***
Zion baru saja kembali ke restoran saat Lifi, adik sepupu yang menjadi chef di restorannya berlari memeluknya. Zion bingung kenapa Lifi yang biasanya ceria mendadak beruraian air mata. Tak ingin banyak bertanya, Zion pun membalasnya. Lalu setelah tenang, lelaki itu mengurai pelukannya. “Ada apa?” tanyanya setelah sempat melarikan matanya ke segala penjuru restoran. Untunglah, restoran masih sepi. Tak banyak yang melihat adegan menangisnya Lifi.
Masih sesegukan, Lifi pun menatap sedih pada kakak sepupunya. “Mama bilang, Papa udah nggak ada Mas,” katanya.
Zion tercekat. Ia ingat tujuannya kembali ke Aussie beberapa waktu yang lalu adalah untuk menemani Lifi menjenguk ayahnya yang sakit. Mereka kembali ke Indonesia karena melihat ayahnya Lifi sudah sedikit pulih. Namun, bagaimana mungkin sekarang mereka mendapatkan kabar mengerikan ini?
Tanpa banyak bertanya, Zion pun menarik Lifi ke dalam pelukannya lagi. Zion memaksakan senyum pedihnya agar Lifi tak merasa sendiri. “Tenang, Lifi, kamu bisa lewatin ini. Kita kembali ke Aussie hari ini juga!” tegasnya.
Lifi mengangguk setuju dalam pelukan itu. Air mata masih membasahi pipi, tetapi Lifi juga ikut memaksakan senyum pedihnya.
“Kasihan Mama, Mas,” Lifi memikirkan mamanya. Hal itu membuat Zion mengeratkan pelukannya pada Lifi. Tanpa Zion sadari, detik itu juga Sera melihat semuanya. Salah paham dan memilih untuk membenci Zion. Tak lagi mempercayainya. Padahal, Zion hanya sedang menenangkan adik sepupunya.
Kesalahpahaman pun berlanjut karena sejak hari itu Zion menghilang. Tidak menghubungi Sera satu kali pun. Zion kembali ke Australia di hari yang sama dengan hari di mana ia mendapatkan kabar mengejutkan itu dari Lifi. Sejak itu, Zion benar-benar sibuk mengurus pemakaman pamannya bersama keluarga besarnya di Australia karena memang keluarga inti rata-rata ada di sana.
Zion seolah benar-benar melupakan fakta tentang Sera. Meski begitu ia tak pernah lupa barang sedetik pun. Hanya saja, keluarganya memang sedang membutuhkan dirinya. Lalu setelah semuanya terselesaikan, Zion izin untuk kembali ke Indonesia. Sementara itu, Lifi ia biarkan tetap berada di sana. Bahkan mungkin tak masalah bila menetap saja menemani mamanya.
Meskipun masih diselimuti duka yang mendalam, tetapi Zion memiliki tanggung jawab di Indonesia. Ia juga ingin menemui Sera secepatnya. Zion tak sabar ingin meresmikan hubungan mereka walaupun keadaan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Namun, Sera dan duka keluarganya adalah dua hal yang berbeda. Zion juga harus mengutamakan Sera demi masa depan yang pernah dan akan selalu ia impikan bersama perempuan itu.
Karena entah kenapa, perasaan Zion merasa tidak enak bila mengingat gadis impiannya itu. Zion seolah sedang diberi signal bahwa saat ini sesuatu terjadi di antara mereka.
Oleh karena itu, sesampainya Zion di Indonesia, ia segera mencari Sera. Nasib buruk bagi Zion karena Sera rupanya sedang memiliki tamu. Terpaksa lelaki itu menunggu. Ia tidak akan pulang sebelum rindunya tersalurkan. Ia harus menemui Sera dengan segera.
Selama menunggu, Zion melihat Kerlin mendekatinya. Senyum tipis Zion berikan pada wanita cantik itu. Zion menerima segelas minuman yang Kelin berikan. “Thanks,” katanya.
Kerlin mengangguk singkat sebelum ikut mengalihkan tatapan menuju ruangan Sera. “Mereka udah lama di dalam,” ucapnya.
Hal itu menarik perhatian Zion. Dahinya berkerut mendengar pernyataan Kerlin. “Klien?” tanyanya.
Namun, Kerlin menggelengkan kepala. Senyumnya tertarik membentuk senyum menawan. “Sera bilang namanya Faldo, temannya,” terangnya.
Rahang Zion mengeras mendengar nama seorang lelaki yang pernah Sera sebut dalam teleponnya beberapa waktu yang lalu. Genggaman tangan Zion juga mengerat, menyalurkan segala kekesalannya di sana. Tak sabar Zion ingin masuk ke sana, meminta Sera menghentikan obrolan entah apa. Namun, Lin menghalanginya. “Sebaiknya lo tetap di sini. Sera kayaknya sensi banget sama Lo,” katanya.
Dahi Zion semakin berkerut heran. Ia ingat pertemuan terakhirnya bersama Sera baik-baik saja. Mereka bahkan berbagi cumbuan. Namun, kenapa sekarang Lin mengatakan bahwa Sera kesal terhadapnya? Zion semakin penasaran apa yang terjadi sebenarnya.
“Beberapa waktu yang lalu Sera pulang dengan mata yang merah. Saat gue tanya, dia bilang dia benci sama lo,” terang Lin.
“Kapan?” tanya Zion.
Lin mengingat lagi hari apa itu. Namun ia menjawab dengan cara yang paling tepat. “Hari di man ague mergokin kalian ciuman di sana,” katanya.
Zion sempat terdiam, lalu tiba-tiba ia mengingat apa yang terjadi hari itu. “Sera keluar nyusul gue?” tanyanya.
Lin mengedikan bahunya. Tidak tahu ke mana Sera pergi, tetapi ia ingat hari itu Sera terburu-buru. “Dia lari waktu itu. Terus ngebut pas nyetir ninggalin Wedding Fashion!” terangnya.
Zion sekarang yakin apa yang sedang dirinya pikirkan ini benar adanya. Sera menuju ke restorannya, lalu melihatnya tengah menenangkan Lifi. Sera salah paham hingga berakhir membencinya seperti ini. Zion tidak bisa tinggal diam. Ia harus segera membicarakan masalah ini pada Sera agar kesalahan seperti apapun dapat diluruskan.
Maka, tanpa peduli peringatan dari Kerlin, Zion pun menerobos masuk ke dalam ruangan Sera. Hal itu membuat Dua orang yang sedang mengobrol seru di dalam sana menjadi terkejut. Sera terutama. Ia mengerut heran melihat keberadaan Zion.
Berdecak kesal, Sera membuang wajahnya karena malas pada lelaki penipu seperti Zion. “Mau apa?” tanyanya kembali menatap wajah Zion dengan terpaksa.
Zion mendekat. Tak ia pedulikan keberadaan Faldo. Zion hanya ingin bicara pada Sera, perempuan yang telah ia anggap sebagai istri masa depannya. “Kita perlu bicara!” ujarnya dengan tegas.
Sera berdecak sebal. Tak suka pada ucapan Zion yang terdengar memaksa di telinganya. “Nggak ada yang perlu dibicarakan,” balasnya.
“Ada! Banyak.”
Sekali lagi Sera berdecak sebal. Hal itu membuat Faldo yang sejak tadi diam ikut bicara. “Siapa dia, Ra?” tanyanya sembari sengaja menyentuh pergelangan tangan Sera. Jika boleh jujur, Faldo merasa terganggu dengan kehadiran lelaki yang sepertinya mengenal Sera ini.
Disaat yang bersamaan, mata Zion berapi-api melihat tangan Faldo menyentuh pergelangan Sera. Ingin ia menepisnya, tetapi dirinya tak bisa melakukan itu. Sera pasti semakin marah padanya.
“Orang nyasar. Nggak perlu dipeduliin,” jawab Sera. Zion menatapnya tidak percaya. Kesal yang ia rasakan semakin menjadi saja saat lelaki yang bernama Faldo itu terkekeh menertawakannya.
Zion memberikan tatapan tajam kepada Faldo agar tetap diam. Tak perlu ikut campur terhadap urusannya dengan Sera. Namun, Faldo dengan berani membalasnya dengan senyuman remeh.
Tak tahan dengan apa yang ia lihat, Zion pun menarik tangan Sera. Namun, karena Faldo juga menahannya, Sera pun tak bisa bergerak. Sera menatap tangan Zion dan Faldo secara bergiliran. Ia memutar bola matanya dengan jengah. “Lepasin gue, Zion!” ujarnya. Alih-alih meminta Faldo, tetapi berkata tegas pada Zion. Sera tampak tidak peduli pada perasaan lelaki itu meski mata Zion tampak sangat amat terluka.
.
.
To be continued.
Sepi amatttt.. Mana kemarin yang nanyain Wedding Flowers update? Ini aku daily ya teman-teman. Mohon bantu ramaikan. Tinggalin jejak kalau enggak keberatan. Makasih banyak. Jangan lupa TAP Love dulu ya hehe