Angga sudah siap untuk menuju kantor pusatnya. AA Group merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang pelayanan kesehatan masyarakat, seperti rumah sakit dan farmasi. Walaupun keluarga mereka tidak ada yang menjadi dokter. Rumah sakit milik keluarga Arkana berada di beberapa daerah yang berpusat di Jakarta.
Saat ini Angga menjabat sebagai CEO dari Arkana Group. Karena Andri Arkana yang merupakan pendiri dan juga ayahnya sudah ingin beristirahat, dan hanya membantu Angga di kantor cabang yang ada di daerahnya.
Angga telah siap untuk menuju kantornya, berjalan dengan semangat menuju mobil, membaca doa sebelum menjalankan mobilnya menuju kantor. Namun, entah mengapa ia justru membawa mobilnya menuju ke Arkana Hospitals, bukan menuju kantor pusat AA Group. Angga bingung sendiri saat mobil telah terparkir sempurna di pelataran rumah sakit.
"Gue kenapa sih?" tanya Angga dengan linglung.
Bertanya sendiri untuk apa dirinya mengunjungi rumah sakit, kemarin ia sudah berkeliling untuk melakukan survei pada pasien tentang kepuasan pelayanan pihak rumah sakit. Kegiatan yang rutin ia lakukan secara acak setiap bulannya. Sekarang untuk apa Angga kemari.
Kesal sendiri dengan apa yang terjadi pada dirinya, apalagi saat sekelebat wajah sembab yang tetap cantik milik Indira muncul di hadapannya. Wajah mantan kekasih temannya itu menyiratkan sebuah kesedihan yang teramat dalam. Seperti menarik perhatian keinginan Angga untuk membawanya pada gerbang bahagia.
Angga menggeleng dengan pemikirannya sendiri. Mengapa pikirannya menjadi kacau hanya karena bayangan wajah Indira. Seumur hidupnya Angga hanya pernah tertarik pada satu wanita yang sudah berbeda alam dengannya. Angga tidak pernah merasa tertarik lagi pada wanita selain Elina, seorang wanita yang pernah ia sukai saat menempuh pendidikan dulu. Namun, itupun hanya sebatas rasa suka yang harus dipisahkan oleh alam semesta.
Dan sekarang, Angga merasakan perasaan itu lagi. Perasaan tertarik pada lawan jenis yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Apakah ia menyukai Indira? Rasanya tidak mungkin, karena terlalu cepat. Walaupun ia sudah mengenal Indira sebelumnya. Apa kata keluarga Castello nanti jika sampai mereka mengetahui bahwa Angga menyukai Indira. Apa kata Diwa dan Dewi jika sampai mengetahui itu semua. Bisa diledek tujuh turunan ia oleh Dewi jika sampai itu terjadi.
Mau tidak mau Angga turun dan kembali memeriksa keadaan rumah sakitnya. Terlanjur basah dan ia harus menyelam sekalian bukan? Angga tidak mau mendapatkan pertanyaan karena dirinya yang datang dan balik lagi. Karena sudah ada beberapa dokter yang melihat mobilnya. Kebetulan ia juga datang bersamaan dengan direktur rumah sakitnya, sehingga tidak ada lagi alasan untuk Angga kembali menjalankan mobilnya.
"Selamat pagi, Pak Angga. Saya kira Bapak tidak ke mari," sapa dokter Budi Rahardi yang merupakan direktur utama di Arkana Hospitals.
"Pagi, dokter Budi. Saya masih belum selesai berkeliling. Tolong nanti temani saya."
"Siap, Pak. Dengan senang hati."
Dua petinggi rumah sakit itu berjalan secara bersamaan. Menaiki lift khusus staf rumah sakit untuk menuju lantai lima belas, ruangan para petinggi rumah sakit. Obrolan sekitar kesehatan dan kesejahteraan pasien tidak bisa Angga hindari, sampai mereka berpisah untuk menuju ruangan masing-masing.
Angga menghembuskan napas begitu ia berada di ruangannya. Berjalan menuju jendela untuk menatap padatnya jalan yang menghiasi jalan raya. Entah mengapa pikirannya menjadi kacau seperti ini. Angga bingung sendiri pada hati dan pikirannya yang seolah selalu terbayang oleh wajah menyedihkan Indira.
"Ya Allah. Ada apa dengan hatiku ini? Kenapa wajah menyedihkan nya selalu terbayang?" tanya Angga dalam hatinya dengan mata yang lurus memandangi gedung-gedung tinggi ibukota.
Resah dan gelisah begitu melingkupi hatinya. Perasaan tidak tenang akan sebuah rasa aneh begitu mengganggu pikirannya. Tidak mungkin rasanya Angga menyukai Indira, dan Angga lebih mengartikan bahwa itu hanyalah sebuah rasa empati pada mantan kekasih temannya itu.
Angga tidak mau berpikir terlalu jauh tentang rasa yang tiba-tiba hadir dalam hatinya. Angga yakin bahwa itu semua hanya perasaan iba antar sesama manusia. Wajar bukan jika Angga bersimpati atas apa yang menimpa Indira.
Angga melihat jam yang menempel dengan kokoh di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh menit. Bahkan Angga tidak menyadari bahwa dirinya sudah melamun hampir setengah jam lamanya.
Waktunya terbuang sia-sia hanya karena memikirkan perasaan asing yang menyusup dalam relung hatinya. Angga beranjak dari tempatnya, berjalan untuk keluar dari ruangannya dan pergi menuju kantornya. Namun, hatinya kembali bimbang saat tangannya akan menyentuh handle pintu. Angga bingung antara langsung menuju kantornya atau melihat kondisi Indira terlebih dahulu. Hanya ingin memastikan saja kondisi wanita itu, tanpa berniat apapun.
Ya, dalam hati Angga membela dirinya untuk menjenguk Indira terlebih dahulu dengan alasan prihatin saja. Ingin memastikan keadaan pasien yang berada di rumah sakit miliknya, dan menanyakan kepuasan Indira dalam perawatan yang diberikan dokter dan perawatnya. Ya, hanya sebatas itu dan tidak lebih walaupun hanya satu gram.
"Pak Angga mau berkeliling sekarang?" tanya dokter Budi yang kebetulan juga keluar karena memang akan menuju ruangan Angga.
"Oh! Sepertinya tidak jadi, Dokter. Saya harus kembali ke kantor karena urusan mendadak."
Angga mengurungkan niatnya untuk menuju ruangan Indira. Ia tidak mau jika sampai menimbulkan salah paham karena nantinya hanya melihat kamar rawat wanita itu. Angga lebih memilih meneruskan langkahnya untuk menuju parkiran, pergi meninggalkan rumah sakit untuk menuju kantornya. Angga bahkan melupakan bahwa hari ini ia memiliki jadwal meeting dengan departemen farmasi.
Mobilnya sudah berbaur dengan pengendara lainnya, Angga lebih memilih menyetel musik dari audio mobilnya untuk menghilangkan rasa jenuh karena jalanan sedikit macet. Angga juga melupakan bahwa sore nanti dirinya harus pulang ke rumah orangtuanya, karena sang ayah mempunyai kabar baik katanya. Entah apa kabar baik itu, yang pasti Angga akan selalu bersyukur jika kabar itu benar-benar baik nantinya.
Menempuh empat puluh menit perjalanan karena macet akhirnya Angga sampai di kantornya. Sambutan dan sapaan hormat selalu diberikan saat ia datang dan dibalas dengan senyuman olehnya. Menebarkan aura positif dengan senyuman untuk menyemangati hari dengan penuh rasa syukur, membuat kaum Hawa selalu meleleh saat melihat senyum itu.
Angga tidak pernah sadar jika senyuman indah miliknya membuat jantung para wanita selalu bekerja dual kali lipat. Angga tidak seperti Kemal, sahabatnya yang selalu menundukkan pandangan saat melihat lawan jenis. Angga menatap sambil tersenyum saat melewati ataupun berbicara dengan lawan jenisnya. Bukan untuk menggoda ataupun memamerkan senyum indahnya. Angga hanya ingin selalu menebarkan senyuman dalam hidupnya, karena senyum itu ibadah paling mudah bukan?
Angga berjalan menuju lift khusus petinggi perusahaan, tangannya dengan sigap memencet tombol angka 37. Sangkar besi itu langsung berjalan, kurang dari dua menit ia sudah sampai di lantai tempatnya bekerja. Di sana sudah ada Dio sekertaris nya.
"Anda sudah ditunggu di ruang meeting, Pak."
"Oke."
Angga dan Dio langsung masuk ke dalam ruang meeting yang sudah dipenuhi oleh dewan direksi. Meeting rutin bulanan untuk evaluasi yang akan ia laporkan pada ayahnya. Bagaimanapun Angga tetap memberikan laporan pada sang ayah, dan itu semua atas inisiatifnya sendiri.
Angga tetap melibatkan sang ayah dalam mengambil keputusan apapun, walaupun sang ayah sudah menyerahkan sepenuhnya pada Angga. Meeting yang berjalan dengan lancar membuat Angga bisa bernapas lega. Pikirannya tidak fokus dan entah apa yang ia pikirkan. Rasanya sudah aneh dan tidak jelas. Apakah ini merupakan efek dari tubuh lelahnya dari pekerjaan? Ataukah karena hal lain. Angga tidak tahu dan tidak mau tahu. Saat ini yang ia butuhkan hanya kafein untuk kembali mewaraskan hati dan pikirannya.
Angga meminta Dio untuk membelikan dirinya segelas cappucino latte untuk mengembalikan kerja otaknya dengan benar. Pikirannya akan kembali waras setelah meneguk minuman berkafein itu.
Setelah mendapatkan menghabiskan kopinya Angga Angga tidak berlama-lama di kantornya, karena ia harus kembali ke rumah sakit. Angga ingat ada berkas yang harus ia ambil, dan mungkin hal itu jawaban mengapa tadi pagi tanpa sadar ia membawa mobilnya ke rumah sakit.