Kebiasaan Angga

1210 Words
Setelah menyapa semua keluarganya, kini Angga beranjak menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri. Angga akan turun kembali lagi nanti saat makan malam, karena Angga butuh istirahat terlebih dahulu. Mengguyur diri di bawah shower merupakan salah satu alternatif bagi Angga untuk merilekskan tubuhnya. Air dingin yang keluar secara menyebar dan menyentuh kulitnya akan mengangkat rasa lelah yang ia rasakan secara perlahan-lahan. Otak dan tubuhnya akan kembali segar setelah mendapatkan sentuhan halus dari setiap bulir yang mengalir menyentuh tubuhnya. Angga selalu menikmati hal tersebut, menempelkan tangan kirinya pada tembok seperti orang yang sedang menahan sesuatu, tangan kanannya akan menyugar rambutnya secara perlahan. Jika tidak kedua tangannya yang akan menyugar rambutnya hingga ke leher. Angga sangat menyukai gerakan tersebut. Entah mengapa baginya itu terasa keren walaupun tidak ada orang yang melihat apa yang ia lakukan, tetap saja ia merasa jika adegan seperti itu biasanya diperankan dalam film, yang membuat dirinya merasa keren. Setelah dirasa cukup untuk memanjakan tubuhnya Angga segera keluar dan berjalan ke ruangan khusus tempat penyimpanan semua barang-barangnya. Berganti pakaian santai untuk ia kenakan sebelum ia menikmati pemandangan sore dari atas balkon. Angga dan balkon kamar memang tidak bisa dipisahkan. Di manapun ia kan tidur, baginya yang terpenting kamar tersebut harus memiliki balkon yang membuatnya merasa nyaman. Bagi Angga balkon adalah salah satu interior wajib pada sebuah kamar, karena balkon selalu memberikan ketenangan dan kenyamanan. Dari atas balkon Angga melihat keramaian yang terjadi di depan rumahnya dan sepanjang komplek. Depan rumahnya jika sore hari apalagi sabtu minggu akan ramai seperti pasar bagi para warga kampung belakang. Mereka menyerbu setiap pedagang makanan dan minuman. Ada yang hanya sekedar jajan, nongkrong dan juga jogging sore. Apalagi sabtu dan minggu merupakan jadwal kepulangan dirinya, Kemal dan Bima, hal yang selalu membuat para wanita ramai. Tanpa terasa bibirnya tertarik ke samping membentuk lengkungan halus. Di antara banyaknya wanita disekitarnya, mengapa ia harus memikirkan Indira. Wanita yang baru saja mendapatkan gelar jomblonya selepas kepergian Arka. "Astagfirullahaladzim," Angga kembali beristighfar saat otaknya kembali memutar wajah menyedihkan Indira. Perasaan aneh itu kembali hadir saat sekelebat wajah sembab bahkan sedikit bengkak diarea mata. Perasaan ingin menenangkan dan menemani dengan menawarkan bahu sebagai sandarannya disaat ia mencurahkan isi hatinya. Angga siap menerima segala curahan hati yang dipenuhi kesedihan itu. "Kenapa sih, Ga?" Lelaki tampan itu bertanya pada dirinya sendiri. Kenapa ia selalu memikirkan Indira, apalagi ditambah rasa ingin menemaninya. Sepertinya Angga harus turun dan berkumpul dengan keluarganya. Angga harus menjahili kedua adiknya untuk mengembalikan kembali kesadarannya, agar pikirannya kembali bekerja seperti biasa tanpa memikirkan wanita menyedihkan itu. Pada akhirnya Angga turun dengan niat menjahili adik-adiknya demi mengalihkan pikirannya yang kembali terbayang wajah cantik Indira. Ah! Mengapa wanita itu mengusik hatinya yang tenang saat ini. Umurnya sudah bisa dikatakan dewasa untuk saat ini, dan Angga tahu perasaan aneh apa yang menyelimuti hatinya. Tidak mungkin Angga mengejar bukan untuk saat ini? Hati Indira masih sangat terluka, dan Angga tidak yakin untuk bisa mendapatkan itu. "Widih ada acara apa nih? Kayaknya dapur sibuk banget?" Pertanyaan menggoda yang Angga lontarkan pada salah satu adik kembarnya yang bernama Amira. Gadis cantik, santun lemah lembut, dan teramat manja padanya dengan hijab yang menutupi kepalanya. Angga tahu nanti malam mereka akan kedatangan tamu istimewa, maka dari itu adiknya sangat bersemangat di dapur dengan berbagai macam menu makanan. Selain cantik Amira begitu pandai dan menyukai area dapur. Makanan yang diracik oleh tangan terampil nya itu tidak pernah gagal dalam memanjakan lidah. "Kakak jangan godain terus dong. Mira 'kan malu," jawabnya dengan pipi yang seketika mengeluarkan rona merah muda. "Cie... Yang mau kedatangan tamu spesial alias Aa Kemal. Pipinya jadi pingky," goda Angga dengan semangat menghilangkan bayangan Indira. "Ih Kakak mah gitu. Godain terus, ntar juga ngerasin apa yang Mira rasain," doa Amira yang kesal pada Angga, membuatnya tertawa. "Amara ke mana, Dek?" Angga kembali bertanya tentang adik satunya itu, saudari kembar dari Amira. Walaupun mereka kembar, tetapi mereka tidak kembar identik. Amara ceria, anti dapur, penyuka bunga tidak berhijab, dan paling bar-bar dalam keluarganya. "Ada urusan katanya, jadi pergi." "Begono toh. Kakak minta tolong buatin kopi dong." "Oke." "Kakak tunggu di belakang ya." Setelah Amira mengiyakan pemberitahuan dari Angga, ia melangkah menuju taman belakang rumahnya. Taman luas yang di desain olehnya dan juga kedua adiknya. Angga kembali mendudukkan dirinya di taman belakang, mengotak-ngatik handphonenya yang sedari tadi berisik karena notifikasi dari grup yang ia beri nama Catu Idaman. Yang artinya calon menantu idaman. Personel dalam grup itu hanya Angga, Kemal dan Bima. Entah apa yang mereka obrolkan di dalam grup itu, karena setahu Angga Bima saat ini berada di rumah Kemal, jadi untuk apa mereka berdua begitu rusuh di dalam grup. Mbe: Wahai calon Kakak ipar. Keluar lah, keluarlah engkau. Berikan petuah pada calon adik ipar mu ini. Pesan dari Kemal yang meng-tag dirinya agar segera ikut bergabung dalam obrolan mereka. Angga mendengus saat membacanya, geli sendiri membayangkan bagaimana bisa Kemal yang akan menjadi adik iparnya. Walaupun Kemal merupakan seorang lelaki paling diincar oleh para kaum hawa, karena kesempurnaan fisik dan akhlaknya. Namun, di depan Angga Kemal apalagi Bima mereka berdua sama bobroknya dengan dirinya. Me: Bo, Kebo! Temen lo kenapa sih? Dia gila ya? Tanpa menghiraukan celotehan Kemal, Angga justru memanggil Bima dengan bertanya tentang kewarasan calon adik iparnya itu. Kebo : Maklum, jomblo Abadi kesenggol cinta. Dapet kaga gila iya. Mbe : Heh! Lo berdua ghibah di depan gue. Gue jadi jomblo karena faktor kesengajaan ya, bukan karena gue gak laku. Ingatlah hai kawan, bahwa berpacaran itu dosa. Me : Ila hadoroti Kebo : Al-fatihah. Amira datang dengan membawa nampan berisi kopi dan kue kesukaan Angga yang tak lain adalah lapis Surabaya. Hal biasa melihat Kakak ataupun adiknya tersenyum sendiri sambil memandangi handphone. "Cie... Senyum-senyum sendiri. Ada apa nih?" goda Amira dengan meletakkan nampan di meja. "Makasih, Sayang. Kepo deh," jawab Angga yang membuat Amira cemberut. "Kakak punya pacar ya?" selidik Amira. "No! 'Kan katanya gak boleh pacaran. Kamu gimana sih?" "Tapi Kakak senyum-senyum sendiri sambil liatin handphone. Itu kan tanda-tanda orang kasmaran." "Emang pernah ngerasain kasmaran itu gimana?" "Gak pernah sih," jawab Amira polos. "Berarti kamu sok tahu." "Dih gitu banget. Tapi 'kan katanya begitu." "Jangan cuma katanya, tapi faktanya dong." "Mira 'kan gak mau pacaran, Kak." "Iya sih yang bentar lagi di iket." "Emangnya Mira kambing pake acara diiket segala." Amira yang kesal pergi meninggalkan Angga, sedangkan Angga sendiri hanya tertawa melihatnya. Menjahili kedua adiknya merupakan kebahagiaan tersendiri untuk Angga. Tangannya mengambil cangkir kopi dan menyesapnya sedikit. Menikmati cairan berwarna hitam itu di dalam lidahnya yang terasa begitu pas. Setelah itu tangannya berpindah mengambil sepotong lapis Surabaya dan langsung melahapnya. Di umurnya yang sudah dua puluh enam tahun Angga sempat memikirkan tentang pernikahan. Membayangkan dalam hidupnya akan ada yang menemani dan melayaninya dengan baik, untuk segala hal. Namun, sampai saat ini dirinya belum mendapatkan wanita yang menggetarkan jiwanya. Sekarang, saat ia bertemu lagi dengan Indira saat status Indira seorang jomblo, ada perasaan aneh yang menyusup ke relung hatinya. Apakah itu bisa dikatakan cinta pada pandangan pertama. Maksudnya pandangan pertama setelah status Indira menjadi jomblo. Karena memang baru kemarin Angga merasakan itu. Angga ingat pertemuan mereka terakhir ia dengan Indira adalah saat acara pertunangannya dengan Arka. Dan ia biasa saja, tidak pernah ada rasa apapun. Tapi mengapa saat ini rasanya berbeda? Dan itu terjadi baru kemarin saat ia melihat wajah yang diliputi rasa sedih itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD