Elena berdiri di tengah kamar yang hening. Tak ada suara tawa anak kecil, tak ada langkah kaki Paul. Hanya sunyi yang menggantung di udara, menciptakan kekosongan yang menyesakkan. Pandangannya menyapu ke seluruh ruangan, kosong. Mereka sudah pergi. Perasaan kecewa bercampur amarah membuncah dalam dadanya. Dia telah menyiapkan sarapan, berharap bisa menikmati pagi itu bersama keluarga kecil yang ia impikan. Namun, yang dia dapatkan hanyalah kehampaan. Paul bahkan tak meninggalkan sepatah kata pun. Seolah dirinya tak berarti apa-apa. Biasanya, mereka akan sarapan bersama sebelum Paul mengantar Alex. Tapi pagi ini berbeda. Paul pergi begitu saja, membawa putra mereka tanpa memberitahunya sedikit pun. Kesal dan marah campur aduk menjadi satu dalam hatinya. Semakin hari, perlakuan Paul se

