Pov : Arina Jarum jam sudah menunjuk angka tujuh pagi. Aku baru saja mandi dan membereskan meja rias yang cukup berantakan. Ponsel di atas ranjang bergetar. Sebuah pesan masuk di sana. Gegas aku mengusap layar dan membuka pesan di sana. |Rin, Mbak sama Ibu belum bisa ke rumah. Ada tetangga hajatan. Mungkin lusa baru kita datang, ya? Kamu dan Feri sudah makan, kan? Kalau belum, biar Mbak pesankan. Bagaimana?| Aku tersenyum tipis membaca pesan dari Mbak Vina. Sejak Mas Feri dinyatakan mengidap kanker otak stadium empat bahkan diprediksi dokter usianya tinggal beberapa minggu lagi, ibu dan Mbak Vina semakin perhatian. Tak hanya pada Mas Feri, tapi padaku juga. Mereka juga bergantian menginap di rumah untuk membantuku jika sewaktu-waktu membutuhkan pertolongan. Sikap mereka benar-benar

