Bab 8. Sahabat Yang Berusaha Dihindari

1039 Words
Katherine hidup dalam bayang-bayang, menyembunyikan identitasnya dari dunia yang pernah mengenalnya. Dia bukan hanya meninggalkan Paul, tapi juga memutus tali dengan sahabat-sahabat terdekatnya. Mereka yang dulu menjadi bagian dari tawa dan tangisnya kini hanyalah kenangan yang menyesakkan. Semua itu karena satu kejadian. Sebuah aib yang tak sanggup ia hadapi, apalagi bagikan. Dia takut. Takut jika salah satu dari mereka mengetahui keburukan yang pernah ia lakukan lima tahun lalu. Malu, lebih dari itu, ia merasa hancur. Ia tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika mereka mengajukan pertanyaan yang selama ini berusaha ia hindari. Dia hanya bisa berharap rahasia itu tetap terkubur rapat, tak pernah muncul ke permukaan. Dia juga berharap, para penjahat yang dulu terlibat menepati janji untuk tidak menyebarkannya. Seandainya saja saat itu ia memaksa ayahnya pergi meninggalkan semuanya, mungkin hidupnya tidak akan segelap ini. Namun mereka terlambat. Segalanya sudah berakhir sebelum sempat dimulai. Mereka tidak punya apa-apa, tak ada daya untuk memulai hidup di tempat baru. Satu-satunya jalan adalah bersembunyi. Diam-diam mencari kedamaian di sela-sela hiruk-pikuk dunia. Katherine tahu ke mana sahabat-sahabatnya biasa pergi. Dia hafal tempat-tempat mereka berkumpul, dan karena itulah ia bekerja di balik dinding dapur sebuah restoran, jauh dari sorot mata dunia luar. Menjadi tukang cuci piring adalah pilihan terbaik, karena tak seorang pun akan mencarinya di sana. Sampai pada hari itu. Semua aman. Tapi seberapa lama dia bisa bersembunyi? "Katherine, restoran sangat ramai hari ini. Tinggalkan piring-piring itu dan bantu yang lain di luar!" suara manajernya membuyarkan lamunan. Mereka kekurangan orang untuk melayani para tamu. Mereka membutuhkan beberapa pramusaji tambahan supaya para tamu yang datang tidak kecewa. "Tapi, Sir?" Ini pertama kalinya ia diminta keluar dari zona amannya. "Jangan banyak bertanya. Pergilah keluar dan bantu yang lain!" perintah itu mutlak, tak dapat ditolak oleh Katherine. Dengan berat hati, ia melepas sarung tangan karet dan merapikan penampilannya. Kacamata dibenarkan, masker dikenakan. Semua untuk menjaga agar tak ada yang mengenalinya. Dia diberi menu dan memo, ditugaskan melayani beberapa tamu. Ia melangkah, berusaha tampak tenang. Tapi langkahnya terhenti saat matanya menangkap sekelompok wanita duduk anggun dalam balutan pakaian glamor. Jantungnya berdegup cepat. Tangan gemetar, keringat dingin mulai membasahi pelipis. Ia mengenali mereka, sahabat-sahabatnya. Emma, Lily, dan yang lain. Mereka duduk di sana, tertawa, mengobrol, seperti masa lalu yang tiba-tiba muncul di depan mata. Tubuhnya ingin berbalik, tapi pekerjaannya menuntutnya maju. Dia tidak boleh membuat kesalahan, karena dia membutuhkan pekerjaan itu. Katherine melangkah dengan perlahan. Dia tidak boleh membuat mereka curiga. Langkahnya semakin dekat dan tanpa sengaja dia justru mendengar percakapan mereka, percakapan yang tidak seharusnya dia dengar. Katherine berbalik, melayani tamu lain sambil mencuri dengar apa yang mereka bicarakan. “Apa tidak ada satupun dari kalian yang mengetahui keberadaan Katherine?” Sahabatnya Emma, yang menanyakan hal itu. Dia adalah sahabat baik Katherine. Dia yang selalu menemani Katherine dan mendengarkan keluh kesahnya tapi dia tidak pernah tahu, apa yang terjadi dengan Katherine dan kenapa Katherine tidak pernah menampakkan dirinya lagi. “Kita sudah tidak pernah melihat dan mendengar kabarnya selama lima tahun, apa kau masih mencari keberadaannya?” Tanya sahabatnya yang lain. “Aku mengkhawatirkan keadaan Katherine, apa kalian tidak mengkhawatirkan dirinya?” Memang selama 5 tahun, dia selalu mencari keberadaan Katherine untuk tahu bagaimana dengan keadaannya. “Kami khawatir, tapi apa yang bisa kita lakukan? Dia sudah pergi begitu lama tanpa memberi kita kabar. Yang kita tahu hanyalah kebangkrutan perusahaan ayahnya, hanya itu saja.” “Benar, Emma. Jika Katherine menganggap kita sebagai sahabatnya, seharusnya dia mencari kita dan mengatakan apa yang terjadi. Tapi dia pergi begitu saja tanpa kabar, membuat kita bertanya-tanya akan keadaannya. Dia bahkan tidak tahu jika kita mengkhawatirkan keadaannya.” Katherine menunduk, air mata berusaha ditahan. Dia tahu mereka kecewa pada dirinya tapi dia sudah tidak memiliki muka untuk bertemu dengan mereka. Sekarang dia harus menghindari para sahabatnya itu supaya tidak dikenali. Dia memberanikan diri menghampiri mereka. Segera selesaikan pekerjaan itu lalu kembali ke dapur. Anggap saja dia masih beruntung dapat bertemu dengan para sahabatnya. Mereka masih seperti dulu, dia senang melihatnya meskipun persahabatan mereka sudah tidak bisa kembali lagi. “Maaf, mengganggu. Apa kalian sudah menentukan pesanannya?” Katherine sedikit mengubah suaranya agar tak ada yang mengenali dirinya Mereka menoleh, salah satunya adalah Emma. "Oh, tentu." Satu per satu pesanan dilontarkan. Katherine mencatatnya dengan tangan gemetar. Namun, tatapan Emma membuatnya tak tenang. Wanita itu memandangi Katherine dari ujung kepala hingga kaki. Wajahnya menyimpan keraguan, tapi juga pengakuan yang dalam. "Katherine?" suara itu lirih, namun menusuk seperti panah ke jantungnya. Tubuh Katherine menegang. Emma berdiri, wajahnya serius. "Apa kau Katherine?" "A-apa maksudmu, Nona?" Katherine mencoba tetap tenang, menyembunyikan ketakutannya. "Kau Katherine, kan?" Emma kembali bertanya. "Bukan, namaku bukan Katherine. Kau mungkin salah orang." "Benarkah?" Emma tak percaya. Firasatnya mengatakan jika pelayan itu adalah Katherine. "Tentu saja. Namaku Ana, bukan Katherine," Dia tersenyum, meski senyumannya tersembunyi di balik masker. "Buka maskermu. Aku ingin melihat wajahmu." Katherine memalingkan wajah, tapi dua sahabat menarik Emma kembali ke tempat duduk. "Apa yang kau lakukan, Emma?" Mereka terlihat tidak enak hati akan apa yang dilakukan oleh Emma. "Dia Katherine, Aku bisa merasakannya!" "Hal itu tidak mungkin terjadi. Bagaimana mungkin kita bisa bertemu dengannya secara kebetulan?" "Benar, Emma. Lima tahun telah berlalu, dia tidak mungkin masih berada di kota ini!" "Tapi?" Tatapannya masih tertuju pada Katherine. "Sudahlah. Kau terlalu memikirkan ditinya." "Baiklah," Emma menunduk. Dia terlihat sedih. Diam-diam Katherine mengambil nafas panjang. Ia tersenyum palsu. "Bolehkah aku mencatat pesanan kalian sekarang?" "Tentu. Maafkan sahabat kami, Nona. Kami tak bermaksud membuatmu tidak nyaman." "Tidak apa-apa," dia tersenyum pada Lily. Tangan Katherine kembali mencatat, namun Emma masih memandanginya. Tatapan itu menelusuri wajah yang tersembunyi, namun hati sahabat mengenal lebih dalam dari apa pun. Katherine menyelesaikan tugasnya secepat mungkin. Dia tidak mau terlalu lama bersama mereka. "Pesanan kalian akan segera diantar. Terima kasih." Ia membungkuk sopan dan segera pergi. Matanya menolak menangis, namun dadanya sesak. Dia tahu, Emma belum menyerah. Dan jika ia tak hati-hati, semuanya akan terbongkar. Saat ia hendak kembali ke dapur, seorang anak laki-laki berlari dari kerumunan, dan tanpa sengaja menabraknya. "Tolong aku, Aunty!" Anak itu menangis, memeluknya erat. Tubuh kecil itu bergetar ketakutan. Katherine berlutut, untuk melihat keadaannya. "Kau tidak apa-apa?" Anak itu mengangkat wajahnya. Mata bulat itu, garis rahang, alis yang tegas. Segalanya terasa familiar. Nafas Katherine tercekat. Paul... Wajah anak itu... terlalu mirip dengan Paul.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD