Bab 9

1103 Words
Pov : Feri 4 Di Rumah Sakit "Kata Dokter, Arina kena radang lambung, Bu. Kemungkinan besar karena dia sering telat makan. Apa selama ini dia memang sering makan telat?" tanyaku pada ibu yang masih duduk di sofa sembari memainkan ponselnya. "Apa, Fer? Arina radang lambung karena sering telat makan?" tanya ibu kemudian. Aku mengangguk pelan, memandang wajah Arina yang tampak begitu tenang. "Iya, Bu. Apa di rumah pekerjaannya terlalu banyak?" "Pekerjaan apa? Kalau sekadar beberes rumah, masak atau nyuci 'kan memang tugas seorang ibu rumah tangga. Harusnya dia bisa atur kapan waktunya makan dan kapan waktunya kerja," jawab ibu kemudian. "Kalau dia lupa makan, tolong ingatkan ya, Bu. Feri takut dia nanti kambuh lagi kalau telat makan terus." "Dia sudah tua, Fer. Ngapain juga sekhawatir itu. Harusnya dia tahu diri, kalau nggak mau sakit ya bisa jaga diri baik-baik. Akhir-akhir ini dia memang sering mainan ponsel berjam-jam di kamarnya. Mungkin karena itu juga dia lupa makan. Bukan karena sibuk dengan pekerjaan. Sibuk apa sih di rumah? Cuma kerjaan santai begitu," jawab ibu lagi. Dia kembali menatap layar ponselnya. Kepalaku berdenyut sedikit pusing memikirkan dua perempuan yang kucintai ini. Kenapa sepertinya mereka tak pernah bisa akur? Padahal aku dulu memilih Arina menjadi istri karena dia memang tipe perempuan yang jujur, lembut dan sabar. Apakah kini dia mulai tak sabar menghadapi ibu dan segala kecerewetannya? Hingga akhirnya membuatnya 'tumbang' begitu saja. "Biasanya seorang perempuan yang terlalu lelah badan dan pikiran, dia tak akan banyak komentar. Diam adalah jalan satu-satunya yang bagi mereka cukup menenangkan. Harusnya kita yang lebih peka, Fer. Karena mungkin kebanyakan perempuan lebih senang memendam perasaannya dibandingkan mengatakan semuanya, apalagi jika orang yang dia yakini bisa mengobati luka justru membuatnya kecewa. Acuh dan tak peduli, seperti kamu ini," ucap Ogi tempo hari sembari terkekeh. Kata-katanya seolah menyindirku, begitu dalam hingga terkadang aku ingin sekali menyumpal mulutnya itu dengan donat biar tak banyak komentar. "Aku peduli kok sama Arina. Kalau nggak peduli, mana mungkin aku kasih dia gaji. Kubelikan dia baju, tas, sandal dan lainnya," ucapku padanya, namun dia kembali tertawa. "Kapan belinya? Jangan-jangan dua tahun lalu," ledek Ogi lagi. Dia memang suka meledek namun sering kali ledekan yang dia lontarkan benar adanya. Aku sendiri tak ingat kapan terakhir kubelikan baju untuknya, bahkan baju lebaran kemarin saja dia memakai baju tahun sebelumnya. Arina tak pernah meminta, mungkin karena itu pula membuatku lupa membelikan kebutuhannya. Pantas saja daster yang dia kenakan sudah banyak jahitan di sana-sini, pantas saja gamis yang dia pakai sudah pudar warnanya. Jauh berbeda dengan ibu yang sering kali belanja baju. Bahkan sebulan bisa dua atau tiga kali belanja. Aku terlalu sibuk menabung untuk membeli rumah, hingga tak sadar dengan kebutuhan istri sendiri. Karena Arina tak pernah meminta jadi aku merasa dia juga tak terlalu membutuhkannya. Lebih baik uangnya ditabung daripada buat beli sesuatu yang tak terlalu berguna. "Istri tak meminta bukan berarti tak butuh. Dia hanya ingin membuatmu sadar dan introspeksi saja. Namun terkadang suami nggak sadar-sadar bahkan terlalu lama jatuh pingsan. Ya seperti kamu ini." Kutonjok saja lengannya yang tertutup kemeja itu. Pintar sekali dia mengomentari sikapku pada Arina, sementara dia juga tak terlalu paham bagaimana kenyataannya. Meski aku memang sering kali cerita soal Arina dan Ibu yang sering kali tak akur hingga membuatku pusing kepala. "Kamu ingat kan saat ada family gathering waktu itu di kantor? Sudah mengingat bagaimana penampilan istrimu? Dia bahkan kulihat nggak percaya diri untuk berbaur dengan yang lain. Meski sama-sama memakai kaos dari kantor, tapi bawahan dan hijab yang dipakai kebanyakan para perempuan saat itu cukup bagus, paling tidak nggak pudar warnanya seperti yang dipakai Arina." Kuhela napas mengingat acara piknik bersama yang diadakan kantor dua bulan lalu. Mengingat kembali bagaimana Arina merengek minta dibelikan rok panjang yang agak bagus karena roknya sudah cukup lusuh dan pudar. Hijab yang dia pakai juga sekadar daily hijab, bukan yang sering dipakai untuk bepergian, namun aku tolak mentah-mentah dengan alasan pemborosan. Lagipula hanya sehari bukan berhari-hari. Kalau semua beli baru, lebih baik nggak usah ikut, kataku waktu itu membuatnya terdiam sekian lama. "Gimana? Masih minta dibelikan ini dan itu lagi? Kamu sendiri dulu bilang kalau boros adalah saudara syetan.¹ Tapi kenapa sekarang kamu justru meminta sesuatu yang tak terlalu berguna? Kamu bilang pakaian kita, aksesoris dan semuanya akan ada hisabnya?" Arina berkaca-kaca lalu menundukkan kepalanya. "Kenapa? Nggak suka aku mengingatkan kembali kata-katamu tempo hari?" Arina kembali menggeleng pelan, menyeka kedua sudut matanya yang basah. Sebenarnya aku tak tega, namun aku ingin membuatnya belajar hidup sederhana dan tak perlu neko-neko meski kutahu selama ini Arina tak pernah meminta apa-apa dariku. Dia menerima berapa pun yang kuberi tanpa mengeluh. "Fer ... kamu sudah ingat bagaimana mindernya dia? Bahkan dia lebih asyik menyendiri meski sering kali istriku mengajaknya ngumpul bersama. Dia masih muda dan cantik, Fer. Tapi terlihat tua jika kamu tak pernah memperhatikan penampilannya!" ucap Ogi ketus. Sepertinya dia kesal sekali dengan sikapku pada Arina-- istriku sendiri. Lagi-lagi ucapan Ogi membuatku berpikir, mungkinkah Arina depresi atau begitu memendam sakit hatinya sendiri hingga dia lupa makan? Atau bahkan dia membiarkan dirinya sakit dan tumbang agar aku sadar? Aku terjaga dari lamunan saat kudengar ponsel Arina bergetar perlahan, sementara dia masih pulas terlelap. Mungkin pengaruh obat membuatnya mengantuk begini. Pesan dari Yasmin muncul di ponselnya. |Rin, kalau kamu capek istirahat saja dulu. Jangan dipaksa bekerja takutnya kamu jatuh sakit. Kalau sakit, mertuamu pasti makin ngomel tak karuan. Makan jangan sampai telat, ya, Rin. Kalau bukan kamu sendiri yang menjaga, siapa lagi? Ngurusi pekerjaan rumah nggak akan ada habisnya. Satu lagi, kalau memang kamu butuh uang aku transfer gimana? Kamu bikin rekening saja, sekalian buat transfer penghasilan karena sudah jadi marketerku| Apa maksud pesan yang dikirimkan Yasmin ini. Arina sering telat makan karena sibuk mengurusi pekerjaan rumah? Apa dia juga sering pinjam uang ke Yasmin? Kenapa pula dia jadi marketernya Si Yasmin? Maksudnya ikut menjualkan dagangannya si Yasmin, begitu, kan? "Jangan terlalu dipikirkan, Fer. Nanti kamu juga jatuh sakit. Istrimu sebentar lagi juga sembuh asal makan dengan benar. Benar waktunya," ucap ibu tiba-tiba saat melihatku mengusap kepala Arin yang tertutup jilbab coklatnya. Jilbab yang entah kapan dia beli, sepertinya sebelum aku menikah dengannya. "Mungkin Feri mau ambil cuti beberapa hari untuk merawat Arin, setidaknya sampai dia agak pulih, Bu," ucapku kemudian. Ibu terlihat cukup kaget. "Ngapain, Fer? Kamu pikir ibu nggak bisa mengurus istrimu? Lagipula di sini sudah ada perawat, jangan lebay begitu lah, Fer." "Yakin ibu mau merawat Arina?" tanyaku lagi. Ibu sedikit gugup dan salah tingkah. "Daripada kamu cuti nanti nggak dapat lemburan pula. Kamu bilang akhir bulan banyak lemburan, kan?" Kuhembuskan napas panjang mendengar jawaban dari ibu. Masih saja memikirkan soal lemburan di saat suasana nggak enak seperti sekarang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD