Bimo
Ini apa2an Jeslin?! Kamu gila atau gimana? Aku bener2 gak habis pikir! Nanti malam kita bahas di rumahku!
Jeslin menghela nafas sambil memegang keningnya. Ia bisa merasakan amarah Bimo walau hanya dari pesan teks itu. Sudah lama sejak ia merasakan amarah Bimo... mungkin kali ini amarah pria itu akan benar-benar meledak.
"Jes... kenapa? Ada yang bikin kamu gak nyaman? Ngomong aja. Mungkin saya bisa bantu." Clarina menatap Jeslin dari mejanya.
Jeslin menggelengkan kepalanya. "Enggak kok, Bu. Semua aman kok. Saya cuma lagi mikir nanti siang mau makan apa."
"Nanti makan siang bareng kita aja, Jes! Kebetulan Gue sama Kak Rena mau makan diluar. Kita mau makan warteg sih. Lo terbiasa makan di warteg gak?" tanya Ica.
"Terbiasa kok. Yaudah, nanti kita makan siang bareng ya. Makasih loh." Jeslin sebenarnya tidak pernah makan di warteg. Ia juga tidak benar-benar tau warteg itu tempat makan seperti apa. Namun menolak ajakan makan siang dari rekan kerjanya di hari pertama... rasanya itu tidaklah sopan.
"Gue pikir lo gak pernah makan di warteg, Jes. Kampus lo kan terkenal mahalnya. Pasti kantinnya tuh mewah," timpal Rena.
"Yah memang enggak sering sih, Mbak. Cuma sesekali aja. Lagian yang penting rasanya enak. Jadi gak papa juga makan di warteg." ucap Jeslin.
"Berarti lo bisa nyambung sama kita. Hahahaha," ucap Ica.
"Mbak Fiona enggak makan bareng kita?" tanya Jeslin.
"Mbak Fiona itu selalu bawa bekal makan siang, Jes. Jadi dia jarang makan siang diluar," jawab Ica. Fiona hanya tersenyum mendengar ucapan Ica itu.
"Oh gitu."
Jeslin merasa ruang kerjanya terasa menyenangkan. Rekan kerjanya juga sangat ramah dan merangkulnya dengan hangat. Rasanya ia mungkin akan mampu bertahan kerja di sana selama beberapa waktu.
***
"Enak gak Jes?" tanya Ica.
Jeslin menganggukan kepalanya sambil menyantap nasi gulai sotong dengan sayur tumis labu. Rasanya sama nikmatnya dengan kantin kampusnya dulu. Namun suasana makan di warteg memang kurang nyaman bagi gadis itu. Jeslin berkali-kali harus mengelap keringat yang membasahi keningnya.
Warteg itu tidak begitu besar. Hanya ada beberapa meja di sana. Namun ruangan itu benar-benar dipenuhi oleh orang. Ada banyak juga yang take away karna meja di ruangan itu telah penuh. Jeslin merasa beruntung bisa mendapat meja untuk makan di tempat.
"Halo anak baru! Makan di sini juga lo!" seru Fadlan.
Jeslin tampak kaget dengan kehadiran Fadlan yang mendadak itu. "Ya ampun kaget gue! Iya, Pak. Lagi makan."
"Tua banget gue lo panggil Bapak. Hahaha. Panggil nama gue aja... Fadlan!" tegas Fadlan.
"Lo udah ngegogain anak baru aja, Fad." Rena geleng-geleng kepala.
"Lho... ini bukan lagi godain. Gue cuma lagi menyambut hangat si anak baru. Hahaha," sanggah Fadlan.
"Ah bisa aje lu sepiknya," timpal Ica.
Jeslin tampak bingung harus menanggapi situasi ini seperti apa. Ia hanya tersenyum canggung ke arah Fadlan.
"Okelah. Silahkan kalian nikmatin makanannya guys! Gue mau makan di kantin aja." Fadlan berpamitan lalu berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
"Karyawan lainnya tuh pada makan di kantin ya?" tanya Jeslin.
"Iya. Kebanyakan pada bawa bekal, Jes. Lumayan buat ngehemat uang kan. Biar bisa nabung. Hahaha," jawab Rena.
"Ada juga sih yang emang males keluar. Jadi prefer bawa bekal dan makan di kantin. Karna buat nyari tempat makan yang nyaman... ya tempatnya rada jauh. Harus bawa kendaraan gitu, Jes," timpal Ica.
"Oh gitu." Jeslin mengangguk sambil melanjutkan makan makanannya.
Setelah selesai makan, mereka bertiga bergegas membayar makanan. Jeslin cukup takjub ketika ia hanya mengeluarkan uang Rp 20.000,- untuk makan siang. Harga itu pun sudah termasuk es teh manis. Benar-benar sangat murah.
Drrrt... drrrttt...
Ponsel Jeslin bergetar tanda sebuah panggilan telepon telah masuk. Ternyata nama Bimo yang tertera di layar ponselnya. Jeslin buru-buru menutup layar ponselnya agar Ica dan Rena tidak melihatnya.
"Ica... Mbak Rena... kalian duluan aja ya. Aku mau angkat telepon dulu. Ada yang call."
"Oh oke. Kita duluan ya," ucap Rena.
"Bye, Jes." Ica berpamitan, lalu beranjak pergi bersama dengan Rena.
Setelah memastikan Rena dan Ica telah pergi menjauh, Jeslin lalu mengangkat panggilan telepon dari Bimo itu. "Halo. Kenapa, sayang?"
"Kamu kenapa gak bales chat aku?"
Walaupun Bimo bertanya dengan nada pelan, tapi Jeslin bisa merasakan kemarahan yang tertahan dibalik suara kekasihnya itu. "Aku abis makan siang bareng Ica dan Mbak Rena tadi. Jadi gak bisa bales chat kamu."
"Kita harus bicara malam ini, Jeslin."
"Baiklah. Nanti sehabis pulang kantor... aku bakalan langsung ke apartemen kamu."
"Aku benar-benar gak habis pikir sama kelakuan kamu ini. Are you crazy?! Kita udah sepakat untuk tidak mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan, Jes!"
Jeslin menghela nafas. "Bukannya kita udah sepakat akan bahas pas nanti malam ya? Kenapa kamu marah-marahnya udah dari sekarang?"
Suasana seketika hening. Namun Jeslin bisa mendengar suara nafas Bimo yang sedang tidak beraturan. Gadis itu bisa merasakan bahwa Bimo sedang berusaha menahan emosi amarahnya.
"Oke. Kita bahas nanti malam." Bimo langsung mematikan panggilan telepon itu, tanpa menunggu respon jawaban dari Jeslin.
Jeslin menghela nafas. Bimo tampaknya benar-benar marah. Ia mulai merasa frustasi bagaimana harus menjelaskan situasi ini kepada kekasihnya itu.
Padahal sebelumnya Jeslin telah mempersiapkan diri untuk peristiwa ini terjadi. Namun semua persiapan itu seakan menjadi tak berarti. Jeslin benar-benar merasa frustasi. Ia bisa merasakan bara kemarahan dari suara Bimo.
Jeslin mulai berjalan kembali ke kantornya. Waktu istirahat makan siang akan berakhir. Ia tidak ingin menimbulkan kesan buruk di hari pertamanya bekerja dengan terlambat kembali ke kantor. Walaupun kepalanya masih pusing memikirkan solusi akan pertengkarannya dengan Bimo nanti, tapi ia memilih untuk mengabaikannya sementara. Jeslin memilih fokus untuk menyelesaikan hari kerjanya ini terlebih dahulu.