"Silakan masuk!" seru pria itu untuk mempersilahkan tamu spesialnya masuk ke area kamar hotel yang dia tempati sejak kemarin. Riana melangkah masuk pelan-pelan karena perutnya yang kian membesar.
"Mau minum dulu? Tapi, hanya ada stok air mineral. Apa mau aku pesankan?" dia menawarkan. Wanita itu menggeleng lalu mendudukkan dirinya di atas sofa.
"Enggak usah. Mana dokumennya? Aku harus segera pulang, Pradana." Riana melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat sore. Dia tidak ingin berlama-lama berada di tempat ini.
"Tunggu sebentar aku ambilkan," jawab Pradana sembari melangkah mencari dokumen yang dia simpan di lemari. Sementara itu Riana mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
"Ini dokumen yang kamu butuhkan," suara milik pria itu sedikit mengagetkannya yang tengah fokus memperhatikan beberapa botol minuman beralkohol yang berjejer di lantai dekat balkon.
"Terima kasih, bolehkah aku bertanya? Apa sekarang kamu mulai menyentuh minuman beralkohol?" tanya Riana dengan nada menyelidik sambil menerima dokumen yang diberikan. Pradana yang sedang berada dalam posisi berdiri mendadak tertegun menerima pertanyaan seperti itu.
"Setahuku kamu tidak pernah suka yang namanya minum bahkan untuk sekadar minum bir, tapi kenapa sekarang kamu malah mengonsumsi minuman yang memiliki kadar alkohol tinggi? Minuman tersebut hanya akan merusak organ tubuhmu secara perlahan, Pradana."
"Setidaknya aku dapat menggunakan minuman-minuman tersebut sebagai pelampiasan dari pada harus merebutmu kembali darinya secara paksa karena aku tahu dan sadar kamu sudah hidup bahagia bersamanya," sahut pria itu sembari menatap ke arah wanita yang memandang dirinya cukup tajam.
"Sampai kapan kamu akan begini? Tolong Pradana, tolong lupakan perasaan atau pun kisah yang pernah terjadi di antara kita. Semua sudah berubah, tidak bisa kembali seperti dulu. Tolong lupakan, Pradana," pinta Riana dengan nada serius.
"Jujur tidak mudah bagiku merelakan semuanya begitu saja. Enam tahun kita bersama Riana, sudah ada banyak hal yang kita lalui berdua. Aku kira tidak akan ada yang berubah. Tapi, ya semua memang telah berbeda sekarang." Pradana masih menatap lekat wanita itu. Sementara, Riana mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kamu benar, semua memang sudah berubah. Baik status maupun perasaan di antara kita. Aku yakin kamu pasti dapat menemukan seorang wanita yang tulus mencintaimu dan tentunya jauh lebih baik dariku, Pradana."
"Ckckck, kenapa kamu dengan mudah melupakan semua yang pernah kita lalui? Apakah dia begitu terlihat istimewa di matamu Riana? Hingga tak butuh waktu lama untukmu berpaling," tanya pria itu sinis.
"Aku rasa kamu tidak berhak mencampuri urusan pribadiku! Tolong berhenti berpikiran negatif terhadapnya. Kamu tidak tahu pengorbanan seperti apa yang sudah Dion lakukan padaku," peringat Riana.
"Wanita memang seperti itu, selalu membela dan membanggakan pria yang dia cintai kapan pun," sindir Pradana efek dari rasa cemburu yang menggerogoti dirinya.
"Terserah kamu mau menanggapinya bagaimana! Maaf, aku harus segera pulang. Aku harap kamu bisa mengerti dan memahami ucapanku." Riana berdiri dan memasukkan dokumen ke dalam tas lalu melangkah menuju pintu keluar. Jika dia tetap berada di sini maka perdebatan sengit akan berlangsung.
Pria itu tak tinggal diam, dia mengejar Riana yang sudah terlebih dahulu. Pradana masih ingin mengutarakan apa yang dia simpan dan rasakan. Terdengar egois memang, tetapi dia tidak peduli.
"Lepas!" Riana berusaha berontak saat tangannya dicengkram oleh Pradana. Aksi ini terjadi tepat di depan kamar hotel, untung saja tak ada orang yang melintas di sekitar koridor hotel hingga pertengkaran mereka terbebas dari tontonan gratis.
"Tunggu Riana, aku ingin mengatakan sesuatu," pinta pria itu seraya melepas cengkraman tangannya.
"Apa lagi? Sudah aku bilang aku harus segera pulang. Kalau kamu hanya ingin mengatakan sesuatu di luar pekerjaan. Maaf ,aku tidak bisa," tolak Riana dingin. Dia melayangkan tatapan tajam.
"Sebentar saja," kata Pradana sembari mendekatkan diri ke arah wanita itu yang melangkah mundur hingga menabrak tembok di belakangnya.
"Riana! Apa yang kamu lakukan di sini, Nak?!" seruan suara berat milik pria paruh baya terdengar di gendang telinga Riana dan Pradana secara bersamaan.
"Ay....Ayah," gumam wanita itu. Ketakutan tiba-tiba saja merasuk ke dalam dirinya.
"Pulang sekarang!" seru sang ayah dengan suara beratnya yang disertai tatapan sangat tajam mengarah pada Pradana. Beliau menarik paksa anak perempuannya pergi.
.................................................................
Keringat mulai membanjiri wajah Riana, dia diam seribu bahasa. Lidahnya kaku untuk sekadar berbicara menjelaskan yang sebenarnya terjadi tadi di hotel. Wanita duduk di atas sofa ruang tamu rumah orangtuanya dengan perasaan was-was. Dia takut sang ayah akan berpikiran yang macam-macam mengenai kejadian tadi.
"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa Ayahmu marah-marah?" tanya sang ibu setelah membuatkan anaknya secangkir teh hangat. Namun Riana tak menjawab dan memilih menundukkan kepalanya.
"Sayang, ayo katakan pada Ibu. Jangan takut, Ibu tidak akan marah." Wanita paruh baya itu mengusap pelan rambut putrinya. Sedangkan, Riana masih saja bungkam. Cucuran keringat kian membanjiri wajahnya. Tubuh wanita itu perlahan bergetar karena takut.
"Jangan menanyakan apa yang terjadi di hotel padanya! Anakmu itu tidak akan mau mengaku!" Sang ayah mulai murka. Beliau marah mendapati anaknya keluar dari kamar hotel bersama pria lain, bukan dengan menantunya. Terlebih, beliau tidak menyukai sosok itu sejak dulu.
"Hotel? Apa maksud Ayah sebenarnya? Tolong beri tahu Ibu," istrinya meminta penjelasan akan persitegangan yang terjadi antara dirinya dan sang putri.
"Dengar Bu, Ayah datang ke sebuah hotel untuk menemui klien Ayah yang menginap di sana. Tanpa sengaja putrimu tadi yang Ayah pergoki keluar dari kamar hotel bersama dengan mantan pacarnya bernama Pradana yang tidak Ayah sukai sejak dulu!" jawab beliau dengan penuh penekanan bercampur amarah.
"Apa? Kamar hotel? Dengan Pradana? Ya Tuhan, apa benar Riana? Jawab, Nak!"
"Iya, Bu. Riana memang singgah ke kamar hotel yang Pradana tempati tapi hanya untuk mengambil dokumen yang berkaitan dengan kerja sama. Di antara kami tidak ada hubungan yang seperti Ayah dan Ibu kira. Riana tidak berbohong," jelas putri sulungnya. Akan tetapi, sang ayah tak percaya begitu saja.
"Jika hanya untuk membahas masalah pekerjaan kenapa harus di kamar hotel? Jangan belajar untuk tidak jujur, Nak! Ayah benci dibohongi oleh anak Ayah sendiri!" tegas pria paruh baya itu dengan suara berat yang terkesan dingin.
"Tidak, Ayah. Riana tidak berbohong. Kami awalnya bertemu di sebuah restoran tapi tadi ada dokumen yang tertinggal di kamar itu jadi Riana mengambilnya ke sana."
"Ayah tidak pernah mengajarkan putri Ayah untuk menghianati pernikahannya sendiri, termasuk berselingkuh bersama pria lain di sebuah hotel apalagi dengan mantan kekasihnya terdahulu!" bentak beliau marah dan tak berperasaan. Air mata mulai mengalir di pipi sang anak.
"Sudahlah, Ayah! Putrimu sedang hamil dan baru pulih. Jangan memarahinya seperti ini! Pikirkan juga calon cucu kita!" peringat sang istri. Beliau memeluk Riana yang menangis.
"Jangan membelanya! Anakmu jelas-jelas bersalah!"
"Ibu tidak membela! Seharusnya Ayah bisa intropeksi diri! Bukankah Ayah juga pernah berselingkuh dengan mantan kekasih Ayah dulu disaat kita telah menikah dan punya anak, hah?!" Wanita paruh baya itu mengungkit masalah yang terjadi di masa lalu tersebut.
"Iya, Ayah memang pernah berselingkuh dulu! Ayah mengaku salah dan menyesal! Oh, jadi Ibu ingin menyangkutpautkan apa yang terjadi pada anak kita tidak terlepas dari hasil perbuatan Ayah di masa lalu? Begitu maksud Ibu?" Beliau naik pitam mendengar ucapan sang istri.
"Jika iya memang kenapa? Jangan menyalahkan anakmu saja! Kita sebagai orangtualah yang patut disalahkan karena gagal mendidiknya. Ayah yang tidak bisa memberi contoh baik pada anak-anak Ayah sendiri," sahut istrinya tak kalah sinis.
"Cukup! Ayah dan Ibu tolong jangan bertengkar lagi. Aku mohon," pinta Riana dengan linangan air mata.
Tubuhnya bergetar secara perlahan, keringat juga semakin banyak menghiasi wajahnya akibat memori masa lalu yang kembali terekam di memori ingatannya di mana dulu secara tidak sengaja ia dan sang ibu memergoki ayahnya sedang berduaan denga mantan kekasihnya di sebuah hotel saat umur Riana menginjak 7 tahun.
Akibat kejadian tersebut, ayah dan ibunya langsung bertengkar hebat tepat di depannya. Kala itu sang ibu menangis serta menuntut cerai, sedangkan ayahnya mengelak jika beliau berselingkuh dan memecahkan beberapa barang.
Memori tentang pertengkaran tersebut masih membekas dan menjadi salah satu kejadian buruk yang sering menghantuinya lewat mimpi serta berdampak pada Gamophobia yang dia alami.
"Ayah, maaf Dion baru sampai. Tadi di jalan macet," suara bass milik seseorang terdengar. Air mata Riana kian deras mengalir, dia takut ya sungguh merasa takut jika Dion ikut menuduhnya berselingkuh.
"Riana kenapa kamu menangis?" Dion menghampiri sang istri yang tampak berlinang air mata setelah menyalimi ayah dan ibu mertuanya terlebih dahulu. Dia menghapus liquid yang membasahi pipi wanita itu.
"Kamu kenapa, Sayang? Jangan menangis malu loh, ada Ayah sama Ibu di sini." Dion menarik sang istri ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku," lirih wanita itu merasa bersalah.
Jujur saja, Dion sudah sangat penasaran dengan peristiwa yang tengah terjadi dan menyebabkan Riana menangis. Apalagi tadi, sang ayah mertua mendadak menyuruh dirinya untuk pulang, ada suatu hal penting yang harus beliau sampaikan. Begitu kira-kira ayah mertuanya memberi tahu.
"Ayah, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Riana sampai menangis? Tolong jelaskan, Yah," Dion meminta. Dia belum paham dengan permasalahan yang ada.
"Maafkan Ayah, Dion. Ayah gagal mendidik Riana menjadi istri yang berbakti pada suami dan menghargai pernikahannya," jawab beliau.
"Apa maksud Ayah? Maaf Dion tidak mengerti." Dia menatap ayah mertuanya dengan pandangan serius. Rasa curiga semakin menghantuinya.
"Ayah mendapati istrimu dan Pradana keluar dari kamar hotel yang sama. Tadi Riana sudah menjelaskan jika mereka bertemu hanya untuk membahas masalah pekerjaan. Sungguh Ayah tidak suka melihat putri Ayah dekat dengan pria lain yang bukan suaminya. Apalagi di tempat sekelas kamar hotel yang bisa saja menimbulkan spekulasi negatif, terlebih Ayah tidak menyukai sosok Pradana!" jelas pria paruh baya itu.
Dulu Riana memang menyembunyikan statusnya yang berpacaran selama enam tahun dengan Pradana pada sang ayah karena dia tahu beliau tidak menyukai sosok pria itu saat diperkenalkan sebagai kekasihnya.
"Bertemu dengan Pradana? Di kamar hotel?"
Seketika dekapan Dion melemah. Tangan kanannya mengepal. Rasa kecewa sekaligus cemburu menyusup ke dalam jiwanya. Dia bahkan tak tahu-menahu tentang pertemuan sang istri dengan mantan kekasihnya. Apakah sulit bagi Riana untuk sekadar memberi tahu dirinya?
"Maaf karena putri kami telah bersikap tidak mengenakan, Nak. Ayah tahu kamu pasti marah dan kecewa. Tapi ayah berpikir harus tetap berterus-terang. Walau Riana adalah putri ayah sendiri tapi ayah tidak akan membelanya jika berbuat salah."
"Kami berdua akan menyelesaikan masalah ini di rumah, Yah. Semoga benar di antara mereka tidak ada hubungan yang spesial. Saya sangat tidak menyukai perselingkuhan," tanggap Dion serius. Ekspresi mukanya datar sedangkan tangan kanannya terus mengepal kuat menahan amarah serta kekecewaan.