Riana POV
Tujuh hari sudah berlalu sejak pendarahan yang aku alami. Dan akhirnya dokter memperbolehkanku untuk pulang hari ini. Menjalani rawat inap di sini sering kali membuatku merasa bosan dan jenuh. Terlebih aku sangat tidak menyukai hal-hal yang berbau rumah sakit entah itu suasana maupun bau obat-obatanya. Aku juga bersyukur karena tak harus menggunakan kursi roda seperti perdarahan yang terjadi sebelumnya.
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu, Riana?" tanya Dion. Aku menoleh ke arahnya yang sedang duduk di sofa. Namun, jarak kami cukup berjauhan, tetap saja tatapan mata Dion tampaknya menangkap apa pun ekspresi serta gerakan yang aku lakukan. Tentu aku menyadarinya, meski tidak sering juga.
"Aku cuma senang hari ini bisa pulang. Aku kangen rumah dan juga Bik Weni," jawabku jujur karena memang itulah yang ada dipikiranku.
"Kirain mikirin mantan," ucap Dion. Kedua mataku melebar. Apa katanya? Memikirkan mantan? Sungguh sosok Pradana tidak terlintas dalam benakku lagi. Aku sudah berjanji untuk belajar menerima dan mencintai Dion, aku akan melakukannya.
"Enggak, aku mikirin kamu," balasku kemudian. Dion terkekeh dan berjalan mendekatiku yang sedang duduk di tepi ranjang. Apakah aku salah ucap?
"Haha, kamu mikirin aku?" tanya Dion sambil menatapku jauh lebih tajam apalagi dia sekarang duduk di hadapanku dan sukses membuatku gugup. Tunggu dulu, memangnya salah aku memikirkan dia?
"Iya, aku mikirin kamu Dion," jawabku jujur.
Bagaimana aku tidak memikirkan dia coba? Dion selalu menjagaku full di sini dari pagi sampai malam, aku tahu pola makan dan istirahatnya tidak teratur. Aku khawatir nanti hal tersebut malah akan berpengaruh pada kesehatannya. Aku tidak mau melihat Dion sakit.
"Kayaknya kita harus nunda buat pulang deh, enggak bisa hari ini," ucapnya. Seketika aku membelalakan mata.
Tadi pagi dokter bilang jika aku sudah bisa pulang, walau harus memperhatikan asupan gizi dengan benar dan meminum obat-obatan yang diresepkan agar calon anak kami bisa tetap bertahan sampai waktu persalinan tiba nanti. Dan emoga saja aku dapat menjaga kandunganku dengan sebaik-baiknya. Aku harus tetap kuat untuk alon anak kami.
"Kenapa ditunda? Dokter bilang 'kan kalau aku udah bisa pulang sekarang karena kondisiku telah membaik." tanyaku tidak mengerti. Aku butuh alasan.
"Terus ngapain kamu pengin cepat-cepat pulang? Mau mesra-mesraan ya? Atau mau meluk-meluk aku? Di sini juga bisa kok," balas Dion dengan nada yang biasa ia gunakan untuk menggodaku. Mau tak mau aku semakin membelalakan mata. Apa katanya tadi? Bermesraan? Meluk-meluk? Lihatlah, dia bahkan tertawa sekarang. Menyebalkan!
"Aku bosan Dion. Aku enggak suka sama suasana rumah sakit," sahutku sambil memegang salah satu lengannya. Aku ingin pulang, sungguh.
"Gak bisa," ucap Dion singkat. Tatapan bola mata kami saling bertemu dan hal tersebut berhasil membuatku sedikit gugup.
"Kenapa enggak bisa? Dokter aja bilang bisa. Aku dengar sendiri kok." Balasku kekeh. Ayolah, aku sudah tidak betah lama-lama tinggal di sini. Rumah sakit bukan tempat yang nyaman untukku.
"Tadi kamu bilang kalau kamu mikirin aku 'kan?" tanyanya. Aku mengangguk pelan. Aku belum memperoleh inti dari pembicaraan ini.
"Misalnya kalau kita pulang sekarang, nanti kamu sakit lagi karena terus mikirin aku gimana? Mau tanggung jawab?" kata Dion dengan sebuah senyuman yang sulit untuk aku tebak. Mataku sukses membelalak. Dia sedang menggombal apa merayu? Ya Tuhan! Aku harus bisa lebih bersabar lagi.
Inilah risiko jika memiliki suami yang berusia dua tahun di bawahku atau istilah kerennya brondong. Dion suka sekali menggodaku, jiwa muda dalam dirinya benar-benar ditampilkan. Tapi, aku mulai menikmati setiap kata-kata maut yang dia ucapkan saat melancarkan aksi sebagai perayu ulung karena begitulah cara Dion menyampaikan perasaannya padaku mungkin.
Di mataku dia adalah pria yang bertanggung jawab dan pekerja keras. Dia sosok suami yang tidak pernah melelah menjagaku dan anak kami. Meski, pada awalnya aku sempat membenci Dion karena perbuatan yang dia lakukan di masa lalu. Tapi, sekarang aku menyayanginya.
"Ntar tinggal minum obat sakit kepala aja. Gampang kok," jawabku asal. Dia malah terkekeh. Tak berselang lama senyuman tersebut kembali ia perlihatkan, bukan sebuah senyuman hangat, tapi entahlah aku juga tak bisa menebak arti dari senyuman itu. Sepertinya aku memang pantas menerima ejekkan tidak peka dari suamiku ini.
"Enggak bisa dong, Sayang. Kamu harus dapat obat yang khusus, pokoknya obat yang enggak bisa diperoleh sembarangan," kata Dion. Otakku masih berupaya menerjemahkan apa yang Dion ucapkan, tapi tetap gagal.
"Obat khusus?" ulangku dengan nada serius seraya memandang kedua bola matanya untuk mendapatkan jawaban yang aku inginkan.
"Obat khusus yang cuma aku sediain buat kamu seorang Riana," jawab Dion lantas mendekatkan wajah ke arahku, tatapan matanya kian intens dan mampu membuatku merasa gugup seketika. Ada apa denganku?
Cup .....
Kini bibirnya sukses menempel di bibirku. Kelopak mata Dion terpejam sedangkan aku hanya diam mematung. Terkadang aku bingung harus bagaimana menghadapi momen seperti ini.
Tunggu sebentar, tadi Dion bilang jika obat khusus itu hanya bisa diberikan olehnya? Apa yang dia maksud adalah ciuman? Dasar m***m!
Segera saja Kudorong tubuhnya menjauh. Lihatlah, Dion tertawa puas. Kenapa dia tidak ada henti-hentinya menggodaku? Selalu saja memiliki ide jahil yang kian membuatku gugup.
"Kamu itu ya gak pernah ada hentinya jadi perayu ulung dan berpikiran m***m," sindirku sambil menampakkan wajah tanpa ekspresi yang selalu aku gunakan untuk menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya.
"Hahaha, ciee gugup ya?" kata Dion seakan-akan sedang menebak apa yang aku rasakan. Dia kembali mendekat ke arahku. Jadi terpaksa aku menggelengkan kepala agar dia berhenti menggodaku
"Terus kalau enggak gugup, ngapain pakai gigit-gigit bibir segala? Atau kamu malah mau menggodaku? Kita lanjutin di rumah aja ntar ya? Hahaha," kentara Dion dengan nada menggodanya yang menyebalkan tepat di telingaku.
Langsung saja aku pukul lengan kanannya walau tidak terlalu keras. Tak hanya itu, aku juga mendorong tubuhnya lalu turun dari atas ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi, meninggalkan Dion yang asyik tertawa.
.......................
Kami tiba di rumah pukul satu siang tadi sedangkan sekarang waktu telah menunjukkan pukul empat sore, senang rasanya bisa keluar dari rumah sakit setelah banyak perawatan yang harus aku jalani. Mood sebagai ibu hamil yang suka berubah-ubah masih menyelimutiku.
Timbul suatu hal dalam diriku dimana aku sendiri pun sulit untuk menjelaskannya. Ya, aku selalu ingin dekat dengan Dion. Pelukan, tatapan bahkan senyumannya mampu membuatku merasa nyaman dan damai dari hari ke hari.
Ah, sungguh aku malu jika harus mengakui hal ini di depannya. Tidak! Dia tidak bisa tahu! Jika dia sampai tahu maka hariku akan dipenuhi oleh Gombalan mautnya dan dapat aku pastikan kegugupanku juga semakin bertambah.
Apakah aku mulai mencintainya? Tidakkah terlalu cepat? Namun, tak bisa aku pungkiri jika dia berhasil menarik perhatianku untuk setiap kata dan tindakan yang dia lakukan.
Misalkan saja sekarang, aku berada dalam dekapan Dion yang sedang tertidur lelap. Tangan kirinya melingkar di pinggangku. Dan aku sangat merasa nyaman dan hangat dipelukkan laki-laki ini.
Sayang, kamu pengen dekat-dekat sama Ayah ya, Nak? gumamku dalam hati. Aku usap dengan lembut perutku.
Yang sebenarnya ingin dekat-dekat itu, aku atau anak kami?
Apakah setiap wanita hamil selalu berkeinginan untuk dekat dengan suaminya?
"Kamu udah bangun, Sayang?" tanya Dion sambil mengerjapkan mata. Aku tak menjawab dan memilih menatapnya. Dia tersenyum.
"Ngapain lihatin aku kayak gitu?" Dion kembali bertanya. Aku menggeleng. Lalu dia mengacak rambutku dengan tidak berperasaan sama seperti Vio. Hah, aku hanya bisa menghela napas.
"Aneh ya rambut sama badan kamu tetap wangi padahal belum mandi sore," ejeknya. Dapat aku rasakan Dion menarik tubuhku agar lebih mendekat ke arahnya karena tadi aku sempat menjauh, merenggangkan pelukannya.
"Nanti jam lima aku mandi," jawabku dengan nada pelan. Dia mengusap helaian demi helaian rambutku. Tak lupa dia juga masih menatapku. Senyuman turut mengembang di wajahku.
"Mimpi apa kamu tadi? Kok senyum-senyum? Haha, lucu tahu ekspresi kamu Riana," kata Dion saat tangannya mengelus pipi dan memencet hidungku. Aku sedikit merinding. Hah, kenapa dia memperlakukanku seperti anak kecil? Padahal usiaku lebih tua darinya.
"Apaan sih kamu! Sakit tahu Dion!" seruku kesal karena dia memencet hidungku tanpa sadar dengan cukup keras. Dion terkikik senang. Ya Tuhan, dia benar-benar menyebalkan!
"Hahaha, pipi kamu kok makin meruncing? Banyakin dong makannya biar anak kita tetap sehat." Kata Dion sembari meletakkan tangannya di atas perutku.
"Iya, nanti aku pasti makan yang banyak," jawabku kemudian. Sampai hari ini aku masih kehilangan selera untuk makan, tapi aku harus menjaga pola makan dan asupan gizi demi anak kami.
"Nah gitu dong. Ntar aku suapin ya?" tawar Dion. Aku mengangguk. Hah, kalau pun menolak dia pasti akan tetap menyuapiku.
"Bagus-bagus, sekalian aku mandiin kamu ya? Mau enggak?" tawarnya lagi, kali ini disertai dengan mendekatkan wajahnya ke arahku hingga dapat aku rasakan embusan napas Dion menerpa wajahku.
"Dasar m***m!" seruku seraya mendorong tubuhnya yang hendak menindihku. Gelak tawa Dion terdengar menggema di gendang telingaku. Kemudian kutarik tubuhku agar terduduk di atas kasur.
"Haha, bercanda, Sayang. Kamu sensitif banget jadi perempuan. Nanti habis mandi ingat dandan yang cantik ya ibu hamil," pesan Dion, dia mengusap rambutku lagi.
"Dandan?" ulangku sambil menoleh ke arahnya. Dia tersenyum dan mengangguk pelan.
"Iya dong. Kamu harus dandan biar lebih cantik. Kayaknya udah lama aku enggak lihat kamu pakai make up . Wajah kamu makin jelek dan tua tahu!" ejeknya kembali. Aku menghela napas. Tapi benar juga ucapan Dion, hampir seminggu lebih aku tidak merawat kulit wajahku dengan rutin, bahkan untuk sekedar menggunakan krim wajah.
...................
Aku sedang duduk sambil membaca sebuah buku tentang kehamilan dengan posisi punggung menyender pada kepala tempat tidur dan kakiku terlentang lurus ke depan. Alunan musik klasik juga menemani waktu senggangku petang ini.
Setelah mandi aku memutuskan untuk merias diri dengan memakai pelembab, foundation , dan bedak. Hanya sedikit agar terlihat natural. Tak ada salahnya mengikuti saran dari Dion.
Sejak dua jam yang lalu aku sendirian di kamar ini. Dion melarangku untuk keluar dengan alasan aku harus banyak istirahat. Sedangkan, dia belum kembali juga. Memangnya kegiatan apa yang Dion lakukan di luar? Apa dia mulai mengambil proyek web lagi?
Aish, ingin sekali aku keluar memastikan aktivitas apa yang dia kerjakan. Namun tubuhku rasanya sangat malas untuk digerakkan. Biar nanti saja aku tanyakan kalau Dion tidak mau jujur dan malah berbohong, maka dengan terpaksa aku harus mengeluarkan jurus mengancam yakni tidak mengizinkan dia tidur bersamaku malam ini. Hahaha.
Tiba-tiba saja handphone -ku berbunyi, menandakan ada panggilan masuk. Kuraih ponsel yang tergeletak di sampingku lalu mengecek siapakah yang kira-kira tengah meneleponku.
Hah? Dion? Untuk apa dia menghubungiku? Bukankah kita masih berada dalam lingkungan rumah yang sama? Tapi aku tetap mengangkat telepon darinya.
"Ada apa Dion?" tanyaku to the point . Aku penasaran akan tingkahnya yang menurutku aneh.
"Kamu udah mandi belum?" Dion balik bertanya. Jadi dia meneleponku cuma ingin menanyakan hal tidak penting seperti ini?
"Udah. Dion, kamu ngapain pakai nelepon segala? Kenapa enggak langsung masuk aja ke kamar kalau cuma mau nanya kayak gini?" tanyaku. Terdengar kekehannya di ujung telepon.
"Terus ngapain kamu minta aku masuk ke kamar? Buat lihat kamu ganti baju? Jangan menggodaku dong Riana. Hahaha." Gelak tawa Dion kian terdengar jelas di gendang telingaku.
Ya Tuhan, kenapa aku harus punya suami yang m***m kayak dia?
"Suka banget berpikiran m***m ya kamu!" sindirku dengan sengaja. Dia terkekeh.
"Haha, just kidding. Ya udah kalau gitu sekarang coba lihat ke kolong tempat tidur ada sesuatu yang aku persiapkan untukmu. Semoga kamu suka ," kata Dion langsung memutus sambungan telepon secara sepihak.
Dia menyiapkan sesuatu?
Aku beranjak turun kemudian membungkukkan badan tepat di kolong tempat tidur, terlihatlah sebuah kotak berukuran sedang berwarna biru. Tanganku sudah tak sabar untuk meraih kotak tersebut dan mengetahui isi di dalamnya.
Dress ?
Saat membuka penutup kotak fokusku langsung tertuju pada sebuah Midi brokat dress tanpa lengan berwarna navy blue dengan panjang selutut. Dress ini tampak indah di mataku. Rupanya ada sebuah surat yang terselip juga di dalam kotak.
Cepat pakai dress -nya ya.
Ingat juga dandan, tapi jangan tebal-tebal. Aku tunggu di halaman belakang.
Bibirku terangkat membentuk seutas senyuman. Segera kuganti pakaian yang menempel di tubuhku dengan dress pemberian Dion. Dilanjutkan menyisir rapi rambut yang aku pilih untuk digerai saja. Dion pernah mengatakan kalau dia lebih suka melihat rambutku digerai dibanding diikat.
Kemudian, aku duduk di depan meja rias, mengambil lipstik berwarna peach lalu mengoleskan dengan tipis pada bagian bibir agar tampak tetap natural. Aku tidak memakai make up lainnya untuk mempersingkat waktu karena jujur saja aku penasaran dengan kegiatan Dion di luar sana.
.......................
Gagang pintu kutarik perlahan-lahan sampai terbuka lebar, hanya pencahayaan lampu ruang keluarga yang menyambutku. Suasana rumah sunyi dan sepi seperti tidak ada penghuninya. Bik Weni pasti sudah pulang.
Ah benar juga, Dion bilang kalau dia menungguku di halaman belakang pantas saja pintu yang menghubungkan ruang keluarga dengan halaman terbuka. Aku tak bisa melihat bagaimana kondisi di luar sebab kaca jendela telah ditutupi gorden.
Kenapa aku jadi deg-degan ya?
Kututup pintu kamar lantas melangkahkan kaki dengan pelan-pelan, aku harus berhati-hati dalam melakukan setiap gerakkan termasuk berjalan mengingat aku masih rawan mengalami pendarahan lagi tapi bukan berarti aku harus berdiam diri seharian di atas kasur.
Tunggu dulu, langkahku tiba-tiba terhenti dan perhatianku tersita pada lilin-lilin dengan replika bunga teratai berbagai warna berjejer sampai di depan pintu keluar menuju halaman belakang.
Apa ini juga bagian dari rencana Dion? Dia selalu saja memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan perasaannya. Aku tak pernah berpikir jika dia akan menyiapkan sesuatu yang menurutku spesial ini sebelumnya. Aku tersentuh.
"Lihat Nak, Ayah baik ya? Menyiapkan semua ini untuk Ibu. Padahal Ibu tahu Ayah masih kurang istirahatnya," curhatku pada calon anak kami.
Kenapa Dion harus merepotkan dirinya lagi hanya untuk sekedar membuatku tersenyum? Padahal, dia sangat perlu mengistirahatkan tubuhnya setelah seminggu penuh menjagaku di rumah sakit. Aku tahu dia kelelahan.
Aku terus melangkah mendekati pintu. Saat baru saja menginjakkan kaki di teras. Tatapan kami saling bersinggungan. Dion tersenyum ke arahku. Dia mengenakan kemeja polos lengan pendek dan celana panjang berwarna hitam.
Dion mengisyaratkanku untuk menoleh ke bawah. Aku menahan napas sejenak saat membaca rangkaian kata-kata yang tertulis pada lembaran kertas yang menurutku cukup panjang dan lebar.
Untuk Riana (Mrs. ICE)
Terima kasih sudah bersedia menikah denganku. Maaf aku bukan suami yang sempurna untukmu. Tapi aku akan selalu berusaha menjaga dan melindungi keluarga kecil kita ini.
I LOVE U
Rasa haru mulai merasuki diriku. Pelupuk mataku sudah dipenuhi cairan bening. Kenapa aku gampang sekali merasa tersentuh untuk setiap tindakan yang dia lakukan?
Kulihat Dion berjalan menghampiriku dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya. Tepat sesaat setelah dia berdiri di sampingku. Tanpa ragu aku langsung memeluknya erat. Suara kekehan menyebalkan khasnya malah terdengar.
"Makasih, Dion," ucapku tulus. Dapat kurasakan dia balik mendekapku erat. Tangannya juga membelai lembut rambutku. Aku merasa nyaman dan menikmati momen ini.
"Kok kamu nangis sih? Aku nyiapin ini pengin buat kamu senyum bukan nangis, Sayang," ujar Dion. Dia melepas pelukan di antara kami. Lalu menatapku.
"Aku enggak nangis kok," kataku berbohong, mengeluarkan jurus menghindari yang tidak berguna sama sekali jika aku gunakan di depannya.
"Enggak nangis? Tapi, kok air mata kamu netes ya di bajuku?" tanya Dion. Aku tahu dia sedang berupaya menggodaku.
"Tidak kok. Baju kamu mungkin yang belum kering," jawabku asal sambil mengigit bagian bawah bibirku untuk menutupi kegugupan. Dia kembali terkekeh.
"Haha, kamu enggak cocok berbohong, apalagi denganku," kata Dion lalu menarik tengkukku dan menempelkan bibir kami beberapa detik. Hal tersebut sukses membuatku diam mematung tak berkutik.
"Ciee yang gugup. Ini bunga Edelweis yang dijuluki sebagai bunga keabadian. Memang sih kalau dilihat dari segi bentuk enggak secantik mawar, tapi bunga ini enggak akan layu. Jadi, aku harap kamu bisa menyimpan bunga ini dan menunjukkan kelak ke anak kita," pesan Dion seraya menyerahkan bunga tersebut kepadaku. Aku semakin tersentuh.
"Makasih, Dion," ucapku sekali lagi. Aku kehabisan kata-kata. Dia mengangguk, dan tak lama kemudian tawanya mengganggu gendang telingaku.
"Ngapain tertawa?" tanyaku tak mengerti.
"Hahahaha kamu tuh ya ngerusak suasana romantis aja. Rambut udah digerai rapi. Dandan cantik. Terus dress -nya juga pas di badan kamu, terlihat anggun. Tapi, kok kamu masih pakai sandal jepit? Hahaha minimal flat shoes lah, Sayang," kentara Dion sambil menahan tawa.
Sandal jepit?
Segera aku alihkan pandanganku ke arah kaki. Benar saja, sandal jepit polos yang biasa aku pakai di dalam kamar belum sempat aku ganti dengan flat shoes . Tapi, ya sudahlah, lagian cuma ada kami berdua di sini.
********
Aku dan Dion tengah menikmati suasana malam dengan duduk lesehan di gazebo ber- style Bali setelah menyantap makan malam yang disiapkan Dion, ah hanya menata bukan memasak. Dia memesannya khusus di salah satu restoran jadi dapat dipastikan kami akan terhindari dari acara 'sakit perut'.
Aku masih ingat bagaimana lahapnya dia mengunyah dan menelan nasi serta lauk-pauk. Menurutku ekspresi Dion lucu saat kelaparan. Hahaha.
"Senyum-senyum lagi. Kamu mikirin apa?" tanya Dion. Tangannya melingkar di pinggangku dengan anteng. Sementara, posisi kepalaku menyender di dadanya. Rasa nyaman itu timbul kembali.
"Mikirin ekspresi kamu tadi pas makan. Kamu kelaparan kan?" tanyaku jujur sembari memandangnya penuh selidik. Dia mengacak rambutku. Menyebalkan!
"Makanannya enak sih. Ya udah habisin semua, 'kan enggak baik kalau dibuang. Sekarang aja masih lapar," jawabnya.
"Masih lapar?" tanyaku tak percaya. Padahal 2/3 dari total makanan malam ini dia yang menghabiskan sendiri.
"Iya dong masih lapar. Pengin makan kamu malah, Sayang," jawab Dion semakin mendekatkan wajahnya. Dasar m***m!
"Aish ...." dengusku kesal, mendorong tubuhnya menjauh. Dia tampak puas menggodaku.
"Coba deh lihat ke langit, indah loh Riana. Mumpung lagi gak mendung," kata Dion kemudian menarikku untuk duduk dekat. Tangannya melingkar di pinggangku.
"Enggak ada yang istimewa dan indah Dion. Cuma bintang aja yang banyak," tanggapku malas. Aku tidak terlalu suka menghabiskan waktu di luar rumah pada malam hari. Apalagi hanya untuk sekedar memandang langit dengan taburan bintang.
"Hahaha iya sih emang di langit ada banyak bintang. Tapi, 'kan di hatiku hanya ada satu bintang yaitu kamu," katanya sembari memeletkan lidah. Dion menggombal lagi untuk kesekian kalinya.
Aku tidak kesal. Dia menatap tepat ke dalam bola mataku. Kegugupan melandaku perlahan. Aku tetap membalas tatapannya meski detak jantungku mulai tak beraturan.
"Aku menyayangimu Dion," ucapku seraya menangkupkan tangan ke pipinya. Dia menyunggingkan senyuman.
*******