Pintu kamar itu terbuka sedikit. Dari celah sempit di balik daun pintu, sepasang mata kecil mengintip penuh kecemasan. Alex berdiri membeku, tubuh mungilnya tak bergerak, hanya jantungnya yang berdegup kencang. Ia tidak berani keluar. Ketakutan pada ibunya menancap kuat dalam benaknya, apalagi setelah pertengkaran semalam yang begitu menegangkan. Padahal, pagi itu ia sudah rapi. Seragam sekolahnya telah terpakai sempurna dan tas kecilnya menggantung di punggung. Dia ingin pergi tanpa sepengetahuan Elena, berharap bisa menghindari amukan sang ibu. Langkahnya perlahan keluar dari kamar. Setiap jejak terasa berat, seolah lantai menyerap keberaniannya. Jarak ke pintu depan tak seberapa jauh, tapi bagi Alex, itu seperti menyeberangi jurang yang menakutkan. Dia ingin berlari, tapi takut suara

