Mengunci Hati

1114 Words
Setelah aksi sindir menyindir yang dilakukan Bima dan Kemal untuk Angga, mereka berangkat bersama menggunakan satu mobil untuk menuju rumah orang tua mereka, yang berada di kota dan komplek bersama. Rumah yang hanya terhalang dua ratus meter antara rumah Angga dan Kemal juga Bima. Kompleks yang dibangun dengan elite karena desain dan luas rumahnya, tapi terbuka untuk umum tetap dengan penjagaan yang ketat. Menggunakan supir karena tidak ada yang mau mengendalikan setir, Kemal dan Bima masih tetap membahas beberapa pekerjaan di awal perjalanan. Mereka baru berhenti saat mobil sudah bergerak sejauh lima kilo meter. Kemal dan Bima saling lirik saat melihat Angga hanya diam dengan mata terpejam. Sesekali ia mengerutkan keningnya, mereka tahu Angga tidak tidur, ia hanya sedang memikirkan suatu yang berat entah apa? "Lo kenapa, Dal? Putus cinta?" canda Kemal yang membuat Angga menaikkan sebelah alisnya. "Emang lo tau orang pacaran kayak gimana?" tanya Angga balik. "Kaga sih. Cuma gue 'kan suka liat kalo orang-orang pacaran selalu galau." "Jadi lo merhatiin orang pacaran gitu? Kepo banget hidup lo." "Gak juga, cuma 'kan emang gitu." "Perasaan gue yang punya pacar kaga pernah galau deh," sela Bima. "Pacar lo mahkluk dunia lain. Kaga tau bentuk dan wujudnya. Jadi gimana kita mau percaya kalo lo punya pacar," balas Kemal yang tidak pernah tahu seperti apa dan siapa wanita yang diakui Bima sebagai kekasihnya. "Pacar itu tidak perlu dipamerkan. Cukup kalian percaya kalo gue punya pacar, maka semuanya kelar. Hidup itu mudah, Brodi!" balas Bima dengan gaya sok coolnya. Angga dan Kemal mendengus semakin tidak percaya dengan semua yang dikatakan oleh Bima. Mereka yakin jika yang dikatakan oleh Bima hanyalah bualan semata. Tidak ada yang namanya pacar dalam hidup Bima seperti mereka. Mereka juga yakin bahwa itu hanyalah akal-akalan Bima agar tidak disebut sebagai jomblo. "Percaya kita mah," jawab Angga dan Kemal secara bersamaan dengan nada meledek. Angga turun tepat di depan gerbang rumahnya, karena mereka memang menggunakan mobil Kemal. Karman dengan sigap langsung membuka pintu gerbang. Masuk dengan senyum setelah mengucapkan salam, berjalan dengan ringan untuk menemui penghuni rumah yang selalu ia rindukan. Angga selalu menghabiskan waktu liburnya di rumah bersama keluarganya. Angga melangkah menuju taman belakang rumahnya saat ia tidak mendapatkan jawaban salam yang ia ucapkan.Di kursi taman kedua orangtuanya sedang berbincang hangat dengan adik kembarnya. Kegiatan yang selalu menjadi rutinitas mereka selama ini. "Assalamu'alaikum," salamnya lagi begitu sampai di pintu belakang. "Waalaikumsalam," jawab mereka semua kompak. "Pantesan ngucapin salam dari depan gak ada yang jawab. Di sini rupanya kalian bersembunyi," candanya dengan menyalami satu persatu yang ada di sana. "Kok tumben jam segini udah datang? Biasanya abis maghrib," tanya Amira cukup heran. Karena biasanya Angga akan datang setelah maghrib. "Bareng Kemal sama Bima tadi. Mangkanya masih sore," jawab Angga dengan mendudukkan dirinya di antara kedua adiknya. Angga itu seperti raja yang memiliki dua ratu. Jika mereka pergi bertiga Angga selalu ada di tengah dengan Amira dan Amara menggandeng tangannya kanan dan kiri. Angga sangat menyayangi kedua adiknya. Wanita yang ada di hati dan pikiran Angga hanya ada ibu dan kedua adik kembarnya. Maka dari itu saat ia memikirkan Indira rasanya cukup aneh dan mengusik hatinya. Namun, lagi Angga menganggap itu hanyalah rasa iba atas kejadian yang menimpa Indira. Angga menganggap bahwa dirinya bersimpati karena ia tahu bagaimana kisah cinta temannya itu dan merasakan bagaimana menjadi Indira yang harus kehilangan seseorang sebagai penopang hidupnya. Mereka melanjutkan obrolan dengan ditemani minuman masing-masing. *** Dewi tengah membujuk Indira untuk makan, dengan telaten dan penuh kesabaran Dewi berhasil membuat Indira memakan makanan rumah sakit yang sudah jelas rasanya hambar. Diwa memperhatikan istrinya yang saat ini kembali membujuk wanita yang telah menjadi janda tanpa malam pertama itu. Kesabaran Dewi memang patut diacungi jempol, maka dari itu Dewi layak menjadi seorang pengacara karena kesabarannya itu. Karena seorang pengacara harus sabar bukan? "Oya, Kak. Kakak keberatan gak kalo aku masukin berkas Kakak buat ngelamar jadi dokter kandungan di sini?" tanya Dewi setelah Indira tidak lagi bisa dirayu. "Tapi aku belum punya pengalaman, Wi." "Kakak cerdas, gelar Kakak juga udah Doktor, yang artinya Kakak udah menempuh pendidikan dengan tingkat tertinggi. Dan sekarang lah waktunya Kakak praktekin kemampuan Kakak. Tunjukin sama dunia terutama yang selalu menghina Kakak dengan sebutan wanita pembawa sial, kalo Kakak itu manusia yang berguna dengan pekerjaan mulia." Dewi menggebu-gebu saat memberikan motivasi pada Indira. Dewi sebenarnya sangat kesal pada orang-orang yang mengatakan bahwa Indira merupakan wanita pembawa sial. Bagi Dewi yang mengetahui bagaimana sifat dan sikap Arka dulu justru menganggap Indira perempuan pembawa berkah. "Kamu bener, wi. Gak apa-apa kirim berkasnya aja, tapi bukannya rumah sakit ini milik Angga ya?" "Justru karna rumah sakit ini milik Angga. Dia juga bilang sembuhin dulu aja Kakaknya, ntar baru diomongin lagi." "Makasih ya, wi. Kakak banyak nyusahin kamu." "Ini tugas dan bentuk rasa terima kasih Dewi sama, Kakak. Kalo bukan karna Kakak sedari kecil ngajarin Dewi mungkin Dewi gak akan jadi Dewi yang sekarang." Sewaktu kecil Indira memang sangat telaten mengajarinya dalam berbagai hal. Dan hal itu selalu terkenang dalam ingatan Dewi yang memang memiliki ingatan tajam, juga rasa terima kasih yang tinggi. "Kakak mau minta tolong lagi sama kamu, maaf lagi-lagi harus ngerepotin kamu." "Apa, Kak. jangan sungkan begitu. Kak Indi udah Dewi anggap kayak saudara kandung sendiri, jadi kalo Kakak butuh apapun jangan sungkan ngomong sam aku." "Setelah keluar dari sini Kakak mau minjem uang buat nyari kontrakan dan untuk makan selama beberapa hari, sebelum Kakak dapet pekerjaan. Apa boleh, Wi?" Ragu Indira mengatakan itu. Rasanya Indira sudah tidak memiliki harga diri meminjam uang hanya untuk makan. Namun, ia benar-benar tidak memiliki uang saat nanti keluar dari rumah sakit yang sudah pasti biayanya akan sangat mahal itu. Indira mengenyampingkan harga dirinya untuk saat ini, toh meminjam lebih mulia daripada mencuri bukan? Indira akan melakukan pekerjaan apapun selagi itu halal di mata Tuhan nya. Walupun harus menjadi seorang pembersih jalanan atau toilet sekalipun, Indira akan melakukannya. Karena pekerjaan itu halal dan sama sekali tidak merendahkan harga dirinya. Lebih baik bekerja kasar daripada harus mengemis. "Asal Kakak tau. Almarhum Arka sudah menyiapkan semuanya buat Kakak, satu jam sebelum kalian ijab kabul. Arka sudah memberikan seluruh harta bagiannya buat, Kakak. Jadi Kakak gak perlu khawatir soal tempat tinggal dan uang buat makan, dua apartemen milik Arka sepenuhnya milik Kakak. Kita cuma tinggal ngambil semua surat-suratnya aja. Aku nawarin Kakak kerja cuma supaya Kakak punya kegiatan biar gak terpuruk terus-terusan." Indira kembali menangis hingg terisak mendengar penjelasan Dewi. Tidak menyangka Arka menyiapkan itu semua untuknya. Betapa beruntungnya ia pernah memiliki orang sebaik dan setulus Arka. Laki-laki yang mungkin tidak akan pernah ia temui lagi seumur hidupnya. Indira akan menutup hatinya dengan rapat agar nama sang suami tetap bersemayam di sana. Cintanya ikut terbawa mati bersama jasad sang suami yang telah ditutup oleh tanah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD