Katherine masih tertidur, tubuhnya meringkuk lemah di bawah selimut. Sesekali ia menggeliat, mengerang pelan, seolah demamnya belum benar-benar reda. Keningnya masih panas. Pipinya memerah, dan bibirnya terlihat kering. Paul duduk di kursi, tatapanya tidak lepas dari Katherine. Sudah beberapa jam dia di sana, tak bergeming. Setiap pelayan yang hendak menggantikannya dihalau dengan tatapan tajam. Tak satu pun berani membantah. Di tangannya, ia menggenggam kain basah yang beberapa kali ia gunakan untuk mengompres dahi Katherine. Gerakannya pelan, hati-hati, seolah takut menyakiti wanita itu lebih jauh. Tak ada lagi sikap dingin. Tak ada amarah. Yang tersisa hanya kerutan khawatir di keningnya dan raut bersalah yang tak mampu dia sembunyikan. "Maaf... Maaf," Katherine bergerak gelisah. D

