Bab 23 Kepergok

1702 Words

Jam di dinding berdenting tujuh kali. Setelah membelikan sarapan untuk Mas Feri dan aku sendiri, gegas kubuatkan teh hangat. Sementara di atas meja belum terhidang apa-apa. Sepertinya ibu masih ke pasar untuk berbelanja. Sejak kuserahkan uang belanja pada Ibu dan menolak untuk memasak karena selalu dikomplen, aku memang jarang sekali makan di rumah. Bisa dihitung jari dalam seminggu. Lebih baik beli di warung tetangga atau pesan online. Tak peduli jika ibu dan Mbak Vina selalu menyindirku karena boros, toh semuanya pakai uangku sendiri hasil jualan, bukan minta jatah ibu maupun gaji Mas Feri. "Mana sarapan buat kita, Rin?" tanya Mbak Vina ketus saat melihatku duduk di kursi makan bersama Mas Feri. Aku dan Mas Feri memang saling diam sejak tadi, hanya terdengar suara sendok dan piri

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD