7

1609 Words
  Dion mengemudikan mobilnya dengan kecepatan normal sambil sesekali melirik wanita yang sedang duduk di sebelahnya. Dia tidak pernah bosan memerhatikan ekspresi bahagia yang terpancar di wajah Riana. Wanita itu tampak cantik memakai dress selutut berwarna biru muda yang senada dengan baju kaos polos berkerah yang dia gunakan. Sedangkan, untuk bawahan Dion memilih jeans warna hitam. Mereka tengah dalam perjalanan menuju sebuah vila yang berada di daerah Ubud, Kabupaten Gianyar. Dion ingin mengajak sang istri untuk menginap dua hari lamanya di sana karena sepertinya Riana butuh suasana baru setelah melewati masa penyembuhan selama dua minggu. "Kita singgah sebentar ya ke kantor. Aku mau kasih beberapa data dan berkas pada Bagas," beri tahu Dion. Riana menoleh ke arahnya. "Baiklah," tanggap wanita itu tak lupa memamerkan senyuman di wajahnya dan cukup mampu memberikan efek berupa degup jantung Dion yang berdetak lebih cepat. Sekitar 20 menit kemudian, mereka berdua baru tiba di 'markas' Dion dan kawan-kawan karena terjebak kemacetan di seputaran kota Denpasar. Dion mengambil map yang dia taruh di jok belakang mobil lalu memandang Riana yang tidur menyender. "Mau ikut masuk?" tawar laki-laki itu pada sang istri. Riana menggeleng pelan, kedua kelopak matanya masih tertutup. "Kalau gitu kamu tunggu di sini. Aku enggak lama kok di dalam," kata Dion sembari mengecup kening istrinya. Seketika mata Riana terbuka lebar akibat ulahnya. "Kenapa jadi langsung bangun? Masa baru dicium di kening aja gugup?" tanya Dion dengan nada menggoda. "Enggak gugup cuma kaget aja," jawab Riana apa adanya. Diikuti ekspresi polos yang terukir di wajahnya. Hal tersebut membuat Dion semakin ingin melancarkan aksi menggodanya. "Hahaha, masa sih? Terus gimana caranya biar bisa bikin kamu gugup?" Laki-laki itu mengurung pergerakkan istrinya dengan tangan kanan lalu mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka kurang dari lima sentimeter. "Aku ikut masuk ke dalam." Riana mendorong tubuh Dion menjauh kemudian membuka pintu lalu keluar dari mobil. Dia menarik dan menghembuskan napas guna menetralisir jantungnya yang berdetak cepat. Sementara itu di dalam mobil Dion masih cekikikan karena puas mengerjai sang istri. Terkadang ia harus memiliki cara khusus untuk meluluhkan hati Riana agar wanita itu bisa dengan cepat mencintainya. ............... "Wesh, gandengan tangan mesra," kentara Dwi ketika sang sahabat beserta istri masuk ke dalam ruangan kerja mereka. Riana yang mendengar ucapan Dwi langsung berusaha melepas genggaman tangan Dion karena merasa malu, tetapi laki-laki itu malah kian mengeratkan tautan jari tangan mereka. "Sirik aja lo sama gue!" balas Dion sengit. Dia mengisyaratkan Riana untuk duduk di sofa. Sedangkan, dia sendiri berjalan menuju meja kerja untuk menaruh berkas yang dibawanya. "Iya, gue iri. Kalian kemana-mana berdua terus sebentar lagi bakal nambah dengan kehadiran anak di antara kalian. Lah, gue tetap sendirian." "Nasib jomblo! Bagas ke mana?" tanya Dion kemudian. "Dia lagi keluar bentar katanya beli rokok sekalian cemilan di mini market," jawab Dwi. Dia duduk tepat di sebelah kiri Riana kemudian memamerkan senyum ramah ala sahabat. "Enggak usah pakai dekat-dekat segala duduknya sama istri orang. Aura playboy lo enggak akan mempan." Dion menyindir. Dia berjalan mendekati sang istri, lalu mengambil posisi duduk di sebelah kanan Riana. "Siapa bilang? Riana pasti bakal takluk sama pesona gue yang langka ini. Enggak semua pria punya aura khas kayak gue, termasuk lo Dion!" Dwi membalas sindiran sahabatnya. "Istri gue kagak suka sama pria yang ngerokok apalagi playboy macam lo dan Bagas. Ya kan, Sayang?" Dion meminta dukungan istrinya. Riana hanya tersenyum menanggapi perdebatan 'alay' antar dua sahabat ini. "Diam lo! Eh, Riana apa kabar? Udah baikan enggak kondisi kamu?" tanya Dwi berusaha mengganggu pasangan suami-istri yang tengah menatap satu sama lain. "Udah kok. Sekarang pertumbuhan sama perkembangan janin mulai mengalami peningkatan. Meski, asupan gizi masih harus benar-benar diperhatikan," jawab Riana menjelaskan. Dwi hanya mengangguk. "Lo berhasil ngejagain istri dan anak lo dengan baik. Salut gue!" Dwi menunjukkan kekagumannya. Dion tertawa, jarang-jarang dia menerima pujian seperti ini. "Iyalah gue 'kan suami siaga. Makanya ntar kalau lo udah nikah gue siap kok kasih tips-tips menjadi suami yang siaga buat lo, gratis enggak pakai bayar asal lo serius aja mau melepas cap playboy terus nikah sama perempuan yang lo cintai." "Beh, gaya lo sok amat sama gue. Iya ntar gue pasti nikah. Kalau perlu kita bertiga balapan punya anak yang banyak. Gue bakal menang," kata Dwi dengan percaya diri. "Hahaha, khayalan lo terlalu tinggi pakai acara balapan punya anak banyak segala. Lebih baik cari calon istri dulu, biar cepat tercapai impian lo itu," cibir Dion membalas celotehan Dwi. "Makanya, lo doain gue cepat dapat jodoh. Biar lo enggak sendirian ngerasain bahagia karena udah punya pendamping hidup. Gue juga pengin," curhat sang sahabat. Dion kembali tertawa. "Nanti kamu pasti dapat jodoh kok, cepat atau lambat. Percaya aja," tanggap Riana kali ini. "Haha, makasih ya. Kamu emang wanita yang baik dan pengertian. Aku sampai sekarang masih heran kenapa kamu mau nikah sama pria yang enggak berkharisma kayak Dion," ejek Dwi. Riana tak mampu menahan tawanya. "Karena cuma gue seorang yang bisa bertahan dan naklukin hatinya Mrs. ICE," balas laki-laki itu. "Pede banget ya kamu," sindir Riana sambil tertawa lepas. Dion tersenyum, baru sekarang dia melihat istrinya dapat tertawa tanpa beban. "Enggak apa sekali-sekalilah, Sayang," katanya menanggapi sindiran sang istri. Secara refleks tangan Dion terangkat untuk membelai rambut Riana. "Mending lo cepat cabut dari sini. Malas gue lihat adegan mesra suami-istri yang lagi kasmaran. Berasa jadi obat nyamuk," celoteh Dwi penuh kesengajaan. Dion terkekeh. "Ya udah, kalau gitu gue mau pergi. Ingat kasih tahu Bagas berkas sama datanya udah gue bawa ke sini. Awas lo lupa!" peringat Dion sembari menarik tangan Riana untuk berdiri. Dwi hanya manggut-manggut. "Iya gue enggak akan lupa, tenang. Cepat sana pergi! Nikmati liburan kalian berdua." "Kami pergi dulu ya Dwi. Salam buat Bagas juga. Kapan-kapan main ke rumah, kita makan bareng." Pamit Riana sebelum mereka pergi. ................. Dari sudut matanya Dion terus melirik, bahkan memerhatikan istrinya yang asyik memandang ke arah luar jendela kaca mobil seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kamu lagi mikirin apa? Ada masalah? Ayo cerita." tanya Dion sedikit khawatir. Riana memandangnya sejenak. "Enggak kok. Aku cuma ingat kenangan-kenangan pas SMA. Tadi kita 'kan lewat di depan sekolahku," jawab wanita itu "Oh, yang tadi itu sekolah kamu? Jadi, kamu SMA-nya di sana. Bentar, sebenarnya ingat kenangan pas SMA atau sama mantan? Kata Vio kalian bertiga satu sekolah." tanya Dion dengan nada menyelidik. "Mantan? Pradana maksud kamu?" "Emang selain dia, kamu punya mantan pacar yang lain? Enggak usah nyebut nama dia segala. Telingaku sensitif dengar kamu nyebut nama dia," kata Dion sarat akan nada kecemburuan. "Tadi aku benaran kangen dan ingat sama kenangan-kenangan masa SMA bukan dia, Dion. Ayolah, jangan cemburu yang berlebihan kayak gini." Riana mencoba memberikan pengertian. "Gimana enggak cemburu kalau dia masih tetap suka hubungin dan kirim pesan ke kamu yang notabene sudah berstatus menjadi istri pria lain, Sayang." Dion tak ingin menyembunyikan ketidaksukaannya, biarkan Riana tahu dan peka. "Dia paling cuma nanya kabar dan kondisi aku aja sama kayak Vio. Enggak lebih kok. Kamu bisa cek sendiri handphone-ku kalau masih enggak percaya,"kata wanita itu pasrah. Entah bagaimana caranya untuk membuktikan kalau ia dan Pradana tak memiliki hubungan yang spesial lagi. "Hahaha, ya deh percaya. Tapi, jangan sering-sering balas pesan dia loh nanti yang ada dia malah semakin ngarep sama kamu. Setiap pria itu suka menggunakan kesempatan dalam kesempitan." Kali ini Dion menunjukkan keposesifannya lewat larangan untuk tidak terlalu sering menjalin komunikasi dengan sang mantan. "Berarti kamu juga kayak gitu? Ya 'kan?" tanya Riana dengan nada datar. Dion kemudian mengacak-acak rambut istrinya karena gemas mendengar pertanyaan absurd. Wanita itu mendengus kesal. "Kenapa amu malah nuduh dan nyamain aku seperti pria lainnya? Enggak semua pria kayak gitulah." Dion membela diri sebagai seorang pria yang mendapat tuduhan tanpa bukti. "Tadi kamu yang bilang kalau setiap pria suka menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Siapa tahu kamu juga kayak gitu." Riana mempertahankan argumennya. "Aku sadar diri kok. Misalkan aja kalau perempuan yang aku cintai sudah nikah atau mencintai pria lain, ya aku bakal mundur. Cinta itu enggak bisa dipaksakan," ucap Dion sambil menatap sang istri penuh arti. Mereka saling beradu pandang. "Tapi, kenapa kamu enggak milih mundur dulu? Padahal kamu tahu sendiri 'kan saat itu aku masih mencintai Pradana." "Aku pernah bilang sebelumnya, kalau pada awalnya aku cuma pengin tanggung jawab atas perbuatan yang aku lakukan. Tapi, lama-kelamaan aku mulai punya perasaan khusus sama kamu. Aku mencintaimu. Aku pengin memperjuangkan kamu, meski kamu membenciku," ungkap Dion. Tidak ada kesedihan yang terpancar di matanya. "Makasih ya, dulu kamu udah nolongin aku dari rencana jahat mereka, walau cara yang kamu gunain tetap salah. Aku rasa setiap wanita yang berada di posisiku saat itu pasti enggak akan terima dan menimbulkan rasa benci. Maaf aku pernah nyakitin perasaan kamu karena sifat egoisku." Riana masih saja merasa bersalah dan tak enal. Dion menggenggam tangannya. Alhasil, wanita itu hanya bisa tersenyum. "Jangan bahas hal-hal yang udah lewat. Yang penting sekarang 'kan kamu sayang sama aku, hahaha. Emang deh naklukin hati Mrs. ICE perlu perjuangan ekstra, apalagi enggak peka. Tumben deh ada wanita macam kamu," ejek Dion dengan penuh kesengajaan. "Ya sudah, kamu tinggal nyari perempuan lain yang lebih peka dibanding aku, gampang 'kan?" sisi sensitif Riana keluar. "Hahaha, ogah. Aku 'kan udah kepincut sama kamu doang. Si wanita dingin bak es di kutub, tapi tetap bisa menggetarkan hatiku." Gombal Dion tak tanggung-tanggung. Satu pukulan cukup keras lalu mendarat di pundaknya. Dion tertawa puas. "Susah ya punya suami yang kerjaannya merayu dan gombal terus. Enggak ada kerjaan lain?" cibir Riana. Gelak tawa Dion terdengar semakin keras. "Ada dong. Meluk sama nyium kamu misalnya. Selain ngoding. Hahaha." Riana hanya menggeleng-gelengkan kepala, dia bingung menghadapi gombalan maut Dion. "Dasar m***m!" seru wanita itu sembari melayangkan satu pukulan lagi di pundak sang suami. "Galak ya? Awas nanti bakal aku balas. Siap-siap aja," ucap Dion seraya mengembangkan senyuman jahil di wajahnya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD