5

2087 Words
  Tangan kanan Dion menjinjing tas yang lumayan besar dimana berisi beberapa pasang pakaiannya serta Riana dan juga perlengkapan lain yang mereka butuhkan selama berada di rumah sakit. Ketika memasuki ruangan inap, senyum lebar langsung terukir di wajah Dion melihat sang ibu dan istrinya tengah berbincang bersama. "Ibu udah lama ada di sini? Dion kira Ibu dan Bapak masih di Surabaya," tanya laki-laki itu seraya menyalimi tangan ibunya lalu duduk di tepi ranjang. Sejenak dia melirik Riana yang sedang mengunyah apel. Sayang, wanita itu tak sadar jika dilirik olehnya. "Baru sekitar 30 menit yang lalu, Nak. Pekerjaan Bapakmu di sana sudah selesai, jadi kami langsung pulang. Ibu cemas sama keadaan Riana," jawab sang ibu. Di samping itu beliau juga merindukan putra bungsunya, hampir sebulan lebih mereka tidak bertemu walau komunikasi melalui telepon tak pernah terlewatkan setiap hari. "Makasih ya, Bu udah jagain Riana. Maaf Dion belum sempat bilang ke Ibu dan Bapak kalau tadi pagi Riana mengalami pendarahan lagi. Dion malah ketiduran, Bu," beri tahunya. Ada rasa bersalah yang ia rasakan. "Tidak apa-apa. Mungkin kamu kelelahan, Nak. Jangan lupa juga perhatiin kesehatan dengan mengonsumsi vitamin dan istirahat Kalau nanti kamu sakit siapa yang lantas menjaga menantu dan calon cucu Ibu?" Dion malah terkekeh mendengar ucapan sang ibu. Akan tetapi, nasihat dari beliau akan dia coba turuti. Laki-laki itu kembali melirik istrinya. Pandangan mereka berdua pun bertemu. Riana tersenyum. Dan hal tersebut mampu membuat degup jantungnya berpacu lebih cepat seketika. "Mau?" Riana menawarkan potongan buah apel pada Dion. Laki-laki itu mengangguk sambil menatap sang istri. Detik berikut, satu potongan apel berhasil disuapkan Riana ke dalam mulut Dion. "Aduh! Kalian jadi mengingatkan ibu saat mengandung Adi dulu. Ibu sangat suka bermanjaan. Bawaannya selalu ingin dekat sama Bapak kamu, Nak," kata Ibu Dion tanpa malu. "Hahaha masa, Bu? Tapi, sayangnya Riana gak suka manja-manjaan sama Dion, Bu. Dia lebih tertarik nonton drama Korea," komentar putra bungsunya. "Setahu Ibu kebanyakan wanita yang sedang hamil pasti suka bermanjaan sama suaminya. Ani juga begitu, bahkan Adi harus mengambil cuti saat awal kehamilan karena Ani akan merengek kalau ditinggal seharian," cerita ibunya. Dion tertawa. "Walau enggak diminta. Dion tetap suka nempel sama Riana kok, Bu," giliran istrinya yang menyahut. Tawa Dion semakin keras terdengar, sedangkan Riana menggigit bibir bawahnya. Dia gugup. Apalagi, tangan Dion kini membelai helaian rambutnya dengan lembut. "Aku 'kan punya tugas ngejagain kamu, jadi otomatis aku harus dekat-dekat sama kamulah, Sayang," goda Dion. "Jangan mesra-mesraan di depan Ibu kalian yang sudah tua ini! Nanti Ibu pengin muda lagi," ucap wanita paruh baya itu bercanda. Beliau bahagia melihat interaksi antara anak dan menantunya yang tampak saling menyayangi satu sama lain. "Haha Ibu bisa aja. Oh ya Bapak mana, Bu? Apa udah pulang duluan?" tanya Dion penasaran. Meski, hubungannya dengan sang ayah kurang harmonis tapi tetap saja dia merindukan sosok ayahnya itu. "Bapak kamu lagi beli kopi di kantin." "Ya udah, kalau gitu Dion mau nyusul bapak dulu ke kantin. Ibu ada ingin beli sesuatu?" Ibunya menggeleng. Pandangan Dion beralih ke Riana, terlihat ekspresi kekhawatiran di wajah istrinya. Dia hanya bisa membalas dengan sebuah senyuman. ..................... Saat melewati koridor rumah sakit, tak sengaja Dion berpapasan dengan ayahnya. Suasana mendadak tegang. Raut wajah pria paruh baya itu tidak menampakkan ekspresi apa pun seperti biasa. Dion senantiasa menunjukkan rasa hormatnya dengan menyalimi tangan sang ayah ketika mereka bertemu termasuk hari ini, meski ayahnya sering kali bersikap tak acuh. Kini pasangan anak dan ayah tersebut tengah duduk bersebelahan pada deretan kursi yang tersedia di salah satu koridor rumah sakit ini. Kecanggungan kentara mendera keduanya. "Terima kasih karena Bapak sudah menyempatkan diri untuk menjenguk Riana. Apa tugas Bapak di Surabaya telah selesai semua?" tanya Dion berusaha memecah keheningan. Namun, sepertinya sia-sia sebab sang ayah masih diam tidak mengeluarkan suara. Untuk beberapa menit kesunyian begitu terasa di antara mereka. "Istrimu mengalami pendarahan lagi? Kenapa tidak memberitahukannya pada kami? Apakah kamu memang sengaja ingin menyembunyikan masalah ini?" Ayah Dion memborbandir putra bungsunya dengan pertanyaan. Tatapan pria paruh baya itu hanya lurus ke depan. "Maaf, Pak. Bukannya Dion bermaksud untuk menyembunyikan tapi tadi Dion terlalu lelah dan malah ketiduran hingga lupa mengabari bapak serta ibu tentang masalah pendarahan," jelas Dion. Rasa takut mulai menyergapi dirinya. Dia hanya bisa pasrah jika sang ayah akan menyalahkannya lagi. "Bagaimana dengan orangtua Riana? Apa mereka juga tidak tahu mengenai masalah ini?" Sang ayah kembali bertanya dengan nada yang terkesan sangat dingin. "Tidak, Pak. Ayah dan Ibu sudah tahu perihal pendarahan yang dialami oleh Riana. Mereka sedang berada di Yogya, kemungkinan besok baru pulang ke Bali," jawab Dion. Tadi saat di rumah dia menerima telepon dari ayah mertuanya, jadi saat itu pulalah dia langsung memberitahu peristiwa pendarahan yang dialami Riana untuk kedua kalinya. "Jaga istrimu, Dion. Kamu harus melakukan tugasmu sebagai kepala keluarga dengan benar. Bapak tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada menantu serta calon cucu Bapak hanya karena kamu lalai menjalankan tugasmu dalam menjaga dan melindungi mereka," kata sang ayah. Ekspresi dan nada dingin sudah biasa ia terima sejak lima tahun yang lalu sampai sekarang dari ayahnya. Entah kapan, kehangatan dapat dia rasakan lagi seperti dulu saat konflik belum terjadi di antara mereka. "Iya, Pak. Dion akan berusaha selalu menjaga Riana dengan baik. Dia sudah banyak menderita karena mengandung anak kami." "Itulah konsekuensi dari perbuatan tak terpuji yang kamu lakukan! Riana bahkan harus ikut menanggung penderitaan karena kelakuanmu yang hanya mementingkan nafsu dibanding akal sehat! Bapak merasa gagal menjalankan tugas sebagai orangtua dalam mendidikmu, Dion!" Pria paruh baya itu mengeluarkan ucapan-ucapan menusuk. Jauh di dasar lubuk hatinya, beliau merasa sangat tak pantas menyandang cap sebagai 'orangtua' karena tidak berhasil mendidik putra bungsunya dengan benar. "Maaf, Pak. Dion bukan anak yang berbakti dan selalu mengecewakan bapak. Maafkan Dion, Pak." Dia sadar jika selama ini dia belum bisa membuat ayahnya bangga sedikitpun. "Tidak, Nak. Bapaklah yang salah. Bapak hanya mengutamakan ego dan harga diri. Maaf karena Bapak selalu memaksakan kehendak tanpa memikirkan perasaanmu, Nak," kata ayahnya dengan nada suara yang sedikit melunak. Seluruh tubuh Dion mendadak kaku. Untuk pertama kalinya dia mendengar ucapan 'maaf' terlontar dari sang ayah. Cairan bening sudah menggenang di pelupuk kedua matanya. "Maafkan Bapak, Nak. Dulu Bapak berpikir jika dunia militer adalah pilihan karier yang tepat untukmu, bahkan Bapak sudah menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam menunjang kebutuhanmu nanti saat masuk dunia militer. Bapak yakin kamu memiliki kemampuan untuk lolos seleksi sama seperti Adi," jelas pria baruh baya itu. "Bapak melakukan semua itu karena ingin melihat kalian berdua menjadi orang yang sukses. Tapi, cara yang Bapak gunakan ternyata salah. Bapak tidak pernah mendengarkan apa yang kamu inginkan. Bapak memang egois, Nak." Dion menundukkan kepala. Dia tak kuasa menahan air mata untuk keluar. Perkataan sang ayah benar-benar mampu menyentuh perasaannya. Ada rasa bersalah yang menyusup di dalam hatinya karena pernah menolak keinginan beliau padahal ayahnya hanya ingin memberikan yang terbaik. "Dion tahu Bapak hanya berusaha mencari jalan agar kami tidak salah dalam memilih karier. Walau, Kak Adi sudah duluan menekuni bidang tersebut tapi dunia militer tetap terasa sangat asing untuk Dion, Pak." Sungguh dunia militer bukanlah jati dirinya. Dion ingin mencari kesuksesan di bidang lain yang sesuai dengan bakat dan kesukaannya yakni dunia IT. Meski, sampai sekarang dia belum bisa menunjukkan bahwa ia sukses tapi dia yakin dengan kerja keras, semua mimpinya akan terwujud secara perlahan. "Bapak tahu? Dion sering pulang larut malam. Dia jarang memperdulikan kesehatannya sendiri. Bahkan dia sempat sakit karena mengerjakan projek web tanpa istirahat yang cukup. Riana bingung bagaimana caranya memberitahu Dion agar dia bisa lebih mementingkan kesehatannya dibanding pekerjaan." "Dion suami serta calon ayah yang bertanggung jawab, Pak. Dia selalu menjaga Riana dan calon anak kami dengan baik. Dia juga sabar menghadapi sikap Riana yang kerap kali membuatnya kesusahan. Bapak jangan marah terus sama Dion ya." Ayah Dion kembali mengingat perkataan-perkataan yang diucapkan oleh sang menantu ketika melakukan komunikasi lewat telepon dengannya. Beliau semakin sadar jika selama ini sikap yang ia tunjukkan pada putra bungsunya hanya membuat hubungan di antara mereka kian memburuk dan tidak menyelesaikan permasalahan yang ada. "Bapak akan memberikanmu kesempatan untuk membuktikan jika bidang yang kamu pilih adalah jalan yang tepat dalam mengantarkan dirimu pada kesuksesan, Nak. Jangan pernah menyerang mewujudkan impianmu, Dion!" ucap pria paruh baya itu. Beliau memberikan semangat dan dukungan. Kini senyuman hangat yang Dion rindukan terukir di wajah sang ayah. "Terima kasih, Pak. Dion akan berusaha lebih keras lagi agar bisa membuat Bapak bangga," janji Dion pada ayahnya. Bukan sekedar sebuah janji melainkan sesuatu yang harus dia buktikan dalam bentuk nyata. "Berusaha lebih keras bukan berarti kamu mengabaikan kesehatanmu, Nak. Riana pernah cerita pada bapak kalau kamu keras kepala dan sulit untuk diminta mengurangi porsi kerja. Istrimu khawatir, dia tidak ingin kamu sakit Dion. Ingat bahwa kamu masih memiliki tugas sebagai kepala keluarga jadi sudah sepatutnya kamu memikirkan kesehatanmu juga agar bisa menjaga istri dan calon anakmu dengan maksimal, Nak." "Baik, Pak," jawab Dion singkat. Dia masih tak percaya bahwa ayahnya yang selama lima tahun belakangan ini bersikap dingin, kini memberikan nasihat dan juga pesan padanya. "Maaf karena sikap keras dan egois Bapak, kamu harus menanggung biaya kuliah serta segala kebutuhan sendirian. Bagaimana cara Bapak untuk menebus semua kesalahan yang pernah Bapak lakukan padamu?" tanya sang ayah dengan nada suara yang semakin melembut dan sarat akan rasa bersalah. "Bapak tidak salah. Dion pantas menerima perlakuan seperti itu karena telah menentang perintah Bapak. Tapi di satu sisi Dion juga belajar hidup mandiri dan tahu bagaimana susahnya mencari uang," jawab Dion. Dia tidak pernah dendam atau marah atas perlakuan yang ia terima sebab semua bukan mutlak kesalahan ayahnya. "Tapi, bolehkah Dion meminta satu hal, Pak? Tolong jangan bersikap dingin lagi. Pengalaman Dion dalam membina kehidupan rumah tangga terlalu minim dan kami cenderung masih mengedepan ego satu sama lain. Maka dari itu mulai sekarang Dion membutuhkan nasihat-nasihat serta saran dari Bapak agar dapat menjadi kepala keluarga yang lebih baik kedepannya," lanjut Dion penuh harap. Sang ayah mengangguk. "Terima kasih, Nak. Kamu masih menganggap Bapak sebagai orangtuamu setelah banyak perlakuan dan perkataan kasar yang Bapak lakukan. Nanti saat kamu telah resmi menjadi seorang ayah, kamu harus bisa lebih bijak dari Bapak. Jangan pernah sesekali bersikap egois sama seperti Bapak," pesan ayahnya. Mata Dion kembali berkaca-kaca tatkala tangan pria paruh baya itu merangkul serta menepuk pundaknya. Kehangatan sosok seorang ayah dapat ia rasakan mulai sekarang. ....................... Dion langsung mendekatkan kursi yang dia duduki ke arah Riana ketika ayah dan ibunya sudah berpamitan untuk pulang. Dia menatap sang istri. Riana sedikit kaget menerima pelukan tiba-tiba dari Dion. Firasatnya mengatakan bahwa terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan antara suami dan ayah mertuanya tadi saat mereka bertemu. "Ada apa Dion?" Riana bertanya. Namun laki-laki itu tak menjawab. Dekapan Dion terasa kian erat dan hal tersebut juga membuat kecemasannya semakin menjadi. "Ada apa Dion? Apa Bapak menyalahkan kamu lagi?" Riana ingin segera mendapat jawaban atas pertanyaannya. Namun, Dion belum mengeluarkan suara sedikitpun. Dia hanya bisa diam dan membalas pelukan suaminya. "Riana...," panggil Dion dengan suara sangat pelan. Laki-laki itu meletakkan kepalanya di sela-sela leher dan bahu sang istri yang sedang duduk bersila. "Iya, Dion. Ada apa dengan kamu sebenarnya? Kenapa jadi aneh gini? Coba bilang jujur, jangan buat aku penasaran." Nada suara Riana tetap lembut meski dia tengah cemas memikirkan keadaan Dion yang tidak tampak seperti biasanya. "Bapak sudah memaafkan kesalahan yang pernah aku lakukan, Riana. Beliau juga mendukung karirku di bidang IT. Bapak memberikan kesempatan dalam meraih kesuksesan dengan caraku sendiri," jawab Dion kini sambil menatap lekat sang istri. Rasa haru masih menyelimuti hatinya. "Benarkah? Aku yakin kamu pasti bisa membuktikannya Dion," kata Riana menyunggingkan senyum lebar. Tangan kanannya terulur untuk menangkup wajah suaminya. Laki-laki itu mengangguk. "Dengar, Nak. Sekarang Ayah sama kakek udah baikan loh. Ibu senang dengarnya." Riana mengajak calon anak mereka berbicara. Dion menikmati interaksi yang tersaji di hadapannya. "Makasih, karena kamu juga sudah memberikan kesempatan untukku menjadi seorang Ayah. Semoga aku bisa menjalankan tugasku dengan baik ya dalam menjaga dan melindungi kalian." Kata laki-laki itu serius. Tak lupa salah satu tangannya mengelus perut sang istri dengan halus. Riana tersentuh akan ucapan Dion. Tatapan laki-laki itu juga memancarkan keseriusan yang mendalam, ia dapat merasakannya. "Aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu, Dion. Kamu selalu sabar menjagaku dan anak kita. Maaf kalau aku cuma bisa ngerepotin kamu saat sakit begini. Jangan sampai kamu ikutan sakit juga. Aku menyayangimu," ucap Riana tulus kemudian mengecup singkat bibir laki-laki itu untuk pertama kalinya. Senyuman hangat juga ia pamerkan. Tapi kegugupan tak mampu dia sembunyikan. "Hahaha, kamu agresif juga ya, Sayang," goda Dion padahal detak jantungnya sendiri berpacu cepat karena ulah Riana. Dion kembali menatap sang istri kemudian menarik tengkuk Riana dan memangut bibir wanita itu dengan lembut serta penuh perasaan. *********  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD