11. Meeting

955 Words
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh. Jeslin langsung membawa laptop dan buku catatannya, lalu berjalan keluar ruangan. Langkah kakinya mengikuti Clarina dan Rena yang sedang berjalan menuju ruang meeting. Kemudian memilih duduk di sebelah Rena. Jeslin tak mengerti kenapa ia harus ikut serta dalam meeting ini. Ia hanya seorang staff. Rasanya aneh jika ia harus meeting bersama direktur. Namun ia tidak berada dalam posisi bisa membantah. Tak berapa lama, Bimo telah memasuki ruangan itu. Pria itu sama sekali tak menatap Jeslin dan memilih langsung duduk di kursinya yang terletak di paling ujung, dekat papan whiteboard. "Clarina... you bisa mulai presentasi data yang saya minta tadi." "Baik, Pak." Clarina langsung berjalan ke depan dan mulai mempresentasikan bahannya yang telah muncul di layar. Jeslin hanya mendengarkan dan memperhatikan situasi meeting di sana. Sesekali ia melihat Bimo yang tampak fokus memperhatikan presentasi Clarina. Kekasihnya itu benar-benar tampak sangat fokus. Keningnya terlihat berkerut dengan raut wajah serius. Bimo tampak mengerahkan semua pikirannya pada pekerjaannya. "Thank you, Clarina." Bimo mempersilahkan Clarina untuk duduk. Clarina yang sudah selesai presentasi kini mulai kembali ke tempat duduknya. Bimo akhirnya memberikan arahan lebih lanjut sebagai tanggapan atas hasil presentasi Clarina. Kemudian tiba-tiba mata Bimo menatap ke arah Jeslin dengan raut wajah yang serius. Tatapan itu cukup membuat Jeslin menjadi sangat gugup. "Saya liat kita ada new member yang hadir di meeting. Welcome... Jeslin. Saya harap kamu bisa memberikan kontribusi yang baik bagi company kita. Bukan hanya sekedar bermain-main. Kita akan menilai kamu secara objektif. Jika not good, ya tidak akan lanjut setelah tiga bulan masa penilaian. Karna saat ini kita benar-benar sedang giat meningkatkan brand awareness di semua produk, Jadi saya harap kamu bisa mencurahkan semua perhatian dan kemampuan kamu." Walau nada bicara Bimo itu pelan, tapi Jeslin bisa merasakan ketajaman mulut kekasihnya itu. Tatapan mata Bimo juga tajam dengan raut wajah yang begitu serius. Jeslin bisa merasakan perubahan versi saat kekasihnya itu sedang menjadi Direktur. Begitu menakutkan. "Baik, Pak. Saya akan fokus dan meberikan yang terbaik. Tentu saya akan terus konsultasi bersama Bu Rena dan juga Bu Clarina," ucap Jeslin. Bimo langsung mengalihkan pandangannya ke Clarina. "Kita cukupkan meeting hari ini. Nanti kamu report semua progress project ke saya." "Baik, Pak," ujar Clarina. Bimo langsung berjalan pergi dari ruang meeting. Suasana ruangan juga menjadi hening selama beberapa saat. Clarina pun akhirnya mulai membuka botol minumnya dan melepaskan dahaganya. Rena mulai tampak membereskan barang-barangnya. "Pak Bimo kok hari ini horor banget ya? Enggak kayak biasanya," ucap Rena. Clarina mengangguk setuju. "Meetingnya juga dadakan. Dan tadi dia gak ada senyum sama sekali hari ini. Biasanya kan dia selipin jokes gitu." "Pak Bimo juga horor banget ke Jeslin. Dia gak pernah sekeras itu sama anak baru. Pake kasih warning segala pula," timpal Rena. Clarina langsung mendekati Jeslin dan memegang pundaknya. "Pak Bimo biasanya enggak gini sih, Jes. Cuma lo ambil positifnya aja. Selama tiga bulan ini, lo usahain kasih yang terbaik buat company." "Pak Bimo mungkin lagi haid? Hahaha," canda Rena. Jeslin dan Clarina langsung tertawa. "Iya. Paham kok. Thanks ya Bu Clarina dan Mbak Rena. Aku juga ambil dari sisi positifnya aja kok." "Good girl. Oke, kita cabut kalo gitu. Udah mau istirahat juga ini," ucap Clarina. Jeslin langsung membawa laptop dan buku catatannya, lalu mengikuti langkah Clarina dan Rena yang sedang berjalan menjuku ke ruangan kerja mereka. *** Jeslin sengaja makan sendiri hari ini. Ia butuh waktu untuk menyendiri. Rasanya ia terlalu malas untuk berbincang dengan rekan-rekan kerjanya di kantin kantor. Ia memilih untuk menghabiskan waktu makan siangnya di kafe yang tak jauh dari gedung kantornya. Di hadapan Jeslin sudah ada kwetiau goreng dengan segelas es jeruk. Jeslin makan dengan lahap sembari merenung tentang hubungannya dengan Bimo. Kekasihnya itu benar-benar dingin dan menyeramkan hari ini. Bahkan ketika di meeting tadi, Bimo hampir tidak menatapnya. Jeslin bisa merasakan bahwa kekasihnya itu benar-benar marah padanya. Sikap dingin Bimo cukup membuat Jeslin sedih. Tatapan tajam dan ucapannya yang keras tadi meeting, sungguh membuat hatinya terluka. Bimo benar-benar menunjukan sisinya sebagai direktur hari ini. Tidak ada kelonggaran bagi Jeslin, meskipun ia adalah kekasihnya. Jeslin masih termenung sembari menyantap makan siangnya. Ia masih bingung bagaimana cara meredakan amarah Bimo. Ia sudah tidak berkomunikasi lagi sejak pertengkaran kemarin. Di sisi lain, Jeslin masih enggan untuk memulai komunikasi terlebih dahulu. Apalagi ketika ia tahu bahwa amarah kekasinya itu masih memuncak. "Ngapain lo sendirian di sini?" Jeslin terkejut ketika bahunya ditepuk secara tiba-tiba dari belakang. Ketika ia menoleh ke arah belakang, orang itu adalah Fadlan. Pria itu tertawa terkekeh ketika merasa berhasil membuat kaget Jeslin. "Lo bikin gue kaget aja!" protes Jeslin. "Sorry. Hahaha. Gue boleh duduk di sini?" tanya Fadlan sambil menunjuk kursi yang ada di hadapannya. Jeslin mengangguk tanda memperbolehkan Fadlan untuk duduk di hadapannya. Pria itu langsung duduk setelah Jeslin mengijinkannya. "Lo cuma minum kopi? Enggak makan?" Jeslin bertanya karena ia melihat Fadlan hanya membawa cup coffee. "Gue udah kelar makan dari tadi. Gue duduk di sana tuh. Dan gue ngeliat lo yang lagi makan sendirian. Wajah lo lagi sedih amat gue tengok. Kenapa lu?" Fadlan menyeruput kopinya. "Enggak papa kok. Gue cuma lagi mau makan sendirian. Bukan karna lagi sedih," sanggah Jeslin. "Oh gitu. Berarti gue ganggu lo dong? Kan lo mau sendirian. Hahaha." "Yah.... udah mau kelar ini makannya. Jadi gak papa. Lo kenapa sendirian?" "Lagi pengen aja makan sendirian. Emang gak boleh?" "Yah bukan gak boleh... cuma aneh aja. Biasanya kan cowok suka makan rame-rame bareng temen nongkrongnya." "Mungkin gue bukan cowok pada umumnya? Hahaha." Mata Jeslin tiba-tiba terbelalak ketika ia melihat Bimo membuka pintu kafe itu dan berjalan masuk menuju kasir untuk memesan menu. Jeslin tidak menyangka akan kemunculan kekasihnya itu secara tiba-tiba. "Lo kenapa, Jes?" tanya Fadlan. "Eh... ehm..." Jeslin masih terkejut hingga tergagap menjawab pertanyaan Fadlan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD