9. Ledakan Amarah

943 Words
Bimo berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Sedari tadi jemarinya sibuk di atas keyboard laptop. Matanya juga tak lepas dari layar laptop yang ada di hadapannya. Bimo benar-benar fokus pada pekerjaannya, tanpa memegang ponsel sedikit pun. Sekilas mata Bimo mulai melirik ke arah jam. Waktu sudah menunjukan pukul enam sore. Ia bekerja setengah jam lebih lama dari waktu yang seharusnya untuk pulang. Bimo ada janji dengan Jeslin di rumahnya untuk membahas masalah hubungan mereka. Ia seharusnya pulang tepat waktu. Namun karna terlalu asik bekerja, Bimo terlambat tiga puluh menit dari waktu yang seharusnya ia pulang. Bimo segera membereskan semua peralatan kerjanya. Kemudian bergegas meninggalkan ruang kantornya. Sekilas Bimo melirik ke arah jendela ruangan kerja Jeslin. Kekasihnya sudah tidak ada di ruangan itu. Itu artinya Jeslin telah pulang sejak tadi. Bimo yang mengajak untuk bertemu dengan Jeslin, tapi ia juga yang justru terlambat datang. Bimo mempercepat langkah kakinya dan bergegas masuk ke dalam mobil. Ia terus melihat jam tangan selama perjalanan. "Jalannya dipercepat ya, Pak," pinta Bimo ke supirnya. Setelah itu, laju mobilnya pun menjadi lebih cepat. Bimo langsung melihat mobil Jeslin telah terparkir di halaman rumahnya. Gadis itu pasti sudah sejak tadi tiba dan telah berada di dalam. Bimo mulai berjalan memasuki rumahnya. Setelah membuka pintu, Bimo langsung mendapati Jeslin sedang terduduk di sofa ruang tamunya. Gadis itu langsung menghela nafas sambil jemari tangannya menunjuk ke arah jam. "Sorry. Aku telat. Tadi ada pekerjaan yang seharusnya ku selesaikan." Bimo memberi penjelasan, walau Jeslin belum memintanya. Bimo menaruh tas kerjanya di atas meja, lalu duduk di samping Jeslin. Seketika suasana langsung hening selama beberapa saat. "Kamu gak ada mau ngejelasin sesuatu gitu sama aku? Kayaknya di posisi aku... aku butuh ngedengerin penjelasan dari kamu." Nada bicara Bimo pelan, tapi tetap terasa ada emosi yang tertahan. Bimo menatap Jelsin dengan tajam. Jeslin masih terdiam beberapa saat, lalu menghela nafasnya... bersiap untuk mulai berbicara. "Sebentar lagi aku lulus kuliah. Sebelum mulai bisnis sendiri, aku mau cari pengalaman aja. Sekalian bisa memahami kesibukan kamu juga kan. Jadi bisa ngeliat langsung seberapa sibuknya kamu." Setelah mendengar jawaban Jeslin, Bimo mendengus kesal. Ia memegang keningnya. "Kenapa gak bilang ke aku?" "Emang kalo aku bilang duluan... kamu bakalan bolehin?" tanya balik Jeslin. "Terus itu jadi pembenaran kamu buat sembunyiin hal ini dari aku?!" Bimo mulai meninggikan suaranya. Ia mulai tidak bisa membendung emosinya. "Kenapa sih harus marah-marah? Ia aku tau kalo aku salah karna enggak kasih tau kamu. Cuma enggak bisa kali ini kamu biarin aku kerja di sana? Lagian niatku tuh enggak jahat kok." "Aku aja tuh enggak ngerti kamu itu lagi ngapain sih? Niat kamu itu apa? Otak aku bener-bener gak nyampe tau gak!" ucap Bimo dengan raut wajah frustasi. "Yah aku cuma mau kerja aja sambil paham lingkungan kerja kamu. Kan aku udah jelasin tadi di awal." "Kamu pikir itu masuk akal?! Aku udah berkali-kali bilang,.. aku gak mau kehidupan pekerjaan dicampur dengan kehidupan pribadi. Kamu masih gak ngerti-ngerti juga?! Setiap kali kerja... aku selalu fokus. Karna terlalu fokusnya, aku sampe suka telat respon chat atau jawab telepon dari kamu. Terus sekarang... kamu berani-beraninya masuk ke kantor aku? Kamu enggak paham watak aku sama sekali apa ya? Kenapa kamu melakukan sesuatu yang... kamu udah tau kalo aku gak bakalan suka. Kamu cinta gak sih sama aku?" Bimo memicingkan matanya. Amarah tergurat jelas di wajahnya. "Kalo kamu tega ngomong gitu sama aku... aku juga bisa tanya balik ke kamu kalo gitu. Kamu lebih cinta pekerjaan kamu kan daripada aku? Kerjaan kamu jauh lebih penting daripada aku! Bahkan hari ini aja kamu tadi tega bikin aku nunggu karna kamu asik sama kerjaan kamu itu. Dan sekarang... kamu marah sama aku karna keberadaan aku di kantor itu ngeganggu kerjaan kamu kan?!" "Kita udah pernah bahas soal itu. Aku cuma minta waktu selama 1 sampai 2 tahun buat fokus sama kerjaanku ini. Kamu sepakat soal itu kemarin. Dan sekarang kamu masih permasalahinnya?" Bimo mendengus kesal. Ia memegang keningnya. Pria itu benar-benar frustasi dengan situasi yang saat ini sedang dihadapinya. "Kamu bener-bener egois tau gak!" "Aku egois? Terus kamu apa? Apa kamu gak mikirin sedikit pun posisi aku ketika mutusin kerja di kantor? Apa jadinya kalo para karyawan tau kalo kamu itu pacar aku?! Kepikiran gak sama otak kamu itu! Apa kamu terlalu bodoh untuk paham semua yang aku ucapin selama ini? Makanya kamu enggak paham-paham." Bimo benar-benar hilang kendali. Amarahnya telah lepas tak terkendali. Ini kali pertama, Bimo benar-benar mengucapkan kata yang sangat keras kepada Jeslin. Jeslin tampak mulai meneteskan air matanya. Gadis itu mulai mengambil tasnya. Kemudian bangkit berdiri dan berjalan pergi meninggalkan rumah Bimo. Bimo hanya duduk terdiam. Ia tidak mencegah kekasihnya itu pergi. Pria itu hanya terduduk sambil memegang keningnya dengan raut wajah frustasi. Kali ini, mereka benar-benar bertengkar hebat. Luapan amarah Bimo begitu besar, hingga ia enggan untuk menahan langkah kekasihnya itu agar tidak beranjak pergi dari rumahnya. Bimo benar-benar tak habis pikir dengan tidakan Jeslin yang dirasa olehnya begitu kekanak-kanakan. Ia sangat tidak suka kehidupan pekerjaan dan pribadinya menjadi tercampur aduk begini. Gadis itu tampaknya belum memahami resiko yang akan dihadapi bila terus masuk ke kantornya sebagai karyawan. Namun Bimo sudah terbayang situasi konyol yang harus ia hadapi di masa depan. Bimo harus berpura-pura tidak mengenal baik Jeslin dihadapan karyawan yang lainnya. Ia harus bertindak layaknya orang asing dengan kekasih itu dihadapan orang-orang kantor. Jika tidak, gosip dan rumor tidak benar akan tersebar. Citra dirinya mungkin akan sedikit terpengaruh. Namun yang lebih membuatnya khawatir... mungkin ini akan berdampak buruk bagi Jeslin. Pikiran Jeslin mungkin tidak sampai sejauh itu. Bimo memutuskan untuk mengesampingkan rasa frustasinya itu. Ia berjalan menuju kamarnya. Selepas membersihkan diri dengan mandi, Bimo bersiap untuk langsung beristirahat. Ia ingin menenggelamkan perasaan negatifnya ini dalam tidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD