Ini kali pertama Jeslin makan bersama Bimo di pantry kantor. Ia duduk bersebelahan dengan Bimo, tapi terasa seperti orang asing. Ia tak bisa menunjukan kedekatannya dengan Bimo, karena saat ini sedang berada di kantor dan ada banyak karyawan di sekeliling mereka. Terutama ada Ica dan Fiona yang saat ini ada di hadapannya.
"Bekal kalian keliatan enak ya," ucap Bimo sambil mengunyah bekal makanannya.
"Bapak mau nyicip bekal kita?" Ica langsung menawarkan bekal miliknya.
Bimo langsung menggelengkan kepala sambil tertawa. "Enggak. Saya cuma komentar doang. Bukan berarti mau bekal kalian, Hahaha."
"Yah kirain Bapaknya tuh mau," timpal Fiona.
Jeslin melirik ke arah bekal Bimo. Kekasihnya itu membawa spaghetti bolognese dengan topping keju di atasnya. "Pak Bimo masak sendiri bekalnya?" tanya Jeslin iseng.
Bimo tersenyum tipis. "Enggak. Ada pembantu yang masakin buat saya."
"Oh gitu." Jeslin melanjutkan menyantap makan siangnya.
Mereka melanjutkan menyantap makan siang masing-masing tanpa saling berbincang lagi. Jeslin juga melihat karyawan-karyawan lainnya melakukan hal yang sama. Mungkin karena Bimo ada di sana, mereka jadi segan untuk berbincang, apalagi dengan nada suara yang keras.
"Besok kita nonton yuk! Ada film baru yang keluar," usul Ica yang memecahkan kesunyian ruangan itu.
"Maksud lo film horor itu?" tanya Fiona.
Ica menangguk antusias. "Seru kan? Kayaknya film horor tuh lebih seru di tonton bareng sama temen. Dibandingkan sama pacar."
"Bilang aje pacar lo penakut, Ca. Hahahaha," ledek Fiona.
"Enak aja! Emang gue lagi mau nonton bareng temen. Jadi pada mau kaga nih?" Ica tampak sudah menyelesaikan makan siangnya. Sembari menutup kotak bekalnya, ia melihat ke arah Fiona dan Jeslin, menunggu respon jawaban dari mereka.
"Lo gimana, Jes? Lo mau nonton bareng kita... atau nonton bareng pacar? Eh... lo punya pacar gak sih?" tanya Fiona.
Bimo langsung tersedak saat mendengar pertanyaan Fiona itu. Jeslin dengan sigap membuka botol minuman Bimo lalu memberikannya ke pria itu.
"Pelan-pelan makannya, Pak. Enggak usah grogi gitu," ucap Jeslin sambil geleng-geleng kepala.
"Saya cuma tersedak aja kok. Mungkin karna pengen cepet-cepet kelar makan. Karna ada pekerjaan yang harus segera dikerjain," jawab Bimo.
Jeslin tersenyum mendengar alasan Bimo itu. "Oh gitu, Pak. Yaudah pelan-pelan aja."
"Thank you," ucap Bimo.
"Jadi gimana, Jes?" tanya Ica.
"Gimana apanya? Nonton film? Yaudah gue ngikut aja. Nanti kita nonton bareng," jawab Jeslin.
"Yess!" seru Ica.
"Lo gak mau nonton bareng pacar gitu, Jes?" tanya Fiona.
"Ah... dia sibuk. Pasti gak bakalan bisa gue ajak nonton," jawab Jeslin sambil meneguk air minumnya. Jeslin bisa merasakan lirikan tajam Bimo, walau wajah mereka tidak saling menatap.
"Wah... berarti lo punya pacar? Dia kerja dimana, Jes?" tanya Fiona penasaran.
"Lo kepo banget, Fio," ujar Ica sambil geleng-geleng kepala.
"Emang lo gak penasaran?" tanya Fio.
"Penasaran sih. Lo mau jawab, Jes?" tanya Ica.
Jeslin menggaruk kepala yang sebenarnya tak terasa gatal itu. "Dia kerja sebagai karyawan yang pasti. Hahaha."
"Ya iyalah. Enggak mungkin dia direktur, apalagi CEO kan? Eh... apa mungkin? Hahaha," canda Fiona.
Jeslin tertawa. "Kenapa kalian mikirnya gitu deh."
"Yah siapa tau aja, Jes. Tampang lo cakep. Lo juga kayaknya tajir. Hahaha. Siapa tau kan cowok lo itu direktur? Hahaha," ucap Fiona.
"Ah... makin ngaco aja lo. Balik yuk. Udah pada kelar makan kan?" Jeslin melirik ke arah bekal Fiona dan Ica. Mereka tampak sudah menyelesaikan makan siangnya. Kotak bekal mereka sudah tidak ada lagi sisa makanan.
"Yaudah. Ayo kita balik. Pak Bimo... kita pergi duluan ya, Pak." Fiona berpamitan dengan sopan ke Bimo.
"Iya, Pak. Kita duluan ya, Pak." Ica ikut berpamitan dengan Bimo.
"Saya juga, Pak. Selamat melanjutkan makan siangnya," ucap Jeslin. Ia melirik ke arah kotak bekal Bimo. Pria itu masih belum menyelesaikan makan siangnya. Botol minumnya yang berisi jus jeruk juga masih belum habis.
Bimo tersenyum dan membalas dengan ramah. "Iya. Gak papa."
Jeslin, Fiona, dan Ica mulai berjalan pergi setelah Bimo mempersilahkan mereka untuk meninggalkan pantry. Ketika langkah kaki mereka telah menjauh, Fiona dan Ica tampak menghela nafasnya.
"Kalian kenapa?" Jeslin tak mengerti alasan dibalik reaksi tak biasa ke dua temannya itu.
"Gila! Lo kaga gugup apa duduk di sebelah Pak Bimo?!" seru Ica.
"Iya, Jes? Gila sih. Gue gak pernah ngebayangin duduk di sebelah dia!" Fiona tak kalah histerisnya.
"Kalian ini kenapa sih? Bingung gue," ucap Jeslin dengan raut wajah masih tak mengerti.
"Yah makan bareng direktur siapa sih yang nyangka, Jes. Pak Bimo tuh jarang banget ke pantry atau kantin," ujar Ica.
"Lah terus dia makannya gimana? Makan diluar?" tanya Jeslin.
"Kebanyakan sih dia makan di ruangan. Katanya sih... gue gak tau pasti juga ya... Pak Bimo tuh kebanyakan makan roti atau sandwich. Jadi dia bisa makan sambil kerja. Paling keluar kalo mau beli kopi aja," jawab Fiona. Ica ikut mengangguk setuju dengan perkataan Fiona.
"Wah... dia benar-benar gila kerja!" Jeslin takjub dengan apa yang baru saja didengarnya. Bimo benar-benar sangat berkutat dengan pekerjaannnya. Bahkan untuk sekedar makan siang saja, kekasihnya itu ternyata juga tak mau meluangkan waktu.
"Parah, Jes. Pak Bimo itu berangkat pagi, tapi pulang paling malam di kantor," timpal Ica.
"Guys... masih ada sisa sepuluh menit nih. Lumayan buat kita sekedar rebahan. Sebelum balik kerja lagi. Huaaa!" Fiona langsung bersandar di kursinya setelah sampai di ruangan kerja mereka.
Ica juga mengikuti Fiona. Gadis itu juga beristirahat sejenak di kursi kerja miliknya. Namun Jeslin tampak duduk termenung di kursinya sembari menunggu waktu istirahat berakhir. Setelah beberapa saat bekerja di kantor Bimo, ia bisa merasakan bahwa kekasihnya itu benar-benar bekerja keras.
"Jes... kamu udah kelar makan siang kan?" tanya Clarina yang tiba-tiba muncul di hadapan Jeslin.
Jeslin yang tadinya masih duduk santai bersandar, ia akhirnya kembali menegakan duduknya. "Udah, Bu, Kenapa, ya?"
"Saya butuh bantuan kamu. Ini masih jam istirahat sih. Cuma saya butuh bantuan kamu untuk segera take beberapa video. Saya butuh itu untuk materi bahan meeting saya," ucap Clarina.
Jeslin bisa melihat wajah kepanikan dari Clarina. Ia bisa merasakan urgensi dari permintaan tolong atasasannya itu. Jeslin pun akhirnya mengangguk setuju. "Boleh, Bu. Lagian waktu istirahat juga tinggal bentar lagi. No problem. Kita mau take video dimana?"
Clarina tampak menghela nafas lega. "Kita ke ruang meeting ya, Jes."
"Baik, Bu." Jeslin langsung beranjak dari kursinya dan berjalan mengikuti Clarina menuju ruang meeting.