Kebingungan Indira

1391 Words
Angga termenung sendiri di atas balkon kamarnya. Duduk di kursi dengan ditemani minuman dan camilan sebagai pelengkap santainya. Entah mengapa pikirannya saat ini tertuju pada wanita yang merupakan kekasih almarhum temannya sendiri yaitu Arka. Indira Faradiba, seorang dokter kandungan yang belum mendapatkan pengalaman kerja sama sekali, selain koas yang ditempuhnya. Wajah yang diliputi kesedihan itu entah mengapa sedikit mengusik hatinya. Mereka saling mengenal walaupun hanya pernah beberapa kali bertemu. Angga ingat betapa almarhum Arka begitu membanggakan tunangannya yang akan menjadi dokter kandungan. Arka yang teramat mencintai wanita itu yang mereka sebut bucin akut, karena selalu memuji dan memuja Indira. Wajar memang jika Arka melakukan hal tersebut. Indira merupakan wanita cantik, pintar bahkan sangat, disiplin, tegas dan sangat santun. Hanya saja sifat rendah dirinya sangat sulit untuk dilepaskan. "Indira Faradiba." Angga membaca lampiran berkas lamaran pekerjaan milik Indira yang dikirimkan oleh Dewi melalui email. Dewi benar-benar langsung mengirimkan berkas itu tanpa bertanya terlebih dahulu pada Indira, yang saat ini masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit miliknya. Angga membaca dengan detail berkas tersebut, memastikan jika ia bisa menerima Indira sebagai salah satu dokter kandungan di rumah sakitnya. Bukan hanya karena rasa tidak enak pada Dewi ataupun rasa kasihan karena ditinggal pergi oleh Arka. Angga ingin menerimanya karena kemampuan Indira. Angga yang tahu bagaimana Arka melarangnya untuk bekerja setelah Indira mendapatkan gelar dokternya, sehingga membuat Angga sedikit tidak yakin pada kemampuan Indira. Walaupun dalam nilai Indira sangat memuaskan dan sudah mendapatkan gelar doktor-nya. Gelar tertinggi bagi fakultas kedokteran di usia 28 tahun. Namun Angga tidak mau tergiur hanya karena nilai dan gelar saja. Karena kebanyakan nilai dan praktek itu berbeda, jadi Angga harus mempertimbangkannya dengan matang, sebelum ia menerima Indira untuk bergabung di rumah sakit miliknya. Angga memilih untuk masuk ke dalam kamar, sebelum pikirannya terlalu jauh memikirkan tentang mantan kekasih almarhum temannya itu. Jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam membuat mata dan tubuhnya memerlukan istirahat, setelah bekerja seharian di depan layar komputer. *** Sedangkan di rumah sakit tempat wanita yang Angga pikirkan dirawat, Indira baru saja membuka matanya. Melihat dengan linglung ruangan tempatnya berada saat ini. Indira ingat terakhir kali ia masih berada di hadapan pusara suaminya. Bertanya dalam hati siapa orang baik yang telah membawanya ke rumah sakit. Indira bahkan tahu ruangan tempatnya dirawat kali ini merupakan ruangan VIP, terlihat jelas dari lengkapnya fasilitas yang ada. Tanpa mau memikirkan siapa orang baik itu, Indira mencoba kembali memejamkan matanya. Berharap kejadian hari ini yang menimpa dirinya hanyalah sebuah mimpi buruk dalam hidupnya. Mimpi yang akan berakhir saat dirinya bangun nanti. Walaupun ia tahu dengan jelas bahwa apa yang terjadi hari ini adalah kenyataan pahit yang harus ia terima. Ternyata usahanya untuk kembali memejamkan mata tidak berhasil. Nyatanya, kejadian naas hari ini telah mengubah hidup bahagianya. Hanya dalam hitungan jam hidup bahagianya berubah menjadi sangat menyedihkan, hanya dalam hitungan jam statusnya berubah dari seorang gadis menjadi seorang janda, walaupun sampai saat ini ia masih suci dan tidak diakui secara hukum. Dan itu semua berubah hanya dalam kurun waktu tujuh jam saja. Mimpi yang ia rangkai bersama Arka hancur saat sang suami memilih menyelamatkan dirinya, dan mengorbankan hidupnya. Gelar sebagai wanita pembawa sial semakin jelas melekat pada dirinya. Mengapa Tuhan begitu kejam menakdirkan kisah hidupnya? Dosa apa yang ia perbuat hingga mengalami hal yang begitu menyedihkan seperti ini. "Aku rindu, Mas." Ya, Indra begitu merindukan laki-laki yang hanya beberapa jam bergelar sebagai suaminya itu. Walaupun Arka lebih muda darinya, Indira memang telah mengatakan akan memanggilnya dengan sebutan Mas saat mereka sudah menikah. Seumur hidupnya tidak pernah sekalipun ada orang yang begitu baik dan perhatian padanya selain Arka, kedua orangtua angkatnya dan kedua orangtua kandungnya. Mengapa Tuhan begitu tega mengambil laki-laki yang selama ini menjadi pelindung dirinya dalam keadaan apapun. Baru lima tahun Indira kembali menemukan titik terang dalam hidupnya, setelah kepergian orangtuanya. Selama ini hidupnya selalu gelap tanpa cahaya, dan baru lima tahun ini terasa berwarna dengan kehadiran sosok Arka dalam hidupnya. Lelaki berhati mulia yang mampu menerima Indira apa adanya, tanpa peduli dengan cibiran dan tentangan dari semua orang yang mengenalnya, karena perbedaan derajat mereka. Lima tahun berhubungan dengan Arka Indira selalu merasa menjadi Tuan Putri yang selalu dilimpahi kasih sayang penuh. Arka menjaganya bagaikan barang antik yang tidak ternilai harganya. Arka tidak pernah membiarkan seekor semut pun menggigit Indira, karena Arka begitu mencintai Indira. Semua kenangan indah itu berputar dalam lamunan Indira. Indira tengah dilanda kebingungan yang menyelimuti hatinya, tentang kelanjutan hidupnya nanti setelah keluar dari rumah sakit ini. Hidupnya selama lima tahun ini begitu bergantung pada Arka, karena Arka tidak pernah sekalipun membiarkan Indira lepas dari pengawasannya. Maka dari itu Indira begitu bergantung pada Arka, karena Arka benar-benar mengekangnya. Sekarang Indira bingung sendiri akan kelanjutan hidupnya. Ia sama sekali tidak memiliki uang walaupun seribu rupiah karena tas yang berisi dompet dan handphonenya berada di dalam kamar pengantin mereka. Sedangkan tas yang diberikan oleh Monica hanyalah tas berisi pakaian saja, bagaimana dan pada siapa Indira akan meminta tolong dan mengadu. Pada saat ini Indira begitu putus asa akan kelanjutan hidupnya. "Tuhan, apa yang harus aku lakukan saat ini? Bagaimana aku melanjutkan hidup tanpanya?" tanya Indira dalam pejaman matanya. Hidupnya benar-benar nelangsa, mengapa Tuhan begitu tega meriwayatkan jalan hidupnya dengan begitu tragis. Akankah Tuhan kembali mengirimkan manusia berhati mulia seperti Arka dalam hidupnya? Akankah ia mencicipi rasa manis dari bahagia selama hidupnya? Dalam keputusasaan Indira sempat berpikir konyol untuk mengakhiri hidupnya saja. Indira begitu bingung harus ke mana. Setidaknya dengan ia mengakhiri hidup ia bisa bertemu dengan orang-orang yang ia sayangi dan menyayanginya secara tulus. Namun, untung saja dalam hatinya selalu beristighfar. Mengingat pesan mendiang orangtua angkatnya agar ia menjadi anak yang berguna. Arka membiayainya sekolah agar ia bisa menjadi dokter dengan tujuan untuk membantu orang lain, saat membutuhkan. Walaupun Arka melarangnya bekerja, tapi Arka mempunyai tujuan lain. Almarhum Arka hanya tidak ingin Indira bekerja di rumah sakit dengan jadwal yang padat. Karena Arka sudah merencanakan untuk membangun klinik bersalin untuk istrinya itu. Namun, kembali lagi Indira harus di hadapkan pada kenyataan bahwa semua itu hanya sebuah angan-angan yang menghiasi hidupnya, karena pada kenyataan Indira tidak pernah merasakan kebahagiaan itu semua, walaupun hanya untuk sebatas merasakan indahnya malam pertama dengan penuh rasa malu-malu ala pengantin baru. Sesak itu begitu menghimpit dadanya, seakan udara tidak bisa masuk dalam rongga parunya karena beban hati dan pikiran yang ia rasakan. Indira lelah dan ingin rasanya menyerah pada kehidupan yang seolah tidak pernah mengizinkannya untuk bahagia. Dalam bayangannya ia akan merajut kasih mesra dengan sang suami tercinta. Sedikit lagi, ya hanya tinggal beberapa langkah lagi ia akan merasakan betapa indahnya menjadi pengantin baru, sebelum kain batik yang menjadi penutup kakinya itu menghalangi kaki jenjangnya untuk melangkah, dan menyebabkan dirinya terpeleset hingga menghilangkan nyawa sang suami. *** Sedangkan di sebuah kafe yang tidak jauh dari rumah sakit, Dewi dan Diwa tengah membahas strategi apa yang harus mereka gunakan untuk melawan keluarga Castello. Mereka memang memiliki surat kuasa atas harta bagian Arka yang ditandatangani secara langsung oleh almarhum Arka, juga voice recorder yang juga asli suara Arka sebelum drinya melafalkan ijab kabul atas nama Indira. Namun, mereka takut jika harta bagian almarhum Arka akan dibekukan oleh keluarganya. Karena sampai saat ini semua surat menyurat masih ada di tangan keluarga Castello. Mereka tengah memikirkan bagaimana caranya untuk mengambil semua dokumen itu. Mereka sangat yakin jika meminta dengan cara baik-baik tidak akan berhasil. Namun, mereka bingung harus dengan cara apa. Mereka harus kembali memutar otak untuk semua hal yang harus mereka lakukan. Ingin sekali rasanya Dewi mengumpat pada almarhum sahabatnya itu. Saat hidup saja Arka selalu menyusahkan mereka, bahkan saat sudah almarhum pun masih menyusahkan. Bagaimana Dewi tidak kesal akan hal itu. "Terus gimana sekarang?" tanya Dewi pada suaminya. "Nanti aku pikirin," jawab Diwa menenangkan. "Aku udah kirim berkas lamaran buat Indira ke email Angga." "Kita belum tanya loh sama Orangnya." "Dia butuh, Yang. Dia juga pasti pengen langsung kerja." "Ya udah terserah kamu. Cuma aku minta kamu jangan maksa dia, kita bicarakan baik-baik sambil liat kondisinya juga. Jangan sampai kita buat dia tertekan." "Ia, aku juga pikir dengan ia bekerja ini jadi pengalihan rasa sakit dan terpuruk dari semua kejadian yang menimpanya." Diwa mengangguk dan mengerti apa yang dipikirkan oleh istrinya. Diwa juga mengakui apa yang dipikirkan istrinya itu memang benar. Dengan bekerja Indira akan sibuk dan tidak akan memikirkan semua kejadian naas yang menimpanya. Diwa sedikit tenang, hanya tinggal memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan semua surat-surat milik Arka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD