Jeslin langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu setelah tiba di rumah. Rasa lelah benar-benar terasa di sekujur tubuhnya. Ia bahkan tak sanggup untuk beranjak dari sofa dan memilih untuk rebahan selama beberapa waktu. Tubuhnya sangat lelah karena seharian ini ada banyak pekerjaan yang telah ia selesaikan. Apalagi Clarina meminta bantuan untuk take dan edit video hingga di penghujung akhir jam kerja. Energi Jeslin benar-benar terkuras saat ini.
"Non enggak makan dulu? Bibi udah masak tadi," ucap Bi Rina.
"Bibi masak apa emang?" tanya Jeslin dengan mata terpejam.
"Ada ayam goreng dengan sayur capcay, Non. Kalo mau dibikinin jus bilang aja. Nanti Bibi bikinin."
"Oke, Bi. Nanti aku makan. Oh ya, nanti Bimo bakalan dateng. Kalo dia udah dateng, Bibi langsung bikinin kopi aja ya," ucap Jeslin.
"Baik, Non." Bi Rina menganggukan kepala tanda mengerti dengan permintaan Jeslin.
Jeslin kembali beristirahat di atas sofa setelah Bi Rina pergi dari ruang tamu. Ia duduk berbaring di sofa dengan mata terpejam. Berusaha meredam rasa lelahnya sejenak.
Setelah rehat singkatnya di rasa cukup, Jeslin memutuskan untuk mandi dan membersihkan badannya terlebih dulu. Ia ingin lebih merasa segar sebeum menikmati makan malamnya. Jeslin pun langsung berjalan menuju ruang makan, setelah ia selesai mandi dan berias sederhana.
Seperti yang dikatakan Bi Rina, ayam goreng dan sayur capcay sudah tersaji di atas meja makan. Namun sebelum itu, Jeslin melirik ke arah jam dinding. Waktu telah menunjukan pukul tujum malam. Jeslin langsung menyentuh ponselnya, lalu menekan call pada kontak nomor Bimo. Pria itu ternyata langsung mengangkat telepon darinya.
"Kamu tau sekarang jam berapa kan?" tanya Jeslin dengan nada sedikit tinggi.
"Iya. Aku udah kelar kerja kok. Bentar lagi bakalan ke rumah kamu," jawab Bimo.
Jeslin menghela nafas. "Untung kita janjiannya di rumahku. Kalo di rumah kamu... mungkin aku bakalan jadi batu gara-gara nungguin kamu."
"Iya. Ini udah mau jalan. Nanti kita ketemu di rumah kamu."
"Oke." Jeslin menutup panggilan teleponnya. Ia benar-benar kesal melihat tingkah Bimo yang selalu terlambat bila mereka ada janji bertemu. Pria itu sangat terlalu fokus bekerja, hingga Jeslin seringkali merasa terabaikan.
Jeslin memilih untuk mulai makan malamnya, sembari menunggu Bimo datang. Ia menikmati nasi dengan lauk ayam goreng dan sayur capcay yang ada di hadapannya. Ia membutuhkan energi yang lebih sebelum harus menghadapi perdebatan dengan Bimo.
Karena kekasihnya itu masih belum datang, Jeslin memutuskan untuk membuat jus strawberry dan pisang sembari ia menunggu. Ia menikmati jus itu sambil menonton TV di ruang tamu. Setelah jus itu habis, tiba-tiba ia mendengar suara mobil sedang terparkir di halaman rumahnya. Ia bisa menebak bahwa mobil itu milik Bimo.
Jeslin mematikan layar televisinya. Ia langsung membuka pintu rumahnya dan melihat Bimo sedang keluar dari mobil. Ia langsung kembali duduk di ruang tamu bersama dengan Bimo. Pria itu menaruh tas dan melepas jaketnya. Tak lama setelah itu, Bi Rina mengantarkan segelas kopi untuk Bimo sesuai dengan arahan Jeslin.
"Thank you, Bi." Bimo langsung menyeruput kopi itu.
Jeslin langung melihat ke arah jam dinding. "Sekarang udah pukul delapan malam," gumam Jeslin.
Bimo yang baru menyeruput kopi miliknya, pria itu langsung meletakan cangkirnya ke atas meja. "Iya. Maaf. Aku emang telat nyampe ke rumah kamunya. Sekarang giliran kamu... enggak ada permintaan maaf yang mau kamu sampaikan ke aku?"
Jeslin menghela nafasnya. Ia bisa merasakan ketajaman tatapan Bimo, walau ia tidak menatapnya secara langsung. "Iya. Aku minta maaf karna gak bilang soal kerja di kantor kamu."
"Ada lagi?"
"Iya. Tindakanku ini emang kekanak-kanakan."
"Ada lagi?"
"Kamu mau denger apa lagi? Menurutku, kesalahanku ya dua itu. Kalau kamu minta pengakuan dosa yang lain lagi... tell me salahku apa lagi?"
"Ehm... oke. Situasi kita saat ini benar-benar kacau. Kehidupan pekerjaan dan pribadiku tuh sekarang udah tercampur aduk. Aku bener-bener gak suka situasi ini. Sekarang aku tanya sama kamu... solusinya apa sekarang?" Bimo mengajukan pertanyaan lagi ke Jeslin.
"Kasih waktu aku satu tahun. Setidaknya sampai kontrak kerjaku habis. Setelah itu ya... aku gak bakalan kerja di tempat kamu lagi," jawab Jeslin dengan raut wajah serius.
Bimo menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. "Itu terlalu lama, Jeslin. Satu tahun? Kamu gila kalau aku harus terjebak di situasi ini selama satu tahun!"
"Lah... kamu aja minta waktu dua tahun buat fokus sama kerjaan kamu kan? Masa aku gak boleh minta waktu juga sih?" protes Jeslin.
"Yah buat apaan satu tahun di kantor aku coba? Kalo cuma buat cari pengalaman kerja... kan bisa di kantor Papa kamu. Enggak perlu di kantor aku!" Bimo memegang keningnya dengan raut wajah frustasi.
"Satu tahun doang, sayang. Aku cuma minta waktu satu tahun aja. Please... oke ya?" Jeslin merangkul manja lengan Bimo. Ia memasang wajah memelas sambil menatap wajah Bimo. Biasanya jurus ini selalu berhasil meluluhkan hati kekasihnya itu.
"Oke. Baiklah. Kamu janji ya cuma 1 tahun? kalo kamu ingkar janji... aku yg bakalan intervensi buat nge-cut kamu di kantor," tegas Bimo.
Jeslin mengangguk cepat dengan raut wajah antusias. "Iya! Aku janji! Cuma satu tahun aja kok."
"Tapi dengan satu syarat... hubungan kita jangan sampe ada yang tau. Kita harus kayak orang asing di kantor dan tetep jaga semuanya professional."
Jeslin kembali mengangguk setuju. "Iyalah. Kalo itu aku juga paham."
"Aku ragu kamu benar-benar paham. Karna kalo kamu paham... kamu enggak akan ngelakuin ini ke aku." Bimo kembali menghela nafasnya.
Jeslin langsung mempererat rangkulannya ketika melihat wajah frustrasi Bimo. "Iya. Aku paham kok sayang. Aku janji kok... enggak bakalan ada yang tau kalo kamu itu pacar aku. Tenang aja. Kamu tenang aja."
Jeslin berusaha meyakinkan Bimo. Gadis itu kembali menatap manja Bimo sambil tersenyum. "Aku janji kok. Beneran. Enggak bakalan ada yang tau," ucap Jeslin.
"Baiklah. Aku akan coba percaya sama kamu. Walaupun aku masih ragu sebenarnya," kata Bimo.
"Kamu tenang aja pokoknya," ujar Jeslin.
Tiba-tiba pintu terbuka. Jeslin langsung terkejut melihat Mamanya sudah pulang. Biasanya Mamanya itu pulang larut malam. "Mama udah pulang?" tanya Jeslin.
"Bimo... kamu lagi di sini toh!" Riana mengabaikan pertanyaan Jeslin dan memilih langsung menghampiri Bimo.
"Iya, Tante. Udah lama banget saya gak ke sini. Kangen juga sama Tante," ujar Bimo.
"Udah lama banget! Tante sampe ngira kalo kamu udah putus sama Jeslin. Hahaha," celetuk Riana.
Jeslin langsung memukul pelan pinggang Mamanya. "Mama sembarangan ya kalo ngomong!" protes Jeslin.
"Mama cuma bercanda, sayang. Kamu ketakutan amat putus sama Bimo. Hahaha," ujar Riana.
Bimo tersenyum. "Enggak kok, Tante. Akhir-akhir ini emang cuma lagi sibuk aja. Aku juga kangen sama Tante kok," ungkap Bimo.
"Kalo kangen mah... sering main dong ke sini. Tante jarang banget ngeliat kamu."
"Iya, Tante. Nanti aku main lagi ke sini."
"Udah ya, Ma. Jangan gangguin kita terus deh. Mama masuk ke dalem aja gih!" Jeslin mendorong pelan Mamanya agar pergi menjauh.
"Tau deh yang mau pacaran. Yaudah. Mama ke kamar aja kalo gitu. Tante masuk ke dalam ya Bimo," ucap Riana.
"Iya, Tante. Selamat beristirahat, Tante," ujar Bimo.
Setelah memastikan Mamanya telah pergi meninggalkan ruangan, Jeslin langsung menatap Bimo. "Kamu lapar gak? Mau dinner di sini?"
"Kayaknya aku dinner di rumah aja. Sekalian mau istirahat. Udah malem soalnya. Besok harus kerja lagi. Gak papa kan?"
"Iya. Gak papa. Aku paham kok."
"Ini beneran paham atau sebenernya enggak? Jangan sampe abis ini kita berantem lagi ya," tegas Bimo.
Jeslin tertawa. "Iya beneran. Capek ah ribut mulu. Hahaha. Yaudah kamu pulang aja. Aku juga mau istirahat."
"Oke. Baiklah kalo gitu. Aku pulang dulu ya. Bye." Bimo mengecup kening Jeslin.
Jeslin mengangguk setuju. Kemudian ia mengantar Bimo kembali ke mobilnya. Ia melambaikan tangan hingga mobil itu melaju pergi dan menghilang dari pandangannya.