WF | Salah Paham

1603 Words
*** Lin menggelengkan kepalanya. Masih tidak percaya pada apa yang tadi dirinya lihat. Memang, ia dan Sera belum begitu banyak berbagi cerita, tetapi Lin tahu hubungan seperti apa yang Zion dan Sera miliki. Keduanya bukan sepasang kekasih meski saling mencintai. Senyum di bibir Lin terbit meski tadi ia sempat kesal karena memergoki ulah dua sejoli yang belum jelas hubungannya itu. Syukurlah, akhirnya Zion berhasil meruntuhkan dinding yang Sera ciptakan. Lin tahu Sera tidak akan bisa menghindar dari seorang Zion. Lin tahu cinta Sera pada lelaki berlesung pipi itu tidak pernah main-main. Meninggalkan ruangan Sera, Lin pun kembali ke ruangannya. Lin memang sengaja mengganggu kegiatan tak masuk akal Zion dan Sera karena beberapa karyawan sedang menonton perbuatan mereka. Kini, ia sudah bisa kembali bekerja. Sementara itu, dalam ruangan Sera terjadi keheningan. Detik telah berganti menjadi menit, tetapi kecanggungan di antara Zion dan Sera masih saja mendominasi ruangan itu. Keduanya sama-sama canggung setelah apa yang tadi mereka lakukan. Terlihat jelas Sera menunduk malu atas apa yang baru saja dirinya lakukan bersama Zion. Sera menyesal karena membalas ciuman Zion. Hanya saja, ia merasa semua itu sudah benar. Rindu yang coba ia abaikan akhirnya terbalaskan. Zion sendiri yang memulai. Zion yang menariknya. Zion yang lebih dulu menginginkannya. Hal itu sudah cukup untuk membuat sudut-sudut bibir Sera tertarik sedikit. Sementara itu, diam-diam Zion juga menarik sudut bibirnya. Ada perasaan lega karena akhirnya Sera meruntuhkan dinding tak kasat mata di antara mereka. Zion benar-benar berharap langkah ini membawa mereka pada hubungan yang semestinya. Zion ingin bicara pada Sera, tetapi ia urungkan kala melihat Sera sengaja menghindarinya. Zion tahu Sera pasti sangat malu. Napas Zion terdengar berat. "Aku pulang dulu," katanya. Percuma saja memaksa Sera sekarang. Hal itu hanya akan membuat hubungan yang sudah selangkah lebih dekat ini akan kembali buyar. Lebih baik Zion meninggalkan Sera dulu, lalu besok ia kembali lagi. Masuk lebih dalam ke hidup Sera, itu rencananya. "Ohhh iya silakan!" balas Sera tanpa berani menatap ke arah Zion. Zion mengerti. Sera pasti malu sekali dengan tingkah mereka. Zion akan memberikan waktu untuk calon istrinya itu. Zion terkekeh sendiri mendengar hasil pemikirannya yang menganggap Sera adalah calon istrinya. Bagaimanapun juga ia harus membuat semua itu menjadi nyata. Sera harus menjadi istrinya suatu hari nanti. Membayangkan Sera bersama lelaki lain membuat Zion ingin cepat-cepat memilikinya. Dia tidak akan tahan terlalu lama membiarkan Sera melajang. Setidaknya ia harus membuat Sera mengakui keberadaannya dulu sehingga hati perempuan itu tertutup untuk lelaki lain. "Peluk dulu baru bisa pulang," ucap Zion bermaksud untuk menggoda Sera sebelum ia memutar ganggang pintu. Hal itu membuat Sera mendelikan matanya. Zion yang urung membuka pintu melangkahkan kakinya untuk kembali menghampiri Sera. Secepat kilat menarik tangan Sera dan membawanya ke dalam pelukannya. Sera ingin menolak, tetapi apalah daya. Lengan Zion dengan erat memeluk tubuhnya. Cukup lama Zion melakukan itu hingga Sera merasa sesak. "Zion udah," bisik Sera sembari mendorong Zion. Pada akhirnya Zion melepaskan pelukan itu. "Aku pulang," pamit Zion yang mendapat anggukan kepala dari Sera. Tentu saja Sera masih enggan menatap Zion. Ia selalu melarikan matanya ke segala arah agar tidak menemukan mata Zion yang masih saja menatapnya dengan lekat. "Dasar lelaki!" pikir Sera. Barangkali Zion juga merasakan kecanggungan tetapi tidak separah yang ia rasakan. Bahkan setelah punggung Zion tak lagi terlihat, Sera masih saja merasakan kecanggungan itu. Ia menghela napasnya dengan berat. Matanya tampak gusar. Kalau begini terus ia yakin perasaannya pada Zion akan semakin dalam dan berkembang. Apa lagi sekarang dirinya tahu Zion juga memiliki rasa yang sama. “Sial, aku mengakuinya!” ujar Sera menyerah pada perasaannya. "Entahlah!" pikir Sera. Lebih baik dirinya melanjutkan pekerjaan yang tertunda dari pada sibuk memikirkan Zion yang belum tentu berakhir bahagia bersamanya. Sekarang Sera harus lebih fokus untuk hidupnya sendiri. Dia mungkin berhak bahagia tapi tidak dalam waktu dekat. Masih banyak yang harus Sera selesaikan terutama urusannya dengan ayahnya. Sera bergidik ngeri mengingat lelaki yang ia panggil ayah itu. Masih pantaskah sekarang Sera memanggilnya ayah?? Rasanya tidak. Terlalu banyak penderitaan yang orang itu berikan padanya. Lihat! Masalahnya terlalu banyak untuk memikirkan Zion. Benar-benar tidak waktu baginya untuk mengurus masalah percintaannya. “Sadar, Sera!” ujarnya mengingatkan diri. “Kamu nggak pantas untuk Zion,” lirihnya. Zion terlalu sempurna untuknya yang biasa ini. Zion lelaki yang jauh dari segudang masalah seperti yang dirinya miliki. Zion memiliki orang tua yang lengkap juga kaya. Sementara ia? Orang tuanya telah lama berpisah. Bahkan ayahnya adalah pria tua parubaya yang menyebalkan. Sera menjadi jijik sendiri melihat namanya yang mengambil nama ayahnya pada bagian terakhir. Sial! Mendadak Sera ingin mengganti nama itu. Selamanya ia akan mengingat lelaki yang hampir menginjak usia tua itu berkat baris kata yang tersemat pada namanya. Sera Tifani Adam. Dulu, mungkin nama itu adalah nama kebanggaan. Setidaknya sebelum dia mengerti yang namanya pertengkaran hingga berujung perceraian. Barangkali Sera kecil terlalu percaya diri menganggap ia memiliki keluarga yang lengkap dan penuh kasih untuknya. Padahal yang sebenarnya adalah ia hanya menjadi beban untuk ayah ibunya. Buktinya kedua orang itu menelantarkannya sedemikian rupa. Pusing dengan semua masa lalu itu, Sera meninggalkan ruangannya. Membiarkan semua pekerjaannya terbengkalai begitu saja. Sera melangkah pasti hanya untuk sekedar mencari udara segar di atap gedung Wedding Fashion.  Sesampainya di sana, Sera nekat mengeluarkan bungkus rokok miliknya, menyalakan satu puntung yang masih utuh.  Rokok itu ia beli tadi pagi demi mencari yang namanya ketenangan. Namun, baru sekali hisap ia tersedak. Sera membuang puntung rokok yang masih tersisa banyak itu ke lantai dan menginjaknya sampai apinya padam. "Astaga!!" serunya. Ia hampir saja merusak dirinya sendiri hanya untuk mendapatkan ketenangan sesaat. Ayolah!! Bukankah Sera sudah berjanji untuk membuat dirinya bebas lepas dari perintah ayahnya?? Sekarang sedikit demi sedikit hal itu bisa terjadi. Lantas kenapa ia bisa frustrasi seperti ini hanya karena mengingat lelaki tua itu?? Sera menggelengkan kepalanya. Sesungguhnya, bukan hanya karena hal itu. Sera merasa pening karena dirinya tak bisa leluasa mencintai Zion. Ia tak bisa menunjukan perasaannya secara terang-terangan hanya karena ia tak memiliki keluarga yang sempurna. Sera menghela napasnya dengan lirih. Kalau sudah begini siapa yang harus disalahkan?? Decakan kesal terdengar akibat ia menolak untuk disalahkan. Ia tidak suka mengakui ini, tetapi siapa yang bisa menolak perasaan cinta? Bahkan ketika ia sudah mati-matian menghapusnya. Dengan berbagai cara menghalaunya, mengabaikannya. Namun, kalau hati sudah berkata iya, mau bagaimana lagi?? Sera tidak bisa berkutik selain perlahan menerima. Iya, dia hanya harus menerimanya, kan?? Kemudian mulai menikmatinya. Persetan dengan kapan seharusnya ia bahagia! Persetan pula pada status kedua orang tuanya. Kalau hari ini bisa dirinya gapai, kenapa harus menunggu sekian lama untuk bahagia. Menerima Zion sama saja dengan melegakan perasaannya. Setidaknya ia harus mencoba. Setidaknya ia harus percaya pada Zion bahwa lelaki itu benar-benar mencintainya, menginginkannya seperti ia yang sangat menginginkan lelaki itu. Sera menganggukan kepalanya. Segera saja dirinya meninggalkan atap demi mengejar Zion. Tentu saja Zion sudah menghilang. Namun, hal itu tidak membuat Sera berputus asa. Sera mengejar Zion ke restorannya. Ia melajukan mobilnya dengan kencang. Beberapa kali klakson mobil berbunyi karena Sera terus saja menyalip kanan dan kiri. Mobil Sera benar-benar membelah jalan raya dengan penuh semangat. Namun, siapa yang tahu apa yang akan matanya lihat ketika sampai di restoran lelaki pemilik lesung pipi itu?  Terpaksa langkah Sera yang tadinya tergesa-gesa berhenti begitu saja. Matanya yang tadi penuh binar, dalam sekejab berubah kembali menjadi sayu dan penuh beban. Jantung Sera berdebar penuh gemuruh kala ia melihat Zion tengah berada dalam pelukan seorang perempuan muda yang sedang mengenakan pakaian ala chef itu. Mereka tidak menyadari keberadaannya. Astaga! Sera merasa tidak berdaya. Semangatnya yang tadi menggebu terpaksa surut begitu saja. Kini otak kecilnya bertanya-tanya siapa gerangan perempuan itu. Sayang sekali, mulutnya tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun sebab ia telah percaya Zion hanya membual soal mencintainya. Sera menyesal mengharapkan sesuatu yang tak seharusnya dirinya harapkan. Padahal memang sejak awal dia tak akan bisa menggapainya. Seharusnya ia tak pernah tergoda dengan cinta. Sera harusnya mengubur dalam-dalam keinginannya untuk bersama Zion. Sudah cukup! Rupanya kejadian di masa lampau tak membuatnya jera. Ia masih saja berharap pada lelaki itu. Padahal sejak awal Zion tak pernah tertarik padanya. Seharusnya Sera curiga bahwa apapun yang Zion katakan adalah kebohongan. Di sini, hanya hatinya saja lah yang tulus. Hanya dia yang benar-benar mengharapkan lelaki itu. Dengan demikian Sera memilih mundur. Langkahnya perlahan meninggalkan restoran bersama deraian air mata yang sejak tadi memaksa untuk berjatuhan. Sera terisak, hatinya sakit membayangkan tingkah bodohnya beberapa waktu lalu. Dia dengan percaya diri mengatakan bahwa Zion mencintainya dan bisa membuatnya bahagia. Tetapi setelah ia menekan egonya dan berani untuk menerima ungkapan Zion, hanya ini yang ia dapatkan. "Mungkin itu adiknya!" Sera berbisik sebelum kemudian terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. Ia sudah benar-benar terpengaruh rupanya. "Kamu gila!" kecamnya. Satu-satunya cara agar bisa membuatnya kembali tegar adalah ia harus berhenti atau ia akan semakin tersakiti. Cukup sudah! Hatinya benar-benar harus mendapatkan peringatan yang nyata agar berhenti melemah dan terluka. Bagaimanapun juga ia harus percaya bahwa kebahagiaannya bukan datang secepat ini. Ia harus melalui banyak kesakitan lagi untuk bisa menggapainya. Sebab bagi Sera tidak ada yang mudah dalam hidupnya, sejak dulu. Sera menekan pedal gasnya lebih dalam, membiarkan mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi. Air mata yang tadi membasahi pipi juga sudah ia hapus sepenuhnya. Sera berjanji, tidak akan pernah percaya pada Zion lagi.  Sera berjanji akan menjaga hatinya jauh lebih ketat lagi.  Tembok yang sempat runtuh akibat sentuhan manis dan perlakuan lembut Zion pun akan kembali Sera bangun setinggi-tingginya. Tidak akan ia biarkan tembok itu runtuh lagi. Sera sungguh berjanji untuk menjauh dari Zion selamanya. .  . . TBC.  Jangan kaget ya aku update di cerita ini. Aku lagi berusaha memenuhi target bar wkwk. Makasih untuk yang masih nungguin. Semoga ada yang sudi ninggalin komentar. Jangan lupa baca ceritaku yang lainnya juga. Makasihhh sekali lagi :-) 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD