10. Air Mata

1090 Words
Jeslin menghempaskan tubuhnya ke kasur. Ia langsung membenamkan wajahnya ke bantal. Ini kali pertama ia dibentak oleh kekasihnya itu. Nada tinggi dan kalimat-kalimat keras yang tadi dilontarkan oleh Bimo masih terbayang dalam kepalanya. Karena itu, air mata masih tak berhenti mengalir dari sudut matanya. Jeslin belum pernah melihat Bimo semarah itu. Kini rasa sedih benar-benar merasuki hatinya. Jeslin masih terus menangis... hingga ia terlelap dalam tidur. Ketika waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, tiba-tiba Jeslin terbangun. Ia merasa bagian matanya terasa sakit. Gadis itu mulai mengambil cermin yang ada di atas meja dekat kasurnya. Ternyata matanya benar-benar bengkak. Mungkin karena efek terlalu banyak menangis. Jeslin mulai mengambil ponselnya. Ia mulai mencari kontak nomor Nura dan mulai meneleponnya. Ternyata temannya itu belum tidur, meski waktu sudah menunjukan hampir tengah malam. Nura menjawab panggilan telepon Jeslin dengan cepat. "Kenapa, Jes? Tumben banget lo call malem-malem begini," ucap Nura heran. "Nuraaaa......" Jeslin langsung menangis sedih lagi. Nura langsung panik mendengar suara tangisan Jeslin. "Lho... lo kenapa, Jes? Apa yang bikin lo nangis?" tanya Nura. "Gue berantem sama Bimo," jawab Jeslin singkat. Gadis itu masih terus menangis. "Berantem karna apa, Jes? Lo mau ceritain perkaranya sama gue kaga?" tanya Nura lagi. "Hari ini tuh hari pertama gue kerja di kantor dia. Bimo bener-bener marah banget pas tau. Dia sampe ngebentak gue dan ngucapin kalimat yang nyakitin banget." Jeslin bercerita sambil menangis terisak. "Waktu lo mutusin kerja di sana tanpa sepengetahuan Bimo... harusnya lo udah tau kan reaksi Bimo bakalan semarah itu?" "Yah tau. Nur. Cuma... gue gak pernah dimarahi Bimo. Jadi ya enggak bener-bener tau rasanya dimarahi dia tuh kayak gimana. Ternyata.... sedih banget. Dibentak dia aja gue udah mau nangis. Dia ngomong gue gak ada otaknya aja.... hati gue udah sakit banget rasanya. Kayak dihujam pedang tajam." Suara isakan tangis Jeslin semakin kuat. Gadis itu masih sangat sedih membayangkan pertengkaran dirinya dengan Bimo. "Bimo marah itu wajar, Jes. Gue juga bakalan ngamuk kalo jadi dia. Apalagi laki lo itu bener-bener gila kerja. Dia pasti kaget setengah mati ngeliat lo ada di tempat kerjanya. Jadi lo emang harus minta maaf yang bener sih ke dia. Karna udah ngelakuin hal yang dia gak suka. Lo juga gak minta ijin ke dia." ungkap Nura. "Emang kalo minta ijin... bakalan di kasih ijin? Enggak kan," balas Jeslin. "Yah tapi tetep... lo harusnya ngomong. Karna lo bakalan masuk ke area kerja dia. Apalagi dia direktur, Jes. Enggak lucu banget pacar direktur tiba-tiba ngantor di situ. Parahnya... Bimo enggak tau apa-apa. Jadi pasti wajah dia syok banget tadi." "Yah dia emang marah banget. Dia bilang tindakan gue ini kekanak-kanakan." "Emang kekanak-kanakan sih, Jes. Gue aja gak paham lo ngapain kerja di situ. Kayak gak ada tempat lain aja. Kalo cuma cari pengalaman, kan bisa di kantor Bokap lo. Ngapain pake acara di kantor Bimo," timpal Nura. "Kok lo gak ngebelain gue sih, Nur? Ngehibur gue gitu kek. Gue masih nangis terus ini," protes Jeslin. "Yaudah... lo tenangin diri dulu. Basuh muka pake air. Pasti mata lo bengkak kan? Atau mending mandi lagi aja sekalian. Biar seger," saran Nura. Jeslin menghapus air mata di pipinya dengan tangannya. "Gue emang belum mandi sih, Nur." "Dih... jorok banget lo!" "Yah gue gak mood buat mandi daritadi. Pengennya nangis mulu." "Buruan lo mandi. Abis itu istirahat. Besok kan lo harus kerja di sana. Hahahaha." "Sial. Yaudah gue tutup teleponnya. Thanks Nura!" Jeslin bergegas menghapus air mata yang tersisa di wajahnya. Gadis itu lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia membersihkan diri dan mengusap wajahnya agar tidak terlalu bengkak. Setelah itu, Jeslin bersiap untuk kembali beristirahat. *** Jeslin masih duduk di dalam mobilnya. Karena Jeslin tak ingin terlihat dengan mata sembab dan bengkak di hadapan teman-teman kantornya, maka ia memeriksa kondisi wajahnya dengan cermin yang ada di dalam tasnya. Selama beberapa menit, Jeslin memeriksa kondisi wajahnya. Setelah yakin, Jeslin memasukan kembali cermin itu, lalu keluar dari mobil. Jeslin mulai berjalan memasuki gedung kantor. Matanya sekilas melirik ruangan kantor Bimo lewat kaca ruangannya. Kekasihnya itu ternyata belum datang. Meja kerjanya masih tampak rapi, belum tersentuh. Jeslin lalu masuk ke dalam ruangannya. Ternyata masih belum ada yang datang. Ia orang pertama yang hadir di ruangan itu. Setelah menaruh tas, Jeslin langsung membuka tempat minumnya yang berisi ice coffee. Ia meneguk minumannya itu, lalu memakan sepotong roti yang sengaja ia siapkan. Jeslin tak sempat sarapan tadi. Tiba-tiba pintu terbuka. Ica ternyata telah hadir dan berjalan menuju meja kerjanya. "Halo, Jes. Wah lo udah nyampe toh." "Iya. Baru aja nyampe kok. Yang lain biasanya dateng mepet?" tanya Jeslin. "Enggak juga. Bu Clarina sih biasanya dateng pagi. Rumah dia kan di Tangerang soalnya. Cuma mungkin sekarang dia lagi kejebak macet." Ica tampak mulai menurunkan barang-barang yang dibawanya. "Oh gitu." "Lo naik apa tadi ke kantor, Jes?" tanya Ica. "Gue tadi bawa mobil," jawab Jeslin. "Wah... emang rumah lo dimana?" tanya Ica lagi. "Rumah gue di PIK. Lo?" Jeslin balik bertanya. "Gue di Bekasi. Tadi naik kereta gue. Wah... lo bener-bener anak orang tajir ya, Jes." Ica menatap takjub ke arah Jeslin. "Enggak kok. Enggak setajir itu. Keluarga gue berkecukupan kok. Di atas langit masih ada langit. Keluarga gue belum setajir itu." Jeslin mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan Ica. "Yah... rumah lo di PIK. Ngantor aja lo pake mobil. Kuliah juga di Universitas Pelita Bangsa. Itu udah tajir banget, Jes. Lo kenapa malah kerja jadi staff di sini dah. Gagal paham gue," ucap Ica. "Cari pengalaman, Ca. Fresh graduate nilai jualnya apa sih? Gue gak bisa banyak belagak kalo belum pernah punya pengalaman." "Yah masuk akal sih. Gue juga gitu. Ini tempat kerja pertama gue. Baru satu tahun kerja juga. Kalau experience gue dirasa udah cukup, gue juga bakalan cari tempat lain." Namun tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Clarina berjalan masuk dan duduk di kursinya. "Hari ini macet banget," ucap Clarina. "Nafas dulu, Bu," ujar Ica. Setelah selesai menaruh barang-barangnya, Clarina langsung menatap Jeslin. "Nanti kita ada jadwal meeting bareng Pak Bimo, Jes. Tadi pagi dia chat saya. Dia mau adain meeting tentang strategi brand awareness bareng saya, Rena, dan kamu." "Saya ikut, Bu?" tanya Jeslin dengan raut wajah terkejut. "Iya. Dia mau orang-orang yang berperan di media sosial buat ikut. Mungkin dia mau kasih arahan juga," jawab Clarina. "Baik, Bu. Jam berapa meeting nya?" "Jam 10.00, Jes." "Apa yang perlu saya persiapkan, Bu?" "Karena ini hari ke dua kamu bekerja... kamu cukup bawa diri aja bersama laptop dan buku catatan mungkin. Hahaha." Jeslin tersenyum. "Baik, Bu." Namun Jeslin langsung terdiam dengan kening berkerut saat itu. Bimo ingin dirinya ikut meeting... rasanya sebuah kejanggalan. Apalagi setelah pertengkaran hebat mereka kemarin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD