Suasana kamar itu berubah sunyi. Wajah Paul tampak tegang. Seorang dokter paruh baya sedang memeriksa keadaan Katherine yang terbaring lemah di ranjang. Selimut tebal menutupi tubuhnya, sementara tangan dinginnya menggenggam ujung kain seolah menggenggam sisa-sisa kekuatannya. Paul berdiri tak jauh dari sana, menatap Katherine dalam diam. Rahangnya mengeras, tetapi bukan karena marah, melainkan karena sesuatu yang tak ingin dia akui. Rasa cemas dan takut yang sudah lama tidak dia rasakan. "Bagaimana dengan keadaannya?" Suara terdengar berat, tapi penuh kekhawatiran. “Kondisinya cukup serius,” ujar dokter itu sambil melepas stetoskopnya. “Demamnya begitu tinggi. Kemungkinan besar akibat terlalu lama kehujanan. Dia mengalami hipotermia. Tekanan darahnya pun rendah dan seharusnya dia b

