12. Situasi Tak Terduga

1013 Words
"Jes... lo kenapa bengong deh?" tanya Fadlan bingung. Jeslin meminum es jeruk miliknya. Ia berusaha untuk menetralkan ekspresi wajahnya. "Enggak papa kok. Tiba-tiba kepikiran ada pekerjaan yang belum di kerjain." "Terus gimana?" "Aman kok." Jeslin berusaha melihat Bimo dari sudut matanya. Ia cukup terkejut melihat kemunculan Bimo secara tiba-tiba. Padahal ia tidak melakukan sesuatu yang salah, tapi entah kenapa ia menjadi sangat gugup. Mungkin karena posisinya yang saat ini sedang bersama Fadlan, bisa rawan membuat Bimo menjadi salah paham. Namun, ia tidak sedang berselingkuh. Pertemuannya dengan Fadlan juga bukan sesuatu yang direncanakan. Ia dan Fadlan bertemu secara kebetulan. Karena itu, ia seharusnya tidak perlu merasa bersalah. "Jes... itu Pak Bimo kan?" tanya Bimo sambil menunjuk ke arah kasir. Jeslin mengangguk. "Sepertinya begitu." Jeslin melihat ke arah belakang. Bimo tampak membeli segelas kopi yg dikemas untuk take away. Itu artinya, Bimo tidak meminumnya di kafe ini. Namun pria itu hendak meminumnya di ruang kantornya. "Wah dia beli kopi di sini juga toh. Gue pikir dia bakalan beli kopi mahalan. Ternyata sama aja kayak gue. Hahaha. Dia udah kelar tuh, Jes. Kita harus nyapa kalo ternyata dia ngeliat ke arah sini," ucap Fadlan. Sesuai dengan perkataan Fadlan, ternyata Bimo memang melirik ke arah mereka. Fadlan langsung menyapa dengan sopan. "Halo, Pak. Bapak beli kopi?" "Iya, Nih. Saya lagi pengen ngopi dan sengaja beli yang deket-deket aja. Kalian makan siang bareng?" tanya Bimo sambil melihat meja Fadlan dan Jeslin. "Kebetulan aja bareng. Tadi saya liat Jeslin lagi makan sendirian. Jadi saya nimbrung aja ke meja dia sambil ngopi. Hahaha," jawab Fadlan. "Oh gitu. Saya pamit duluan ya. Ada pekerjaan yang harus saya lakukan." "Baik, Pak. Bentar lagi kita juga bakalan balik ke kantor," ujar Fadlan. Bimo tersenyum ke arah Fadlan, lalu berjalan pergi meninggalkan kafe itu. Setelah Bimo menghilang dari pandangan mereka, Fadlan langsung menepuk Jeslin. "Kok lo gak nyapa Pak Bimo sih. Dia direktur kita. Lo lupa apa gimana?" tegur Fadlan. Jeslin kembali menyeruput es jeruknya. "Kan lo udah ajak ngobrol. Udah cukup lah itu." "Yah setidaknya lo senyum dikit gitu lho, Jes." "Emang menurut lo si Pak Bimo itu tipe orang kayak apa?" "Ehm... gue gak tau banyak sih. Gue kan cuma IT Support doang. Jarang ketemu dia juga. Kecuali jaringan dia lagi bermasalah, Baru deh gue ke ruangan dia buat benerin. Sejauh ini sih dia baik ke karyawan. Walaupun dia masih muda ya, tapi wibawa dan ketegasannya tuh berasa. Cocoklah jadi direktur." "Oh gitu. Iya sih. Gue juga ngerasa gitu," ucap Jeslin. "Cuma... kenapa dia kaga nikah ya? Dia udah tajir. Umur juga udah cukuplah. Apa karna gak punya pacar? Hahaha Dia sibuk banget kerja kan. Kalo gue jadi pacarnya sih... gue udah ngambek. Cewek kan ribet." Jeslin mengangguk setuju. "Wajar kan kalo ceweknya ngambek. Kalo pacarnya sesibuk itu." "Iya, Makanya dia mendingan pacaran sama orang kantor aje... atau sama partner bisnis. Biar bisa pacaran sambil kerja." Jeslin menghela nafas setelah mendengar perkataan Fadlan itu. "Kita balik yuk. Waktu istirahat juga udah mau habis soalnya." Jeslin menunjukan jam di layar ponselnya. Fadlan mengangguk setuju. "Lo baik naik apa emang?" "Gue bawa mobil." "Canggih banget lo, Makan siang aja pake naik mobil. Mending satu motor sama gue. Hahaha." "Yah kan kita ketemu juga gak direncanakan. Gue juga gak bisa mengendarai motor." "Berarti lain kali se-motor aja kita?" Fadlan tersenyum sambil menatap Jeslin. "Hah? Gue bawa mobil. Ngapain pake nebeng ke motor lo." Jeslin geleng-geleng kepala, lalu mulai beranjak dari kursinya. Jeslin berjalan keluar dari kafe itu dan menuju mobilnya. "Yah siapa tau lo mau makan siang bareng gue, Jes. Hahahaha." Fadlan tertawa terkekeh sambil mengikuti langkah Jeslin. "Ah... ada-ada aja lo." "Lho masalahnya apa? Emang lo udah punya pacar? Pacar lo marah?" Fadlan langsung menahan pintu mobil yang hendak di tutup oleh Jeslin. "Menurut lo tampang kayak gue... bisa jomblo?" Jeslin tersenyum, lalu melepaskan tangan Fadlan dari pintunya agar bisa ditutup. Setelah itu, ia langsung memacu laju mobilnya untuk kembali ke kantor. *** Bimo Tadi ngapain sama Fadlan? Jeslin membaca pesan dari Bimo di ponselnya, setelah ia selesai memarkirkan mobilnya. Ternyata pria itu tetap peduli padanya, walau masih dalam posisi dibalut amarah. Jeslin memutuskan membalas pesan kekasihnya itu. Sejak pertengkaran kemarin, ia sama sekali tidak ada komunikasi sama sekali. Jeslin Tadi kebetulan bareng aja. Karna dia makan siang di sana. Yah kayak yang dijelasin Fadlan tadi. Bimo Jangan sampe ada rumor di kantor. Aku gak mau situasi ini bertambah kacau. Kalo orang-orang tau kamu itu pacar aku dan malah makan siang sama pria lain, pasti bakalan ada rumor yang aneh-aneh. Jeslin benar-benar kesal membaca respon pesan Bimo itu. Lagi-lagi yang terpenting buat pria itu hanyalah pekerjaan. Jeslin pikir Bimo akan sedikit cemburu melihatnya tadi bersama Fadlan. Ternyata yang ia pikirkan hanya situasi pekerjaannya. Pria itu hanya menganggap keberadaan dirinya hanyalah sebuah gangguan. Jeslin memutuskan mengabaikan pesan Bimo. Ia enggan membalas pesan itu. Ia terlalu malah untuk menyulut pertengkaran dan memilih untuk diam. Jeslin berjalan kembali ke ruangannya. Ia mengabaikan Bimo yang sedang menatapnya dari kaca ruangan direkturnya itu. "Gimana makan siangnya, Jes?" tanya Ica. "Good kok," jawab Jeslin singkat. "Tumben banget lo gak mau makan siang bareng," ucap Fiona. "Lagi pengen aja sendirian. Hitung-hitung me time," ujar Jeslin. "Besok bawa bekel yuk? Jadi makan di pantry aja kita," usul Ica. "Setuju!" seru Fiona. Jeslin tersenyum sambil mengangguk setuju. Selama ia bekerja di kantor ini, Jeslin belum pernah membawa bekal. Ia selalu makan diluar. Rasanya mungkin akan seru untuk bertukar bekal dengan teman-teman kantornya. "Lo mau ikutan bawa bekal gak, Jes?" tanya Ica. "Ikutan dong," jawab Jeslin. "Kita sih bakalan ngerampok bekal Jeslin sih. Karna pasti enak banget hahahaha," ujar Ica. "Ah... karna lo berencana bawa bekal indomie kan, Ca?" canda Fiona. "Enak aja! Gue bakalan bawa hasil masakan sendiri." "Wah... kalo itu sih gue gak bakalan mau nyicip. Hahaha," ledek Fiona. "Kurang aja lo yaakk!" Ica tertawa. Jeslin tertawa melihat tingkah teman-teman seruangannya. Ternyata bekerja kantoran tidak seburuk yang ia kira. Pekerjaannya memang terkesan membosankan bagi Jeslin, tapi lingkungan kerjanya terasa nyaman bagi Jeslin. Rekan-rekan kerjanya sering mengajaknya mengobrol. bercanda, dan berkumpul. Mungkin karena itu, Jeslin mulai merasa nyaman kerja di sini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD