***
Dari luar, Lin menggelengkan kepalanya. Itulah kenapa ia melarang Zion masuk ke sana sekarang juga. Tidak ada akhir bahagia bagi Zion bila terus memaksa Sera. Meskipun belum mengenal Sera dengan baik, tetapi Lin tahu seperti apa keras kepalanya teman kerjanya itu.
Lin menghirup kopinya dengan santai, lalu meninggalkan tempat itu untuk kembali ke ruang kerjanya sendiri. Bukan untuk melanjutkan pekerjaan, tetapi untuk mencari alasan melerai pertengkaran di dalam ruangan Sera.
Mungkin pura-pura mengajak Sera meeting bisa membuat Faldo dan Zion berhenti saling memberikan tatapan tajam mereka.
Lin akhirnya menemukan alasan yang cocok. Ia membawa dokumen calon pengantin yang besok pagi akan melakukan fitting baju pengantin di Wedding Fashion. Dengan begini, ia yakin Faldo dan Zion tak akan membuat keributan.
Lin mengetuk pintu ruang kerja Sera. Di sana, Faldo dan Zion masih memperebutkan Sera. Keduanya masih saling berbagi tatapan tajam.
“Sorry, gue ganggu.” Lin mengedikan bahu tak peduli. Ia menunjukan dokumen penting kepada Sera. Berharap Sera mengerti maksud dan tujuannya datang ke tempat ini. “Kita ada meeting kalau kamu lupa,” katanya.
Dahi Sera berkerut heran. Seingatnya tidak ada jadwal meeting untuk saat ini dan beberapa jam ke depan. Namun, Lin tampak menatapnya dengan serius. Seolah meeting ini tak bisa ditunda apa lagi diabaikan olehnya.
“Besok ada catin yang mau fitting, Ra. Kita harus diskusi terakhir, kan?” pancing Lin.
“Apa ini nggak penting karena lo lagi ngobrol asyik sama Dua cowok berisik ini?” Lin menyinggung Zion dan Faldo karena Sera masih saja menunjukan tatapan penuh tanya padanya.
Kini, Sera mengerti. Ia hanya harus mengiyakan apapun yang Lin katakan agar Zion dan Faldo meninggalkannya sendirian. Risih juga bila diperebutkan oleh Dua lelaki sekaligus seperti ini. Sera juga tak ingin bicara apapun pada Zion. Ia justru merasa sangat amat terganggu karena kehadiran lelaki itu sekarang.
“Ahh iya, kita harus meeting sekarang juga!” ujar Sera cepat. Ia melirik Faldo dengan sedikit tak enak hati. Sedangkan pada Zion? Sera mendengus kesal. “Bisa lepasin tangan gue, Zion?” ketusnya.
Zion mendesah berat. Sepertinya Sera benar-benar telah salah paham padanya. Perempuan itu bahkan enggan berbicara baik-baik terhadapnya. Dengan sangat terpaksa, Zion akhirnya melepaskan genggamannya pada tangan Sera.
Merasakan tangannya terbebas dari Zion, Sera pun mengalihkan perhatiannya sepenuhnya pada Faldo. “Aku ada meeting. Kamu sebaiknya pulang dulu, Do. Besok kita bisa ketemu lagi,” katanya dengan penuh kelembutan.
Perasaan iri muncul di dalam hati Zion. Ia semakin tak suka pada lelaki yang bernama Faldo ini. Dari mana pula asalnya hingga bisa membuat Sera nyaman berdekatan dengannya? Zion penasaran seperti apa sebenarnya hubungan Sera dan Faldo. Namun, ia belum memiliki jawaban yang pasti. Zion hanya berharap Sera tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap pendatang baru itu.
“Okay, Cantik! Kebetulan besok aku belum ke RS. Kita bisa jalan-jalan kalau kamu mau,” Faldo mengajak Sera pergi bersamanya.
Mendengar itu, membuat tangan Zion kembali tekepal. Punggung jarinya meruncing mengerikan. Ia sungguh berharap Sera menggelengkan kepalanya. Namun, Sera justru mengangguk setuju. Akhirnya, hanya ada desahan berat karena merasa kalah yang Zion embuskan.
“Jam berapa kamu luang?” tanya Faldo tampak semangat. Sungguh, pertemuan pertama mereka beberapa hari yang lalu setelah sekian lama, begitu lancar dan indah. Hari ini pun Faldo merasa ia bertemu dengan Sera dengan sangat menyenangkan meskipun ada lelaki bernama Zion di sini. Mengacaukan semua kesenangan itu. Untung saja Sera bersedia ia ajak jalan keluar besok.
Sera membawa jari telunjuknya di depan dagu. “Dari siang hingga sore aku nggak ada kegiatan. Calon pengantin yang mau fitting juga datang pagi-pagi,” katanya.
“Gimana kalau kamu ke sini saat makan siang? Biar kita bisa makan siang bareng,” tanya Sera memberi usul.
Asal Sera tahu saja, Faldo tak mungkin meolaknya. Justru ia gembira karena Sera sendiri yang menawarkan diri. Faldo mengangguk antusias. “Kalau gitu besok siang aku jemput ya, Cantik!” ujarnya.
Lalu setelah itu, Sera meminta Faldo pulang. Sedangkan Zion, lelaki itu masih berdiri di tempatnya. Menatap Sera dengan tatapan kecewa. Bibirnya berkedut pedih. Kepalanya terangguk dengan cara yang sama sekali tak enak untuk dilihat. Pilu sekali. Sama pilunya dengan tatapan yang tak segan lelaki itu tunjukan. “Makasih untuk hari ini, Sera,” ucapnya.
Sera tertegun. Hatinya bertanya-tanya, apakah Zion begitu terluka? Lalu, bagaimana dengannya? Ia juga sangat terluka karena perbuatan Zion. Sera mengulum senyumnya, masih saja memikirkan perasaan Zion di saat perasaannya sendiri sangat kacau pasca mendapati Zion menyakitinya lagi. “Sama-sama,” balasnya.
Kali ini Zion menutup mulutnya. Ia hanya menatap sendu kepada Sera yang justru menatapnya dengan tatapan tak peduli. Zion pikir ia harus menjelaskan siapa Lifi sebenarnya sekarang juga. Terserah bila akhirnya Sera tak juga ingin percaya.
“Sebelum aku pergi, aku hanya mau bilang kalau perempuan yang kemarin kamu lihat di restoranku adalah Lifi. Dia … ”
“Ohh, jadi namanya Lifi. Okay cukup! Lo nggak perlu jelasin apa-apa. Gue sama sekali nggak butuh itu,” potong Sera dengan cepat. Zion bahkan tak sempat menjelaskan siapa Lifi sebenarnya.
Mulutnya baru saja kembali ingin tebuka saat Sera lagi-lagi mendahuluinya.
“Lin! Kita ada meeting, kan? Ayo!” ajaknya setelah merasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi dengan Zion.
Lin yang mendengar namanya disebut merasa bingung sendiri. Ia memang ingin membubarkan drama antara Faldo, Sera dan Zion, tetapi jika dihadapkan dengan situasi yang berbeda seperti ini, Lin merasa serba salah. Ia tahu ada yang ingin Zion katakan.
“Ra, gue … ”
“Cepat Lin! Kita nggak ada waktu.” Sera memberikan delikan tajam pada Lin. Lalu setelah itu, ia mengalihkan tatapannya lagi pada Zion. “Lo masih mau di sini? Gue mau pergi bareng Kerlin!” ujarnya tertuju pada lelaki itu.
Zion menghela napasnya dengan berat. Sepertinya percuma saja memaksa Sera sekarang. Perempuan itu tampak sangat tidak menyukainya.
“Baiklah, aku pulang. Tapi, kamu harus tahu kalau Lifi adalah adik sepupuku. Ayahnya dikabarkan meninggalkan saat kamu melihat kami berpelukan,” Zion menganggukan kepalanya. Tegas ia menatap Sera. “Aku harap kamu mau dengerin penjelasanku lebih lanjut. Aku pulang dulu sekarang,” katanya.
Lalu setelah itu. Zion benar-benar membalikan tubuhnya. Keluar dari ruangan Sera dan meninggalkan Wedding Fashion dengan segera.
Sera yang ditinggalkan menatap tempat terakhir ia melihat Zion. Lalu melirik Lin dengan penuh tanda tanya. Tentu saja ia kebingungan dengan apa yang baru saja Zion jelaskan. Bisakah ia mempercayai ucapan lelaki itu begitu saja? Sera ragu, tetapi hatinya mulai merasakan perasaan bersalah pada Zion karena mengabaikannya sejak tadi.
.
.
To be continued.