berbagi cerita, tanpa beban hidup yang menghimpit seperti sekarang. Kini semuanya tinggal kenangan. Sesampainya di rumah sakit, ia langsung membayar tagihan yang menumpuk. Tapi uang itu hanya cukup untuk melunasi sebagian. Petugas rumah sakit kembali memperingatkannya, suara mereka seperti gema yang telah sering ia dengar. “Sisanya tolong segera diselesaikan, Nona. Kami pun berharap Anda tidak menunggak lagi.” “Aku mengerti. Aku akan berusaha membayarnya tepat waktu,” jawabnya pelan, berharap Paul akan memanggilnya lagi, agar ada secercah harapan untuk hari-hari berikutnya. Rasa sakit di tubuhnya terlupakan saat dia melangkah menuju ruang rawat inap. Ada cahaya kecil yang menyala di wajahnya. Bukan karena ia melupakan malam pahit yang baru saja berlalu, tapi karena dia bisa memberikan sedikit kebahagiaan pada ayahnya. “Aku datang, Dad,” ucap Katherine, membuka pintu ruangan. Ayahnya menatap dengan heran. “Kau terlihat bahagia. Apa ada hal baik yang terjadi?” “Tentu saja,” jawab Katherine sambil mengangkat bungkusan makanan, “Aku membawakan makanan kesukaan Daddy.” Alan tersenyum, perlahan bangkit dari tempat tidur. Katherine buru-buru meletakkan makanan dan membantunya duduk. “Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku makan ini,” ucap Alan, suara lirih tapi hangat. “Tunggulah sebentar, aku akan mengambil piring,” kata Katherine, lalu berjalan pergi. Alan memandang punggung putrinya dengan getir. Dia bahagia melihat senyum itu, tapi rasa bersalah mencekik d**a. Putrinya kembali, dia bisa melihat raut wajah lelahnya akibat terlalu banyak masalah yang dia berikan. “Bagaimana dengan pekerjaanmu, Katherine?” “Baik-baik saja, Dad. Sebentar lagi aku harus pergi,” Katherine duduk di sisi ayahnya dan mengeluarkan makanan itu. Aromanya membuat mereka bernostalgia akan masa lalu. Dulu mereka tidak pernah kesulitan hanya untuk membeli makanan tapi semua itu berakhir dalam sekejap mata. Siapa yang dapat disalahkan? Dialah orang yang paling pantas disalahkan. Semua terjadi karena kelalaian dan roda kehidupan berputar dengan cukup kejam sehingga mereka hancur tanpa adanya persiapan. “Daripada kau bekerja di restoran, kenapa kau tidak bekerja di perusahaan saja, Katherine? Bukankah kau akan mendapatkan gaji yang layak jika bekerja di sana? Kau akan memiliki uang yang cukup untuk kau pergunakan.” “Aku tahu maksud Daddy, tapi aku ingin memiliki waktu untuk menemani Daddy. Bekerja di perusahaan juga tidak mudah, Dad. Dengan reputasiku yang sudah hancur, aku tidak yakin akan ada perusahaan yang mau menerima aku bekerja,” ucapan itu membuat Alan merasa bersalah. Yeah, dialah yang telah menghancurkan kehidupan putrinya. Hanya karena sebuah bisnis. Dia meminta Katherine untuk menemui seorang klien. Dari sanalah awal mula semua kehancuran terjadi. Mereka ditipu secara mentah-mentah, reputasi putrinya pun hancur. Tidak hanya itu saja, Katherine harus menanggung malu dan terpaksa merelakan banyak hal dalam hidupnya. Dia bahkan rela meninggalkan lelaki yang dia cintai sejak dulu supaya tidak terkena dampaknya. Semua itu berawal dari keserakahannya. Kebangkrutan mereka, penyakit yang dia derita, menghancurkan mereka dengan perlahan. Dan sekarang, putrinya yang harus menanggung semuanya dan semua itu tidak bisa diperbaiki lagi. “Daddy minta maaf padamu, Katherine." “Apa yang sudah berlalu tidak perlu diungkit, Dad. Aku sudah mengikhlaskannya dan aku tidak menyalahkan Daddy. Kita hanya sedang sial saja waktu itu. Lagi pula menyesal pun percuma karena tak ada yang dapat kita ubah.” “Katherine, apakah kau tidak pernah bertemu dengannya lagi?” Dia jadi penasaran. Apakah pria itu tidak pernah mencari putrinya? Katherine terhenti, dia tahu siapa yang dimaksudkan oleh ayahnya. “Lima tahun kau bersembunyi, apa kau tidak ingin mencarinya lalu menjelaskan padanya apa yang telah terjadi waktu itu?” “Tidak, Dad!” Makanan kembali dituang ke dalam mangkuk, “Sudah begitu lama berlalu, tidak ada yang perlu aku jelaskan. Biarkan saja semua ini menjadi rahasia dan biarkan semuanya menjadi kenangan. Lagi pula, dia tidak mungkin memaafkan aku jadi tidak ada alasan bagiku untuk menjelaskan apa pun padanya seandainya kami bertemu,” sebaiknya dia tidak memberitahu ayahnya jika dia menjual diri pada Paul untuk mendapatkan uang. “Daddy harap kau bertemu dengannya dan menjelaskan apa yang terjadi. Mungkin dia dapat menerimanya dan mau memaafkan dirimu.” “Untuk apa? Semuanya tidak akan kembali seperti dulu. Dia juga memiliki kehidupan, tidak mungkin dia masih setia menunggu pengkhianat sepertiku. Sejak malam itu, aku bukan lagi Katherine yang dulu. Daddy tahu itu, dan aku tidak lagi pantas untuk dirinya karena aku sudah kotor!” “Maaf, Katherine. Daddy minta maaf,” dia benar-benar menyesal karena telah menghancurkan hidup putrinya. “Banyak wanita yang pantas untuk dirinya. Hubungan kami berdua hanyalah sebuah kenangan. Lebih baik kita tahu diri daripada dipermalukan nantinya.” Yang putrinya katakan sangat benar. Mereka memiliki aib. Jika aib itu tersebar maka putrinya akan kembali menanggung rasa malu. Memang sebaiknya seperti itu tapi rasa bersalah tidak dapat disingkirkan dengan mudah. Dan dia telah melakukan sebuah dosa besar pada putrinya. “Tidak perlu membahas hal itu lagi dan tidak perlu memikirkan dirinya. Nikmati makanan ini sekarang karena aku harus pergi bekerja sebentar lagi.” “Baiklah.” putrinya yang malang, dia harus menanggung semua dan aib yang tidak bisa dihapus. Siapa yang dapat menyelamatkan dirinya? Siapa yang dapat memberikan kebahagiaan untuknya? Sekarang, dia hanya bisa berharap ada seorang laki-laki yang bisa menerima putrinya dan mencintainya dengan tulus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD