Angga berjalan cepat menuju ruangannya begitu pintu lift terbuka. Setelah dari rumah sakit Angga harus kembali melakukan perjalanan menuju kantor Kemal untuk berangkat bersama menuju kampung halaman mereka.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Budi menghampiri Angga dengan segera.
Budi sedikit takut jika Angga menemukan hal yang tidak sesuai dengan keinginannya pada rumah sakit yang ia pimpin. Karena sikap Angga sedikit aneh hari ini. Pagi-pagi Angga sudah datang dan hanya mampir sebentar, setelah itu ia pergi lalu Angga kembali datang, membuat Budi waspada. Bukan karena Budi menyembunyikan sesuatu, Budi hanya takut pemilik umah sakit itu tidak puas dengan hasil kerjanya.
"Oh enggak, Dok. Saya cuma mau ngambil berkas yang ketinggalan," jawab Angga jujur.
"Baik kalo begitu saya permisi dulu. Panggil saya jika Pak Angga memerlukan sesuatu. Mari, Pak."
"Silahkan."
Angga meneruskan langkah untuk menuju ruangannya, langsung menuju meja kerjanya dan mengambil dokumen yang terdapat di dalam map bewarna merah, yang berada di antara tumpukan map berwarna lainnya.
Setelah mendapatkan dokumen yang ia cari Angga langsung pergi dari ruangannya. Berjalan kembali menaiki lift yang akan membawanya ke lantai dasar.
"Weh, Bro! Mau pulang?"
Langkahnya terhenti ketika Diwa menyapanya. Angga menganggukkan kepala dengan diiringi senyum pada perawat dan dokter yang menyapanya sebelum menjawab pertanyaan Diwa.
"Yoi. Lo mau ke mana?" tanyanya seolah lupa.
"Lo lupa kalo istri gue ada di sini jagain si Indira?" tanya Diwa balik.
"Oh iya gue lupa. Gimana keadaannya?"
"Gue belom tau. Mendingan lo ikut gue jenguk dia. sekalian buat ngobrolin permintaan istri gue kemaren. Lo gak sibuk, 'kan?"
"Boleh deh, sekalian gue juga mau ngucapin bela sungkawa sama dia atas meninggalnya almarhum Arka."
Angga tidak mengetahui jika Indira sudah menikah, karena yang ia tahu mereka baru bertunangan. Kemarin saat ia melihat Indira di ruang rawatnya Indira sudah memakai baju pasien. Jadi Angga tidak sempat melihat Indira memakai baju kebaya.
"Indira pasti sangat terpukul sama kematian Arka. Sampe kondisinya drop kayak gitu."
"Pasti. Mangkanya kemaren Dewi buru-buu nanyain lowongan kerja buat dia, karena Indira cuma sebatang kara di dunia ini. Selama tiga tahun ini hidupnya bergantung sama Arka karena itu semua kemauan Arka. Lo tau sendiri gimana posesifnya dia sama ceweknya."
Angga hanya menanggapi dengan senyum, Angga ingat degan sangat jelas bagaimana almarhum Arka begitu membanggakan Indira dalam keadaan apapun. Angga seolah bertekuk lutut di hadapan Indira, Bahkan mungkin Arka akan mencium kakinya jika Indira meminta itu.
Selain cantik Indira memang sangat pintar, usia mereka memang terpaut dua tahun , di mana Indira lebih tua dari Arka. Indira berusia dua puluh delapan tahun, sedangkan Arka baru dua puluh enam tahun. Diumur dua puluh delapan tahun Indira sudah menyelesaikan pendidikan S3 nya menjadi seorang Doktor. Itu semua tidak lepas dari bantuan Arka dan kepintaran otaknya.
Diwa dan Angga masuk ke dalam ruang rawat Indira setelah mengetuk pintu, tapi tidak menunggu jawaban terlebih dahulu dari dua orang yang ada di dalamnya.
Diwa berjalan mendekat saat melihat Dewi dan Indira dengan mata sembabnya, sedangkan Angga hanya terdiam melihat pemandangan itu. Wajah itu kembali Angga lihat. Wajah penuh kesedihan atas kehilangan orang yang dicintainya. Angga tidak bisa membayangkan jika hal tersebut terjadi pada dirinya. Angga sendiri mengakui bahwa dirinya cengeng jika berurusan dengan orang-orang yang disayanginya. Apalagi Indira yang seoang perempuan.
Kehilangan satu-satunya manusia yang dikenal secara dekat dan selalu melindunginya sudah pasti akan membuatnya terpuruk, apalagi selama ini hidupnya benar-benar bergantung pada orang itu. Itu bukanlah keinginannya, tapi keinginannya orang tersebut, sehingga membuatnya mau tidak mau ia harus menerima itu semua.
"Sabar ya. Gue gak tau ini gak mudah, tapi lo harus berusaha ikhlas dan kuat buat semuanya. Supaya almarhum pengorbanan Arka yang pengen lo tetep hidup gak sia-sia," ujar Diwa dengan mengusap pelan punggung istrinya, karena Dewi jga tidak berhenti meneteskan air matanya.
"Susah, Wa. Aku bingung harus gimana dan ke mana setelah ini," balas Indira jujur akan semua kebingungannya.
"Lo gak usah pikirin itu. Arka udah nyiapin semuanya. Walaupun resikonya kita semua dibenci sama keluarganya nanti. Apalagi Tante Monika."
"Aku juga udah kirim berkas lamaran kamu sama Angga, pemilik rumah sakit ini. Gimana Ga? Diterima enggak?" tanya Dewi dengan menolehkan kepalanya pada Angga yang hanya diam saja.
Angga yang sedang memperhatikan Indira secara intens tergagap saat Dewi menanyakan tentang berkas milik Indira yang dikirimkannya tadi malam.
"Pulihin dulu aja kondisinya, baru ngomongin kerjaan. Bye the way, saya turut berduka cita atas kepergian Arka. Hidup harus tetap berjalan, semangat untuk meraih masa depan."
"Terima kasih," balas Indira dengan berusaha menampilkan senyumnya.
"Hubungi saya jika kondisi kamu sudah pulih. Saya permisi dulu mau ke kantor Kemal. Cepet sembuh ya."
"Terima kasih."
Lagi, hanaya kata terima kasih yang mampu Indira katakan. Sejujurnya saat ini Indira sedang tidak mau bertemu dengan siapapun. Indira butuh kesendirian selama beberapa waktu ke depan. Namun, apa yang dikatakan oleh Diwa benar bahwa ia tidak boleh mengecewakan almarhum Arka yang sudah rela mempertaruhkan nyawa demi keselamatannya. Sangat tidak pantas dan tidak tahu diri sekali jika Indira sampai Indira menyerah pada keadaan.
"Thanks, Ga. Hati-hati," pesan Dewi dan Diwa secara bersamaan.
"Oke, Bye."
Angga keluar dari ruangan itu, menebarkan kembali senyum indah yang membuat para wanita harus menahan napasnya karena terpesona.
Kemal sudah sangat berisik dengan semua pesan yang dikirimkan olehnya. Sahabat sekaligus calon adik iparnya itu memang minta sekali ia hajar.
Angga diminta pulang oleh ayahnya karena memang akan menjodohkan adiknya dengan Kemal, entah adiknya yang mana yang akan dijodohkan dengan lelaki tampan sejuta pesona itu. Karena Angga yakin tidak ada satu orang pun wanita yang akan menolak Kemal. Kemal dengan segala kesempurnaan fisik, materi dan agama merupakan paket lengkap kriteria calon suami dan menantu idaman.
Amira dan Amara, kedua adiknya itu kembar, dan siapapun yang akan dijodohkan dengan kemal semoga mereka menerima dengan lapang d**a.
Handphone nya kembali berdering, yang menghubunginya masih orang yan sama yaitu sorang Mbe alias Kemal. Ingin sekali rasanya Angga mengumpat untuk melampiaskan kekesalannya. Namun, harus ia tahan karena dirinya masih berada di sekitaran rumah sakit.
"Waalaikumsalam. Apaan sih, Mbe? Berisik banget lo heran gue," maki Angga begitu ia mengangkat penggilan dari Kemal setelah dirinya brada di dalam mobil.
"Lo yang ke mana aja? Gue tunggun dari tadi juga. Lama lo kayak siput," balas Kemal tak kalah kesal.
"Gue abis meeting tadi. Lo gak sabaran amat sih?"
"Jalanan macet, kadal. Cepetan lo ke sini. Si Kebo udah ngoceg-ngoceh aja tuh."
"Iya bawel. udah ah, assalamuaikum."
Seelah mendapatkan jawaban salam dari Kemal Angga mulai melaju kan mobilnya meninggalkan area rumah sakit untuk menuju kantor Kemal. Untung saja jalanan tidak terlalu macet sehingga ia cepat sampai.
Di sofa lobi kantor Juna's group, Kemal dan Bima sedang duduk ditemani secangkir jeruk pesanannya. Angga langsung menghampiri mereka yang sudah memberikan tataan horornya. Mempunyai teman sedikit gila dan sangat disiplin memang serba salah. Namun, Angga tidak memperdulikan itu. Ia hanya memberikan senyum manis yang ia punya.
"Selamat siang Kakak Bima, Aa Kemal. Maaf ya karena adek manis ini sedikit terlambat. Maklum lah orang sibuk," ucap Angga dengan wajah sok manisnya.
"Waalaikumsalam," balas Kemal dan Bima secara bersamaan.
"Oh iya lupa. Assalamu'alaikum Aa Kemal, Kakak Bima. Apakah kalian berdua sudah lama menunggu?"
"Waalaikumsalam. Muka lo minta disiram pake aer comberan," balas Bima dengan sedikit menggerutu.
"Lama amat sih Lo?" tanya Kemal.
Mereka berdua sudah menunggu Angga selama lima belas menit. Mereka bahkan menyelesaikan meeting nya dengan sedikit terburu-buru karena khawatir Angga sudah menunggu lama. Namun, ternyata justru mereka yang menunggu Angga hampir setengah jam lamanya. Menyebalkan sekali bukan sahabat sekaligus tetangganya itu.
"Maaf ya, Aa. Tadi adek ada meeting di departemen farmasi. Adek juga harus ngambil berkas yang ketinggalan di rumah sakit. Dan itu membuat adek lelah di jalan," balas Angga.
"Astaghfirullah! Godaan itu ternyata bukan hanya berasal dari setan. Akan tetapi dari manusia seperti dia juga merupakan salah satu godaan itu."
Kemal tertawa mendengar perkataan Bima. Wajah menyebalkan Angga memang seperti meminta mereka melayangkan tangan menampar wajah tampannya. Sangat menguji kesabaran dan harus kuat iman.
"Udah, Mbe. Percuma ngomong sama orang yang hobinya ngaret. Lo mau ngomong gimanapun gak bakalan berubah."
Angga mendengus mendengar sindiran Kemal. Padahal ini merupakan pertama kalinya ia telat, tapi seolah-olah hal itu sudah terbiasa dilakukan oleh Angga.