***
Jika ada yang berpikir Zion yang resah memilih balik kanan maju jalan, mundur karena perasaannya yang kacau, maka pemikiran itu salah besar. Zion ini bukan aktor ngambekan dalam sebuah drama yang kalau merasa kalah dikit putar haluan.
Tidak! Zion tidak berpikir sesempit itu untuk mendapatkan Sera. Cukup sekali ia terpengaruh oleh gengsi dan menyebabkan dirinya hampir saja kehilangan Sera selamanya. Zion tidak akan pernah mengulangi hal yang sama.
Menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan dan tegas. Zion meyakinkan hatinya untuk maju demi masa depan yang dirinya impikan bersama Sera. Masa depan yang sempat tertunda karena keegoisannya.
Zion akhirnya mengetuk pintu, berharap Sera mengehentikan percakapannya dengan seseorang diseberang sana. Untunglah apa yang ia harapkan menjadi kenyataan.
Sera sempat terdiam sebelum menutup teleponnya. "Zion?" tanyanya terdengar tidak percaya.
Cengiran ciri khas Zion memenuhi penglihatan Sera. Lelaki itu pandai sekali membuat jantung Sera berdetak hebat hanya dengan memamerkan lesung pipinya. Sera berdehem agar degup jantungnya tak lagi menggila. Ia bertanya-tanya kenapa Zion ada di sini. Sedangkan Uli mengatakan Zion tidak akan kembali dalam waktu dekat.
"Lo kenapa di sini?" Sera mengudarakan tanyanya lagi. Sebisa mungkin perempuan berparas cantik itu berusaha menetralisir perasaan bahagianya karena melihat Zion ada di depan mata secara tiba-tiba.
Tak ingin menyianyiakan kesempatan, Zion mendekat beberapa langkah. "Katanya kangen? Ya, aku datang," jawabnya tanpa bercanda. Ia memang berniat mengejutkan Sera dengan cara seperti ini.
Asal Sera tahu saja, Zion menepati janji, ia sudah berada di Jakarta sejak dua hari yang lalu. Hanya saja, lelaki itu memang merahasiakan kepulangannya dari Sera karena ia ingin menguji bagaimana perasaan Sera padanya.
Beruntung sekali karena ternyata Sera juga merindukannya. Buktinya sang pujaan hati mencari dirinya lewat Uli. Bayangkan bagaimana perasaan Zion setelah Uli menghubunginya tadi? Zion Antranajaga benar-benar bahagia. Zion akui, hanya karena Sera bertanya tentangnya seperti itu saja sudah membuatnya ingin berjuang lebih keras lagi untuk kembali meraih hati Sera. Jadi, apapun yang terjadi, entah itu ada seorang Faldo di sisi Sera, atau ada lelaki lain yang bisa membuat pujaan hatinya itu bahagia, Zion bersumpah ia tidak akan pernah melepaskan Sera.
Sera hanya akan menjadi miliknya, selamanya.
Zion harus membuat semuanya berjalan dengan lancar. Zion berjanji tidak akan ada orang ketiga dalam hubungan mereka. Zion tidak akan membiarkan siapapun merebut Sera darinya!
"Siapa yang kangen?" Suara Sera terdengar kala Zion tengah melamunkan banyak hal diam-diam.
Sera memutar bola matanya sebal. Meski ia merasakan sedikit rindu, tapi bukan berarti dirinya harus mengatakan itu pada Zion. Sera cukup sadar diri. Ia tidak bisa lagi jatuh cinta lebih dalam kepada Zion.
"Itu tadi yang nanyain aku sama Uli siapa ya?" sindir Zion.
Kali ini Sera mendengus. Sekarang ia tahu Uli bersekongkol dengan Zion untuk mengerjainya. Tck!
"Ganggu aja!" ujar Sera. Mendadak wajah Zion terlihat merana. Seolah hatinya tersinggung mendengar Sera berkata demikian. Binar mata Zion menghilang, tergantikan tatapan kecewa yang terang-terangan ia tunjukan. Hal itu berhasil membuat Sera salah tingkah. Sera mulai bertanya-tanya, apakah ia mengatakan hal yang sudah keterlaluan?
Bergerak gelisah, Sera merasa ia harus meluruskan sesuatu agar Zion tidak terlalu kecewa. "Maksud gue … " ucapnya terbata.
"Nggak apa-apa, maaf ganggu." Zion memotong penjelasan Sera dengan cepat. Tatapannya semakin terluka. Kemudian dengan wajah yang masih terlihat amat sangat kecewa, Zion membalikan tubuhnya.
"Zion!" ujar Sera saat Zion melangkahkan kakinya menuju pintu.
Senyum kemenangan muncul di wajah lelaki itu tanpa Sera ketahui. Ia tadi mempertaruhkan semuanya demi mendapatkan perhatian dan rasa bersalah Sera. Demi apapun Zion bersorak karena usahanya tidak sia-sia. Semua berjalan sesuai dengan apa yang dia inginkan.
Kembali mengganti ekspresi terluka, Zion pun menghadap Sera. "Kenapa?" tanyanya.
Sera terburu-buru melangkahkan kakinya untuk sampai di depan Zion. "Lo mau ... Pulang?" tanya Sera dengan pipi yang bersemu merah. Astaga!! Apa yang telah mulutnya lakukan?? Memangnya kenapa kalau Zion ingin pulang?? Siapa dia berhak bertanya seperti itu kepada Zion.
Seharusnya Sera membiarkan lelaki itu pergi. Zion tidak ada hubungannya dengannya. Meski jantungnya selalu berdetak lebih kencang kala bersama Zion, tetapi Sera tak punya nyali untuk lebih dekat dengan lelaki itu.
Sera berdehem untuk mengisi keheningan diantara mereka. "Maksud gue, lo mau ngapain ke sini?" tegas Sera mengganti pertanyaannya. Ia tahu ini salah. Kenapa juga dirinya harus menahan Zion di sini. Seharusnya dia biarkan saja Zion pergi, tetapi hatinya berkata harus menahan Zion setidaknya lima menit lagi.
"Kangen kamu," jawaban Zion yang santai membuat jantung Sera berlarian ke sana kemari. Sera mengalihkan tatapannya pada sudut ruangan sebelum kembali menatap Zion yang ternyata tengah menatapnya dengan lekat.
Kekecewaan yang tadi memenuhi netra Zion kini hilang entah ke mana. Hanya ada kesungguhan di sana. Zion seolah sengaja menunjukan bahwa apa yang tadi dirinya katakan adalah kebenaran. Dan, semua itu dapat Sera lihat dengan mata kepalanya sendiri. Ada kesungguhan di mata lelaki pemilik lesung pipi itu.
Zion menarik napasnya dalam-dalam. "Iya Sera, buat apa ditutupi lagi. Aku memang kangen sama kamu. Aku cinta kamu, Ra, jadi pastikan perasaan kamu masih buat aku, biar sekalipun kamu mencoba lari, aku akan tetap semangat ngejar kamu," ungkap Zion. Kali ini ia serius. Lagi pula ini kesempatan yang harus benar-benar dirinya manfaatkan kalau tidak ingin kehilangan Sera lagi.
Zion maju selangkah ke depan Sera. Perbuatan itu membuat wajah mereka tanpa jarak. Zion ingin sekali menggunakan kesempatan itu untuk mereguk nikmat dari bibir Sera yang tebal. Namun, ia takut Sera kembali bersembunyi seperti dulu. Zion takut Sera tersinggung akan perbuatan nekatnya.
Jangan salahkan keinginan Zion. Ia hanya mengungkapkan apa yang dirinya rasakan. Tentu saja, tidak bertemu dengan Sera berbulan membuat Zion sangat amat merindukannya. Salahkan saja Sera karena memiliki pesona yang tak bisa Zion abaikan.
"Sial!" maki Zion karena Sera sedang menggigit bibir bawahnya. Demi apapun itu sangat seksi. Zion harus kembali memfokuskan dirinya agar tidak terbawa perasaan. Sebisa mungkin Zion melupakan keinginannya untuk mencium Sera detik itu juga. Zion berdehem agar matanya teralihkan dari benda kenyal penuh godaan itu.
Sera mengernyitkan dahi. Ia tidak tahu apa yang Zion pikirkan setelah mengungkapkan perasaannya. Sera juga tidak tahu harus menjawab apa. Di sisi lain hatinya kegirangan, tetapi pikirannya menentang. Ada banyak ketakutan yang menghantui Sera. Ia benar-benar tidak mempercayai cinta sejati. Jangankan orang luar, yang memiliki darah yang sama dengannya saja memperlakukannya dengan cara yang tidak adil.
Iya, trauma itu menghantuinya. Perlakuan orang tuanya membuatnya enggan percaya pada cinta. Lihat saja, dua orang yang sudah menikah bisa bercerai begitu tak lagi memiliki kecocokan. Bahkan, menelantarkan buah hati yang pernah dinanti. Persis seperti dirinya.
Sera menggeleng tegas. Mencoba melupakan segala rasa sakit yang orang tuanya torehkan.
"Ra?" panggil Zion sambil menyentuh tangan Sera.
Sera kembali dari lamunannya. "Maaf ... Aku nggak bisa," ucapnya sembari menghalau sentuhan tangan Zion pada lengan bawahnya.
Zion pun kecewa. Itu jawaban paling tidak ingin Zion dengar, tetapi melihat mata Sera begitu sayu dan berat ketika menolaknya, maka Zion harus tetap bersyukur karena sebenarnya Sera juga memiliki rasa yang sama. Entah apa yang membuat Sera enggan mengakui perasaannya.
Zion menarik lengan Sera hingga tubuh mereka saling menempel satu sama lain. Sera terkesiap, tetapi ia tidak melakukan pergerakan apapun selain menatap ke dalam mata Zion. Sera seolah menciptakan batas yang tak boleh Zion sentuh.
Sungguh, Zion merasa frustrasi. Ia benar-benar penasaran kenapa Sera begitu enggan mencintainya. Zion tahu dirinya pernah salah, tetapi Zion bersungguh-sungguh dalam meminta maaf. Dia menyesali segala perbuatan dan kesalahannya di masa lalu.
Tidak tahan dengan dinding tak kasat mata yang Sera ciptakan, Zion nekat melakukan apa yang sejak tadi dirinya pikirkan. Zion memiringkan kepalanya dan mengecup bibir Sera dengan tegas.
Bola mata Sera melotot sempurna. Ia terkejut dengan apa yang sedang Zion lakukan. Namun, hatinya tidak bisa menolak. Mengikuti nalurinya, Sera membalas setiap pangutan lembut yang Zion berikan. Mereka semakin dekat. Seolah apa yang mereka lakukan adalah untuk menebus rindu yang pernah mereka abaikan.
Zion mendominasi Sera. Ia memangut bibir tebal Sera dengan lembut dan hati-hati. Keduanya tak lagi saling memberikan tatapan sinis, yang ada hanya hasrat yang ingin saling memuaskan. Sera melenguh saat Zion mengalihkan ciumannya pada leher jenjangnya. Ia mendongak agar Zion lebih leluasa. Tidak ingin menyianyiakan kesempatan itu, Zion membawa tubuh Sera menuju sofa.
"Zion!" ujar Sera saat Zion merebahkannya begitu saja. Tidak ingin mendengar protes dari Sera, Zion kembali membungkam mulut Sera dengan ciumannya. Tangan Zion tidak tinggal diam. Ia melakukan tugasnya dengan sangat baik hingga Sera mendesahkan namanya berkali-kali.
Sera ingin berpikir jernih, tetapi otaknya terus mendorong untuk melakukan hal lain yang bisa menuntaskan rindunya pada Zion. Ini sungguh tidak baik untuk mereka. Namun, baik Sera maupun Zion tidak menemukan cara untuk berhenti. Mereka terus saja saling memangut dan melenguh. Bahkan mereka tidak sadar ada yang mengetuk pintu, kemudian terpekik setelah melihat siaran langsung dari keduanya.
Buru-buru Sera dan Zion melepaskan tautan bibir mereka dan terduduk di sofa.
Adalah Kerlin yang menciduk Sera dan Zion. "Astaga!! Kalian pikir ini hotel?" sindir Lin sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Seenggaknya tutup dulu Ra tirainya!" ujar Lin sambil menunjuk bagian jendela yang terbuka. Mereka memang sudah tidak merasa memiliki dendam satu sama lain. Sekarang keduanya berteman.
Sera dan Zion menatap ke arah tirai yang masih terbuka. Ruangan ini memang memiliki kaca yang transparan sehingga mudah bagi orang di luar sana melihat aktivitas yang ada di dalam ruangan. Sera terkejut. Ia telah melakukan kesalahan besar yang berpotensi mempermalukan dirinya sendiri.
Kira-kira sejauh apa Kerlin melihat kelakuan mereka?? Sekarang Sera tahu betapa malunya Uli setiap kali ia menciduknya bersama Danar. Sera juga tahu bagaimana kesalnya Lin ketika mendapati pemandangan yang seperti ini. Sera tahu semuanya, karena ia pernah berada di posisi itu.
Tck.
Decakan Zion mengalihkan Sera yang sedang bersitatap bersama Lin. Zion menatap Lin dengan sebal. Ia tidak suka diganggu saat sedang enak-enaknya. "Apaan sih lo! Bisa kali pura-pura buta?!!" katanya. Lin memutar bola mata dengan jengah. "Terserah!" ia meninggalkan Sera dan Zion dalam situasi yang canggung.
.
.
.
TBC.