"Bi... besok pagi tolong siapin bekal makan siang aku ya." Jeslin langsung meneguk air dingin setelah sampai di dapur. Rasanya begitu melelahkan selama perjalanan pulang. Sore ini jalanan benar-benar sangat macet.
"Non mau dimasakin apa buat bekal besok?"
"Ehm... apa ya, Bi. Mungkin nasi kuning dengan rendang daging sapi, tempe orek, telor balado, dan sayur urap kali ya, Bi. Itu aja sih," ucap Jeslin.
"Baik, Non. Itu saya siapin buat berapa porsi?"
"Buat aku doang sih, Bi. Cuma lebihin aja porsinya. Mungkin temen-temen aku bakalan minta."
"Oke, Non. Di meja makan udah Bibi siapin makan malam buat Non."
"Makasih Bibi."
Jeslin langsung menuju ke ruang makan. Ada beberapa menu yang sudah tersaji di meja makan. Jeslin langsung mengambil nasi, ayam goreng, dan sayur capcay dengan porsi yang secukupnya. Ia masih menjaga tubuh sehingga makan tidak dengan porsi yang berlebih, apalagi ini sudah malam.
Ketika Jeslin sedang menyantap makan malamnya, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia bisa melihat dari layar notifikasi bahwa ada pesan baru yang masuk. Jeslin bisa melihat nama Bimo dari notifikasi layarnya. Namun ia memilih untuk mengabaikan pesan itu sebentar dan menuntaskan makan malamnya. Ia ingin sejenak istirahat dan enggan membuat dirinya terpancing emosi saat sedang menyantap makanannya.
Walaupun Jeslin belum melihat isi pesan dari Bimo itu, tapi ada potensi bahwa emosinya akan terpancing. Karena sejak pertengkaran mereka di rumah Bimo yang terakhir kali, Jeslin benar-benar sangat jarang berkomunikasi dengan Bimo. Ia juga tidak mencoba untuk menghubungi kekasihnya terlebih dahulu. Jeslin memilih untuk menyibukan diri dengan aktivitasnya sendiri.
Bimo
Besok sehabis pulang kerja, kamu ke rumah aku. Kita bahas lagi masalah kita.
Jeslin membaca pesan Bimo itu setelah selesai makan. Ia mendengus kesal setelah membaca pesan itu. Kemudian Jeslin memilih untuk menelepon kekasihnya itu daripada membalas pesannya. Bimo ternyata tidak membuat Jeslin menunggu terlalu lama. Panggilan telepon darinya itu langsung dijawab.
"Kamu lagi dimana?" tanya Jeslin tanpa berbasa-basi.
"Aku masih di kantor," jawab Bimo.
Jeslin menghela nafasnya. "Ini tuh udah malam dan kamu masih di kantor?"
"Iya. Masih ada pekerjaan yang harus dikelarin soalnya."
"Oke. Kalo sekarang aja kamu masih di kantor, terus kenapa kamu nyuruh aku ke rumah kamu besok?"
"Iya. Besok aku bakalan pulang tepat waktu buat ketemu kamu."
"Apa jaminannya kamu bisa tepat waktu? Kemarin-kemarin aja kamu itu selalu telat. Alhasil, aku yang harus nungguin kamu lama. Bengong-bengong di rumah kamu."
"Yaudah... jadi kamu maunya apa?"
Jeslin menghela nafas kesal. Ia tak habis pikir harus menjelaskan dengan detail apa keinginan dirinya. Bimo benar-benar bukan makhluk yang peka.
"Kamu yang dateng ke rumah aku. Bukan aku yang harus dateng ke rumah kamu."
"Oke. Baiklah. Besok aku samperin ke rumah kamu."
"Oke."
Jeslin meletakan ponselnya dengan keras di atas meja. Ia lalu meneguk air dingin hingga gelasnya itu kosong. Berharap dinginnya air es bisa meredam emosi hatinya. Kekasihnya itu benar-benar gila kerja. Jeslin tidak menyangka bahwa workaholic Bimo bisa membuat dirinya merasa terasing secara perlahan.
***
"Waktunya istirahat guys!" seru Ica.
"Ayo kita makan siang!" Fiona berseru tak kalah nyaring.
"Lets go!" Jeslin tak kalah antusiasnya.
Jam sudah menunjukan pukul dua belas siang. Ica dan Fiona tampak bersemangat membawa bekal makan siang masing-masing menuju pantry. Jeslin berjalan di belakang mereka sambil tersenyum. Ia ikut antusias menyantap bekal makan siangnya bersama Ica dan Fiona. Clarina dan Rena tidak ikut serta karena mereka masih ada yang harus dikerjakan untuk meeting siang ini. Clarina dan Rena memilih makan siang praktis berupa sandwich yang bisa dimakan sambil bekerja.
Kantor ini menyediakan kantin dan pantry untuk para karyawan. Namun kali ini yang mereka butuh adalah menuju pantry. Setelah sampai, ternyata ada banyak karyawan yang sudah di sana. Beruntung mereka masih bisa mendapatkan satu meja yang kosong. Setelah duduk, mereka langsung bersemangat membuka bekal masing-masing.
"Lo bawa bekal apaan tuh, Ca?" Fiona melirik ke arah bekal Ica.
Ica membuka kotak bekal miliknya. "Gue cuma bawa nasi ayam penyet dan ketimun aja buat lalapannya. Gue lagi pengen makan yang pedes."
"Ini cabenya sih emang menggiurkan. Gue bawa nasi goreng ayam pake telor ceplok aja." Fiona menunjukan bekal makan siangnya.
"Lo bawa apa, Jes? Tempat bekal lo kayak mini rantang dah. Sampe dua tingkat begitu," tanya Ica.
Jeslin memang belum menunjukan bekal miliknya. Seketika ia merasa menu bekal makan siangnya tampak berlebihan. Namun ia tetap harus membuka dan memakannya. "Gue bawa ini guys. Kalo kalian mau makan... ambil aja. Gue sengaja bawa lebih banyak porsinya buat sharing sama kalian," ucap Jeslin sambil membuka tempat bekalnya.
"Waaahhh!" seru Ica.
"Lo abis hajatan ape gimane nih, Jes? Udah hampir kayak nasi tumpeng ini. Tinggal lo cetak kerucut aja nasinya," ujar Fiona.
Jeslin tertawa. "Iya juga ya. Gue juga gak kepikiran ini kayak nasi tumpeng."
"Lo beli apa bikin sendiri? Gila sih lo bawa rendang segala. Lo beli di rumah makan padang kan?" Ica tampak takjub.
"Gue enggak beli dan gak bikin sendiri. Cuma... Mbak di rumah yang masakin bekal gue ini," jawab Jeslin.
"Gila... enak banget hidup lo. Jes! Tinggal nyuruh pembantu kalo mau makan apaan," ucap Ica dengan raut wajah iri.
"Gue boleh bagi rendang lo kaga, Jes?" Fiona tergiur melihat menu bekal Jeslin.
Jeslin langsung menyodorkan bekalnya ke Fiona dan Ica. "Kalian bisa ambil apa pun yang kalian mau."
"Wah... Thanks, Jes!" Fiona langsung mengambil sepotong daging rendang.
Ica juga mengambil sepotong daging rendang dan telor balado dari kotak bekal Jeslin. "Thank you, Jes!"
"Sama-sama, guys. Ayo makan-makan."
Jeslin langsung menyantap makan siangnya bersama Fiona dan Ica. Sesekali Jeslin juga menyicip menu bekal Ica dan Fiona. Ia takjub dengan nasi goreng buatan Fiona. Ternyata masakan Fiona benar-benar enak.
Mereka menikmati makan siangnya dengan lahap sembari sesekali saling berbincang. Suasana pantry benar-benar ramai dengan suara karyawan saling bercengkrama. Waktu makan siang adalah masa dimana karyawan bisa rehat sejenak, menikmati makanan, sambil berbincang santai dengan sesama rekan kerja.
Namun di tengah karyawan-karyawan sedang nikmatnya menyatap makan siang mereka, tiba-tiba Bimo masuk ke ruang pantry dan duduk di sebelah Fiona. Karena memang meja yang kosong hanya tersisa di sana saja.. Seketika suasana ruangan tidak seramai sebelumnya. Karyawan mulai berbincang dengan nada pelan. Tak seheboh sebelumnya.