Lelah meratapi jalan hidup, Indira kembali memejamkan matanya. Kali ini ia benar-benar terlelap. Matanya bengkak akibat terlalu banyak menangis. Wajah cantik itu kini kembali diliputi mendung pada setiap harinya.
Indira tersenyum dalam tidurnya saat ia bermimpi indah dengan sang suami. Arka terlihat sangat tampan dengan pakaian kasual yang ia pilihkan. Indira selalu menyukai penampilan lelakinya dengan sederhana seperti itu. Karena disaat Arka memakai jas beserta aksesoris kantor lainnya, Indira selalu merasa rendah diri dan tidak pantas mendampingi Arka.
Dalam mimpinya Arka mengulurkan tangan meminta Indira untuk menyambutnya. Tersenyum dengan lembut dengan tatapan mata penuh akan cinta. Indira berjalan mendekat, ingin rasanya ia berlari agar segera berlabuh pada d**a bidang suaminya itu. Namun, entah mengapa langkah kakinya terasa sangat berat dan sulit untuk melangkah. Indira terus berusaha untuk melangkah, tapi begitu terasa aneh karena ia yang tidak pernah sampai untuk meraih tangan suaminya itu. Padahal jarak mereka hanya beberapa meter saja. Arkan seolah menjauh disaat ia mulai mendekat, seperti itu terus hingga gadis cantik itu terasa lelah dan terjatuh dengan diiringi air mata yang menetes.
Sedangkan Arka yang melihatnya terjatuh tetap mempertahankan posisinya dengan senyuman. Senyuman yang selalu membuat hatinya damai entah mengapa saat ini begitu menyakitkan. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hatinya. Mengapa Arka tidak menghampirinya? Mengapa Arka seolah menjauh padahal ia tidak gerak sama sekali saat ia berusaha meraih tangannya. Dan yang paling terasa aneh adalah, mengapa Arka tersenyum ditengah kesusahannya untuk meraih uluran tangan yang ia berikan.
Arka-nya tidak seperti itu. Arka tidak pernah membiarkan dirinya jatuh. Bahkan Arka begitu dendam pada nyamuk yang telah berani menggigit kulit mulus Indira. Indira terduduk lesu dengan kepala menunduk, sebelum ia kembali mendongakkan kepalanya untuk melihat Arka.
Namun, kenyataan pahit kembali harus ia dapati disaat Arka sudah tidak ada lagi di hadapannya. Arka menghilang, suaminya dengan tega membiarkannya meratapi kesakitan sendiri. Arka tega meninggalkan dirinya dengan beban rasa yang harus ia tanggung sendirian. Indira tidak pernah menyangka jika laki-laki yang ia cintai sejahat itu. Meninggalkan dirinya dengan memupuk rasa rindu yang tidak akan pernah terobati.
"Arka!"
Indira berteriak memanggil nama Arka saat bayangan suaminya menghilang. Ia sendiri duduk dengan tangis yang begitu tergugu, tangis kesakitan dan kehampaan yang entah sampai kapan akan berakhir. Arka begitu tega membiarkan dirinya sendiri tanpa perlindungan. Suaminya berbohong untuk semua janji yang pernah ia ucapkan untuk selalu menemaninya.
Indira menatap nanar tanah bekas pijakan Arka, di sana tadi Arka berdiri dan mengulurkan tangannya pada Indira dengan senyum yang selalu menyejukkan hatinya. Senyum yang selalu mampu meluluhkan disaat hatinya risau.
Tuhan! Betapa ia merindukan laki-laki yang hanya tujuh jam menjadi suaminya itu. Pertanyaan demi pertanyaan menghinggapi hati dan pikirannya. Tentang mengapa dan kenapa Tuhan begitu kejam dalam menggariskan takdir hidupnya. Tentang dirinya yang harus menderita sedari kecil.
Lelehan air mata itu mengalir dengan begitu derasnya. Bulir bening itu seakan tidak bisa berhenti membanjiri pipi mulusnya. Bahkan dalam mimpi pun Indira tidak bisa meraih bahagianya. Sedalam itu kesakitan yang Indira rasakan.
Indira membuka matanya saat seseorang mengguncang pelan tubuhnya. Memanggil dengan lembut dengan suara yang sangat ia hafal. Gadis kecil yang dulu sering menemaninya bermain, dan kembali bertemu saat ia menjalin hubungan dengan Arka.
***
Pagi ini Dewi kembali menuju rumah sakit untuk melihat kondisi Indira. Semoga saja Indira sudah bangun dan bisa diajak bicara agar ia bisa sedikit bernapas lega.
Dewi membuka pintu, samar ia melihat air mata kembali mengalir dari sudut matanya. Dalam tidurpun wanita malang itu tetang merasakan kesakitan yang menggerogoti jiwanya.
Sebagai seorang wanita Dewi tentu saja bisa merasakan bagaimana menjadi seorang Indira. Hidupnya selalu diliputi kesedihan setelah kepergian kedua oangtuanya. Dewi mengenal Indira dari ia kecil karena dulu mereka memang bertetangga, sebelum Indira dibawa pergi oleh paman dan bibinya, sejak saat itu meeka tidak pernah lagi bertemu. Usia mereka terpaut tiga tahun dengan kecerdasan di atas rata-rata, dengan Dewi yang selalu memanggilnya dengan sebutan Kak Indi.
Indira mempertahankan keinginannya untuk menjadi dokter sedari kecil. Cita-citanya itu hampir saja tidak terwujud jika ia tidak memiliki otak yang cerdas. Karena setelah kedua orangtuanya meninggal harta yang ditinggalkan hanya habis untuk membayar hutang. Bahkan ia pun harus dibebankan hutang pada rumah sakit tempat kedua orangtuanya dirawat pasca kecelakaan naas yang menimpa mereka.
Pasangan Arfani dan Arisya, pemilik butik ternama yang pada saat itu tidak memiliki keturunan bersedia melunasi hutang pengobatan kedua orangtuanya, dengan syarat Indira mau menjadi anak angkat mereka. Indira yang tidak memiliki pilihan lain hanya bisa menuruti apa yang mereka atur untuk hidupnya. Usianya baru tiga belas tahun untuk memahami itu semua, juga yang terpenting bagi Indira dirinya harus tetap bisa melanjutkan pendidikannya untuk menjadi seorang dokter kandungan.
Mereka kembali dipertemukan saat Arka mengenalkan Indira sebagai kekasihnya. Dari sana mereka kembali akrab dan berteman baik sebagai sahabat dan kekasih Arka.
Dewi tersadar dari lamunannya tentang Indira saat wanita itu berteriak memanggil nama suaminya yang sudah tidak ada. Napasnya menderu dengan air mata yang tidak mau berhenti mengalir. Matanya semakin bengkak karena terlalu lama menangis. Sungguh penampilan yang sangat menyedihkan dan menyayat hati.
"Kak Indi bangun, Kak. Sadar."
Dewi mengguncangkan tubuh Indira dengan pelan untuk menyadarkan Indira dari mimpi buruk yang menghantuinya. Respon Indira hanya menangis untuk beberapa detik, sebelum ia menghentikan tangisnya dan membuka mata dengan tatapan yang kosong untuk kembali mengenang masa lalunya. Dewi memaklumi itu, jiwanya pasti sangat terguncang dengan semua kejadian yang menimpa dirinya. Ditinggalkan laki-laki yang baru resmi menjadi suaminya setelah perjuangan panjang untuk mendapatkan restu dari keluarga almarhum. Diusir secara langsung dengan caci maki tanpa diberikan uang sepeserpun. Karena Monica menganggap semua yang Indira miliki itu pemberian Arka, sehingga ia tidak pantas membawanya, selain pakaian.
Jangankan untuk berkasih mesra sebagai pasangan baru untuk menjalani prosesi malam pertama yang penuh cinta, karena kaki mereka bahkan belum mencapai pintu kamar pengantin yang sudah dihias dengan indahnya. Namun, Tuan sudah lebih dulu mengambil nyawa kehidupan dari raga Arka.
Untuk pertama kalinya Indira berpikir bodoh karena tidak pernah menuruti keinginan Arka untuk menikmati tubuhnya. Indira juga berpikir Arka terlalu bodoh karena hanya meminta tanpa pernah memaksa. Jika Indira berkata tidak Arka tidak akan pernah melakukannya. Sepatuh itu Arka padanya.
"Arka jahat, wi. Dia ninggalin aku. Arka bohong."
Indira kembali terisak dalam dengan memejamkan mata. Dewi ikut meneteskan air mata untuk kemalangan hidup wanita cantik itu. Sepertinya Tuhan menyiapkan rencana yang begitu besar untuk wanita tangguh yang saat ini begitu rapuh di hadapannya.
"Ini takdir, Kak. Bukan maunya Arka," balas Dewi dengan berusaha menyadarkan Indira dari rasa marahnya pada keadaan.
Indira tidak membalas, hanya keheningan yang ia berikan. Indira sadar dan paham bahwa semua ini bukan keinginan Arka. Ini semua kehendak Tuhan, lalu apakah ia sekarang harus menyalahkan Tuhan untuk semua kesedihan yang menimpanya.
Dewi memalingkan wajahnya agar tidak lagi menatap Indira, karena tidak tega melihatnya.
Dewi hanya berdoa semoga kehidupan Indira seperti semboyan pahlawan bagi kaum wanita Indonesia Raden Ajeng Kartini, di mana habis gelap terbitlah terang. Semoga dimasa depan kehidupan Indira menjadi terang benderang setelah kegelapan yang menghiasai hidupnya selama ini.
"Sabar, Kak. Ujian yang akan kita hadapi masih sangat banyak."
Dewi memeluk Indira, ikut menangis merasakan kesakitan yang Indira alami. Sebagai sesama wanita Dewi bisa merasakan bagaimana terpuruk nya Indira. Mereka melepaskan pelukan saat ada yang mengetuk pintu.