19. Sate Maranggi

1156 Words
"Udah pesan, Bim?" tanya Clarina. "Udah. Lo?" tanya balik Bimo. Clarina mengangguk. "Gue pesen sama kayak lo. Sate maranggi. Kayaknya enak." "Lah emang menu utama tempat makan ini kan sate, Clar. Hahahaha. Gimana sih," ucap Bimo sambil tertawa. "Yah kan ada banyak jenis sate yang dijual di sini, Bim. Enggak cuma sate maranggi. Lo mabok kerja kayaknya. Jadi gak nyambung sama gue." Clarina geleng-geleng kepala. "Yeah.. maybe. Kerjaan emang gak ada habisnya," keluh Bimo. Tiba-tiba seorang pelayan membawa dua sate maranggi beserta nasi dan meletakannya di atas meja. Bimo dan Clarina langsung tampak tak sabar untuk menyantapnya. Seharian ini mereka sibuk meeting hingga tak sempat makan siang. "Thank you, Mbak," ucap Bimo. "Mari makan!" Clarina langsung menyantap sate yang ada di hadapannya. Bimo pun mulai makan dan menyantapnya dengan nikmat. Bimo dan Clarina makan bak dua orang yang sedang kelaparan. Mereka tidak saling berbincang dan hanya sibuk menikmati makanan. "Ah... kenyang!" seru Clarina sambil memegang perutnya. Bimo pun juga tampak sudah menghabiskan makanannya. "Ternyata enak juga sate di sini." Clarina mengangguk setuju, lalu menyeruput es teh manis miliknya. "View-nya juga bagus." Warung sate itu terletak di depan perkebunan teh. Karena itu, sepanjang mata memandang terhampar pemandangan hijau dari kebun teh. Langit yang mulai berubah menjadi senja pun menambah keindahan. Perpaduan antara langit yang mulai menguning dengan warna hijau dari kebun teh melukiskan pemandangan yang menyejukan mata. "Anggap aja ini reward atas kerja keras kita hari ini. Bener-bener penuh dengan meeting hari ini," ucap Bimo. "Bahkan gak sempet makan siang kita. Semoga proyek baru ini bisa ningkatin penjualan ya. Dan lo bisa jadi direktur yang sukses." Clarina menatap Bimo sambil tersenyum. "Tujuan gue tuh bukan jadi direktur yang sukses." "Iya, gue tau kok. Tujuan lo itu buat bikin orang tua angkat lo itu bangga. Mungkin dengan rasa bangga itu bisa sedikit ngebales kebaikan mereka. Gue masih inget cerita lo itu." Clarina masih menatap lekat Bimo sambil tersenyum. "Wah... kuat juga daya ingat lo ya. Gue pikir lo udah lupa. Karna ya gue ceritanya udah lama banget," ujar Bimo. "Gimana gue bisa lupa coba. Itu yang pertama kali lo sharing ke gue pas mulai bekerja di kantor ini." "Betul. Karena alasan itu juga gue minta lo buat bantuin gue dan kerja bareng gue." "Ehm..." Clarina tersenyum sambil kembali menyeruput es teh manisnya. "Lo bahkan jemput gue ke Amerika, kan? Hahaha. Sampe segitunya gue harus kerja bareng lo," ujar Clarina sambil geleng-geleng kepala. "Yah sekalian jenguk adik gue yang kuliah di Amerika juga. Cuma emang bener gue pengen lo kerja bareng gue. Setidaknya ada satu orang yang bener-bener gue bisa percaya di perusahaan." "Gue gak pernah bahas ini sih. Lo percaya gue karna kita pernah satu panti asuhan dulu?" tanya Clarina dengan raut wajah penasaran. "Maybe... yah lo temen gue lah. Kita masih sesekali komunikasi. Lo juga kompeten dibidang branding dan marketing. Jadi yah kenapa enggak gue ajak lo kan," jawab Bimo. "Kalo lo bilang kompeten... sebenarnya ya karena gue beruntung bisa ketemu orang tua angkat yang bisa kuliahin sampe S2 diluar negeri. Mereka bisa support semua kebutuhan gue buat belajar dan cari pengalaman. Gue beruntung... sama kayak lo." Bimo mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Gue beruntung banget memang. Banyak temen-temen kita yang bahkan gak bisa dapet orang tua angkat. Beberapa lagi bahkan malah bernasib malang. Mereka justru di eksploitasi orang tuanya. Karena itu... gue mau bales kebaikan mereka. Yah dengan cara... majuin perusahaan mereka." "Iya. Gue paham. Makanya gue mau bantuin dan kerja bareng lo. Walau sebenernya gue berencana mau buka usaha sendiri. Hahaha." "Thanks, Clar. Bantuin gue dulu selama beberapa tahun. Setelah itu, lo boleh buka usaha sendiri." "Lama amat beberapa tahun. Enggak bisa tahun depan apa?" Clarina pura-pura protes. "Tahun depan kan kita mau luncurin produk baru. Masa lo tega ninggalin gue sih!" Clarina tertawa. "Iya... iya. Gue bercanda doang kok. Hahaha. Pokoknya lo juga harus support gue kalo nanti gue bikin bisnis sendiri. Gue gak mau tau!" tegas Clarina. Bimo tersenyum. "Tentu dong. Gue pasti ngebales bantuan lo ini. Cuma gue gak bisa gantian kerja di tempat lo. Hahahaha Gue tetep harus ngurusin perusahaan ini." "Ya iya lah. Gue juga gak kuat ngegaji lo, Bim!" Clarina geleng-geleng kepala. Bimo melihat ke arah langit yang mulai menggelap. "Kita mau pulang atau minum teh hangat dulu?" "Boleh juga. Pesen satu cangkir teh hangat lagi aja. Mumpung lagi bisa bersantai di sini. Kapan lagi kan malam minggu bareng seekor Bimo. Hahaha." Bimo melirik kesal ke arah Clarina. Namun pada akhirnya, ia langsung memesan dua cangkir teh hangat ke pelayan. Mereka menikmati suasana yang terasa mulai seju, tapi juga mulai agak dingin. Clarina bahkan mulai memakai jaketnya. Setelah hidangan teh datang, Clarina dan Bimo mulai menyeruput teh hangat itu. Rasa hangat dari minuman itu mulai menghangatkan tubuh mereka di tengah suhu udara yang mulai terasa dingin. "Clar... gimana si anak baru di tim lo itu? Ehm... Jeslin ya namanya?" tanya Bimo. "Kenapa emangnya? Tumben lo notice staff," tanya balik Clarina. "Gak papa. Kalo lo nilai dia jelek, mendingan cut aja. Dia masih masa probation kan? Mending di cut aja, cari yang lebih tepat di posisi itu." "Tumben lo intervensi penilaian staff gue. Biasanya lo gak pernah ngurusin hal-hal kecil begini." Clarina memicingkan matanya dengan raut wajah curiga. Bimo mulai gugup, tapi ia berusaha untuk menutupinya. "Gue bukan intervensi. Gue cuma lagi kasih arahan aja. Sekedar saran. Gue tuh cuma bilang... kalo misalnya menurut lo tuh anak jelek, ya mending di cut aja. Bukan cuma Jeslin kok. Ini buat semua karyawan yang lagi masa probation ya." "Oh begitu. Cuma buat gue... si Jeslin bagus kok. Tuh anak ngebantu gue banget. Hari ini dia bahkan kerja. Padahal ini weekend. Cuma dia sama sekali gak nolak," ungkap Clarina. Bimo diam-diam mendengus kesal. Ia gagal membuat Jeslin bisa keluar dari kantornya dengan cepat. "Yah baguslah kalo gitu. Berarti lo gak salah rekrut orang." "Semoga enggak ya. Anak ini bagus kok. Dia bekerja lebih dari yang gue harapkan. Hari ini dia dibantuin Fadlan. Gue gak tega tuh anak kerja sendirian." "Fadlan? Fadlan anak IT? Kenapa lo minta dia? Apa hubungannya coba?" Bimo mengerutkan keningnya. "Kenapa emangnya? Setidaknya si Fadlan bisa bantuin bawa peralatan. Kasian Jeslin kalo harus bawa semua barang sendirian." "Yah kalo alasannya cuma itu doang... lo bisa nyuruh helper, Clar. Kenapa harus Fadlan?" protes Bimo. "Lebih helpful si Fadlan dong. Gimana sih lo, Bim." Clarina geleng-geleng kepala sambil menatap Bimo. "Enggak. Gue cuma ngerasa mereka sering berduaan akhir-akhir ini." "Yah kalo pun mereka ending nya pacaran... terus masalahnya apa coba? Lo cemburu? Aneh-aneh aja deh lo." Clarina menatap heran sambil kembali menyeruput teh hangatnya. "Yah bukan ke arah situ juga, Clar. Ah udah lah. Makin aneh aja percakapan ini. Kita balik yuk? Udah mulai malam juga. Nanti macet di jalan." "Baiklah. Kita sebaiknya memang harusnya pulang. Lo bayar bill-nya kan?" canda Clarina. "Ya iyalah. Sejak kapan lo yang bayar kalo sama gue. Hahaha." Clarina tersenyum. Kemudian mereka membawa tas, lalu berlalu pergi dari tempat itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD