Mereka berdua sampai di villa setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam. Riana memandang hamparan sawah hijau yang sedang ditanami padi dengan takjub dari balkon kamar. Udara terasa sejuk, suasana juga sunyi. Namun, menaburkan kedamaian.
"Kamu lagi ngapain? Kok bengong? Enggak baik loh bengong siang-siang begini. Gimana, kamu suka sama vila ini?" tanya Dion sembari menempatkan kedua tangannya di pinggang Riana. Sedangkan, dagunya diletakkan di bahu sang istri.
"Aku lagi menikmati pemandangan sawah-sawah itu. Indah Dion, aku suka. Semuanya hijau," jawab Riana antusias. Bibirnya melengkung membentuk senyuman. Dion terkekeh karena gemas.
"Semua sawah pasti warnanya hijaulah. Nah, kalau yang berwarna biru itu laut sama langit pas lagi terang gini. Kayaknya kamu perlu tes IQ lagi. Hahaha," ejek Dion tak berdosa.
"Buat apa tes IQ? Mending kamu aja sana Aku udah pernah dulu tes waktu masih SD dan SMA." Riana memerlihatkan ketidakpekaannya akan ucapan laki-laki itu.
"Aku enggak perlu tes segala karena dapat aku pastikan kalau nilai IQ-ku turun 10 poin saat berada di dekat wanita yang aku cintai," ucap Dion. Riana langsung membalikkan badan menghadap suaminya lalu menatap laki-laki itu yang menyunggingkan senyum jahil.
"Aish, enggak ada bosennya ya kamu ngegombal. Tapi, makasih udah ngajak aku nginap di villa, pasti harga sewanya lumayan mahal. Aku tahu akhir-akhir ini pengeluaran kamu makin banyak. Mulai dari biaya pengobatan, cicilan mobil sama rumah. Jangan keluarin uang kamu buat hal yang enggak penting. Atau paling enggak kita bisa patungan 'kan untuk bayar sewanya. Aku masih punya tabungan kok."
"Udah kamu enggak usah mikirin tentang pengeluaranku segala. Nikmati aja liburan ini, anak kita juga butuh refreshing. Prioritaskan kesembuhan kamu, Sayang," balas Dion sambil mengelus perut sang istri yang mulai membuncit. Tangan kanannya merapikan helaian rambut wanita itu yang sempat tertiup angin.
"Aku cuma enggak pengin kamu lembur kerja tiap malam lagi kayak dulu. Pokoknya jangan, tidak boleh. Aku enggak mau sendirian malam-malam di rumah." Larang istrinya dengan tegas.
"Hahaha, kok enggak boleh sih? Kamu pengin dekat-dekat sama aku ya?" goda Dion seraya mendekatkan wajah mereka. Sedangkan, Riana malah memejamkan matanya.
"Kenapa mejamin mata? Kamu kira aku mau nyium kamu ya, Sayang? Ah, kamu m***m juga rupanya." Dion semakin menggoda. Riana yang mendengar celotehan itu, kemudian membuka kedua matanya lebar-lebar.
"Yang sebenarnya pengen dekat-dekat sama kamu bukan aku, tapi anak kita. Jadi, kamu enggak boleh lembur-lembur lagi," pinta wanita itu seraya menyenderkan kepalanya di d**a sang suami guna menyembunyikan rasa malu dan kegugupan.
..................
Aliran sungai yang tenang menyambut kedatangan mereka berdua. Sungai ini sendiri berada di bawah vila, mereka harus menuruni beberapa anak tangga untuk bisa menikmati jernihnya air sungai yang tampak tidak begitu dalam.
Dion mengisyaratkan Riana untuk duduk di atas bebatuan yang ada di tepi sungai, tepat di sampingnya. Dia lalu melingkarkan tangan, merangkul mesra pinggang istrinya.
"Boleh pinjam handphone kamu enggak?"
"Tentu. Emangnya buat apaan?" Dion balik bertanya sambil mengambil handphone-nya dari kantong celana, kemudian menyerahkan pada Riana.
"Untuk selfie. Handphone-ku ketinggalan di vila. Lupa bawa." Tawa Dion terdengar. Hari ini dia seperti mengalami overdosis 'tertawa' Bahkan, perutnya sampai terasa sakit. Dia mengetahui sisi lain dari istrinya lagi.
"Hahaha kamu suka selfie juga? Sedingin-dinginnya perempuan pasti tetap aja enggak bisa jauh dari kamera dan selfie ya," cibir Dion. Kedua mata laki-laki itu tertuju pada sosok Riana yang tengah merapikan rambutnya.
"Sebenarnya aku juga enggak terlalu suka foto-foto, tapi sepertinya momen liburan kali ini perlu diabadikan. Kamu mau ikut selfie?" tawar sang istri. Dion menggeleng mantap.
"Enggak. Kamu selfie sendiri aja. Aku enggak doyan foto-foto. Tapi, jangan banyak-banyak nanti memori card-ku berkurang drastis gara-gara isinya foto kamu semua."
"Ayolah, Dion kamu harus ikut selfie. Aku enggak nerima penolakan apa pun pokoknya." Riana mengeluarkan jurus memaksa plus memelas yang membuat sang suami tak mampu menolak.
"Keinginan ibu hamil memang sulit untuk dibantah, apalagi ditolak mentah-mentah," sindir Dion. Namun, Riana tampak tidak memerdulikan ucapannya.
....................
Mereka berdua mengambil beberapa foto selfie dengan berbagai ekspresi serta gaya dan pada salah satu foto memamerkan senyuman mereka masing-masing yang memancarkan kebahagiaan.
"Gimana? Udah puas selfie-nya?"
Riana hanya membalas pertanyaannya dengan anggukkan karena wanita itu sibuk melihat hasil jepretan kamera handphone yang mereka gunakan tadi.
"Ntar aja lanjutin kegiatan kamu ini. Aku merasa diacuhkan loh di sini. Sekarang mending nikmatin waktu kita berdua. Aku ngajak kamu liburan bukan buat selfie tapi refreshing. Lihat deh pemandangannya bagus."
Dion merebut paksa handphone yang dipegang sang istri sambil mengarahkan jari telunjuknya pada hamparan sawah yang membentang di depan mereka. Kali ini giliran Riana yang menuruti permintaan Dion.
"Makasih ya kamu udah ngajak aku liburan ke tempat yang nuansa alamnya begitu terasa. Hamparan sawah hijau disertai aliran sungai yang tenang dan mendamaikan. Its so wonderful," ucap Riana tulus disertai antusiasme cukup tinggi.
Tanpa banyak omong lagi, Dion langsung menarik tengkuk Riana lalu mempertemukan bibir mereka berdua untuk beberapa detik.
"Makasih. Aku menyayangimu," ucap wanita itu sembari menempelkan bibir mereka kembali dan memejamkan mata. Sedangkan, bibir Dion terangkat membentuk senyuman.
..................
Saat Riana keluar dari kamar mandi kedua pupilnya langsung menangkap sosok suaminya yang duduk di atas sofa sambil memangku laptop. Dia segera menghampiri laki-laki itu, kemudian berdiri di depannya.
Dion yang menyadari gelagat aneh sang istri, memilih mematikan laptop yang sedari tadi dia gunakan untuk mengecek data dan menganalisis projek web yang akan dia tangani.
"Kenapa berdiri di situ? Cepat duduk!" Dion menarik tangan Riana hingga wanita itu terduduk di atas pangkuannya dengan posisi menyamping.
"Aku duduk di sofa aja. Badanku berat soalnya. Kemarin baru nimbang naik 5 kg," kata Riana sambil hendak bangun, namun tubuhnya ditahan.
"Hahaha, ini masalah berat badan yang naik atau karena kamu yang gugup? Engak usah gigit-gigit bibir kayak gitu," kentara Dion. Wanita dengan sekejap menghentikan kegiatan yang biasa dia lakukan ketika gugup.
"Kamu tadi ngapain buka laptop? Mulai ambil projek web lagi?" tanya Riana berusaha mengalihkan topik pembicaraan agar kegugupannya tidak semakin terlihat.
"Enggak. Tadi cuma ngecek beberapa data dan analisis permasalahan buat projek web selanjutnya. Kamu enggak perlu ngerasa tersaingi sama pekerjaanku dong. Di hatiku 'kan hanya ada kamu." Dion menggombal.
"Aish...," dengus wanita itu kesal seraya meneloyor kepala suaminya yang tak pernah kehabisan ide untuk menggoda.
"Riana...," panggil Dion dengan nada serius.
"Apa?" sahut Riana ketus. Dia masih kesal. Mood ibu hamil memang mudah berubah-ubah setiap saat.
"Kadang aku berpikir seandainya saja aku masih tetap enggak tahu kalau kamu mengandung anakku. Pasti sekarang kamu lagi berjuang sendirian buat mempertahankan anak kita. Sementara, aku di sini mungkin malah senang-senang tanpa tahu kamu menderita," curhat Dion. Dia menatap intens dan menggenggam tangan kanan Riana.
"Atau kemungkinan yang paling buruk kamu nikah sama pria lain dan anak kita enggak bakal tahu siapa ayah kandungnya," lanjut laki-laki itu dengan suara pelan.
"Kamu jangan ngomong kayak gitu." Riana menangkupkan kedua tangannya di wajah Dion dan membalas tatapan yang tampak sendu tersebut.
"Aku bisa merasakan gimana menderitanya kamu saat awal kehamilan yang selalu muntah-muntah, wajah kamu pucat. Apalagi, kamu sempat mengalami pendarahan sebanyak dua kali. Aku tahu semua itu enggak mudah buat kamu. Sekarang aku jadi mengerti dan paham gimana perjuangan seorang perempuan saat mengandung dan melahirkan anak mereka. Aku cuma ta-" ucapan Dion terpotong sebab bibir milik Riana telah membungkam bibirnya.
"Jangan takut. Aku akan berjuang Dion. Aku akan melahirkan anak kita dengan selamat. Setidaknya aku bersyukur dan merasa bahagia karena calon anak kita memiliki ayah yang baik serta bertanggung jawab kayak kamu."
"Maaf aku selalu nyusahin kamu. Aku bukan istri yang sempurna untuk kamu. Aku tahu kamu juga gak kalah menderita karena sikapku. Maafin ak-" Dion dengan memangut bibir sang istri tanpa memberi kesempatan wanita itu melanjutkan ucapannya.
Riana mengalungkan kedua tangannya di leher Dion dan untuk pertama kalinya dia membalas ciuman laki-laki itu meski dengan hati-hati. Jantungnya berdegup kencang.
"You're not a good kisser, Mrs. ICE." Dion melayangkan tatapan jahil dan mengejek.
"Yeah, I know about that," tanggap Riana seraya menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa tatapan Dion begitu mengintimidasi untuknya.
"Hahaha. Don't worry, Mrs. ICE! I will teach you," kata Dion santai. Kemudian, dia meraih tengkuk Riana dan kembali memangut bibir istrinya.
********