Dion tak kuasa menyembunyikan rasa gelisah bercampur takut yang ada di dalam dirinya. Dia mengusap wajah dengan kedua tangan berulang kali. Waktu seolah-olah berjalan begitu lambat. Padahal baru sekitar satu jam lamanya Dion duduk sendirian di depan sebuah ruangan pemeriksaan, dimana ada Riana yang tengah berjuang untuk mempertahankan calon anak mereka.
Tuhan, tolong lindungi istri dan anak hamba. Dion senantiasa merangkai kata-kata tersebut dalam doanya.
Darah, cairan berwarna merah yang untuk kedua kalinya dia lihat hari ini merembes di atas sprei, setelah beberapa bulan yang lalu dia mendapati cairan tersebut juga mengotori lantai kamar mandi.
Bagaimana bisa kamu menyuruhku untuk meninggalkanmu disaat kamu telah cukup banyak menanggung penderitaan akibat perbuatanku?
Dia berjanji tidak akan pernah melepaskan wanita itu dari sisinya. Meski nanti Riana bersikeras meminta berpisah dengannya. Mereka mesti menghadapi bersama semua masalah yang ada karena dia dan wanita itu telah terikat dalam sebuah pernikahan sakral dimana mereka harus menikmati suka dan duka berdua.
"Kak, gimana keadaan Kak Riana?" suara bass milik adik iparnya yakni Lian, menyapa gendang telinga Dion. Namun, pikirannya masih melayang jauh entah kemana.
"Gimana keadaan Kak Riana?" Lian mengulang pertanyaannya sebab Dion sepertinya tidak mendengar apa yang dia ucapkan tadi.
"Dia masih diperiksa. Riana mengalami pendarahan lagi," jawab Dion dengan suara pelan.
Lian duduk persis di sebelah kakak iparnya itu. Dia juga merasa cemas akan kondisi kakak perempuannya.
"Apa? Pendarahan? Sorry ya, Kak. Gue baru bisa datang sekarang. Ada kegiatan di kampus yang enggak bisa gue tinggalin kemarin. Ibu dan Ayah baru bisa pulang besok," katanya memecah kesunyian yang melanda karena mereka, ah lebih tepatnya Dion sibuk hanyut dalam pikirannya sendiri. Dia hanya membalas ucapan Lian berupa anggukan.
"Gue tahu lo lagi kalut, Kak. Gue juga cemas dengan kondisi Kak Riana. Dia jarang terbuka ke gue, bahkan sama Ayah dan Ibu dia juga begitu. Kak Riana sering nyimpan masalahnya sendirian dan selalu bersikap ceria di depan kita," cerita Lian. Dia baru mengetahui jika sang kakak mengidap kelainan rahim kemarin dari laki-laki yang tengah duduk di sampingnya ini.Riana memang tipe introvert.
"Ya, jujur aja gue sama Kak Riana emang gak terlalu akrab, mungkin karena jarak umur kami yang cukup jauh. Gue gak tega lihat Kak Riana sakit kayak gini. Apalagi ibu juga bilang kalau Kak Riana sering sakit-sakitan dulu."
Padahal baru seminggu yang lalu dia bertemu dan berbincang-bincang dengan Riana di sebuah kafe dengan kondisi yang masih baik-baik saja. Akan tetapi, sekarang sang kakak malah masuk rumah sakit. Meski, tatapan mata Dion mengarah lurus ke depan akan tetapi gendang telinganya dengan jelas dapat mendengar setiap kata yang dilontarkan oleh Lian.
"Gue takut Riana kenapa-kenapa. Tadi dia mengalami pendarahan lumayan banyak. Gue juga takut seandainya calon anak kami gak bisa diselamatkan. Gimana caranya gue bilang ke Riana?" Dion berkata dengan lirih.
"Lo jangan ngomong gitu, Kak. Gue percaya Kak Riana dan calon keponakan gue bakal baik-baik aja." Lian menepuk pundak Dion beberapa kali dengan pelan. Dia tahu kejadian ini pasti terasa sulit untuk kedua kakaknya.
"Lo harus kuat, Kak. Makasih karena lo udah menjaga Kak Riana dan calon keponakan gue. Lo Kakak ipar yang bisa gue andalkan," lanjut Lian mengucapkan terima kasih. Dion menyunggingkan senyum tipis.
"Udah jadi kewajiban gue buat jaga Riana dan anak kami," tanggapnya berusaha bersikap tenang tapi tetap saja rasa cemas mendominasi dirinya.
"Kak, lo sayang 'kan sama Kak Riana?" tanya Lian dengan nada serius. Dion mengangguk.
"Iya, gue sayang banget sama dia," jawabnya. Bukan hanya sekadar sayang, melainkan dia mencintai wanita yang sering menampakkan wajah datar dan sikap dingin tersebut.
"Jangan tinggalin Kak Riana ya, Kak. Dia emang kadang suka keras kepala, egois dan terlihat mandiri. Tapi dia butuh seseorang buat dijadiin sandaran," pesan Lian. Dia yakin Dion memang orang yang tepat untuk kakaknya.
"Mana mungkin gue bisa ninggalin Riana. Sementara dia udah banyak menderita karena ngandung anak gue," jawab Dion. Sekali lagi Lian menepuk pundaknya
"Bagus, Kak. Lo harus buat Kak Riana menjadi sosok yang lebih terbuka." Lian mengungkapkan keinginannya. Dion hanya membalas dengan senyuman tipis dan anggukan pelan.
Sebenarnya ia dan Riana tak jauh berbeda, mereka sama-sama sosok yang rapuh dan membutuhkan sandaran satu sama lain serta tempat untuk saling berbagi. Jadi, bukankah seharusnya mereka tetap bersama?
Dion, tolong jagain istri lo dengan benar. Kakak cuma bisa berdoa di sini semoga Riana dan calon anak kalian selalu berada dalam lindungan-Nya. Menjadi kepala keluarga memang tidak mudah, tapi gue percaya lo bisa. Jangan pernah sungkan buat nanya atau minta bantuan ke gue karena gue adalah kakak lo.
Dion teringat akan pesan yang dikirimkan tadi malam oleh kakaknya, Adi. Mereka berdua tidak akrab, sangat jarang bertemu dan hanya sesekali berkomunikasi lewat telepon mengingat sang kakak yang sibuk dengan tugas militer dan keluarga kecilnya. Walaupun demikian, dia tahu jika Adi masih menaruh kepedulian dan perhatian sebagai seorang kakak kepadanya.
"Kak, dokter udah keluar," ucap Lian membuyarkan lamunan Dion. Mereka bangkit dari kursi lalu berjalan ke arah dokter yang menangani Riana.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Dion dengan suara sedikit bergetar. Ketakutannya kembali muncul. Dia bahkan tak berani menanyakan bagaimana kondisi calon anak mereka.
"Keadaan istri Anda masih lemah, tapi janinnya berhasil diselamatkan," beri tahu dokter tersebut. Dion dan Lian menghela napas lega. Raut ketegangan sedikit sirna di wajah mereka.
Terima kasih, Tuhan.
"Dok, apa saya boleh masuk ke dalam?" tanya Lian. Dia ingin segera menemui dan memeluk sang kakak yang selalu terlihat sok kuat di depannya.
"Boleh akan tetapi tolong jaga perasaan pasien. Jangan ajak dia membicarakan sesuatu yang berat karena kondisinya masih lemah," pesan dokter tersebut. Lian mengangguk paham. Tanpa menunggu waktu lama dia langsung masuk ke dalam ruangan dimana Riana berada.
"Terima kasih, Dok," ucap Dion dengan nada sopan dan tersenyum.
"Tolong perhatikan kondisi psikis istri Anda agar emosinya stabil, pendarahan hari ini terjadi akibat pasien mengalami tekanan secara psikis. Syukur, janin di rahimnya masih bisa diselamatkan. Jangan sampai pendarahan yang lebih parah terulang karena hal tersebut akan benar-benar memicu keguguran karena pengaruh kelainan rahim yang diderita istri anda," beri tahu sang dokter panjang-lebar.
Dion mengangguk mengerti. Dalam benaknya, dia juga berharap jika pendarahan tidak akan terulang.
........................
Riana memandang langit-langit kamar yang sedang dia tempati dengan tatapan sendu. Tubuhnya masih terasa lemas untuk digerakkan. Lengkungan tipis terukir di bibir wanita itu. Dia juga mengelus perutnya lembut dan penuh kasih sayang.
"Makasih ya, Sayang, Ibu akan berusaha lebih keras lagi untuk mempertahankanmu, Nak," ucap Riana dengan nada yang sangat pelan nyaris berbisik.
Dokter sempat memberi tahu bahwa janin di dalam rahimnya dapat diselamatkan meski dia mengalami pendarahan yang lumayan banyak tadi. Riana sangat bersyukur karena dia dan Dion masih diberi kesempatan untuk menjaga calon anak mereka ini.
"Kak Riana!" panggil Lian sambil mengambil posisi duduk di kursi samping ranjang Riana. Hatinya sedikit mencelos melihat kondisi sang kakak yang terbaring lemas.
"Pagi-pagi kamu udah di sini. Enggak ngampus Lian?" tanya Riana menampakkan senyum senang karena adik kesayangannya kini ada di sini.
"Nanti ajalah ke kampusnya, gue mau melepas kangen sama Kakak gue yang lagi sakit ini," jawab Lian. Wanita itu tertawa pelan.
"Wah, ternyata bisa kangen juga sama Kakak ya? Terus udah berani pakai kata 'gue' segala." Riana menanggapi ucapan sang adik dengan candaan.
"Tentu aja. Apalagi kangen dapat traktiran makan dari Kakak. Di kampus bahasa gaulnya pakai 'gue-lo' makluminlah, Kak," sahut Lian sembari nyengir kuda. Riana kembali tertawa karena tingkah adik satu-satunya yang dia miliki ini.
"Dasar! Punya Adik, tapi suka malakin Kakaknya sendiri," sindir sang kakak. Lian cekikikan.
"Hahaha bercanda, Kak. Wanita hamil sensitif mulu nih kalau diajak bercanda," ejeknya.
Riana kian mengembangkan senyuman tatkala menyadari kehadiran Dion di dalam ruangan. Laki-laki itu membalas dengan senyuman hangatnya.
"Sekarang momen adik-kakak bukan suami-istri yang saling tatap-tatapan," celetuk Lian. Dion pun terkekeh dibuatnya.
"Emang kamu mau ngapain sama Kakak?" tanya Riana lantas. Lian menggeleng.
"Kalau Kakak sakit gini 'kan enggak enak buat diajak bertengkar. Cepat sembuh ya, Kak. Biar kita bisa saling ejek lagi." Mata Lian mulai berair. Dia tak tega melihat kondisi kakaknya yang sakit seperti sekarang.
"Nangis hmm?" Riana membelai rambut Lian untuk menyalurkan rasa kasih sayangnya.
"Idih, siapa yang nangis? Kakak ingat jaga diri biar enggak sakit lagi. Pokoknya keponakanku harus lahir dengan sehat. Aku udah enggak sabar ngajak anak Kakak main. Janji deh bakal jadi Om yang baik nanti," ucap Lian bersungguh-sungguh.
"Iya, Kakak akan berusaha. Kamu penginnya punya keponakan cewek apa cowok?" tanya Riana iseng. Dion hanya memilih memperhatikan percakapan antara adik dan kakak itu tanpa bersuara.
"Cewek atau cowok sama aja buatku, Kak. Asalkan enggak dingin kayak Kakak udah cukup. Malas lihat ada generasi penerus yang dingin sama kayak Ibunya," jawab Lian sengaja. Di dalam hati Dion pun setuju dengan ucapan adik iparnya.
"Aish...." dengus Riana sambil menjitak kepala Lian pelan.
"Udah ah, aku mau beli makanan di kantin. Lapar! Kelamaan di sini baper gara-gara lihat suami-istri yang tatap-tatapaan mulu," celetuk Lian kembali.
Dia bangkit dari kursi yang didudukinya lalu melangkah menuju pintu dan keluar. Kini yang tersisa di dalam ruangan hanya mereka berdua, suasana mendadak sunyi. Dion menggeser kursi lebih dekat ke arah Riana. Kedua bola matanya tak pernah lepas menatap sang istri yang terbaring lemas di atas ranjang.
"Kenapa?" tanya Riana memperlihatkan senyuman pada Dion. Sementara tangan kanannya terulur menangkup wajah laki-laki itu. Sedangkan, di tangan kirinya terpasang infus.
Tak ada jawaban yang dia dapatkan karena Dion malah memejamkan mata, menikmati sentuhan hangat tangan Riana di pipinya yang mampu memberikan ketenangan untuknya. Kemudian, dia menggenggam dan mencium punggung tangan sang istri. Riana tersenyum, entah kenapa semakin lama dia merasa semakin nyaman dengan perlakuan Dion padanya.
"Kenapa?" ulang wanita itu dengan nada lembut. Kini pandangan mereka saling beradu, seakan ada magnet yang menariknya untuk menatap jauh ke dalam bola mata laki-laki itu.
"Makasih, Sayang," ucap Dion sembari mencium punggung tangan istrinya sekali lagi. Riana tersenyum dengan wajah yang masih pucat.
"Udah sarapan belum?" tanya sang istri. Dion menggeleng pelan. Dia belum menyentuh makanan sejak tadi malam. Nafsu makannya hilang.
"Makan gih bareng Lian biar kamu enggak sakit," suruh Riana, tapi dengan suara lembut. Tangan kanannya kembali menangkup wajah Dion.
"Udah kenyang," jawab laki-laki itu. Kedua bola matanya memandang wajah sang istri intens. Senyuman tulus tidak pernah luput diperlihatkan oleh istrinya.
"Kenyang? Aku rasa kamu belum makan apa pun," tebak Riana. Namun Dion tak mengindahkan ucapannya dan tampak tengah memikirkan sesuatu.
Dion kemudian merebahkan kepala dan melingkarkan tangannya di atas perut Riana. Dia juga memejamkan mata, melepas rasa lelah dan kecemasannya sekaligus. Sungguh semua terasa berat bagi Dion hari ini. Dia butuh waktu sejenak untuk menenangkan diri, ditemani oleh istri dan calon anak mereka tentunya.
"Makasi ya, Nak. Ayah tahu kamu anak yang kuat sama seperti Ibumu. Ayah sayang kalian," ucap laki-laki itu lalu mengeratkan lingkaran tangannya. Dia hanya bisa mengucapkan syukur dan terima kasih karena Tuhan masih mempercayakan dan memberikan kesempatan untuk mereka menjaga anak ini.
"Kok jadi kamu yang manja?" tanya Riana. Tingkah Dion sulit untuk dia tebak. Tangan kanan Riana mengelus rambut sang suami perlahan dengan lembut dan kasih sayang sama persis seperti apa yang dia lakukan tadi pada Lian.
Kini, laki-laki itu memiliki arti tersendiri untuknya. Riana masih ragu, apakah dia bisa dengan cepat menaruh rasa cinta kepada Dion? Mengingat sulit baginya mencintai seseorang dalam jangka waktu yang relatif pendek. Kebersamaan mereka akan menjadi momen-momen penting dan saksi perubahan perasaan Riana terhadap laki-laki itu, jadi biarkanlah semua mengalir apa adanya.
"Riana..." panggil Dion tetap dengan posisi kepala di atas perut sang istri. Matanya kembali terbuka. Belaian tangan Riana mampu mengantarkan kehangatan ke sekujur tubuhnya.
"Ada apa?"
"Aku takut kehilangan salah satu dari kalian. Aku enggak bakal sanggup jika hal tersebut benar-benar terjadi. Jangan pernah memintaku untuk meninggalkanmu lagi Riana," jawab Dion mengeluarkan apa yang dia rasakan sejak kemarin. Kepalanya masih saja anteng berada di atas perut sang istri.
"Kamu sudah cukup menderita karena mengandung anakku. Kamu juga bilang 'kan kalau kita harus berusaha menjaga ikatan suci ini? Tapi, kenapa kamu malah memintaku untuk pergi mencari wanita lain hanya karena alasan tersebut? Aku tidak akan melakukannya," lanjut Dion kini sambil menatap Riana yang mulai berkaca-kaca.
"Maaf Dion kalau ucapanku kemarin menyinggung perasaanmu. Tapi, aku cuma berpikir kalau kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih sempurna untuk dijadikan pendamping hidup. Setiap wanita pasti akan memiliki keinginan yang sama jika mereka juga berada di posisiku," jawab Riana dengan tenang, tidak seperti kemarin yang terbawa emosi dan perasaan.
"Menurutku kesempurnaan itu relatif. Aku enggak butuh orang yang sempurna buat bisa ada di sisiku, Riana. Aku berjuang sejauh ini karena aku ingin belajar bertanggung jawab atas perbuatan yang pernah aku lakukan padamu dulu. Aku tidak menuntut balasan berupa kesempurnaan seorang istri untuk suaminya," ucap Dion masih memandang Riana intens. Wanita itu tertegun.
"Kalau begitu tetaplah berada di sisiku, Dion. Aku membutuhkanmu," kata Riana membalas tatapan sang suami dan untuk ketiga kalinya menangkupkan tangan di wajah Dion.
"Ayo kita belajar menjadi orangtua yang sempurna untuk anak ini," lanjutnya. Tangan kiri Riana yang terpasang infus menggenggam tangan Dion yang berada di perutnya. Laki-laki itu mengangguk serta tersenyum penuh arti.
Dion kemudian naik ke atas ranjang, berbaring di samping Riana dan mendekap erat sang istri. Kedua matanya mulai terpejam karena rasa kantuk dan lelah yang menghinggapi.
"Terima kasih Dion," ucap wanita dengan tulus.
..........................
Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, Lian tengah menemani kakaknya karena Dion pulang ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian dan perlengkapan lainnya sejak sejam yang lalu. Mereka berdua mengisi waktu dengan mengobrol dan membahas hal-hal yang ringan misalkan saja tentang perkuliahan atau masa kecil mereka.
Sesekali Riana pun tertawa mendengar celotehan Lian. Adik semata wayangnya itu suka sekali bersikap manja di depannya. Tanpa mereka sadari sepasang suami-istri masuk ke dalam ruangan. Riana langsung menyunggingkan senyum serta menyalimi ibu dan ayah mertuanya, begitu juga dengan Lian.
"Nak Lian, apa kabar?" tanya ibu Dion. Sementara ayah mertua Riana memilih duduk di atas sofa dengan ekspresi datar.
"Baik, Tante. Hehe," balas Lian cengengesan. Dia merasa sedikit canggung dan malu.
"Oh ya, katanya kamu punya urusan penting di kampus? Pergi sana biar enggak terlambat. Udah ada Ibu dan Bapak yang jagain Kakak di sini," kata Riana, tapi lebih tepat disebut menyuruh.
"Ceritanya Kakak ngusir aku nih? Ya udah, kalau gitu aku berangkat ke kampus sekarang." Lian menyalimi tangan sang kakak.
"Om dan Tante, Lian pamit mau ke kampus dulu. Tolong jagain Kak Riana yang cerewet ini ya," ucap Lian seraya menyalimi tangan ibu dan ayah dari kakak iparnya secara bergantian sebelum pergi.
"Hati-hati di jalan, Nak!" pesan ibu Dion. Lian mengangguk lalu melenggang keluar ruangan.
Riana menatap kepergian sang adik sejenak. Kemudian fokusnya tersita pada wanita paruh baya yang kini telah duduk di tepi ranjang dengan senyuman kasih seorang ibu.
"Maaf ya, Sayang, Ibu dan Bapak baru saja sampai di Bali. Dari bandara langsung ke sini." Beri tahu ibu mertuanya sembari memeluk sang menantu sedang duduk menyender di kepala tempat tidur.
"Tidak apa-apa kok, Bu." Riana membalas pelukan ibu mertuanya. Dia sudah menganggap bela sebagai ibu kandungnya sendiri.
"Gimana keadaan cucu Ibu?" tanya wanita berusia 55 tahun itu sambil mengelus perut menantunya lembut. Meski bukan cucu pertama, tapi beliau sangat menanti kehadiran buah hati Dion dan Riana dengan antusias.
"Tadi pagi sempat pendarahan Bu, tapi syukur anak kami masih bisa bertahan," jawab Riana. Ibu mertuanya terkejut seketika.
"Pendarahan? Kenapa bisa mengalami pendarahan lagi, Nak?" Kemarin putra bungsunya hanya memberi kabar bahwa Riana masuk rumah sakit karena masalah pada rahimnya. Perihal pendarahan beliau belum tahu.
"Iya, Bu. Mungkin efek dari kelainan rahim dan juga karena ada beberapa hal yang membebani pikiran Riana. Tapi, syukur cucu Ayah dan Ibu masih bisa diselamatkan. Maaf karena Riana tidak mampu menjaga anak ini dengan baik," jawabnya dengan suara pelan. Mengalami pendarahan merupakan salah satu hal yang paling dia takuti sekarang.
"Tidak, Sayang. Kamu tidak salah, Nak. Memangnya beban seperti apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya wanita paruh baya itu dengan tatapan kasih seorang ibu pada anaknya.
Bagaimana respon yang akan diberikan oleh orangtua Dion kalau tahu aku sulit untuk hamil lagi? Aku tidak sanggup berkata jujur saat ini. Rianaia sadar kekhawatirannya terlalu berlebihan tapi tetap saja semua pasti akan memiliki efek kedepannya.
Melihat sang menantu yang tampak enggan berbagi masalah dengannya, wanita paruh baya itu memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. Beliau hanya berharap permasalahan tersebut tak akan membawa dampak yang buruk bagi menantu dan calon cucunya.
"Dimana Dion? Kenapa Bapak tidak melihatnya sedari tadi?" Suara baritone milik ayah mertuanya menggema dan membuat Riana langsung menoleh ke arah pria paruh baya berusia 58 tahun yang sedang berjalan mendekatinya.
"Dion lagi pulang Pak untuk mengambil beberapa pakaian dan perlengkapan, baru sekitar satu jam yang lalu dia berangkat," jawab Riana sesaat setelah ayah Dion berdiri di sampingnya.
"Apa dia sudah menjalankan tugasnya sebagai kepala keluarga dengan benar?" tanya pria paruh baya itu dengan raut wajah tanpa ekspresi.
Timbul kecemasan dalam diri Riana. Masih hangat dalam ingatan wanita itu bagaimana ayah mertuanya tak segan-segan melayangkan pukulan, tamparan bahkan kata-kata menusuk untuk Dion. Riana takut jika beliau akan menyalahkan putra bungsunya lagi atas apa yang terjadi sekarang.
"Iya, Pak. Dion selalu menjaga Riana dan calon anak kami dengan baik. Bahkan terkadang dia lupa memperhatikan kesehatannya sendiri. Dia suami sekaligus kepala keluarga yang bisa Bapak percayai dan andalkan," jawab wanita itu apa adanya bukan semata-mata demi membela Dion.
"Jika dia sudah kembali, tolong suruh menemui Bapak di kantin. Bapak mau ngopi sebentar. Jangan lupa jaga kesehatanmu dan cucu Bapak," pesan ayah mertua pada menantunya sambil memamerkan senyum tipis. Meski, dari luar beliau tampak tegas dan keras, Riana yakin bahwa ayah mertuanya masih memiliki sisi kelembutan sebagai orangtua untuk Dion.